Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Calon istri


__ADS_3

Sejak memasuki kamarnya Khairani tidak bisa memejamkan matanya. Dia hanya mondar mandir dengan gelisah "Bagaimana mungkin untuk mengambil keputusan menikah dalam dua jam ."Batin Khairani.


Disaat Khairani yang gelisah di kamarnya, Farhan malah tersenyum sendiri di ruang kerjanya. " Semoga dengan waktu yang sempit ini, kamu tidak bisa berpikir banyak kecuali menerimanya. "


Farhan sengaja tidak memberi waktu banyak buat Khairani untuk berpikir, karena Farhan tidak sabar menunggu lama.


Selain itu adik adik Khairani juga sudah memberikan sinyal kalau kakak mereka tidak akan bisa menolaknya. Entah itu karena Si Kembar atau hal lain Farhan juga tidak tahu.


Waktu berlalu begitu cepat bagi Khairani. Tidak terasa sudah satu jam waktu terbuang begitu saja. Khairani tidak mengerti dengan dirinya. Menerima Farhan terasa mengkhianati Bakri. Tapi menolak Farhan ada perasaan takut kehilangan.


Di tengah keraguan itu tiba tiba terdengar suara ketukan di balik pintu. Khairani membuka pintu kamar segera ,takut anak anaknya terbangun.


" Rul, kamu belum tidur ?" Kiranya Irul yang mengetuk pintu kamar Khairani.


"Aku mau bicara sebentar Kak, di luar aja biar tidak mengganggu anak anak." Irul pun melangkah menuju meja makan lalu mengambil air minum dan meminumnya setelah duduk.


Khairani yang kelihatan bingung duduk di samping Irul yang sedang minum.


"Ada apa, apa yang ingin kamu bicarakan.? "


"Ini tentang Kakak , maksud ku tentang Kakak dan Bang Farhan. "


"Aku.. ? Kamu mengetahuinya ? " Irul hanya mengangguk mengiyakan.


" Apa Kak Rani masih bingung? " Sekarang Khairani yang mengangguk.


"Kenapa ?" Tanya Irul singkat.


"Apa Kakak tidak terlalu cepat menurut mu. Bang Bakri belum cukup enam bulan pergi ,Rul ."


" Tidak ada yang salah menurut ku Kak, kan Kak Rani telah melewati masa iddah . Sekarang tidak ada larangan lagi ,kan. "


" Aku sendiri bingung dengan diri ku. " Ucap Khairani lirih.


"Kak cobalah untuk melepaskan yang telah lalu. Bang Bakri jelas tidak akan kembali. Sementara anak anak butuh ayah. Apa lagi yang Kak Rani takutkan."


"Kak Rani harus berpikir realistis, kedepannya Kak Rani pasti butuh pendamping. Ingat Kak jangan seperti Ibu .Kak masih muda, anak anak juga masih kecil kecil. "

__ADS_1


"Huuft... " Apa kamu yakin dengan Bang Farhan ? " Tanya Khairani kemudian.


"Sejauh ini aku tidak melihat keburukan tentangnya kecuali masa lalunya. Yang pasti dia mencintaimu dan anak anak. Apa Kak Rani meragukannya ?"


"Entahlah... aku bukan wanita muda lagi, lebih tepatnya janda beranak tiga. Apa mungkin dia sungguh sungguh dengan wanita seperti ku. Sementara dia dikelilingi wanita wanita cantik di luar sana. Yang bisa dipilihnya dengan menunjuk saja."


" Yang dibutuhkan laki laki itu bukan sebatas tubuh dan wajah Kak. Kami butuh yang buat kami nyaman dan mengerti kami. Mungkin itu alasan kenapa Bang Farhan menginginkan mu. "


"Temuilah dia Kak, ini sudah waktunya. Berikan jawaban yang benar benar dari hatimu .Aku akan mendukung apapun keputusan Kak. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Kak Rani ."


"Pergilah... " Ucap Irul sambil mendorong bahu Khairani pelan, ketika Khairani tak juga beranjak.


Akhirnya disinilah Khairani, di depan pintu kayu berwarna hitam, ruang kerja Farhan. Sudah lima menit dia berdiri disitu , tidak ada juga keyakinannya untuk mengetuk, hingga tiba tiba pintu dibuka dari dalam.


"Berapa lama lagi kamu berdiri di situ. Apa kamu tidak ada kemauan untuk mengetuknya. Masuklah... " Farhan membuka pintu lebar agar Khairani bisa masuk.


Khairani yang hanya diam mulai melangkah masuk dengan pelan dan kelihatan ragu ragu. Sesampainya di dalam terdapat sebuah meja kerja dan sofa. Rak buku yang berjejer rapi. Semua bernuansa hitam dan putih.


"Duduklah... !" Khairani tersentak mendengar suara Farhan yang begitu dekat. Khairani duduk disebuah sofa singel dan diikuti Farhan yang duduk di sofa panjang.


"Jadi, bagaimana jawabanmu ?" Tanya Farhan yang tidak sabar.


Farhan mengangkat sudut bibirnya tersenyum.


"Kenapa kamu masih ragu ? Tanya Farhan.


Seketika Khairani mengangkat wajahnya, menatap tajam mata beriris coklat di depannya.


"Aku janda banyak anak, umurku sudah kepala empat. Suamiku baru tiada enam bulan lalu . Apa menurut mu aku langsung yakin, ketika dilamar seorang Cassanova , kaya raya, mapan, diincar banyak wanita. "


"Aku bukan gadis muda yang langsung klepek klepek ketika ditembak oleh pria tampan idolanya. Aku juga janda haus belaian yang langsung mengangguk ketika melihat tumpukan uang ."


"Bagaimana aku bisa langsung yakin sementara kita baru saja saling mengenal. Aku tidak tahu sisi kehidupan mu yang lain. " Ucap Khairani panjang lebar namun tetap tenang dan lembut.


Farhan yang mendengar sampai terpaku dan terpukau melihat mata dan mulut itu dengan jarak lebih kurang satu meter.


" Jadi menurutmu aku tampan. " Dari panjangnya perkataan Khairani tadi cuma satu pertanyaan itu yang muncul di otak Farhan yang lagi berubah oon.

__ADS_1


"Kapan aku mengatakannya. " Kilah Khairani.


"Tadi ada. "


" Mana ada... "


"Ya udah, yang penting bagiku kamu menerima lamaranku, soal keraguan kamu itu tugasku untuk meyakinkanmu. Kalau untuk mengenal diriku lebih jauh kamu punya waktu seumur hidupmu untuk mendengarkan cerita hidupku. Bagaimana deal... ?"


"Aku ini lagi melakukan kesepakatan hidup, bukan kesepakatan bisnis. Deal... deal " Jawab Khairani kesal. Farhan yang mendengar ucapan Khairani malah terkekeh.


"Baiklah, apa kamu setuju Khaira... calon istriku ?" Ucap Farhan sambil tersenyum jahil.


Khairani yang masih terlihat kesal pun tambah cemberut. " Ya sudahlah aku sudah menjawabnya, kalau begitu aku balik dulu. " Ucapnya sambil berdiri.


"Tunggu... " Farhan menghentikan langkah Khairani, lalu berjalan ke meja kerjanya. Dia mengambil sesuatu lalu berdiri dihadapan Khairani.


"Sementara pakai ini dulu, nanti akan aku cari yang lebih cantik di Singapura." Ucap Farhan sambil memasangkan sebuah cincin di jari manis Khairani.


" Tidak perlu ini sudah cukup , ini juga cantik. " Khairani berkata sambil menatap jari manisnya. " Terimakasih." Lanjutnya.


"Harusnya aku yang berterimakasih, karena sudah menerimaku. " Farhan bicara dengan mata tertuju pada Khairani. "Ya ampun semakin dekat, semakin ingin ku peluk, tapi aku takut dia marah . Dia makin cantik saja. " Batin Farhan.


"Aku ke kamar dulu Bang." Farhan pun tersentak dari lamunan.


"Enggak tidur disini aja. " Ucap Farhan menjahili .


"Tidak ada ranjang, malas... !" Jawab Khairani asal.


"Di sofa lebih enak bisa dempetan ."


"Enggak mau ,sempit dan tidak leluasa. " Khairani pun melangkah ke pintu sebelum Farhan tambah gila.


"Lebih sempit, lebih enak tau... " Benarkan ,Farhan tambah gila. Khairani sudah berhasil membuka pintu pun langsung melangkah keluar. Sebelum menutup pintu dia menjulurkan lidahnya mengejek Farhan, lalu menutup pintu kasar.


Farhan yang melihat tingkah calon istrinya ,tertawa terbahak bahak.


"Ri...istrimu mengemaskan, maaf bukan istrimu lagi, tapi calon istriku sekarang. "

__ADS_1


...----------------...


πŸŒΊπŸ’–πŸŒΊ


__ADS_2