Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Langkah awal


__ADS_3

Sementara di rumah Khairani kedatangan tamu yang bikin heboh. Dimana Nisa dan Ega datang beserta anak anak mereka. Rumah sempit itupun semakin terasa sesak.


Saat ini Khairani Nisa dan Ega duduk di ruang makan sambil menikmati Brownis Kukus dan teh hangat. Sementara anak anak mereka berada di ruang tengah .


"Tumben kalian kesini di weekend gini , serentak pula. Janjian yaa ?" Ucap Khairani merasa aneh.


" Iya Kak , kami janjian tadi sore. " Jawab Ega.


" Suami suami pada kemana, kok cuma kalian aja !! " Tanya Khairani.


" Suami kami di culik sama Bujang beranak dua. " Jawab Nisa cuek. Khairani bertambah bingung, sementara Ega cekikikan.


"Bujang beranak dua ? Bang Farhan maksudnya ? .Khairani bertanya sambil mencomot sepotong Brownis , lalu memakannya.


"Mhm.. " Nisa hanya menanggapi dengan deheman saja.


Ega sedang asik membalas pesan di HP nya sambil tersenyum senyum, tiba tiba dia terpekik..." Kak mereka di Restoran Seafood , kita peras kantongnya Bujang beranak dua yuuk ...! "


"Pesan nasi goreng Seafood aja Ga, delapan porsi yang spesial. " Ucap Nisa semangat.


" Udang Saos Padangnya enak Kak, kita tambahin ya. " Ega pun mulai mengetik pesanan mereka ke HP Syafi'i , tapi tiba tiba dihentikan oleh Nisa.


" Kamu pesannya lewat Syafi'i ? "


"Iya... " Jawab Ega singkat.


"Jangan... yang ada nanti Syafi'i yang bayar. Suruh Kak Rani aja minta sama Bujang beranak. "


"Loh kok aku, lagian orangnya punya nama jangan diganti sembarangan. Kalau kedengaran orangnya kan enggak enak. " Jawab Khairani mengungkapkan keberatannya.


"Idih , mulai posesif aja. Dienakin aja Kak. " Nisa bicara sambil tersenyum mengejek.


" Cepat Kak takut para pria itu balik ntar." Ucap Ega


"Mana HP Kak Rani biar aku yang ketik pesannya ! " Kata Nisa sambil mengambil HP Khairani yang ada di atas meja.


Khairani yang melihat tidak dapat berkata kata lagi. Dia sangat mengenal Nisa adik kecilnya yang bar bar. Akhirnya Khairani hanya bisa membiarkan saja.


Selesai mengetik pesan di HP Khairani, Nisa menatap kakaknya seperti ingin menyampaikan sesuatu. Khairani yang melihatnya jadi keheranan.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu ? " Ucap Khairani heran.


"Kak... aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi kamu jawab jujur ya !" Kata Nisa.


"Ada apa. "


" Kakak suka sama Bang Farhan ? "


"Kamu ngomong apa sih, makam Bang Bakri aja belum kering kok bertanya begitu. "


" Kak, aku cuma merasa khawatir sama kamu. Bang Farhan dan kamu tuh sama sama singel. Bang Farhan pun sering tidur di sini, kan ? Sementara kalian tidak punya ikatan apa apa. Apa Kakak tidak khawatir omongan orang ?"


Khairani menghela napas kasar, lalu menghempas punggungnya ke sandaran Kursi ." Sebenarnya aku juga kurang nyaman , tapi enggak enak ngomongnya ."


" Dienakin aja Kak, Kok repot amat .Toh masa idahmu juga udah selesai, kan ? " Ucap Nisa santai .


"Kamu ini asal nyerocos aja. " Khairani berkata dengan muka bersemu merah. " Apa kata anak anak nanti ,belum setahun Bang Bakri meninggal aku udah ganti ayah mereka. "

__ADS_1


"Anak anak sudah pada besar mereka pasti mengerti, yang aku khawatirkan itu omongan tetangga. Menurutku lebih baik menikah dari pada digosipin yang enggak enggak . Ya enggak Ga !Ucap Nisa meminta pendapat Ega.


" Kak Rani menikah di omongin, Kak Rani tidak menikah juga diomongin. Tapi menurut Ega Kak, lebih baik diomongin menikah dari pada nanti dituduh zina, lebih bahaya lagi. " Sahut Ega.


"Kalian ini, yang mau nikah sama aku juga siapa ? Kata Khairani dengan wajah sewot.


"Yaa Bujang beranak dua lah, siapa lagi. Kan dia yang terus nginap di rumah janda beranak tiga. " Jawab Nisa santai, dibalas lemparan tissu bekas oleh Khairani.


Sementara Ega terkikik mendengar ucapan Nisa yang santai tanpa dosa.


" Huuft... " Khairani membuang napas berat. " Bang Farhan itu seorang Pengusaha besar, kelasnya bukan kita. Mana mau dia nikah sama janda dekil, jelek dan miskin kayak aku ini. Banyak anak pula. Pasti dia banyak dikelilingi wanita cantik, seksi dan glowing. " Ucap Khairani .


"Berarti kalau dia mau, kamu juga mau, kan. " ledek Nisa dengan senyuman jahil.


"Aku tidak bilang begitu. Maksudku kita ini bukan level orang kayak Bang Farhan. Aku pernah lihat Assistennya, seksi, putih dan cantik pake banget. Dan sepertinya mereka dekat banget. " Terang Khairani .


"Kamu itu cantik Kak, cuma udah lama tidak rawat badan. Aku masih ingat dulu waktu kamu belum nikah, begitu banyak yang ngebet sama kamu." Ucap Nisa .


"Itu dulu sekarang buntutku udah tiga. Umurmu udah tua, Nisa . "


"Kak Rani cuma merasa insecure ,aku rasa umur kakak masih layak untuk menikah lagi. Lagian masih cocok sama Bang Farhan. "Ega mencoba mempengaruhi Khairani.


" Udah ah jangan ngomong nikah melulu . Sekarang si Kembar sudah umur enam bulan ,berkemungkinan Bang Farhan mau bawa mereka ke Singapura. Karena dulu katanya kalau tidak ASI eksklusif lagi mereka pindah." Khairani tidak bisa menyembunyikan raut wajah sedihnya.


"Emang Kak Rani sudah siap berpisah sama Si Kembar? " sela Ega.


"Siap dak siap Ga. " Jawab Khairani lirih.


"Kak Rani ikhlas ? " Tanya Nisa.


Air mata mulai bergenang di pelupuk mata Khairani.


"Ya udah ,ikat bapaknya biar anaknya tidak pergi jauh. Gampangkan...!" Nisa menjawab serampangan.


"Ish kamu ini Nis ,emang kambing diikat !? " Sarkas Khairani jengkel.


"Ega sih setuju sama Nisa, aku rasa tidak ada yang salah jika Kak Rani memikirkan maksud kami ini. Demi anak anak kakak juga Si Kembar ."Ucap Ega.


"Kalau Fariz dan Alma , biar aku yang bicara pada mereka ." Sambung Nisa.


"Ya sudah lah jangan dibahas lagi . Yang kita bahas bukan hal yang bisa kita putuskan sendiri. Biar waktu yang menjawab, akan kemana arah kehidupan ini. Aku hanya bisa pasrah saja apapun yang terjadi nanti. "


Tak lama kemudian para pria yang ditunggu tunggu akhirnya datang.


" Asik sekali ngobrolnya, pasti lagi menggosip. " Tiba tiba Farhan muncul disusul Irul dan Syafi'i.


" Yee.. ! emangnya kita lambe bocor, tukang gosip. " Jawab Nisa tidak terima.


" Padahal iya ." Sambung Irul lirih tapi semua orang mendengarnya.


"Enak aja... " Balas Nisa lagi.


"Akhirnya datang juga Bang, lama amat sih.. !" Sambar Ega.


"Kenapa udah rindu, padahal baru beberapa jam saja udah segitunya." Jawab Irul tersenyum jahil.


"Iya rindu, tapi bukan sama Abang... sama ini ...nih ! Rindu berat. " Ucap Ega merampas tentengan di tangan Irul sambil nyengir.

__ADS_1


Semua tertawa melihat wajah cemberut Irul. Akhirnya para wanita dan anak anak juga kedua pengasuh menyantap hidangan dari Restoran Seafood itu.


Irul mengamati sekeliling rumah Khairani .Ruang tengah dan ruang makan minimalis ini sudah penuh sesak dengan mereka. Belum termasuk para bayi yang sudah tertidur di kamar.


Irul paham kekhawatiran yang disampaikan Farhan padanya tadi. Memang sudah selayaknya rumah ini di renovasi.


Irul menatap Khairani yang sedang menikmati makanannya. Di meja makan tinggal Khairani, Irul, Farhan Ega dan Syafi'i. Sementara Nisa sedang menyuapi anak keduanya di ruang tengah.


"Kak, rumah kakak terasa makin sempit aja ya ? " Ucap Irul.


Semua yang mendengar bahkan serentak mendongakkan kepala ke arah Irul, termasuk Khairani.


"Iya sih, belum lagi kalau bayi bayi mulai beraksi, ruang tengah terpaksa di kosongkan agar aman buat mereka." Jawab Khairani lalu kembali fokus dengan makanan di depannya.


"Kita renov aja yuk Kak ,biar agak lega. Manfaatkan saja sisa tanah yang di belakang dan samping. Aku rasa cukup luas. "


"Kira kira berapa estimasi biayanya ya Rul , jangan terlalu besar besar biar tidak terlalu makan biaya. Uang ku tidak banyak. "


Farhan pura pura tidak mendengar , dia terlihat sibuk dengan HP nya.


"Tidak usah pikirkan biaya Kak ,kita patungan aja. Aku siap membantu. " Sela Syafi'i.


" Baiklah ,terima kasih kalau begitu. Cuma renovasinya dikit dikit dulu biar tidak terlalu mengganggu, kasihan bayi bayi nanti terganggu. " Ucap Khairani.


"Sebaiknya anak anak diungsikan selama pemugaran, selain berisik juga debu tidak bisa di hindari Kak. " Kata Irul sambil melirik Farhan.


Farhan yang paham arah pembicaraan ikut menimpali.


"Bagaimana kalau kalian pindah ke rumahku untuk sementara. Kasihan juga anak anak nanti terganggu. Toh rumahku juga kosong ." Timpal Farhan.


" Masak pindah ke sana, enggak enaklah sama tetangganya Bang Farhan. " Jawab Khairani tidak setuju.


"Terus mau pindah kemana, rumahku dan Nisa juga sama sempitnya. Untuk sementara aja kok Kak. " Bujuk Irul meyakinkan Khairani.


"Jangan khawatir sama tetanggaku, kompleks tempat tinggalku malah tidak saling kenal sama tetangga. " Ucap Farhan


"Nanti aku disangka istrimu lagi ." Ucap Khairani asal sambil tetap menyuap makanannya.


"yaa enggak apa apa, tinggal aminin aja. " Sela Nisa tiba tiba sambil berjalan ke wastafel menaruh piring kotornya.


"Habis itu tinggal resmikan, repot amat. "Timpal Irul.


Sementara Ega dan Syafi'i terkekeh mendengar obrolan mereka. Sedangkan Farhan sudah merah padam dan pura pura tidak mendengar.


"Benar kan Bang... !" Tembak Irul kearah Farhan.


"Hah ...i... iya betul, kalau perlu besok sekalian ." Dari pada terpojok mendingan ikuti alurnya, begitulah pikir Farhan.


Sekarang Khairani lah yang merah padam. Janda beranak tiga yang sudah kepala empat itu seperti remaja yang sedang ditembak gebetannya.


"Uuh maunya..." Sindir Nisa sambil mengejek Farhan.


" Ya mau lah, masak enggak " Balas Farhan sambil tersenyum ke arah Khairani yang menunduk.


Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Khairani dan adik adiknya setuju untuk merenovasi rumah peninggalan ibu mereka. Dan dengan keputusan bersama Khairani dan anak anaknya mengungsi sementara ke rumah Farhan.


Farhan yang merasa misinya berhasil selangkah demi selangkah tersenyum puas . " Ini baru langkah awal Khaira, tunggulah sebentar lagi... " Batin Farhan.

__ADS_1


__ADS_2