
Tiga hari setelah insiden itu Khairani sudah di izinkan oleh Dokter keluar dari rumah sakit. Dan sudah tiga hari pula Bakri bersikap dingin terhadap Khairani. Begitu juga sesampainya di rumah, Bakri tetap semangat membantu memapah Khairani sampai ke kamar .Tapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap di bibirnya.
Khairani bingung harus bagaimana. Ingin bertanya tapi ketakutan menghantui nya . Jelas dia merasa bersalah telah menyembunyikan kehamilannya . Tapi dia lebih takut kalau Bakri tidak menerima kehamilannya.
Khairani tidak tahu apa yang membuat Bakri bersikap tenang dingin padanya.
"Apa ayah tak menginginkan mu nak..."Gumamnya dalam hati.
"Tidak... tidak jangan berburuk sangka, tak mungkin ayah seperti itu . Kamu jangan cemas sayang . Ayah hanya sedikit marah sama bunda ." Dia berusaha berpikir positif. Air matanya mengalir di pipi tirus itu.
Dia memang agak gampang menangis belakangan, mungkin perubahan hormon mempengaruhinya. Sambil tidur meringkuk dia memeluk perutnya seakan dia memeluk anaknya, menyalurkan kegundahan hatinya.
Yang baru saja terjadi tidak luput dari pandang sepasang mata yang memerah menahan air mata. Bakri bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang Khairani ungkapkan.
Dia dapat merasa kan kesedihan dimata sang istri ,tapi dia juga kecewa karena Khairani tidak mempercayai nya. Bukan dia tidak menerima kehadiran janin di kandungan Khairani ,dia hanya merasa tidak berguna sebagai suami dan ayah. Sehingga Khairani lebih memilih menanggung sendiri deritanya.
Setelah beberapa saat Bakri merenung menyandar di dinding dekat pintu kamar ,akhirnya dia masuk ke kamar sambil membawa nampan berisi makanan dan segelas susu.
Meletakkan nampan di nakas dengan berlahan, kemudian mendudukan dirinya di pinggir tempat tidur .Menatap mata bulat istrinya yang terpejam ,dengan bekas air mata yang belum mengering di sudut mata itu. Timbul rasa bersalah karena mendiamkan belahan jiwanya ini.
__ADS_1
"Rani... bangun dulu, makan !! Kamu tadi makannya dikit ." Kasihan Adek bayinya." Bakri berkata sambil mengusap pipi Khairani dengan lembut .
Khairani membuka mata sembab itu dan menatap Bakri dengan tatapan sendu, dan lagi lagi mutiara bening itu mengalir kembali sembari berkata ...
"Maaf...
"Nanti aja kita bahas , sekarang makan yaa ." Ucap Bakri lembut sambil mengusap sisa air mata di pipi istrinya. Lalu mengambilkan makanan untuk hari Khairani.
Selesai makan dan meminum susu Khairani menyandarkan punggung nya di dashboard tempat tidur nya. Sedangkan Bakri membawa bekas makan Khairani ke dapur dan segera kembali ke kamar.
Ada hal yang harus dibereskan sebelum berlarut larut. Setelah menutup pintu kamarnya Bakri naik ke tempat tidur ,dan duduk bersandar seperti Khairani. Bakri bisa melihat kecemasan di wajah Khairani .Sedangkan Khairani tertunduk sambil meremas jemarinya mengurangi rasa gugup. Setelah menghela napasnya Bakri berkata
"Iya aku tahu, apakah abang kecewa karena kehadirannya ." Tanya Khairani sambil memegang perutnya.
"Jadi itukah yang kamu pikirkan, sehingga kamu menyimpannya sendiri . Kamu pikir abang seburuk itu ,sampai tidak bisa menerima darah daging ku sendiri... ? " Suara Bakri meninggi tanpa dia sadari.
" Bu.. bukan bang, bukan begitu... aku hanya takut menambah beban pikiran abang, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan nya ." Kilah Khairani .
"Abang paham kekhawatiran kamu Ran . Tapi tindakan mu membuat abang merasa tak berguna, merasa gagal dan dan tidak dianggap . "
__ADS_1
"Maaf bang, aku tidak bermaksud seperti itu...maaf . " Khairani meraih tangan suaminya dan menciumnya berkali kali dengan air mata yang kembali merebak.
Kemudian Bakri melepaskan genggaman Khairani dan membawa Khairani ke dalam dekapannya ,dan mengecup puncak kepala Khairani.
" Belakangan abang terlalu sibuk, banyak pikiran, dan pulang ke dalam keadaan lelah . Abang lebih banyak diam , membuatku takut untuk bicara. " Lanjut Khairani disela isakannya.
"Maaf... abang bukan suami yang baik untuk kamu Rani, abang laki laki yang tidak peka... abang harap kamu bisa memahami abang . Abang mohon barbagilah dengan ku, apapun masalahnya kita hadapi bersama .Biar abang merasa berguna untuk kamu walaupun abang belum mampu membahagiakan mu , Rani ." Pinta Bakri
Khairani hanya bisa mengangukan kepalanya di dalam dekapan Bakri .
"Abang menyayangi kalian, walau jarang abang ungkapkan , tapi percayalah dunia ku hanya kalian. Kamu dan anak anak kita ! "
Bakri paham betul sifat Khairani ,yang memiliki rasa empati yang tinggi, lebih peka dengan perasaan orang lain, dan tidak suka merepotkan siapapun. Dia lebih suka menahan diri dari pada menyakiti orang lain, terlalu mandiri dan jarang mengeluh.
Makanya Bakri merasa kecil hati ketika Khairani tidak mau melibatkannya dalam urusan apapun .Merasa tak dibutuhkan, membuat harga dirinya terluka sebagai laki laki. Kadang Bakri lupa bahwa Khairani seperti itu karena dirinya. Sifat kaku, cuek, dan dinginnya yang membuat Khairani engan menyusahkannya.
Sebenarnya Bakri juga khawatir sama dengan kondisi ekonomi nya yang belum stabil, tapi dia tidak menampakkan kepada Khairani , karena dia takut membuat Khairani lebih stres dalam keadaan berbadan dua. Bakri hanya bisa berharap semoga badai ini segera berlalu .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1