
Keesokan harinya ......
Gundukan tanah yang masih basah di pemakaman umum ,yang ditaburi dengan berbagai macam bunga tampak mulai sepi. Satu persatu para pelayat telah meninggalkan area pemakaman itu. Yang menyisakan beberapa anggota keluarga yang masih enggan untuk beranjak.
Khairani masih menangis dalam diam. Mata bulat yang sayu itu kini telah memerah dan bengkak. Entah sudah berapa banyak air mata itu tumpah ke bumi. Tak serta merta membuat hatinya terlepas dari sesak.
Berlahan Irul mendekat dan merangkul bahu lemah kakaknya.
"Sudah Kak, ayo pulang. Ikhlaskan Bang Bakri, setidaknya dia sudah terbebas dari rasa sakit. Kak Rani harus kuat, masih banyak tanggung jawab yang Bang Bakri tinggalkan... terutama anak anak " Ucap Irul dengan lembut sambil mengusap usap pelan bahu Khairani .
"Kenapa seperti ini Rul ,dia pergi tanpa pesan. Dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun untukku. " Khairani berkata dengan sesegukan.
"Inilah takdir dari Allah Kak ,dan tidak satu orang pun mampu melawannya. Kita hanya bisa menerima tanpa protes. Kak Rani paling paham itukan ? " balas Irul.
"Tapi aku belum siap Rul... Aku rasanya tak sanggup " Ungkap Khairani sambil memukul mukul dadanya sambil menangis tersedu berharap sesaknya mereda.
"Jangan begitu Kak Rani, bangkitlah ingat anak anak menunggumu di rumah. "Ucap Irul dengan suara agak tegas, sambil menahan kedua tangan Khairani.
Tidak ingin melihat Khairani semakin larut dalam kesedihan, akhirnya Irul menarik pelan tangan Khairani agar berdiri.
"Ayo Kak kita pulang, jangan membuat Bang Bakri terbebani oleh kita, doakan saja semoga dia diterima di sisi Nya. "
Khairani akhirnya berdiri. Menatap kembali ke gundukan makam Bakri baru melangkah meninggalkan area pemakaman dengan langkah gontai.
Walaupun dengan berat hati dia harus meninggalkan Bakri di tempat peristirahatan terakhirnya ,karena ada tiga orang bayi yang masih butuh asupan darinya .
Sudah berjam jam Khairani meninggalkan bayi bayi mungilnya. Benar kata Irul masih ada tanggung jawab yang tidak boleh dia abaikan.Sehancur apapun hatinya saat ini, Khairani tidak boleh mengorbankan kepentingan kelima anaknya.
__ADS_1
Apalagi Fariz dan Alma yang pasti sangat kehilangan saat ini. Walaupun Bakri bukan suami yang hangat, tapi dia adalah ayah yang sangat penyayang dan hangat untuk anak anaknya.
Terutama kepada Alma, Bakri selalu memanjakan Alma seakan akan Alma adalah anak berumur lima tahun. Dan dapat dipastikan sekarang Alma dalam keadaan kehilangan sosok cinta pertamanya .
Khairani kembali menarik napas dalam ketika memasuki halaman rumahnya. Dia berusaha menguatkan dirinya. Tidak boleh terlihat lemah di depan anak anaknya. Biarlah lara ini dipendamnya seorang diri. Agar dia bisa menjadi penopang jiwa jiwa lemah dari malaikat malaikat kecilnya.
*****
Seminggu telah berlalu. Air mata Khairani tidak lagi sederas kemarin. Perlahan lahan Khairani mulai bangkit dari keterpurukan. Bersyukur ada Irul dan Nisa yang selalu menemaninya. Dan selalu mengingatkannya ketika dia mulai lemah.
Hidup harus terus berlanjut. Khairani adalah tonggak dari keluarga kecilnya sekarang. Dia tidak boleh lemah apalagi rebah. Walaupun sebagai seorang wanita kadang Khairani merasa tak mampu untuk tegak sendiri , tapi mau tidak mau dia harus mandiri. Tidak mungkin selalu merepotkan Irul dan Nisa.
Toko material milik Bakri sudah mulai dibuka tiga hari setelah pemakaman. Toko dijalankan oleh Syafi'i ,dibantu oleh Qori dan Meta juga dua orang karyawan tambahan.
Luki sudah seminggu ini keluar dari rumah sakit. Tapi kondisinya belum benar benar pulih. Dia memilih pulang ke kampung untuk sementara sampai kondisinya pulih kembali.
*****
Entah mengapa Khairani tidak berniat sedikitpun mengabari Farhan tentang kepergian Bakri untuk selamanya.
Khairani duduk di kursi meja riasnya ,sambil memandang kearah jendela kamar. Disaat suasana rumah sedang sepi begini Khairani selalu kembali teringat Bakri .Kadang menangis sendiri mengingat kepergian Bakri yang tiba tiba.
Kemudian matanya menangkap figura foto yang terletak di atas meja rias. Foto Bakri dan dirinya sepuluh tahun yang lalu. Tak ingin kembali meneteskan air mata Khairani membuang pandangannya ke arah kasur. Ketiga bayi yang sudah memasuki usia tiga bulan itu terlelap tanpa beban di sana.
Sesaat Khairani teringat Farhan. Begitu banyak pertanyaan dalam pikiran Khairani yang berusaha dia abaikan.
" Apa dia tidak merindukan kalian ? seakan berbicara dengan si kembar. Khairani mengelus pipi Alika yang berada dekat dengannya.
__ADS_1
"Ayah macam apa dia, jangankan datang , menelpon saja tidak sempat. Sesibuk apa dia. " Khairani menarik napas dalam. " Tapi tidak apa apa sayang, ada Bunda disini. Bunda sangat menyayangi kalian. " Lanjutnya bicara dengan para bayi yang terlelap.
"Atau Bunda saja yang menelponnya ya ? Khairani menatap HP nya sambil menimbang .Tanpa sadar Khairani membuka kontak Farhan, tapi sesaat kemudian dia mengembalikan nya ke layar beranda.
"Enggak usah ah, nanti mengganggu lagi. " Akhirnya Khairani memilih untuk membuka status Whatsapp milik Farhan.
Seketika mata bulat itu semakin membola ketika melihat status milik Farhan. Terlihat Farhan duduk bersandar disebuah sofa panjang, dengan kepala tengadah keatas sambil memejamkan mata. Kancing kemejanya terbuka beberapa buah. Sementara seorang wanita yang memegang kamera tersenyum sambil bersandar ke bahu Farhan.
Apa yang terlihat dalam video yang berdurasi lima belas detik itu sangat ambigu. Wanita yang di samping Farhan hanya memakai Tenk top seperti pakaian dalam saja. Farhan kelihatan acak acakan dan kelelahan begitu juga dengan sang wanita. Siapapun yang melihat pasti berpikir mereka habis melewati malam yang panas. Apalagi video itu diposting sekitar pukul 12.30 malam.
Entah kenapa Khairani merasa kecewa terhadap Farhan. Kecewa karena Farhan tidak pernah menanyakan kabar tentang si Kembar dan Bakri. Sejak Farhan ke Singapura belum pernah sekalipun menelpon Khairani.
"Emangnya siapa kami baginya, aku hanya orang asing yang kebetulan menjadi ibu susu anaknya. Apa yang aku harapkan. Kedekatannya dengan Bang Bakri hanya bisnis, bukan apa apa baginya. " Sudah lah lebih baik aku memasak dari pada memikirkan hal yang tidak penting "
Khairani pun beranjak meninggalkan kamar menuju dapur. Menyibukkan diri adalah obat untuk menghalau kegelisahan baginya. Sudah cukup energinya terkuras untuk mengurus anak anaknya saja. Tidak untuk yang lain.
Bersyukur Khairani tak lagi susah memikirkan masalah ekonomi. Karena toko yang ditinggalkan Bakri cukup untuk menghidupi kelima anaknya. Walaupun tetap mengeluarkan bagian untuk Farhan sesuai perjanjian awal.
Khairani hanya bisa berharap semoga musibah demi musibah yang datang silih berganti bisa berubah menjadi pelangi yang indah dikemudian hari.
Walaupun segala sesuatu yang terjadi nanti Khairani akan menghadapinya seorang diri tanpa Bakri lagi di sisinya. Sudah hampir tujuh belas tahun hidup bersama tentu bukan hal mudah bagi Khairani menjalani ini semua.
Tetapi apa boleh buat hidup harus tetap berlanjut...... !!!
*****
πΊHalo Readers... jangan lupa dukungannya ya. pliiisss ππ
__ADS_1
Author galau tauk π