
Menjelang malam Tuan Endriko farhan dan Khairani sudah sampai di rumah. Mereka disambut oleh kehebohan ketiga batita lucu itu. Celotehan cadel mereka membuat setiap orang yang mendengarnya tergelak . Tidak terkecuali Tuan Endriko.
" Mereka seperti kembar tiga. " Ucap Tuan Endriko dengan sisa senyumnya.
" Iya, semakin besar semakin mirip. " Jawab Farhan. " Mungkin karena mereka dibesarkan oleh sumber yang sama dan tangan yang sama. " Lanjutnya.
" Dengan bibit yang berbeda ? " Tuan Endriko pun terkekeh. " Dia ibu yang baik juga pintar. Lihatlah kedua anak remaja itu, tumbuh dengan sangat baik. " Mata Tuan Endriko tak lepas dari Fariz yang sedang menggendong Gaza.
" Papa benar, anak anak itu sangat santun dan berkepribadian sangat baik apalagi di era sekarang. Dimana anak anak tidak lagi punya rasa hormat pada orang lain terutama orang tua mereka. "
" Tinggallah disini, Han. Papa sudah sangat lelah. Saham Papa yang telah kamu dapatkan kembali akan Papa serahkan padamu. Papa ingin menikmati masa tua dengan tenang, Han. "
" Sebenarnya aku sudah memikirkannya ,Pa .Hanya saja belum bisa mengambil keputusan sendiri. Aku belum membahasnya dengan Khairani. Aku akan mencoba bicara nanti. "
" Papa senang sekali jika kalian menetap disini. Apalagi dengan cucu cucu yang sebanyak ini. He.. he.. tidak terbayangkan oleh Papa bisa memiliki cucu , apalagi sejak Mamamu dinyatakan tidak bisa hamil. " Ucap Tuan Endriko yang diselingi kekehan.
" Beri aku waktu, Pa .Aku yakin Khairani akan mengerti . Tapi yang jadi masalah adalah usaha Kami yang disana bagaimana ? "
"Itu gampang, tinggal cari orang untuk mengurusnya dan kamu tinggal memantau dari jauh saja. "
" Baiklah, Papa sabar dulu semua butuh waktu, oke ! "
" Baiklah, semoga kamu bisa mengabulkan permintaan Papa yang satu ini. "
*****
Hari hari terus berlalu, libur sekolah pun telah terlewati dengan ceria. Mereka mengeksplor tempat tempat baru yang belum pernah mereka datangi tentunya. Hingga tibalah waktu untuk mereka kembali ke tanah air.
Sementara Khairani membantu Fariz Alma dan Era berkemas, Farhan dan Irul berada di ruang kerja. Mereka membicarakan tentang masalah yang mengganggu Farhan beberapa hari belakangan ini.
" Jadi Bang Farhan berniat untuk menetap disini ? " Tanya Irul.
" Baru rencana, Rul. Aku belum membicarakan ini dengan Khaira. Aku ingin dia fokus dulu dengan persalinannya. "
" Terus bagaimana dengan pabrik dan perusahaan yang di Pekanbaru ."
" Itulah yang ingin aku bahas dengan mu. Aku ingin menawarkan semua pada mu. Apa kamu bersedia, meninggalkan profesi guru untuk jadi pengusaha ? "
" Aku takut tidak mampu menjalankan amanat Bang Farhan. "
" Aku yakin kamu mampu, hanya perlu belajar sedikit. Dan aku akan tetap mendampingi mu dari jauh. Juga ada Syafi'i dan Nisa ,kan ."
" Apa Bang Farhan yakin aku bisa ? "
" Tidak ada salahnya mencoba sebelum ,Rul .Semua butuh proses, asalkan kamu mau belajar aku yakin kamu mampu. "
" Baiklah aku akan mencobanya, dan tentu harus aku lakukan bicarakan dulu dengan Ega. "
" Harus itu ! Nanti kita akan meeting virtual bertiga dengan Syafi'i sesampainya kamu di Pekanbaru. "
__ADS_1
" Oke Bang...
Setelah membantu Alma dan Era kini Khairani ada di kamar Fariz. Fariz mengeluarkan pakaiannya dari lemari sementara Khairani menyusunnya ke dalam koper.
" Gamenya tidak usah dibawa ya, Ris . Bunda tidak ada untuk sementara mengawasimu di sana. Nanti mainnya kebablasan mengganggu konsentrasi belajar. " Ucap Khairani sambil menyusun pakaian Fariz.
" Bunda tidak percaya sama Fariz ya ?" Tanya Fariz dengan wajah sendu.
" Bunda hanya takut Fariz tidak bisa mengendalikan diri yang akhirnya merugikan dirimu. " Khairani bangkit dan berjalan mendekati Fariz.
" Percayalah, Bun. Fariz tidak akan mengecewakan Bunda dan Papi. " Faris memohon dengan harap.
" Begini saja, nanti Bunda bawakan setelah Bunda lahiran ,Gimana. ? Biar Bunda tidak kepikiran kamu disana nantinya. Kalau ada Bunda yang mengawasi Bunda baru tenang, Nak. " Khairani memberikan penawaran.
" Baiklah, Fariz setuju. " Walaupun dengan berat hati Fariz menerima permintaan sang Bunda.
" Riz ,kamu suka enggak tinggal disini ? " Tanya Khairani membuat Fariz sedikit mengernyitkan dahi menangkap arah pembicaraan sang Bunda.
" Kenapa Bunda bertanya begitu ? Apa Papi mau menetap disini ? " Tanya Fariz curiga.
" Papi belum bilang sih, cuman perasaan Bunda saja karena kondisi Opa yang sudah sangat tua untuk mengurus Perusahaan. Apalagi Opa baru saja mengalami serangan jantung. " Keluh Khairani.
" Fariz tak masalah mau tinggal dimana ,Bun. Asalkan ada Bunda. " Ucap Fariz sambil tersenyum.
" Haish , kamu sudah pandai mengombal yaa ? " Seloroh Khairani yang membuat kedua ibu dan anak itu terkekeh bersama.
"Terimakasih, Bun udah bantuin. " Fariz pun menurunkan koper ke samping lemari dari ranjangnya . Khairani hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan kamar Fariz.
*****
Khairani dan Farhan mengantarkan Irul dan anak anak ke Bandara. Setelah acara peluk pelukan yang diwarnai dengan derai air mata ,rombongan kecil itu memasuki pintu keberangkatan pesawat. Hanya lambaian tangan saja mengantarkan mereka menuju pesawat yang ditumpanginya.
Setelah memastikan pesawat tinggal landas barulah Khairani mau meninggalkan Bandara. Farhan hanya mendengus sambil tersenyum melihat Khairani tak henti hentinya menangis dalam diam.
Hanya sesekali tangannya mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya. Sesekali Farhan mengelus kepala Khairani dengan tangannya yang bebas dari stir mobil.
" Sudah , Sayang nangisnnya .Enggak kasihan sama bayinya yang di perut. " Ucap Farhan.
" Aku enggak nangis ,Cuma matanya masih perih. " Jawab Khairani asal yang membuat Farhan terkekeh dengan ucapan istrinya.
" Iya ya enggak nangis ,cuma air mata saja yang turun. " Ledek Farhan sembari ketawa. Khairani membalas ucapan Farhan dengan pelototan tajamnya .
Farhan makin tertawa melihat mata bulat kesayangannya itu, bukannya menakutkan melainkan mengemaskan menurut Farhan.
Tidak lama kemudian mereka memasuki parkiran rumah sakit.
" Kok kesini Bang ? " Tanya Khairani bingung.
" Ini sudah dekat lahiran, tidak ada salahnya kita periksakan kandunganmu. Apalagi untuk melaksanakan operasi SC kita perlu pertanyakan waktu yang tepat. Ayo... !"
__ADS_1
Khairani turun dibantu oleh Farhan. Mereka melangkah bersisian menuju ruang Obgyn .Tangan Farhan tak lepas menggenggam jemari Khairani. Apalagi jalan Khairani yang terbilang lambat karena perutnya sudah agak menekan ke bawah.
Ketika diperiksa ,kandungan Khairani telah memasuki bulan lahirnya. Dan sesuai kesepakatan minggu depan Khairani akan melakukan operasi SC. Jalan ini dipilih karena dari awal Khairani telah melewatinya sebanyak tiga kali SC. Sangat beresiko jika dipaksakan untuk bersalin secara normal.
" Kita makan dulu ya ? " Ajak Farhan yang menyadari jika waktu makan siang telah tiba.
" Cari restoran Ramen ya, Bang ." Pinta Khairani.
" Apa tidak sebaiknya makan nasi, Khai ?"
" Pinginnya Ramen. " Rengek Khairani
" Oke kita cari Ramen, tapi tetap ada nasi yaa? . Sushi juga boleh asalkan ada nasinya, oke !? Ucap Farhan.
" Oke... " Khairani sedikit mendesah menyerah.
Selama menikmati makanannya Khairani lebih banyak diam. Rasa kehilangan setelah kepergian anak anaknya masih membuatnya sedih. Kebersamaan yang selama tiga minggu ini terasa cepat berlalu.
Farhan sangat paham mood istrinya sedang down . Dia berusaha untuk memberikan sentuhan hangat untuk menguatkan sang istri. Elusan genggaman bahkan kecupan mengisi kegiatan makan mereka.
Tidak kehabisan ide untuk membangkitkan semangat istrinya, akhirnya Farhan mengajak Khairani ke Mall terdekat. Walaupun Khairani tidak doyan shoping namun tetap saja dia seorang wanita.
Farhan bukan mengajak membeli tas maupun pakaian branded , melainkan ke tempat perlengkapan bayi. Sesaat kemudian senyum manis mulai merekah dari bibir Khairani. Farhan hanya geleng geleng kepala melihat Khairani. istrinya sangat unik hanya melihat pakaian bayi saja sudah membuatnya bahagia.
" Abang tahu saja kalau aku mau beli perlengkapan bayi. Rencananya setelah anak anak kembali ke Pekanbaru ,aku memang mau kesini. " Ucap Khairani sambil tersenyum manis.
" Belanjalah pakaian apa yang dibutuhkan untuk sekecil ini. Abang kesana sebentar memilih perabotan dan perlengkapan yang lain ." Kemudian Farhan memanggil seorang pramuniaga untuk membantu istrinya.
Semua perlengkapan, baik pakaian, peralatan maupun perabotan telah selesai dipilih . Farhan membayar semua belanjaan mereka kemudian mengajak Khairani pulang. Tinggal menunggu pihak toko mengantarkan semua belanjaan ke rumah mereka.
Senyum bahagia Farhan nampak jelas ketika menyaksikan Khairani tidak lagi terlihat sedih. Sementara Khairani ingin segera sampai di rumah. Kerinduan terhadap ketiga balitanya tiba tiba menyeruak ketika melihat paperbag ditangannya. Tiga pasang baju yang lucu untuk ketiga bayi lucunya.
...****************...
🌺 Hai sista 💖
Ayo singgah ke karya ku yang lainnya
jangan lupa
love💖
like👍
vote🌻
thank you 🌺
__ADS_1