
Setelah sampai di rumah Khairani, Farhan pun bersiap hendak ke bandara. Sebelumnya dia mengajak Khairani bicara di ruang tamu.
" Bisa kita bicara sebentar. " Ucap Farhan setelah keluar dari kamar Fariz.
"Mau bicara apa Bang, kayaknya penting. " Khairani mengerutkan dahinya seperti memikirkan sesuatu.
" Ayo ke ruang tamu saja. " jawab Farhan sambil melangkah ke ruang tamu.
"Bang Farhan mau teh, biar aku bikini." Ucap Khairani sambil sebelum melangkah mengikuti Farhan.
" Tak usah , masih kenyang ini "
Sesampainya di ruang tamu mereka duduk di sofa berhadapan.
" Ada apa Bang ."
" Sebelumnya aku mau bertanya, apa kamu keberatan kalau Aliya dan Alika masih aku tinggal di sini untuk sementara waktu ?"
" Tentu saja tidak, malah aku senang mereka di sini... kalau bisa untuk selamanya. "
" Kalau begitu terimalah ini... " Farhan berkata sambil meletakkan sebuah kartu ATM di atas meja.
" Apa ini ? " Tanya Khairani dengan heran.
"Kartu ATM. "
"Iya tau... tapi untuk apa ?"
Farhan menarik napasnya dalam ,kemudian dia menyandarkan punggungnya .Farhan tahu betul sifat Khairani. Dia tidak akan dengan mudah menerima uang dari Farhan.
" Semua pembagian keuntungan toko akan masuk ke rekening ATM ini. nomor pin nya tanggal lahir Si Kembar. Pergunakan ini untuk keperluan Si Kembar .Aku tidak mau disebut ayah yang tidak bertanggung jawab. "
"Baiklah aku akan terima kartu ini. " Ucap Khairani.
"Tapi kamu harus memakainya, kalau tidak akan aku pindahkan super market ke sini. Dan pakai ini untuk keperluan sehari hari. Kamu ingatkan kalau Si Kembar masih ASI, jadi asuhan mu tanggung jawab ku juga. "
"Baiklah akan aku habiskan isinya nanti. "
" Kamu belikan rumah mewah sekalipun ,isinya tidak akan habis. Makanya jangan sungkan padaku. "
"Oh iya aku lupa kalau kamu holang kaya ." Ucap Khairani dengan gaya mengejek.
"Bukan kaya tapi mampu. "
"Iya deh... tidak akan menang berdebat dengan mu Bang. "
" Makanya mulai sekarang belajarlah patuh dan penurut pada ku. "
"Eh... maksudnya apa, ayah bukan ,saudara bukan ,suami bukan."
" Bisa jadi salah satunya suatu saat nanti, takdir seseorang siapa yang tau."
"Bang Farhan jangan mulai yaa !! "
" Memulai sesuatu yang baik tidak ada salahnya menurut ku. Yaa sudah ... belum tepat waktunya sekarang, aku mau berangkat dulu .Baik baik di rumah jaga anak anak kita ya ! " Ucap Farhan dengan cengiran.
__ADS_1
"Apaan sih... anak kita ?!? "Khairani mengembungkan pipinya cemberut. " Oh iya Bang ada yang buat aku penasaran ,waktu Abang mau kesini tahu dari mana Bang Bakri meninggal."
" Aku telepon Qori setelah pesan terakhir mu dan tidak mau mengangkat panggilan ku . Kirain kamu penasaran sama cewek yang di status. " Ucap Farhan sambil nyengir.
"Kalau itu tidak perlu dijelaskan, aku juga tidak mau tahu. "
"Tapi aku rasa perlu menjelaskan... Namanya Jeany Wang ,Asisten ku di Singapura. Tapi kami sudah berteman cukup lama. Malam itu kami habis lembur karena sejak dua bulan aku disini banyak pekerjaan yang tertunda."
"Lembur kok pakaiannya gitu. " Ucap Khairani lirih, tapi masih dapat didengar oleh Farhan.
"Tadinya dia pake Blazer, mungkin karena panas makanya dibuka. "
" Kalian berdua bukan mahrom ,duduk dempet dempetan dengan kondisi pakaian tidak layak dan acak acakan ,menurut mu orang berpikir seperti apa. " Suara Khairani ketus.
"Emang kamu mikirnya seperti apa ? " Farhan memiringkan tatapannya.
"Tau ah... pikir aja sendiri. " Tambah sewotlah Khairani.
" Kamu lucu sekali. lagian kami ada berlima di situ ,cuma yang nampak aku berdua Jeany aja." Ucap Farhan terkekeh. Merasa seperti di interogasi istri yang lagi cemburu. Tapi Farhan tidak mau terlalu cepat bertindak. Biarlah mengalir seperti air.
Farhan menikmati setiap ucapan dan mimik wajah yang ditunjukkan Khairani. Entah kenapa Farhan merasa gemas dan lucu.
"Aduh malas pulang aku, Ri. Istrimu mengemaskan. " Gumamnya dalam hati.
"Udah berangkat sana nanti telat. " Ucap Khairani sambil berdiri.
" Aduh... kena usir dah. "Farhan pun ikut berdiri.
" Bukan diusir, katanya lagi banyak kerjaan yang tertunda. Kalau telat nanti tambah repot. "
"Mhm... "
"Kok cuma mhm... enggak cium tangan dulu. "
" Udah sana ,hati hati... !! "
Disambut kekehan oleh Farhan. Setelah Farhan naik ke mobil dan menjauh dari halaman barulah Khairani masuk dan menutup pintu. Sambil berjalan menuju kamar , Khairani memegang dadanya yang berdebar debar. Aneh....
*****
Waktu terus bergulir tiada henti. Hari hari berjalan sebagaimana mestinya. Tidak terasa tiga bulan berlalu begitu saja.
Farhan yang jauh di negeri seberang selalu menyempatkan untuk datang sekali seminggu atau sekali dua minggu ke Pekanbaru.
Khairani sudah terbiasa dengan kehadiran Farhan di dalam keluarganya. Walau bagaimanapun ada Aliya dan Alika membutuhkan Farhan sebagai ayah mereka. Tanpa sadar Gaza juga mulai terbiasa dengan Farhan.
Ketiga bayi yang kelihatan kembar itu sudah bisa merangkak kian kemari. Para pengasuh sudah mulai kewalahan mengawasi ketiga bayi itu. Apalagi rumah Khairani yang sempit, tidak memiliki ruang khusus untuk tempat bermain.
Farhan menyadari hal itu ,ketika terjadi insiden kecil sore tadi. Alika yang sedang merangkak terbentur sudut rak Tv yang membuat keningnya bengkak dan membiru.
Farhan memutar otak mencari cara agar Khairani mau pindah ke rumah yang lebih besar. Tidak mungkin mengajak tinggal di rumah Farhan. Walau besar dan lebih nyaman, tapi Farhan tidak mau Khairani merasa tidak enak. Apalagi rumah itu bekas Citra, ibunya Si Kembar.
Malam ini terlihat tiga orang pria sedang asik menikmati hidangan di depan mereka. Terdengar sesekali obrolan ringan sambil mereka mengisi perut. Farhan, Irul dan Syafi'i lah yang sedang bertemu di Restoran Seafood.
" Sepertinya Toko berkembang dengan pesat Syaf. Tadi aku melihat data yang dikirimkan Meta." Ucap Farhan memulai pembicaraan serius.
__ADS_1
"Alhamdulillah Bang ,ada paningkatan setiap bulannya. Apalagi Luki sudah kembali, dia lebih kompoten dalam urusan manajemen. Dan aku bisa fokus untuk urusan proyek dan suplier." Terang Syafi'i.
" Kita lihat perkembangannya beberapa bulan lagi, kalau semakin maju nanti kita akan mengubahnya jadi perusahaan kecil, bagaimana menurut kalian ?" Ucap Farhan sambil menoleh ke arah Syafi'i dan Irul bergantian.
"Wah rencana bagus itu Bang , semoga semakin jaya, iya enggak Syaf ?!" Jawab Irul.
" Betul Bang, aku harap juga begitu. Kebetulan Ruko yang di samping kita kosong Bang, bagaimana kalau kita sewa juga Bang ? " ungkap Syafi'i.
"Boleh juga itu, kamu juga bisa membuatkan ruangan untuk Meta karena transaksi harian kalian sudah Ratusan juta. Biar lebih aman dan nyaman. Jangan lupa cari satu karyawan wanita yang menggantikan Meta, sedangkan Meta angkat jadi Akuntan. " Ucap Farhan .
" Baik Bang besok aku urus segera. " balas Syafi'i.
"Sekarang urusan bisnis kita sudahi .Sebenarnya aku mengajak kalian ketemu karena ada yang ingin aku bahas. " ungkap Farhan.
" Sepertinya penting Bang, Bang Farhan mau nikah ? "Tebak Irul sambil melirik curiga. Sementara Syafi'i hanya terkekeh saja.
"Mau nya sih iya, tapi belum ketemu cara mendapatkannya. Tapi ini bukan tentang aku ."
"Terus tentang apa ? " jawab Irul tak sabar.
"Begini, aku pernah dengar dari Bakri kalau rumah yang kini Khairani tempati adalah rumah orang tua kalian. "
"Benar Bang, kenapa emangnya ?" Tanya Irul dengan raut wajah bingung ,tidak mengerti arah pembicaraan Farhan.
"Aku lihat rumah itu terlalu sempit untuk mereka. Apalagi ketiga bayi itu sudah semakin aktif. Dan kamu tahu , kan... kalau kedua pengasuh mereka tidur di kamar Alma. " Farhan berhenti sejenak sambil mengamati reaksi kedua saudara ipar itu.
" Jadi Bang Farhan mau beli rumah yang lebih besar untuk Kak Rani. ? tebak Irul dengan ekspresi semakin bingung.
" Andaikan Khairani mau... tapi kamu tahu sendiri bagaimana kakakmu itu, mana mau menerima begitu saja. "
"Iya Abang benar , jadi maksudnya Bang Farhan gimana aku jadi enggak mengerti ? " tanya Irul lagi.
"Makanya Bang Rul diam dulu jangan dipotong, biar Bang Farhan jelasin." timpal Syafi'i tidak sabar.
"Oke, lanjut Bang... "
" Aku ingin minta tolong kalian untuk mendorong Khairani agar merenovasi rumah itu. Aku tidak bisa melakukannya karena aku bukan siapa siapa. Sebagai saudaranya kalianlah yang lebih berwenang disini. Kalau masalah dana jangan khawatir aku akan support dari belakang asal Khairani tidak tahu. "
"Emangnya kenapa kalau Kak Rani tau ?" Tanya Syafi'i.
" Tentu saja masalah, pertama... Khairani tidak akan setuju, kedua... akan aneh kalau aku ikut andil , ketiga... aku tak nyaman kalau dia tahu. " Setelah menarik napas dalam Farhan kembali melanjutkan. "Makanya lebih baik kalian saja yang pasang badan. Bagaimana... ?
Syafi'i manggut manggut mendengarkan penjelasan Farhan. Tapi tidak dengan Irul, dia malah menatap miring dengan mata menyipit seperti mencurigai sesuatu.
"Bang... kamu seperti Singa kehilangan taring. Sejak kapan Sang Cassanova yang jam terbangnya udah tinggi seperti Bang Farhan membutuhkan bantuan untuk mendekati wanita. Apalagi janda beranak tiga. " sarkas Irul sambil menyunggingkan sudut bibirnya mengejek.
"Hah.... ???
*****
🌺 Halo Readers...
Bang Farhan harus banyak belajar nih, ditunggu yaa semoga cepat pintar 😂
mohon dukungannya gaiss ,Love you🌺
__ADS_1