
Dengan hati yang berat Farhan bangkit dan berdiri di samping tempat Khairani berbaring. Baru saja kakinya sampai di lantai beberapa saat, tiba tiba Khairani pun bangkit sambil membekap mulutnya.
Farhan langsung memegang bahu Khairani ketika melihat sesuatu yang tak beres dengan istrinya. Tapi belum sempat bertanya Khairani telah lebih dulu menoleh ke sisi tempat tidur yang lain dan memuntahkan isi perutnya.
Farhan memijat tengkuk dan mengusap punggung Khairani. Tadinya Farhan menyangka kalau Khairani tidak ingin dekat dengannya dengan mengatakan kalau dia mual. Ternyata Khairani memang benar benar muntah muntah setelahnya.
Puas memuntahkan semua isi perutnya, Khairani merasa pusing dan berkunang kunang . Farhan menyodorkan sebotol air mineral yang telah dibuka tutupnya. Kemudian mengusap bibir Khairani dengan tissu ,membersihkan sisa cairan di bibir Khairani.
Beberapa Suster masuk ke ruangan Khairani, setelah Farhan memencet tombol merah dekat tempat tidur. Farhan kembali merebahkan tubuh Khairani yang terlihat tidak berdaya. Sambil mengusap kening sang istri yang basah karena keringat.
Setelah Suster Suster itu selesai membersihkan bekas muntahan Khairani tadi dan mengganti selimut mereka pun meninggalkan sepasang suami istri itu. Khairani hanya memejamkan matanya tapi tidak tidur. Sementara Farhan duduk di sisi ranjang rumah sakit itu sambil menatap wajah manis istrinya yang terlihat pucat.
Farhan semakin merasa bersalah karena telah membuat sang istri sangat menderita. Tidak hanya fisik tapi juga hati dan mental Khairani tersakiti.
"Maafkan aku Khai , keteledoran ku membuatmu begitu kesakitan. Maaf... !Walaupun seribu ucapan maaf ini tidak berarti apa apa, tapi aku akan selalu mengucapkannya. Agar rasa bersalah ini bisa sedikit berkurang. " Ucap Farhan lirih dan lemah. Tapi Khairani bisa mendengarkan dengan jelas.
Farhan meraih tangan mungil istrinya yang berada di atas perutnya. Namun seketika itu juga Khairani menepisnya.
"Jangan sentuh, nanti aku mual lagi. lebih baik kamu pergi, aku mau istirahat. Jangan ganggu. " Kata Khairani yang dingin dan tegas.
Farhan menyadari satu hal, Khairani tidak lagi menyebut panggilannya seperti biasa. "Abang" Panggilan yang selalu Khairani ucapkan untuknya kini berganti dengan " Kamu". Hati Farhan kembali berdenyut. Khairaninya kini terasa jauh darinya. Terasa menyakitkan ketika ditolak dan dijauhi.
__ADS_1
Khairani membentuk tembok tinggi dengannya. Ucapan dingin dan ketus yang dapat Farhan dengar kini. Tidak ada lagi ucapan lembut dan terdengar manja. Apalagi senyum manis dan tatapan penuh cinta itu. Semua ini membuat Farhan benar benar merasa perih dalam hati.
Menyadari Farhan masih di sisi ranjangnya ,Khairani membuka matanya seraya berkata...
"Pergilah, mungkin ada yang menunggumu saat ini. Aku tidak membutuhkanmu disini. Dari semalam aku juga sendiri, itu tidak lagi masalah buatku. Besok aku mau pulang, kamu boleh tetap disini. " Khairani berhenti sejenak ketika merasa sedikit sesak. Setelah menghela napas dalam dia kembali bicara.
"Tidak usah kembali, kamu disini saja. Biar aku yang urus perceraian sendiri. Dan tolong biarkan anak anak denganku, aku akan menjaga mereka dengan baik. Dan... setelah anak ini lahir kamu boleh datang ." Suara itu semakin lemah dan bergetar.
Sementara Farhan berdiri sambil mengepal gengamannya dengan kuat, menahan gemuruh dalam dadanya. Menekan emosi yang tiba tiba menyerangnya. Dia terdiam bukan tak ingin bicara tapi dia takut mengeluarkan kata yang akan menyakiti istrinya.
Farhan kembali menyadari Khairani tidak dalam keadaan mental yang baik. " Jangan dilawan, biarkan dia mengeluarkan rasa sakitnya. Cukup dengarkan saja ." Gumamnya dalam hati.
" Kamu boleh mengambil semua hartamu tapi jangan anak anak. Aku tidak butuh harta, cukup pembagian dari usaha Bang Bakri seperti semula sudah cukup dan rumah....
Farhan yang mendengar ocehan istrinya menjadi geram dan marah. Tidak ada cara yang lebih ampuh untuk menutup mulut pedas ini selain menciumnya, agar diam tapi tidak menyakiti istrinya.
Farhan mengis*p dan ******* bibir yang dari tadi mengomelinya. Aroma bekas muntahan masih saja terasa tapi tidak membuat Farhan jijik. Sementara Khairani yang tidak siap dengan situasi ini hanya terdiam menerima. Walaupun tidak menolak tapi juga tidak membalas.
" Tidak ada perceraian atau pun perpisahan. Aku akan pulang dengan istriku setuju atau tidak. " Ucap Farhan setelah melepaskan bibir Khairani.
"Tunggulah beberapa hari, akan aku buktikan aku tidak bersalah. Ada yang mengurungku disana setelah mencekoki ku dengan perangsang dosis tinggi. Sekali ini percaya padaku. Aku butuh dukungan cintamu agar aku bisa tetap waras. Jika tidak aku akan membunuh orang itu. Untuk itu bersabarlah, Sayang. Sebentar saja... Istirahatlah disini beberapa hari sampai kamu pulih, aku ingin kamu dan bayiku sehat. Jangan banyak berpikir, aku tetap suamimu walau tubuh ini terlalu kotor saat ini tapi hatiku utuh milikmu. Saat ini hanya itu yang bisa ku berikan . Tapi aku mohon jangan berpikir untuk meminta perpisahan. Jika itu terjadi kamu akan menemukan aku di penjara. Istirahatlah... ! Aku akan pergi sebentar, nanti ada Suster yang menemanimu. " Ucap Farhan panjang kali lebar tanpa memberi sedikit celah buat Khairani menyela. Kemudian Farhan mengecup bibir Khairani yang sedikit terbuka dan keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar.
__ADS_1
Setelah menutup pintu Farhan menyandarkan tubuhnya di pintu itu. Napasnya sesak dan memburu. Emosinya sudah sampai di ubun ubun. Bersyukur dia masih bisa menahan dan tidak membentak Khairani tadi.
Kata perceraian yang terucap oleh Khairani membakar hatinya. Dia tidak bisa menyalahkan istrinya, karena itu wajar saja bagi orang yang merasa dikhianati. Yang dia kesalkan adalah kebodohan dan kelalaiannya.
Melihat Farhan yang terdiam sambil memejamkan mata menahan amarah, Jack hanya menatap membiarkan saja. Tidak ingin mengganggu Farhan yang berusaha menguasai dirinya. Jack yang memahami masalah rumit yang Farhan hadapi pastilah akan menguras emosinya.
Di dalam ruangan Khairani masih termangu mencerna apa yang Farhan katakan. Walaupun Khairani mengerti apa yang didengarnya, tapi hati kecilnya masih menolak untuk menerima. Mungkin akibat shock berat dengan apa yang dilihatnya menyebabkan traumanya kambuh kembali.
Khairani kembali merasakan tidak lagi percaya pada orang orang tertentu. Trauma yang sudah lama hilang kini muncul bahkan lebih kuat. Khairani hanya bisa mendesah kasar. Dia butuh Irul saat ini, karena hanya Irul yang paham dengan penyakitnya.
Tapi Khairani tidak ingin Irul tahu dengan masalah rumah tangganya. Walau bagaimana pun Farhan masih suaminya. Aib suaminya akan selalu Khairani tutup, karena dia tidak ingin orrang lain menghakimi Farhan. Khairani juga tidak ingin orang lain meremehkan suaminya nantinya.
Biarlah masalah rumah tangga tetap menjadi rahasianya dan Farhan. Walaupun nanti perpisahan itu terjadi, orang lain tidak perlu tahu penyebabnya. Juga ada anak anak yang harus dia jaga perasaannya. Walau bagaimana pun Farhan tetaplah ayah mereka.
Begitulah Khairani selalu memikirkan orang lain daripada penderitaannya. Dia akan tetap menyimpan masalahnya sendiri untuk dirinya saja.
...****************...
🌺 Kira kira Trauma apa yaa yang Khairani alami di masa lalu...?? Next bab ya Readers ku
Love you all 💖💖
__ADS_1
🌺