
Baru saja Farhan mau membuka mulut hendak menyapa kedua kakak beradik itu, terdengar notifikasi panggilan dari handphon Farhan. Kedua orang yang ada di ruangan itupun sontak menoleh kearah sumber suara.
" Maaf aku keluar dulu, angkat telepon." Ucap Farhan sambil mengacungkan benda kemudian berlalu keluar .
" Dari siapa, kenapa mesti keluar ." Gumam Khairani pelan.
" Mungkin telepon penting ,Bang Farhan tidak mau kita merasa terganggu " Jawab Irul yang paham apa yang dipikirkan oleh Khairani.
" Takut kita yang terganggu, atau dia yang terganggu ? "Ucap Khairani lagi.
" Kak Rani cemburu ya, tumben ! Selama pernikahan Kakak sama Bang Bakri tidak pernah aku melihat Kak Rani cemburu. Kenapa sekarang cemburuan. ? Irul berkata seakan belum tahu masalah yang sedang terjadi.
" Mana ada aku cemburu ." Ucap Khairani sebel. Irul hanya menanggapi dengan terkekeh saja.
Tak lama kemudian Farhan muncul dengan raut wajah yang sulit diartikan. Khairani tidak sedikitpun menoleh ke arah Farhan. Dan Irul menyadari itu.
" Tuh ,orangnya ! Tanyakan langsung aja. " Ucap Irul yang membuat Khairani melotot padanya.
" Ada apa. " Tanya Farhan sambil duduk di sisi tempat tidur Khairani. Sementara Khairani kebingungan untuk menjawab.
" Tidak ada. " Jawaban singkat Khairani membuat Irul terkekeh.
" Tadi ingin tahu, sekarang pura pura tidak apa apa. " Ejek Irul terkekeh lagi.
" Kamu ini, mana ada seperti itu . " Khairani benar benar jengkel.
" Ingin tahu apa. Bilang saja. " Farhan mengeser duduknya semakin mendekati Khairani. Khairani yang menyadari itu mulai merasa gelisah.
Irul dapat melihat itu dengan jelas. " Tadi Kak Rani bertanya Bang Farhan lagi terima telepon dari siapa kok menjauh gitu. " Ucap Irul sambil melirik Khairani.
Irul yang sengaja membuat fokus Khairani teralihkan ternyata tidak berhasil. Khairani tidak hanya gelisah tapi sudah berkeringat dingin dengan wajah yang semakin pucat.
" Oh, itu orang kepercayaan Papaku dari Jepang. " Farhan bicara terlihat agak sendu.
" Ada masalah Bang ? Tanya Irul
" Iya, sedikit. " Farhan menjawab pendek dengan pandangan yang tertuju pada Khairani. Farhan juga menyadari kalau Khairani berusaha terlihat baik baik saja di depan Irul.
" Kamu kenapa, Khai ? Ada yang sakit, kenapa berkeringat begini. " Farhan mengusap dahi Khairani yang basah karena keringat. Dan tiba tiba...
__ADS_1
" Huek... huek... huek "
Khairani muntah kembali ketika Farhan mulai menyentuhnya. Dengan sigap Farhan memencet tombol merah untuk memanggil Suster. Irul memijit tengkuk Khairani sambil membenarkan jilbabnya.
Beberapa saat Suster datang bersamaan dengan Dokter Karenina.
" Bisa tinggalkan kami ? Ucap Dokter itu sambil melihat ke arah Farhan dan Irul. " Jangan khawatir disini sudah ada Suster dan saya yang membantu Nyonya Khairani. " Lanjutnya ketika melihat wajah cemas Farhan .
Akhirnya kedua pria itupun keluar dari ruangan Khairani. mereka duduk di bangku di luar ruangan yang disediakan rumah sakit. Sambil menunggu Dokter dan para Suster itu bekerja.
" Rul, aku harus ke jepang. Papaku sedang sakit karena ada masalah dengan Perusahaannya. " Farhan mulai bicara.
" Kapan Bang Farhan pergi ? " Tanya Irul.
" Secepatnya, karena Papa sudah tidak sadarkan diri selama dua hari. Dan Perusahaan dalam keadaan kosong pemimpin. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Khairani dalam keadaan seperti ini. " Farhan mengusap pelipisnya mengurangi pusing.
"Jangan khawatirkan Kak Rani, ada aku. Tapi sebaiknya bicarakan dulu dengan Kak Rani agar dia tidak salah paham. " Ucap Irul .
" Ini tidak akan mudah, Rul. Kamu lihatkan sedikit didekati dan aku sentuh saja dia langsung muntah. Apa dia sangat membenciku ." Ucap Farhan lirih.
" Persis ketika bertemu Ayah kami dulu ." Ucapan Irul mengundang tatapan penuh tanya dari Farhan.
" Sebenarnya apa yang terjadi kenapa dia sampai begitu ." Tanya Farhan
" Bagaimana kondisi istri saya ,Sus ." Tanya Farhan.
" Nyonya sudah agak tenang dan sekarang lagi konseling dengan Dokter Karenina. Harap menunggu sebentar, Pak. " Ucap sang Suster.
Kedua pria itu akhirnya duduk kembali. Mereka terdiam dan larut dalam pemikiran masing masing. Farhan jelas terlihat lebih gelisah. Disini istrinya sedang depresi berat sedangkan disisi bumi sebelah timur sana Papanya sedang dinyatakan koma. Sementara Perusahaan keluarganya dalam masalah.
Farhan hanya bisa duduk sambil meraup rambutnya dan menopang kepalanya dengan kedua sikunya menumpu di pahanya.
Tiga puluh menit kemudian Dokter Karenina pun keluar juga akhirnya. Sontak kedua pria itu berdiri mendekati Dokter Karenina .
" Bagaimana ,Dok. Apa istri saya baik baik saja. " Farhan langsung bartanya.
" Bisa kita bicara sebentar, di dalam sudah ada Suster yang menjaga Nyonya Khairani. " Ucap Dokter Karenina tanpa menjawab pertanyaan Farhan.
" Baik Dokter ,Oh iya kenalkan ini saudara dari istri saya. Dia lebih paham tentang trauma masa lalunya. "
__ADS_1
" Kalau begitu anda bisa ikut saya sekalian aja banyak hal yang harus saya ketahui tentang saudara anda. "
" Tentu Dokter. " Sahut Irul
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang Dokter Karenina. Setelah masuk dan duduk berhadapan Dokter Karenina memulai pembicaraan.
" Maaf, bolehkah anda menceritakan secara detil awal mula Nyonya Khairani trauma bertemu dengan ayahnya. Ini sangat penting untuk menarik benang merah antara peristiwa yang lalu dengan yang sekarang Nyonya Khairani alami. Karena saya tidak menemukan persamaan dari peristiwa ini. "
" Bisa Dok, dari mana harus saya mulai ceritakan ? " Tanya Irul
" Bagaimana hubungan antara kakak dan ayah anda apa ada masalah atau kendala sebelumnya ? "
" Tidak Dokter, kata mendiang Ibu saya Ayah sangat menyayangi keluarganya. Terutama Kakak saya. Saat itu Kak Rani sakit sudah berumur lima tahun, saya tiga tahun dan adik saya masih beberapa bulan. "
" Kakak adalah anak kesayangan Ayah, dia anak yang cerdas dan ceria. Tapi peristiwa menyakitkan itu bermula waktu ayah dipecat dari kantor tempat dia bekerja. Ayah suka marah marah dan sering pulang dalam keadaan mabuk. "
" Ayah sering memukuli Ibu kalau lagi marah. Naasnya malam itu seperti biasa Ayah marah marah sambil memukuli Ibu .Dan Ayah saat itu menyetubuhi Ibu dengan kasar dan semua disaksikan oleh Kak Rani. "
" Sangat disayangkan hal yang seperti itu dilihat oleh anak usia lima tahun. " Ujar Dokter menyela cerita Irul. " Bagaimana reaksi awal dari kakak anda ?"
" Kata ibu saat Ibu sadar kalau ada Kak Rani disaat itu, Kak Rani menggigil dan berkeringat terus pingsan. Sejak saat itu jika dia bertemu Ayah, reaksinya seperti itu ,juga muntah muntah seperti tadi.
" Pak Farhan, maaf sebelumnya. Pertanyaan saya agak bersifat pribadi, apa anda tidak apa apa saya tanyakan dekat adik ipar anda. ?" Tanya Dokter Karenina.
" Silakan, Dok .Adik ipar saya sudah tahu tentang kejadian itu. " Jawab Farhan.
" Baiklah, apa anda juga melakukan kekerasan pada wanita yang anda tidur ? "
" Saya melakukannya secara kasar, iya. Tapi saya tidak memukuli atau melukai fisiknya . Karena waktu melakukan itu saya dalam pengaruh obat perangsang. " Jawab Farhan sambil sedikit gugup. Walau bagaimana pun juga itu aibnya .
" Dan istri anda juga muntah muntah, berkeringat dan gemetaran kalau ketemu anda ? " Tanya Dokter Karenina.
"Ya, Dok. " Jawab Farhan lesu.
" Istri anda trauma dengan kekerasan dalam hubungan seksual nya, ada ketakutan yang timbul jika mengingat semua itu. Dan ingatan itu timbul jika melihat pelakunya. Nyonya harus melanjutkan terapinya lagi. Untuk menghilangkan ketakutannya . Saya sudah melihat rekam medis yang kemarin sepertinya dia bisa melaluinya. "
" Apa bisa kami melakukannya di Pekanbaru, Dok .Karena kami tidak bisa terlalu lama disini. Kakak saya juga punya anak anak disana." Tanya Irul.
" Terapi bisa dilakukan dimana saja, asalkan rutin dan terus kontrol saya rasa tidak masalah. " Jawab sang Dokter.
__ADS_1
" Dan saya sarankan untuk Pak Farhan untuk mengajak istri anda bicara dari hati ke hati. Saya yakin anda orang baik. Jelaskan pada istri anda pelan pelan, setidaknya lambat laun dia bisa memahami disaat emosinya mereda. " Lanjut Dokter .
" Baik Dokter, akan saya coba. Terima kasih sarannya. " Mereka pun saling berjabat tangan dan kedua pria itu kembali berjalan menuju ke ruangan Khairani.