Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Hati yang tersakiti


__ADS_3

Khairani sudah agak baikan dibanding kemarin. Hari ini dia sudah bisa turun dari ranjang, bahkan sudah menyusui anak anak ke kamar mereka.


Tapi rasa mualnya tak kunjung mereda. Setiap pagi dan sore menjelang malam dia akan muntah muntah. Begitu juga sore ini, Khairani duduk bersandar di sofa kamarnya sambil memejamkan mata. Berharap bisa meredakan rasa mual yang menderanya.


Wajahnya masih pucat walaupun tidak sepucat kemarin. Khairani menyadari tubuhnya tidak baik baik saja sekarang. Ada kecurigaan kalau dia sedang hamil. Tapi Khairani belum mau mengeceknya ,karena hatinya sedang risau saat ini.


Khairani merasakan sepertinya asam lambungnya sedang naik. Khairani sedikit merintih sambil menekan hulu hatinya yang terasa agak perih .Kemudian tangannya turun ke perut dan mengelus lembut di sana.


Sebuah tangan hangat dan besar ikut menggenggam jemari Khairani yang ada di perutnya. Bersamaan dengan sebuah kecupan dari bibir lembut di keningnya .Karena terlalu sibuk dengan pikirannya Khairani tidak menyadari seseorang telah masuk ke kamarnya.


Khairani reflek menepis tangan Farhan. Ya, Farhan sudah ada di kamar beberapa saat lalu. Ketika Khairani tidak menyadari kedatangannya, Farhan pun mendekati istrinya.


Ketika Khairani menepis tangannya, Farhan beranggapan istrinya hanya kaget. Tetapi ketika mata bulat itu menatapnya Farhan merasakan sesuatu yang tak biasa.


Mata yang selalu berbinar ketika menyambutnya tidak ada lagi. Mata itu terlihat sendu walaupun kini sedang menajam ke arahnya. Ada lingkaran hitam yang terlihat di bawahnya, menandakan istrinya kurang tidur beberapa hari ini.


"Deg"


Farhan bertambah kaget ketika mata itu mulai berkaca dan kini Khairani membuang pandangannya ke arah jendela. " Ada apa ini, dia sedang marah. " Ucap Farhan dalam hatinya.


Dengan lembut Farhan meraih wajah istrinya dan menariknya pelan agar wajah dan mata itu menatapnya kembali.


"Apa istriku sedang marah ? Maaf aku tidak mengabari mu beberapa hari lalu karena aku sibuk sekali. " Ucap Farhan, lalu mencium bibir Khairani dengan lembut.


Sementara Khairani hanya diam tidak membalas ataupun menolak. Sesaat kemudian Khairani teringat kembali pada video malam itu. Mata yang tadi hanya berkaca kaca saja kini telah pecah berhamburan.


Farhan langsung melepaskan tautan bibirnya, ketika merasakan air mata istrinya. Dia menatap Khairani dalam, mencari jawaban apa yang istrinya rasakan sekarang. Tidak mungkin hanya karena dia tidak mengabari beberapa hari saja.


Farhan menghapus air mata yang mengalir di pipi Khairani seraya tersenyum.


"Apa istriku terlalu merindukan ku hingga dia jadi cengeng begini. Atau dia mencemaskan ku, mhm..."


Menyadari Khairani tetap saja menangis dalam diam ,Farhan lalu memeluk Khairani kedekapannya. Pelukan itu sama sekali tidak dibalas Khairani. Farhan makin yakin ada hal yang tidak sederhana yang terjadi. Istrinya benar benar marah.


Dari tatapan dan bahasa tubuh Khairani, Farhan menyadari ada yang salah pada dirinya. Tapi apa !! Farhan harus tahu itu. Sekarang Farhan masih bersyukur Khairani tidak menolak sentuhannya walaupun tidak satu patah kata pun yang terucap oleh Khairani.


Farhan makin mengeratkan pelukannya, ketika dia merasakan getaran tubuh Khairani yang sedang menumpahkan kegundahannya. Hingga isakan yang Khairani mereda berganti dengan dengkuran halus.


Sebenarnya Khairani merasa nyaman dalam pelukan itu. Dia begitu merindukan pelukan itu .Entah mengapa belakangan ini dia menginginkan pelukan itu kala ingin tidur.

__ADS_1


Mungkin karena kurang tidur beberapa hari ini, dan kelelahan menangis Khairani jadi mudah tertidur. Apalagi pelukan hangat itu dia dapatkan kini. Hanya rasa sakit hatinya yang membuatnya tidak ingin bicara ataupun membalas pelukan suaminya.


Farhan menggendong Khairani dan memindahkannya keranjang, menyelimutinya sebatas dada lalu mengecup kening Khairani lama.


Tak sengaja mata Farhan melihat HP Khairani di atas nakas dalam keadaan mati. Terlihat retakan dan bagian yang remuk di pinggirnya.


" Kamu membantingnya, ini bukan jatuh. Ada apa sebenarnya ? " Farhan bergumam, lalu dia mengisi daya HP Khairani. Farhan begitu penasaran apa yang terjadi sebenarnya nya.


Farhan keluar dari kamar menuju kamar anak anaknya. Bukan hanya ingin bertemu mereka, tetapi ada hal yang ingin Farhan tanyakan pada pengasuh anaknya.


"Dwi , apa waktu Ibuk pingsan dia terjatuh di lantai ? Tanya Farhan ketika bertemu Dwi.


"Tidak Pak Ibuk di atas tempat tidur. Mungkin karena kelelahan habis muntah makanya Ibuk pingsan setelah merebahkan diri di tempat tidur. "


"Apa HP Ibuk jatuh di lantai saat kalian masuk kamar ? "


" Ibuk tidak sadarkan diri sambil memegang Hpnya Pak , malah HP Ibuk masih hidup cuma layarnya yang pecah. Waktu itu saya ingin bantu cas Ibuk melarangnya. " Jawab Dwi.


"Oke Dwi terima kasih, mana anak anak ?


"Lagi dimandikan sama Tika Pak."


"Baiklah, kalau sudah selesai bawa ke ruang tengah ya saya tunggu ." Farhan pun berjalan meninggalkan Dwi setelah Dwi mengangguk mengiyakan.


Tidak ada yang menarik perhatiannya kecuali banyaknya panggilan keluar ke nomor Farhan. Dan waktunya sekitar seminggu yang lalu. Farhan mengingat waktu itu dia lembur hingga pagi bersama Jeany dan tertidur di kantor.


Tapi Farhan tidak menemukan laporan di HP nya. Sama seperti yang terjadi pada waktu Irul menelponnya. Waktu Farhan menanyakan kondisi Khairani waktu itu, Irul juga mengatakan sudah menghubungi nya beberapa kali juga mengirim pesan. Tapi tidak satu pun yang Farhan temukan.


Kemudian Farhan membuka Room chating istrinya. Begitu banyak pesan yang dikirim Khairani pada dirinya, hingga pada bagian terakhir .Farhan sangat kaget melihat rekaman video yang Khairani kirim dengan beberapa kata dibawahnya.


Farhan meletakkan HP itu lalu meraup wajahnya frustrasi. Sekarang dia tahu kenapa istrinya begitu marah padanya. Darimana Khairani mendapatkan rekaman itu dan kenapa ada rekaman itu .Lalu siapa yang merekam.


Semua pertanyaan itu berputar putar di kepalanya. Bagaimana menjelaskan kepada Khairani. Apakah Khairani bisa menerima penjelasannya. Bagaimana kalau Khairani tahu tentang masalalunya dengan Jeany.


Di tengah rasa frustrasinya mata Farhan menangkap mata bulat dan basah sedang menatapnya sendu. Khairani kembali terisak dalam diam. Farhan bisa melihat hancurnya hati istrinya kini.


Dengan langkah pelan Farhan mendekat dan merebahkan badannya di sisi Khairani. Menatap istrinya dekat dan semakin dekat hingga kedua kening mereka saling bersentuhan.


"Maaf. " Hanya itu yang bisa diucapkan Farhan. Seraya mencium kedua mata basah itu.

__ADS_1


"Maafkan aku. " Farhan kembali meminta maaf, kemudian mencium kedua pipi Khairani. Terakhir Farhan me****t bibir Khairani yang dari tadi bergetar menahan isakan.


Farhan semakin frustrasi karena Khairani sama sekali tidak meresponnya. Yang ada tangis itu semakin menjadi. Tubuh ringkih itu bergetar dahsyat .Melihat istrinya yang tidak terkendali Farhan langsung memeluk erat, berharap tubuh itu tidak bergetar lagi.


" Jangan menangis lagi, cukup ..." Farhan pun tidak sanggup menahan gemuruh di dadanya. Hatinya ikut sakit melihat kondisi Khairani saat ini. Istrinya tidak hanya sakit badan tapi hatinya juga sedang terluka.


"Pukul aku, jangan diam. Atau berteriaklah... ! Jangan ditahan sayang. Itu akan semakin menyiksa mu. Ayo lampiaskan pada ku. " Ucap Farhan dengan suara serak dan bergetar menahan tangis.


Farhan benar benar merasa sangat bersalah. Dia tidak sengaja menoreh luka yang dalam untuk istrinya. Farhan tidak tahu cara menjelaskan semua itu. Farhan yakin Khairani pasti berfikir yang tidak tidak tentangnya. Situasi sangat mendukung untuk kesalahan Pahaman ini.


Farhan yang tidak menelepon dan tidak bisa dihubungi. Dia tidak pulang hampir satu bulan. Dan panggilan Khairani yang diterima entah oleh siapa. Ditambah video laknat itu entah siapa yang mengirimnya.


Farhan ingin sekali menjelaskan kepada Khairani. Tapi kondisi Khairani sedang rapuh saat ini dan Farhan memilih untuk menenangkan istrinya terlebih dahulu.


Khairani tak kunjung tenang. Farhan berusaha untuk mendudukan Khairani yang terlihat lelah. Air matanya masih menganak sungai. Farhan meraih segelas air minum yang ada di nakas. Belum sempat dia meminumkan ke mulut Khairani ,tiba tiba Khairani tertelentang tidak sadarkan diri.


Farhan yang panik langsung meletakkan kembali gelas di nakas dan langsung menggendong Khairani menuju mobil. Semua yang melihat pun terkejut melihat Farhan berlari memopong Khairani.


"Bunda kenapa Pi ? " Tanya Alma yang kebetulan di ruang tengah bersama adik adiknya.


"Bunda pingsan , nak .Tunggu di rumah nanti Papi kabari. Jaga Adek ya ! " Ucap Farhan sambil berlari ke arah mobil.


Setelah mendudukan dan memasang sabuk pengaman untuk Khairani dengan Farhan langsung berlari menuju kursi kemudi. Dengan kecepatan tinggi dia memacu mobilnya membelah jalanan kota Pekanbaru yang sedikit macet di sore hari.


Dua jam kemudian


Di ruang VIP sebuah rumah sakit besar di Pekanbaru Farhan duduk menghadap Khairani yang belum sadar dari tadi. Tangannya tidak berhenti mengelus pipi dan kemudian bibir sang istri. Dan salah satu tangannya setia menggenggam jemari lembut Khairani.


Tangan itu akhirnya berpindah ke perut Khairani. Mengelus lembut disana , seraya tersenyum .


"Hai sayang, baik baiklah di sana. Jangan menyusahkan Bunda ya. Jaga Bunda untuk Papi, Nak ! " Gumamnya ke perut Khairani.


Khairani dinyatakan hamil delapan minggu. Kurang asupan dan banyak pikiran membuat dia lemah. Bayinya sehat tapi ibunya tidak. Kondisi ini berbahaya terhadap kandungan Khairani.


Dokter juga mengatakan jarak lahir secara SC yang terlalu dekat ditambah Khairani yang sudah mengalami tiga kali operasi SC, menambah daftar resiko kehamilannya.


Namun Dokter juga menjelaskan banyak kasus seperti ini tapi bisa berjalan lancar hingga lahiran. Tapi harus ekstra menjaga kondisi dan asupan sang ibu. Terutama kondisi psikisnya.


Inilah yang Farhan khawatirkan, Khairani sedang terguncang saat ini. Farhan hanya ingin anak dan istrinya sehat sehat saja. Semoga Khairani bisa menerima penjelasan nya nanti.

__ADS_1


Semoga.....


...****************...


__ADS_2