Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Mendadak Sah...


__ADS_3

Sejak subuh tadi semua orang telah sibuk untuk membantu Khairani untuk pindah ke rumah lama. Barang barang sudah diangkut. Begitu juga dengan kedua adik Khairani dan keluarga mereka, habis sarapan mereka telah pergi.


Khairani rencananya akan menyusul sebentar lagi. Ketiga bayi delapan bulan itu sedang dimandikan oleh pengasuh mereka. Khairani akan berangkat bersama Farhan.


Setelah selesai bersiap Khairani keluar dari kamar, bermaksud memanggil Fariz dan Alma. Dia menanyakan keberadaan mereka kepada seorang pembantu rumah Farhan.


" Teh Nini ,tolong panggilkan anak anak saya di kamar mereka. " Ucap Khairani.


"Mereka sudah pergi duluan , Buk . Sama saudara Ibuk tadi. " Jawab Teh Nini .


" Oh ya, saya tidak tahu. Maaf Teh Bang Farhan mana ya ?"


"Bapak juga keluar ,Buk . Kata beliau suruh Ibuk tunggu ,katanya sebentar saja sih buk. "


" Oke deh Teh ,saya lihat anak anak dulu. "Lanjut Khairani sambil berjalan ke kamar.


Tidak lama Farhan datang membawa paper bag dan langsung berdiri menuju kamar Khairani. Setelah mengetuk beberapa kali, Khairani muncul di balik pintu.


" Bang Farhan..." Ucapan Khairani terputus karena Farhan menyodorkan pamer bag kehadapannya.


"Apa ini Bang ?"


" Itu baju buat Gaza Aliya dan Alika, suruh pengasuh ganti pakaian mereka dengan yang itu , ya. Aku tunggu sekarang habis itu kita berangkat. " Ucap Farhan.


" Oke, tunggu sebentar. " Khairani terlihat bingung ." Kenapa harus ganti sih " Batinnya. Apalagi setelah membuka isi paket bag itu. Tapi Khairani tidak ambil pusing. Lalu menyuruh Dwi memakaikanya kepada para bayi.


Kini mereka telah masuk ke dalam mobil Farhan. Ketiga bayi sudah dipangku oleh pengasuh mereka dan Khairani. Farhan memastikan mereka telah duduk dengan nyaman lalu melajukan mobil menuju rumah lama Khairani yang telah dirombak habis.


Tidak memakan waktu lama sampailah mereka di depan rumah. Khairani tercengang melihat pemandangan di depannya. Rumahnya telah berubah sedemikian rupa sehingga tak tampak lagi bentuk aslinya.


Yang lebih mengejutkan adalah ada hiasan tak biasa menghiasi rumah itu. Terdapat tenda yang tidak begitu besar tapi dihias dengan cantik dan mewah.


Khairani hanya termangu dan menatap sekeliling, hingga akhirnya tatapannya berakhir pada Farhan.Farhan hanya tersenyum penuh arti melihat tatap Khairani yang penuh tanda tanya.


"Kita tidak salah alamat, kan ?


"Tidak, alamatnya sudah tepat. Ayo turun biar kamu yakin. " Ajak Farhan lalu membuka pintu mobil. Kemudian dia mengambil alih Gaza di gendongan Khairani.


" Turunlah semua sudah menunggu di dalam. " Ucap Farhan lalu berjalan menuju pintu masuk diikuti para pengasuh. Sementara Khairani masih terkesima melihat penampakan rumahnya kini. Sehingga dia tersentak ketika mendengar teriakan seseorang.


"Kak Rani, ayo !! Ega berdiri di teras sambil berkaca pinggang. Setelah Khairani sudah ada didepannya, dia langsung menariknya masuk. " Cepat Kak kita tidak punya waktu banyak. "


Sesampai di dalam Khairani lebih terpana lagi. Rumahnya yang sederhana tidak berbekas lagi, yang nampak sekarang rumah mewah dua lantai yang cukup luas .


Lagi lagi Khairani dikejutkan oleh dekorasi rumah yang tidak biasa. Semua ruangan, mulai dari ruang tamu sampai ruang tengah yang luas ini dihiasi layaknya Istana Raja.


Banyak pernak pernik dan berbagai macam bunga, dari bunga mati dan bunga segar ditata cantik disetiap sudut. Khairani yang melangkah pelan mengelilingi seisi rumah dengan matanya. Dan.... apa itu !!!


Mata Khairani menangkap sesuatu yang ganjil di salah satu sudut ruang tengah . Sebuah panggung kecil yang dihias sederhana tapi elegan, seperti sebuah pelaminan. Khairani kembali tersentak oleh seseorang yang memegang bahunya.


"Kenapa... Kakak kaget dengan semua ini ? " Irul membalikkan tubuh Khairani menghadapnya.


"Rul apa semua ini, aku tidak mengerti."


"Kakak sudah menerima lamarannya ,kan ? Dan hari ini Kak Rani akan menikah. Ucap Irul.


"Apa maksud mu, kenapa mendadak ak ...

__ADS_1


"Aku yang merencanakan semua ini, aku tidak ingin menundanya. Aku tidak mau kamu berubah pikiran, maaf kalau kesannya mendadak. Tapi ini sudah kami persiapkan jauh hari. " Potong seseorang yang berada di belakang Khairani.


Sontak Khairani memutar badannya seratus delapan puluh derajat. Ternyata Farhan yang bicara sambil mengepal kedua tangannya di dalam saku celana.


Wajah yang datar itu menyimpan kegelisahan. Ketakutan kalau Khairani menolaknya, sementara dia telah sampai dititik ini.


" Aku baru menerima lamaranmu ,tadi malam, bagaimana kamu bisa berpikir kalau aku mau menikah hari ini dan... ini... " Khairani berhenti sambil menekan pelipisnya. " Kalian membuat keputusan sebesar ini tanpa melibatkan ku. " Lanjutnya.


" Dan lihat rumah ini, tak ada yang minta persetujuan ku .Semua tidak sesuai dengan pembicaraan awal. " Kini mata tajam Khairani mengarah pada Irul.


"Maaf Kak, kalau rumah ini kami sengaja ingin membuat kejutan untuk Kakak ." Ucap Irul sambil nyegir salah tingkah, sementara matanya melirik Farhan.


" Sudahlah, mau nikah aja ribet amat. Cepatlah Kak MUA nya udah nunggu dari tadi, kita tidak punya banyak waktu. " Tiba tiba Nisa sudah ada disana , menghentikan perdebatan itu.


"Sebentar, aku butuh bicara berdua. " Ucap Khairani dengan menatap Farhan tajam.


Di sinilah sekarang mereka, di halaman belakang rumah yang telah disulap menjadi kolam renang ukuran kecil tapi memanjang. Dan dilengkapi kursi santai dan taman kecil.


Khairani menatap kolam yang berwarna tosca muda dan Farhan duduk di kursi malas menatap punggung Khairani .Tidak lama kemudian Khairani datang memutar badan menghadap Farhan.


" Kenapa terlalu buru buru ?" Tanya Khairani ,dan Farhan sangat mengerti maksud Khairani.


"Apa yang harus ditunggu, apa kamu belum bisa melupakan Bakri .Aku bukan pria dua puluh lima tahun yang masih bisa menunggu. Terus kenapa harus menundanya. "


"Tapi ini terlalu mendadak dan kita belum ada pembicaraan tentang pernikahan. "


" Kamu telah menerima ku, kan ! Bagi ku itu sudah cukup , ini hanya masalah waktu. Mau sekarang, besok, atau lusa toh akhirnya kita nikah jugakan. "


"Khaira... izinkan aku menikahi mu sekarang. Aku pernah kehilangan harapan untuk mendapatkan kamu. Sekarang aku punya kesempatan itu, aku tak ingin menundanya. "


"Khai...kamu cinta pertama ku, kamu orang yang membuat ku ingin menikah dan punya keluarga ." Farhan berdiri dan menggenggam kemari Khairani.


" Jangan lepaskan aku sekarang ,aku tidak akan melepaskan mu, ayo aku Halalin kamu hari ini juga. " Khairani yang tetap berdiri di memaku.


"Oke, kalau kamu tidak bisa menerima ku karena cinta, setidaknya terima aku demi Si Kembar. Itu saja udah cukup untukku, aku mohon... " Suara Farhan terdengar lirih.


"Baiklah, ayo menikah sekarang, tapi kasi aku waktu untuk bisa menerima mu sepenuh hati ku. Hanya untuk menyakinkan perasaan ku saja. " Ucap Khairani sambil menunduk.


" Sesuai keinginan mu Khaira ,aku tidak akan menuntut lebih, dan terima kasih telah memberiku kesempatan. "


Farhan sebenarnya sedikit kecewa, tapi dia sadar tidak bisa memaksa saat ini. Baginya bisa mengikat Khairani dalam hubungan halal saja sudah cukup saat ini . Selanjutnya dia akan berusaha untuk bisa mendapatkan Khairani seutuhnya .


*****


Sah...


Satu kata itu baru saja menggema di ruang tengah. Khairani yang tersentak dari lamunannya karena satu kata itu. Kini dia sudah resmi menjadi istri Farhan. Hal yang tidak pernah dia bayangkan.


Walaupun belakangan ini Farhan telah bisa membuatnya panas dingin. Kejahilan Farhan kadang mampu menghangatkan hatinya. Tidak bisa Khairani pungkiri dia menikmati perhatian kecil yang Farhan berikan. Tapi ini terlalu mendadak. Khairani masih terasa bermimpi.


"Ceklek... "


Pintu kamarnya terbuka, memutuskan lamunan Khairani .Nisa dan Ega muncul di balik pintu dengan senyuman penuh arti.


"Ayo Nyonya Johnson ,anda diminta untuk bertemu dengan Tuan Farhan Jonnson. " Nisa berkata dengan senyuman mengoda.


Sementara Khairani bingung, Ega malah cekikikan mendengar ucapan Nisa.

__ADS_1


"Jonhson...? Tanya Khairani dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kak tidak tau nama suamimu ? Oh no, baiklah, sekarang turunlah dulu, nanti saja Kak Rani kenalan dengan suamimu itu. " Melihat Khairani yang terpaku kebingungan, akhirnya Nisa segera menarik tangannya pelan untuk membantu Khairani berdiri.


Khairani keluar dari kamar digandeng oleh Nisa dan Ega. Semua mata mengarah ke tangga, tidak terkecuali Farhan yang menunggu dengan gelisah. Matanya sama sekali tidak berkedip. Hingga sosok yang ditunggunya berjalan pelan menuju pelaminan.


Wanita sederhana yang bermata bulat dan berhidung mancung. Berwajah manis dan sekarang kulitnya lebih terlihat cerah dan bercahaya. wajah sederhana itu sangat enak untuk pandang mata. Farhan tak mampu merubah arah pandangnya .



" Jangan lupa berkedip Bang, nanti aja di kamar dilanjutkan. Malu sama umur." Goda Irul yang melihat Farhan yang terpana.


"Apa hubungannya sama umur ?" Ucap Farhan menghilangkan groginya.


"Abang kayak anak ABG dikawini. " Bisik Irul mengejek.


"Biarin !" Jawab Farhan pendek.


Khairani hanya menunduk saja, sama sekali tidak melihat kearah Farhan. Sampai akhirnya dia duduk di samping Farhan ,Khairani sama sekali tidak mengangkat kepalanya.


Setelah Farhan dan Khairani menanda tangani semua berkas pernikahan mereka dan bersalaman ,sekarang tibalah waktunya untuk berfoto.


Khairani baru menyadari ternyata bajunya dan Farhan juga anak anak berwarna serasi. Semua berwarna Peach terang.


Tidak banyak tamu yang datang. Beberapa tetangga ,teman Irul dan Nisa. Ada juga teman Bakri dan Khairani, juga para karyawan dan juga kolega Syafi'i.


Menjelang sore para tamu mulai meninggalkan lokasi acara pernikahan dadakan ini. Tinggallah keluarga dekat dan beberapa petugas Ketring dan WO yang kelihatan berbenah.


Khairani pun sudah berada di kamar, sedang membuka pernak pernik di kepalanya dibantu oleh Ega dan salah satu anggota MUA. Selesai membuka hiasan kepala dan berkemas mereka pun keluar.


Khairani membersihkan sisa make up di wajahnya dengan cairan pembersih wajah. Tiba tiba pintu kamar dibuka dari luar. Farhan muncul dengan senyuman yang tidak luntur di bibirnya.


Khairani pura pura acuh saja. Walaupun merasa aneh satu ruangan dengan Farhan tapi dia bisa apa selain menerima. Toh sekarang pria tampan bak aktor Turki itu suaminya.


Farhan mendekati Khairani dengan langkah pelan. Berdiri di belakang Khairani sambil menatap pantulan wajah Khairani dari cermin meja rias. Khairani yang merasa diperhatikan menghentikan kegiatannya dan berbalik.


"Abang mau mandi duluan atau aku dulu ? Ucapnya menghilangkan rasa canggung.


"kamu saja, pasti tidak nyaman dan gerah pakai baju kayak gitu. " Jawab Farhan dengan suara pelan. Kemudian dia duduk di pinggir ranjang.


Khairani melangkah ke kamar mandi dengan membawa baju ganti. Selesai Khairani kini giliran Farhan yang mandi. Khairani menyiapkan pakaian ganti buat Farhan.


Sembari menunggu ,Khairani memandang kamarnya sekeliling. Dia baru menyadari kalau kamar ini sangat luas. Lengkap dengan perabotan simpel tapi elegan. Nuansa hitam putih mendominasi.


Hanya seprai dan gordennya berwarna Lilac ,warna kesukaan Khairani. Apapun yang ada di kamar ini terlihat simpel tapi Khairani tahu semua barang mahal. Termasuk ranjang yang berukuran King size ini.


Bunyi pintu kamar mandi memancing mata Khairani kearah sumber bunyi. Farhan muncul dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Khairani membuang pandangannya ke arah jendela .


Farhan tau Khairani tak nyaman, dan Farhan juga tidak mau tergesa gesa. Dia akan mengikuti alur saja. Sampai Khairani benar benar siap untuknya.


" Abang berpakaianlah dulu, aku mau lihat anak anak. " Khairani menghindari Farhan. Farhan hanya menjawab dengan anggukan.


Sepeninggal Khairani Farhan menghela napas kasar. Melihat Khairani menghindarinya ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya. Tapi Farhan tidak akan menyerah begitu saja.


"Ini baru awalnya saja, selanjutnya aku akan membuat mu tidak akan bisa tanpa pelukanku, tunggu saja. " Ucap batin Farhan.


...****************...

__ADS_1


🌺 Jangan kirim cintanya ya vote dan dukungan Author lagi galau 💔


__ADS_2