
Fajar telah mengintip dibalik cakrawala. Suara azan pun telah menggema disegala penjuru kota. Membangunkan setiap insan yang masih terlena dalam lelapnya.
Tapi tidak dengan kedua pria yang masih menunggu di depan ruang operasi. Farhan hendak berdiri untuk menunaikan ibadah Subuh ,namun terhenti ketika pintu ruang operasi tiba tiba terbuka. Keluarlah seorang Dokter dan dua orang perawat yang mengikuti di belakangnya.
"Keluarga saudara Luki.... " tanya Dokter itu.
"Saya Dok, yang bertanggung jawab, keluarganya masih dalam perjalanan dari Padang. " jawab Farhan
"Oh.. baiklah, bisa ikut saya Pak... ada beberapa hal yang harus saya jelaskan" lanjut Sang Dokter.
"Baik Dok...
Mereka berjalan di lorong rumah sakit dan memasuki sebuah ruangan, mungkin ruang pribadi Dokter tersebut.
"Duduk dulu pak... " ucap Dokter itu.
Farhan menarik kursi yang ada di hadapan dokter yang hanya terhalang sebuah meja.
"Bagaimana kondisi teman saya Dokter... "Tanya Farhan tidak sabar.
"Operasi nya berjalan lancar... cuma ada benturan di kepala sebelah kiri. Dugaan sementara itulah yang menyebabkan pasien tidak sadarkan diri. Tapi tidak terlalu parah. Tapi...
"Ada apa Dokter...
"Kaki pasien sebelah kiri rusak parah dibagian tempurung lututnya. Kemungkinan kaki sebelah kiri akan kaku , tidak bisa di gerakan atau di patahkan. Pasien akan kesusahan berjalan walaupun masih bisa tapi akan seperti Robot dan itu cacat permanen.
"Apa masih bisa beraktivitas Dokter...
"Tentu saja bisa, cuma gerakannya akan terbatas, dan yang pasti tidak bisa menyetir mobil tentunya. Syukur kaki kanan tidak begitu parah dan bisa sembuh seperti sedia kala.
"Apa ada lagi cedera yang lain Dokter... maksud saya bagian dalam mungkin... "lanjut Farhan.
"Alhamdulillah tidak ada masalah dengan organ dalam, mungkin karena pasien memakai Safety belt dengan baik dan benar, jadi bisa mengurangi resiko cedera dalam. Hanya benturan dari luar yang tidak bisa dihindari.
"Bagaimana dengan Bakri Dokter..
"Operasi masih berlanjut... saya belum bisa bicara... kita tunggu saja... Baiklah Pak Farhan.. cuma itu yang bisa saya sampaikan. Pasien masih di ruang Observasi, setelah dipindahkan ke ruang rawat baru boleh ditemui.
"Baik Dokter terimakasih kalau begitu saya permisi. " Farhan pun beranjak dari duduknya, melangkah gontai keluar dari ruangan dan menuju Mushola kecil yang ada di rumah sakit. Tempatnya melepaskan segala gundahnya. Tempat dia menumpahkan semua sesak dadanya yang menghimpit.
__ADS_1
Setelah selesai berkeluh kesah kepada Pemilik kehidupan, barulah Farhan merasa sedikit tenang. Diambilnya Hp nya dan mencari nama Khairani.
Panggilan pertama langsung diangkat oleh Khairani.
"Halo bang Farhan... "Suara Khairani yang serak membuktikan kalau semalaman dia menangis dan kurang tidur.
" Khaira..bersiaplah aku sudah suruh pihak hotel untuk mengantarkan kalian untuk pulang... " ucap Farhan yang berusaha untuk tenang.
"Bukan itu yang ingin aku dengar... Bang Bakri... dimana... " ucapnya terbata dengan air mata.
"Masih di ruang operasi, kembalilah dulu nanti kita ba .....
"Apa yang terjadi... kenapa kamu diam saja dari semalam... kamu kira aku bisa tidur nyenyak ...ketika suamiku tidak bisa ku hubungi sepanjang malam... tidak ada kabar apapun... apa tidak ada yang bisa kau sampai kan sekarang. " sarkas Khairani panjang lebar. Mengeluarkan sesak yang dia tahan dari tadi malam.
"......" Farhan hanya bisa diam, memegang dahinya, untuk mengurangi sakit kepalanya. Tidak tidur dari tadi malam ditambah lelahnya membantu evakuasi dan sekarang kebingungan mau menjelaskan situasi ini pada Khairani.
"Kenapa... kamu masih mau diam...." suara yang biasanya lembut sekarang telah berubah ketus bercampur serak.
"Khaira... tenanglah dulu... aku tunggu di sini,bersiaplah...kamu mau ketemu Bakri kan.. maka cepatlah... " ucap Farhan lembut dan sedikit lemah.
Tanpa bertanya lagi Khairani langsung mematikan panggilan dengan kesal. Melempar HP nya ke sofa dan keluar untuk membangunkan semua orang. Kemudian dia kembali ke kamar ,membersihkan para bayi dan bersiap untuk pulang.
Entah apa yang Farhan sembunyikan dari nya. Khairani juga heran dengan sikap Farhan. Apa susahnya mengatakan yang sebenarnya padanya. Sementara Farhan memang bingung .Ada rasa takut mengatakan sesuatu yang menyakiti Khairani .Dan takut dengan reaksi Khairani setelah mengetahui semua yang menimpa Bakri .Itulah sebabnya Farhan memilih menyampaikannya setelah Khairani ada di sini.
Disaat Khairani bersiap hendak berangkat kembali ke kota, Farhan memilih kembali ke ruang tunggu operasi. Di sana Qori tertidur dalam keadaan duduk. Farhan memilih duduk di kursi yang lain, karena takut membangunkan Qori. Dia tahu Qori pasti sangat lelah dan mengantuk sama seperti dirinya. Tapi Farhan tidak dapat memejamkan mata ,karena pikirannya masih tertuju kepada Bakri.
Tak lama berselang pintu ruangan itu terbuka .Farhan tersentak dan langsung berdiri.
"Bagaimana Dok... teman saya... " Farhan bertanya tidak sabar.
"Anda keluarganya... ? tanya Dokter
"Bukan... keluarganya dalam perjalanan, saya yang bertanggung jawab terhadap pasien Dokter. Jadi Dokter bisa menyampaikannya kepada saya. "Jawab Farhan.
"Baiklah Pak... sebelumnya kami minta maaf, kondisi pasien dalam keadaan kritis, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, luka pada dada pasien mengenai organ vital ditambah pasien kehabisan banyak darah. Dan..." Dokter itu membuang napas kasar lalu melanjutkan ucapannya " Cedera kepalanya tergolong sangat parah.
"Apa masih ada harapan Dokter... " ucap Farhan dengan suara lirih sambil memijit dahinya yang terasa pening.
"Harapan pasti ada pak , tapi sangat kecil... kita hanya bisa berdoa saja pak semoga pasien bisa melewati masa kritis. " lanjut Dokter sambil menepuk pundak Farhan, kemudian berjalan meninggalkan Farhan yang tertunduk .
__ADS_1
Dengan langkah berat Farhan pun beranjak dari tempatnya berdiri. Dia ingin melihat kondisi Bakri di ruang ICU walau hanya dari jauh saja. Baru dua langkah kakinya berjalan, matanya langsung menangkap sepasang mata bola yang telah basah bersimbah air mata. Yaa... dia Khairani... !!!
Khairani sudah berdiri disana sejak Dokter menjelaskan kondisi Bakri. Dia hanya bisa diam terpaku .Kakinya tidak punya kekuatan untuk bergerak. Dan mulutnya terkunci, tak sanggup buat berkata. Semua yang didengarnya sangat mengguncang jiwanya. Separuh nyawanya terasa hilang dan direnggut paksa.
Farhan hanya bisa menatap sendu mata bulat yang berair itu. Ingin rasanya merengkuh tubuh lemah itu ke dalam dekapannya. Tapi dia masih menjaga batasannya. Berlahan Farhan mendekati Khairani. Tak tahan melihat kesakitan yang dirasa wanita didepannya ini ,sehingga dia memutuskan untuk mulai bicara.
"Duduklah... kamu pasti syok dan lelah... " Khairani masih menangis dalam diam, seraya menatap Farhan dengan tajam.
"Ayo... duduklah " ucap Farhan lagi sambil menarik pelan tangan Khairani dan mengarahkannya ke kursi disamping Qori.
Khairani pun menurut dan duduk. Disamping dia lelah, Khairani juga tidak punya kekuatan lagi untuk berdebat saat ini.
Qori dari tadi sudah bangun ketika Farhan bicara dengan Dokter. Menyadari keadaan istri bos nya yang sudah tidak berdaya, Qori memberikan sebotol air mineral yang memang dibeli Farhan tadi malam.
Khairani langsung membuka dan meminum air mineral itu. Matanya kembali menatap Farhan yang juga menatapnya dengan sendu. Tatapan Khairani meminta penjelasan.
"Qori.. ini kunci mobil.. pulanglah dan istirahat ,kamu pasti lelah. "ucap Farhan.
"Baik pak... kalau bapak butuh saya telepon saja, saya langsung kesini nanti. "Ucap Qori sambil menerima kunci lalu berdiri ." saya pulang dulu buk " lanjutnya, dibalas anggukan Khairani.
Setelah Qori menjauh Khairani kembali menatap Farhan .
"Aku mau ketemu Bang Bakri..
"Ayo kita kesana...dia di ICU
Di balik pintu kaca ruang ICU Khairani melihat suaminya kini tak berdaya ,di tubuhnya banyak alat penunjang kehidupan entah apa saja namanya. Banyak perban yang menempel disekujur tubuh dan kepala suaminya.
Air mata itu kembali berhamburan tanpa dapat dibendung lagi. Ingin rasanya Khairani mendobrak pintu dan memeluk tubuh kesayangannya itu. Tapi prosedur rumah sakit tak mengizinkan nya karena Bakri dalam keadaan kritis.
Puas menatap suaminya dari kejauhan akhirnya Khairani berjalan menjauhi pintu kaca itu. Tak jauh dari sana Farhan duduk menunggu Khairani.
*****
Kini Khairani dan Farhan duduk di kantin rumah sakit. Farhan memaksa Khairani untuk sarapan baru dia akan menceritakan semuanya. Mau tak mau akhirnya Khairani harus menurut. Sambil berusaha menelan makanannya Khairani terus berharap semua akan baik baik saja.
*****
🌺 Tunggu bab selanjutnya ya Readers... Love you all 🌺
__ADS_1