
Disaat Farhan berbicara dengan Dokter, Jack memilih menemui Khairani. Wanita rapuh itu berbaring sambil menatap langit langit ruangan itu. Mata bulat itu menatap kosong.
Jack mengetuk pintu yang telah lebih dulu dia buka untuk mengalihkan pandangan Khairani. Usahanya berhasil. Khairani menoleh ke arah Jack yang berdiri di ambang pintu .
"Boleh aku masuk Mrs Jonhson ? " Ucap Jack formal.
"Anda sudah di dalam Mr Luo. " Ucapan Khairani membuat Jack terkekeh.
"Maaf Mrs Jonhson, saya sengaja agar anda tidak bisa menolak saya. " Ucap Jack disela rasanya. Khairani hanya mendengus mendengarnya.
" Mr Luo,terimakasih anda telah menolong saya. " Ucap Khairani.
"Tentu saja saya menolong anda, karena anda adalah istri sahabat saya." Ucapan Jack mengundang tatapan dari Khairani.
" Mr Luo, boleh saya minta tolong sekali lagi. "
"Tentu saja Mrs Jonhson. "
"Panggil Rani saja, itu panggilan saya." Ucap Khairani tak nyaman.
"Baiklah, kalau begitu panggil saya Jack. Agar lebih akrab dan tidak terlalu formal." Balas Jack . " Apa yang bisa saya bantu ?" Lanjutnya.
"Bantu saya keluar dari sini dan saya ingin kembali ke Pekanbaru. Saya rindu anak anak ." Ucap Khairani.
"Baiklah, tapi tetap harus seizin Dokter. kalau Dokter bilang boleh saya akan bantu anda untuk kembali. " "Khairani , apa anda tidak mau mendengar penjelasannya lebih dulu ? " Ucap Jack hati hati.
"Tidak perlu, apa yang saya lihat sudah sangat jelas " Jawab Khairani.
"Kadang yang sebenarnya terjadi tak seperti yang kita lihat. Ada sebab yang harus kita ketahui untuk mengerti mengapa terjadi. Maaf Khairani, aku harap bicaralah dengannya. "
"Menurut anda sebab apa yang membuat seorang pria dan wanita bisa berhubungan seintim itu. Anda juga melihatnya tuan, tidak ada keterpaksaan Disana waktu itu. " Ucap Khairani dengan suara bergetar.
" Tapi tetap saja anda harus bicara, banyak hal yang anda tidak ketahui Nyonya. Farhan....
"Semua telah saya ketahui tuan, saya melihatnya sendiri. Anda tidak perlu repot repot membelanya. Karena saya lebih percaya dengan mata dan telinga saya. " Khairani terlihat emosi dengan mata yang berkaca kaca.
" Baiklah, mungkin saat ini belum ada bukti yang kuat ,jadi saya hanya meminta anda untuk memanfaatkan feeling dan insting anda kembali Nyonya. Saya pernah salut dengan seseorang yang memiliki keyakinan besar menantang saya. Dan saya berharap keyakinan orang itu tidak tergoyahkan hanya karena seorang pelakor yang terobsesi. "
__ADS_1
" Jangan coba untuk mempengaruhi saya, karena rasa sakit ini menghapus semua rasa yang ada. Anda tidak akan paham posisi seperti saya ,Tuan Jack . Saya bisa maklum kalau anda membela teman anda. Saya mengerti !! " Khairani melemah seiring cairan bening itu tumpah ke pipinya.
"Maafkan saya Khairani , saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya berusaha mengatakan ada sebuah kebenarannya yang harus anda tahu. Tapi saya tidak berhak menyampaikannya. Ada seseorang yang harus menyampaikannya sendiri. Sekali lagi saya minta maaf. " Jack merasa bersalah ketika melihat Khairani meneteskan air mata.
" Tidak masalah kalau anda keberatan membantu , saya masih bisa sendiri. Maaf, bisakah anda tinggalkan saya sendiri, saya mau istirahat. " Khairani tidak bisa menahan gemuruh di dadanya dan dia tidak ingin Jack menyaksikan kelemahannya.
"Oke Nyonya, aku akan keluar, tapi kalau anda butuh sesuatu panggil saja saya. Saya berada tepat di balik pintu itu. " Jack menunjuk pintu keluar ruangan Khairani.
"Tidak usah repot, ada banyak Suster disini. Ada tombol yang bisa saya gunakan. Terimakasih atas perhatiannya ." Setelah selesai bicara Khairani berbaring membelakangi Jack.
Melihat Khairani yang tidak ingin bicara lagi, akhirnya Jack pun keluar. Jack duduk di bangku yang ada di depan ruangan Khairani sambil menunggu Farhan .
Tak lama berselang Farhan pun datang dengan wajah yang kusut dan kacau. Jack bisa memahami kalau Farhan pasti baru saja mendengar sesuatu yang tidak diinginkan.
"Kenapa wajahmu seperti itu, ada sesuatu yang buruk ?" Sapa Jack.
"Sangat buruk, bahkan aku tidak menyangka akan seburuk ini. " Jawab Farhan sembari menghempaskan pantatnya di samping Jack.
"Seburuk apa?"
Akhirnya Farhan menceritakan perihal diagnosa Dokter tentang trauma yang Khairani idap. Dan tentang kemungkinan Khairani pernah mengalami hal yang serupa dan Farhan memperburuknya.
Farhan memukul mukul kepalanya pelan karena rasa pusing mulai mencengkam kepalanya.
" Sabarlah, sekarang temui dia dulu. Aku malah takut dia merasa diabaikan. Tadi kami bicara sedikit. Terlihat rasa kecewa dari kata katanya. Cobalah untuk bicara dengannya, tapi ingat ! Emosinya tidak stabil kau harus sabar menghadapinya. " Ucap Jack menasihati Farhan.
"Aku masih takut, tunggu sebentar aku menenangkan diri. Setelah menarik napas beberapa kali akhirnya Farhan menguatkan hatinya untuk masuk. Dengan pelan dia menekan handel pintu dan mendorong daun pintu itu.
Farhan seketika merasa nyeri di dadanya melihat pemandangan menyesakkan di depannya. Khairani tidur miring membelakangi arah pintu dengan tubuh bergetar meredam tangisnya.
Wanita lemah itu merintih pelan dengan kedua tangannya membekap mulutnya. Sungguh membuat Farhan semakin mengutuk dirinya menyaksikan penderitaan yang dia ciptakan untuk kekasih hatinya.
Farhan melangkah pelan setelah menutup kembali pintu dengan hati hati. Sesampainya di dekat Khairani Farhan membaringkan tubuhnya disamping istrinya dan memberanikan diri untuk memeluk tubuh rapuh itu dari belakang.
Khairani yang merasakan pelukan hangat itu menegang kaku. Tak mampu menolak bahkan bergerak. Dia tahu siapa pelaku pelukan itu. Khairani hapal aroma tubuh yang senantiasa dia rindukan semenjak hamil.
Tangis yang terhenti untuk sekian detik itu semakin deras. Dan getaran tubuh Khairani semakin kuat. Farhan mendekap Khairani dengan erat meredam emosi sang istri yang lagi memuncak.
__ADS_1
Terdengar ratapan dan rintihan yang memilukan hati. Khairani tidak lagi menahannya. Dia meluapkan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Seakan mengungkapkan kegetirannya kepada sang pemilik hatinya.
Laki laki yang sangat dia percayai ,tempatnya menyerahkan sisa hidupnya untuk diisi dengan kata bahagia ternyata melukis rasa perih yang disebut luka. Sungguh Khairani tidak pernah menyangka kalau hidupnya akan mengalami penderitaan yang begitu menyakitkan.
Sementara Farhan membiarkan istrinya melepaskan rasa sakitnya. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya. Hanya napasnya yang terdengar memburu kasar. Ya, Farhan juga menitikan air matanya dalam diam. Hatinya ikut terluka melihat luka istrinya.
Lelah meluapkan rasa ,tangisan itupun mulai mereda. Khairani mulai melepaskan belitan tangan Farhan di bawah dadanya. Namun Farhan kembali mengetatkannya sembari mengecup kepala Khairani yang ditutupi jilbabnya.
"Lepas... " Ucap Khairani terdengar dingin dan serak.
"Tidak akan. " Balas Farhan singkat.
"Lepaskan atau aku dorong , kamu akan jatuh ke lantai. ! Ucap Khairani lagi sedikit ketus.
"Lakukanlah , jika itu bisa mengurangi rasa sakitmu." Farhan memejamkan matanya, sembari menghirup rakus aroma tubuh istrinya .
" Rasa sakit ini tidak akan berkurang, meski kamu mengeluarkan seluruh darah di tubuhmu. "Jawab Khairani berusaha untuk tegas walau tetap saja terdengar bergetar.
"Kalau begitu katakan bagaimana caranya supaya sakit itu hilang tak berbekas. " Farhan mencoba untuk bicara lebih banyak dengan Khairani.
" Tinggalkan aku dan anak anak. Pergilah jauh hingga tak terlihat. " Ucapan Khairani spontan membuat pelukan itu terlepas.
Farhan membalikan tubuh Khairani menghadapnya. Menatap mata bulat kesayangannya yang tampak merah dan bengkak. Farhan mencari keraguan atau kepura puraan disana. Tapi yang dia temukan hanya tatapan sayu penuh keyakinan.
"Jangan katakan itu... jangan. Aku mohon jangan jauhi aku. Jangan minta perpisahan padaku. Hukum aku dengan cara yang lain. Aku tidak mau." Farhan kembali merangkul Khairani ke dalam dekapannya.
Khairani kembali meneteskan air mata dalam pelukan suaminya. Dia pun tidak menginginkan hal itu tapi pengkhianatan suaminya telah menghancurkan pondasi rumah tangganya.
" Menangislah untuk hari ini saja, mulai besok jangan teteskan setetes pun. Jangan pernah menangisi suamimu yang bodoh ini. " Suara Farhan terdengar serak menahan tangis.
"Pergilah, aku merasa mual. Bersentuhan denganmu terasa mengiris setiap jengkal kulitku. " Ucapan Khairani yang dingin menusuk jantung Farhan.
"Maaf telah menyakitimu terlalu dalam. Aku tidak berniat sedikitpun untuk menyakiti. Aku....
"Pergilah...aku benar benar ingin muntah melihatmu. Menjauhlah, tolong. "Suara Khairani terdengar lemah.
Akhirnya Farhan melepaskan belitan tangannya dan bangkit dari tempat tidur Khairani. Tak ingin menyakiti istrinya lebih dalam , Farhan mencoba untuk mengalah. Walaupun kata kata Khairani bagai pisau yang menikam jantungnya.
__ADS_1
...****************...