Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Menyerah


__ADS_3

Kesehatan Tuan Endriko semakin membaik. Setelah lima hari sadar dari koma Tuan Endriko diizinkan pulang hari ini. Farhan agak terlambat menjemputnya karena ada meeting mendadak. Alhasil Tuan Endriko hanya ditemani oleh Khairani seorang diri.


" Pa , Farhan terlambat datang karena ada kerjaan, jadi kita menunggu sebentar ya. " Ucap Khairani menyampaikan pesan dari Farhan.


" Tidak apa apa, Nak. Kesinilah bantu aku duduk. " Balas Tuan Endriko.


Setelah menyetel brankar Tuan Endriko dengan posisi duduk, Khairani pun duduk di kursi dekat tempat tidur sang mertua.


" Sudah berapa bulan kandunganmu, Nak " Tanya Tuan Endriko.


" Sudah masuk bulan kesembilan, Pa . Mungkin lahirannya disini, karena tidak diizinkan naik pesawat lagi. " Keluh Khairani.


" Hei, kenapa kamu bersedih. Itu suatu keberuntungan untukku. Diusia tua ini aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan cucuku secara langsung nantinya. Apa kamu tidak senang melihatku bahagia ? " Ucap Tuan Endriko sedikit memelas.


" Bukan begitu saja, Pa .Tapi aku kepikiran anak anak yang jauh dariku dalam waktu yang cukup lama. " Ucap Khairani sendu.


" Biarkan Fariz dan Alma kembali untuk melanjutkan studinya. Sedangkan yang para bayi biarlah disini. Setidaknya kamu sedikit tenang karena ada pengasuh nya yang membantumu disini. "


" Aku juga berpikir begitu saja tapi belum aku bicarakan dengan Farhan, Pa . Masih ada dua minggu lagi anak anak libur disini. " Ucap Khairani.


" Khairani, apa kamu tidak berminat tinggal disini ? Papa sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Rasanya tidak sanggup lagi mengurus Perusahaan. Harapanku satu satunya hanya Farhan. Bantu Papa kali ini membujuknya menggantikan Papa, Nak !" Wajah tua itu terlihat sendu.


" Aku belum pernah memikirkan ini ,Pa .Farhan belum pernah membahas tentang ini sebelumnya. Maaf Pa ,aku belum bisa menjawab pertanyaan Papa saat ini. " Khairani menundukkan kepalanya karena tidak ingin melihat tatapan kecewa mertuanya.


" Tidak apa apa, Nak. Papa hanya menyayangkan jika usaha yang Papa bangun bersama Ayah kandung suamimu berakhir di tangan tangan jahat yang tidak bertanggung jawab."


" Ini semua mimpi kami waktu muda ,membangun usaha tanpa sokongan keluarga untuk kami wariskan pada anak cucu kami. Tentunya tanpa terkekang dengan nama besar keluarga kami. "


" Dulu , Papa dan Ayah mertuamu sama sama terkekang dalam tradisi keluarga yang menghambat kami untuk memilih pendamping hidup sendiri. Perjodohan harus diatur oleh orang tua kami ."


" Tapi kami sama sama menolak dan berakhir keluar dari rumah orang tua tanpa membawa apa apa juga dihapus dari daftar warisan. Tapi kami bisa membangun ini semua tanpa mereka. " Wajah Tuan Endriko yang tadi sendu berubah sedikit cerah menceritakan keberhasilannya.


" Tapi nasib berkata lain, semua ini hanya aku yang menikmati. Kedua mertuamu bahkan Farhan dan juga kamu belum sempat menikmati hasil kerja keras ini. Papa berharap kalian bisa mengambil alih beban berat ini dari pundak Papa, Nak. "


" Huk...huk... Huk "


Tuan Endriko terbatuk batuk sambil memegang dadanya. Khairani dengan sigap menyambar botol air mineral di nakas dan menuangnya ke gelas lalu menyerahkannya pada mertuanya.


" Minumlah dulu, Pa. Jangan terlalu banyak berbicara dulu , Papa baru sembuh. Kita masih punya banyak waktu untuk membicarakan ini. ." Tuan Endriko mengangguk setelah menghabiskan setengah gelas air minumnya.


" Kamu benar, Nak. Papa terbawa emosi jika mengingat masa lalu. Banyak hal yang ingin Papa ceritakan padamu. Tapi pelan pelan saja, seperti yang kamu katakan kita punya banyak waktu untuk itu. " Tuan Endriko tersenyum sambil mengusap kepala Khairani yang tertutup hijap berwarna Biru air.


Setelah mengakhiri pembicaraan mereka, tak lama kemudian datanglah Suster membawa jatah makan siang untuk Tuan Endriko.


Dengan telaten Khairani menyuapi mertuanya . Sementara Tuan Endriko memakan makanannya dengan tatapan penuh rasa kagum.

__ADS_1


" Farhan sangat beruntung bisa menikah denganmu .Kamu persis Farida, ibu mertuamu. Dia wanita yang penyayang dan penuh perhatian pada orang orang sekitarnya. Mungkin karena dia dibesarkan di panti asuhan ,sehingga dia tumbuh dengan rasa empati yang tinggi. " Tuan Endriko mengingat sosok Farida ibu kandung Farhan.


" Apa beliau, maksudku Ayah dan Ibu saling mencintai ? " Tanya Khairani.


" Hansen sangat mencintai Farida hingga dia rela tak dianggap lagi oleh orang tuanya. Mereka menikah tanpa restu. Farida sangat gampang untuk dicintai. Selain parasnya , hatinya juga sangat cantik, tapi itu semua tidak mampu membuat orang tua Hansen menerimanya. " Sesaat Tuan Endriko menarik napas dalam.


" Hingga kematian memisahkan keduanya dan kehadiran Farhan yang tidak diinginkan oleh keluarga Hansen. Bayi merah itu hanya mereka tatap saja namun enggan mereka sentuh. Dan mereka pergi begitu saja dengan membawa jasad Hansen. " Mata tua yang lelah itu berkaca kaca.


" Cukup ceritanya sampai disini, nanti kita sambung lagi, oke !? " Khairani mencoba mengalihkan pembicaraan ketika menangkap raut kesedihan di wajah sang mertua.


" Papa istirahat dulu aja, makanannya sudah habis dan kini waktunya makan obat. " Khairani menyodorkan beberapa obat yang telah disediakan dalam wadah kecil.


Setelah memakan obatnya satu persatu, Tuan Endriko mulai terasa mengantuk.


" Inilah yang membuatku malas makan obat, aku jadi ingin tidur setelahnya " Gerutu Tuan Endriko yang ditanggapi dengan kekehan Khairani.


" Berarti Dokter masih menyuruh Papa untuk banyak istirahat. Sekarang ayo rebahan dan tidur. Aku mau ke kantin dulu ."


" Baiklah, Nak. Kali ini aku menurut padamu, tapi kalau cucuku sudah lahir nanti kamu tidak akan bisa memaksa Papa lagi. " Tuan Endriko tersenyum penuh arti.


" Kalau begitu Papa harus cepat pulih ." Sahut Khairani tidak mau kalah.


" Baiklah, Nak kamu menang. Sekarang pergilah isi perutmu, cucuku sudah kelaparan. "


Khairani melangkah keluar ruangan setelah memastikan Tuan Endriko berbaring dengan nyaman . Dia menuju kantin untuk mengisi perutnya yang telah meraung minta diisi.


Namun langkah terhenti ketika berpapasan dengan seseorang yang tidak ingin dia temui.


" Bisa bicara sebentar ? " Khairani mendengus pelan. Dia tidak habis pikir terhadap wanita yang dihadapannya ini. Entah apa lagi yang wanita ini inginkan.


" Apa lagi yang ingin kau bicarakan, apa kau tidak lelah menggangguku , Jeany ? "


" Sebentar saja, sepuluh menit. " Ucap Jeany lembut. Khairani yang melihat sesuatu yang berbeda dengan Jeany akhirnya menyetujui.


" Baiklah, ayo ke kantin. Aku sangat lapar ." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Jeany di belakang.


Mau tidak mau Jeany pun mengikuti Khairani ke kantin. Mereka duduk di sudut dengan pemandangan mengarah langsung ke parkiran dan taman rumah sakit.


" Bicaralah selagi aku menunggu makanan ku sampai. " Ucap Khairani setelah memesan makanannya dan minuman untuk Jeany.


" Apa kau mencintai Farhan karena hartanya ? " Tanya Jeany langsung ke intinya. Khairani malah terkekeh mendengarnya.


" Kenapa kau tertawa ? Aku bertanya serius. Jika memang karena harta sebutkan angka yang kau inginkan, akan aku berikan . Asal tinggalkan Farhan. " Lanjut Jeany yang tidak terima ditertawakan oleh Khairani.


" Jeany, maaf jika kau tersinggung. Tapi ini semua sia sia saja. Aku mengenalnya hanya sebagai seorang investor dan rekan kerja mendiang suamiku . Yang aku tahu dia hanya pemilik perusahaan kecil. Hingga menikah dengannya pun aku tidak tahu jumlah kekayaannya. "

__ADS_1


" Perlu kau tahu aku mencintainya sebelum aku tahu betapa besar perusahaanya yang di Singapura. Sampai akhirnya aku melihat sendiri saat pertama kali kita bertemu. Disitulah aku tahu besarnya perusahaan itu. " Khairani menarik napas dalam lalu melepaskan dengan kasar.


" Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku mencintai uangnya. Sementara diperutku ada bukti cinta kami. Kau seorang wanita dan aku percaya kau orang yang baik. Biarkan kami bahagia. Aku yakin diluar sana banyak yang menyukaimu. Selain cantik dan berpendidikan, kau seorang wanita karir yang cukup sukses. " Ucap Khairani merendahkan suaranya.


" Tapi itu semua tidak cukup untuk membuat Farhan melihat ke arahku. " Jeany mengusap sudut matanya yang basah karena air matanya. Genggaman tangannya mengerat menahan gejolak hatinya.


" Tidak ada yang tahu dimana cinta itu berlabuh ,Jen .Mungkin dia memang bukan jodohmu .Sekuat apa pun usahamu untuk merebutnya dariku, akan percuma , Jeany. Maaf kan aku jika aku menyakitimu, aku juga tidak merasa merebutnya dari siapapun juga, kau tahu itukan. Jadi cobalah mencari kebahagiaan mu sendiri. "


Khairani meraih kepalan tangan Jeany di atas meja . Dia tahu Jeany sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Khairani bisa melihat kerapuhan dalam tatapan mata yang basah itu.


" Jeany, jika hanya aku yang mencintai mungkin mudah bagiku untuk menyerah. Tapi aku rasa kau bisa melihat sendiri berapa besar cinta Farhan terhadapku. Dan aku tidak akan mungkin menyerah karenanya. Aku bukan tipe wanita yang akan menyakiti pasanganku demi orang lain. Ada anak anak yang mengikat kami sangat kuat. Bukan hanya yang diperutku , tetapi juga anak anak kami yang lain. Jadi menyerahlah... "


Khairani akhirnya melepaskan tangan Jeany yang tadi digenggamnya. Kembali menarik napasnya dalam ketika tidak melihat reaksi apapun dari Jeany.


" Oke, aku menyerah kalah. Aku akan melepaskan Farhan untukmu. Aku tahu dia begitu bahagia denganmu. Jujur aku iri, Farhan tidak pernah memperlakukan aku dengan sangat manis ,apalagi tersenyum manis padaku. Baginya aku hanya partner, baik di kantor ataupun di ranjang. Tak pernah ada kata sayang apalagi cinta, hanya pelampiasan saja. " Jeany tersedu dengan sesak dadanya.


Khairani juga merasakan sesak ketika Jeany menyebut kata ranjang. Ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu, saat Farhan memasuki Jeany di depan matanya. Air matanya pun ikut mengalir dengan rasa sakit yang berbeda dengan yang Jeany rasakan.


" Kau tahu aku mengejar cintanya sejak umurku tujuh belas tahun. Dua puluh tahun sudah, semua usaha dan waktuku terbuang percuma. Maaf jika aku menyakitimu waktu itu. Tapi percayalah Farhan hanya terpaksa saja waktu itu. "


Khairani menutup mata menahan gemuruh dalam hatinya. Mengingat semua itu hanya membuka luka yang berangsur kering.


" Yah, aku sudah memaafkan mu, tapi ku mohon biarkan kami bahagia. Setidaknya demi Farhan dan bayi dalam kandunganku ini. Aku akan mendoakan kebahagiaanmu , Jeany.


Suara Khairani kian melemah entah karena lelah dengan segala urusan dengan Jeany yang tidak kunjung selesai. Entah karena sesak mengingat peristiwa menyakitkan kala itu.


" Oke, semoga kau bahagia Khairani, jaga Farhan untukku .Huuft... ini sangat berat, kau tahu rasanya ? Seperti melepaskan salah satu organku ." Ucap Jeany berusaha untuk tersenyum.


" Kalau kau ikhlas semuanya terasa mudah. Jeany, cobalah membuka hati, kau pasti bisa walau tidak mudah. Dan terimakasih telah menyerah. " Khairani kembali menggenggam tangan Jeany yang terasa dingin.


" Bolehkan kita berteman ? Aku rasa aku bisa jadi teman yang baik. " Ucap Jeany.


" Tentu saja, aku juga bisa jadi teman yang baik. " Mereka pun tertawa bersama.


" Pantas saja Farhan tergila gila padamu. Hatimu sungguh mengagumkan. " Puji Jeany.


" Kau salah, Kaulah yang memiliki hati yang sangat besar serta sangat sabar . Sanggup berjuang hingga kini. Hanya saja mungkin kau hanya salah sasaran saja. " Puji Khairani balik.


Mereka kembali tertawa bersama sambil saling merangkul, walau keduanya sama sama mengeluarkan air mata.


Di sudut yang lain sepasang mata tajam tak berkedip sedikitpun mengawasi kedua wanita dewasa itu. Ada kecemasan dari tatapan itu yang kini berangsur redup, berubah menjadi senyuman penuh arti.


" Semoga ini awal yang baik.....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2