
Hari yang ditunggu pun akhirnya datang .Semua persiapan telah dilakukan sedari kemaren. Siang ini Khairani dan Farhan akan berangkat ke rumah sakit karena jadwal operasinya nanti malam.
Khairani merasa gugup walaupun ini sudah yang keempat kali baginya. Namun rasa gugupnya tidak begitu kentara karena Khairani mengalihkan konsentrasinya kepada ketiga anak balitanya.
Berbeda dengan Farhan yang sudah lebih lima kali keluar masuk kamar mandi karena mulas. Farhan sangat gugup. Setiap mengingat Khairani akan dibedah perutnya, Farhan langsung mulas.
Semua persiapan telah selesai Khairani telah duduk di mobil dengan tenang, sementara Farhan sedang memasukan koper dan bawaan keperluan Khairani dan bayinya ke bagasi. Mereka memang hanya berdua saja, mengingat Tuan Endriko yang dalam masa pemulihan serta para bayi yang tidak mungkin dibawa.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Nampak Farhan berkali kali mengelap keringat yang mengucur di wajahnya. Khairani jadi tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
" Kenapa... kok senyum senyum ? " Tanya Farhan heran.
" Kamu lucu Bang, yang mau dipotong itu perutku, kenapa kamu yang mules dan keringatan begini. " Ucap Khairani terkikik .
" Mungkin aku terkena Sindrom MP. " Seloroh Farhan.
" Sindrom apaan tuh ,enggak pernah dengar ?! "
" Sindrom Menjadi Papi. "
" Ha... ha... ha... Ada ada aja kamu Bang ,sempat sempatnya bercanda." Khairani terbahak sampai keluar air mata. Sedangkan Farhan masih saja tak teralihkan dari rasa cemas.
" Ini aja udah mules lagi, Yang. " Ucapnya Farhan sembari meringis .
" Coba tenang Bang, tarik napas dalam lalu buang dari mulut secara perlahan. Ulang berkali kali. " Farhan mengikuti instruksi Khairani .
Sampai di rumah sakit Khairani dan Farhan langsung menuju ruangan yang telah di booking sebelumnya. Tak lama beberapa Suster masuk membantu Khairani untuk bersiap menghadapi persalinan secara SC.
Dengan memakai pakaian steril dan pemasangan infus serta menjalani beberapa prosedur pra operasi kini tibalah waktunya Khairani memasuki ruang yang paling menegangkan sepanjang hidupnya .
Berkali kali memasuki ruangan itu tidaklah membuat Khairani terbiasa. Tetap saja tegang dan mendebarkan.
Farhan masih saja menggenggam jemari Khairani dengan kedua tangannya. Sesekali kecupan hangat mendarat di jemari dingin Khairani.
" Bang, aku minta maaf yaa jika ada salah. Tolong ridhoi aku hingga terlepas dari dosa terhadapmu. Biar ringan langkah ku nantinya. Dan doakan aku. " Pinta Khairani dengan tatapan memohon.
" Tidak ada apapun yang kamu lakukan padaku yang berbuah dosa, Sayang. Aku meridhoi mu dunia akhirat. Kembalilah padaku dengan selamat bersama buah cinta kita. Berjanjilah padaku kamu akan baik baik saja. "
__ADS_1
" Insya Allah aku akan kembali dengan selamat dengan izin Allah. "
Suasana haru itu juga diiringi oleh deraian air mata. Baik Khairani maupun Farhan sama sama saling memandang dan mengungkapkan rasa. Genggaman tangan mereka semakin mengerat ketika beberapa orang petugas akan mendorong Brankar yang Khairani tidur.
" Sayang, aku mencintaimu dan kembalilah kesisiku ." Ucap Farhan di ambang pintu ruang operasi. Kecupan demi kecupan mendarat cantik di setiap sudut wajah Khairani.
Khairani hanya pasrah ketika Farhan tidak malu walau pun disitu banyak orang sekalipun . Hingga adegan perpisahan yang mengharukan itu terhenti ketika Suster mengatakan waktunya telah tiba.
Waktu berjalan terasa sangat lama bagi Farhan. Setiap detik itu sangat menegangkan bagi Farhan. Tak ada yang lebih menakutkan baginya ketika membayangkan bagaimana pisau tajam itu akan mengiris perut Khairani.
Rasa takut kehilangan meracuni pikiran Farhan. Peristiwa kelahiran Sikembar kembali hadir dalam ingatannya. Dimana dia kehilangan ibu dari anak kembarnya. Walaupun kondisi Khairani saat ini berbeda dengan kondisi Citra waktu itu.
Tapi tetap saja keduanya berada ditempat yang membuat Farhan trauma. Pertama kali Farhan juga kehilangan Mamanya di ruang operasi setelahnya itu Citra .
Itulah sebabnya dari tadi pagi Farhan sudah uring uringan dan cemas berlebihan. Dia tidak siap menghadapinya, namun apa hendak dikata .Khairani harus menjalani proses ini karena melahirkan secara normal lebih membahayakan bagi Ibu dan bayinya.
Keheningan itu semakin mencekam bagi Farhan. Keringat dingin kini telah membasahi kaos mahal yang dia kenakan. Empat puluh menit itu seperti terasa lambat rasanya.
Dari tadi mulutnya tak hentinya b berkomat kamit. Entah apa yang dia baca hingga sesekali terlihat menghapus sudut mata yang berair.
Anggaplah Farhan terlalu lemah sebagai seorang pria dewasa. Dan seorang CEO Perusahaan Konstruksi terkemuka di Asia . Yang telah memiliki jangkauan yang sangat luas. Namun begitu rapuh ketika orang yang dicintainya bertaruh nyawa demi menghadirkan si buah hati ke dunia.
" Mr Farhan Jonhson ? "
" Iya, saya. " Farhan terlonjak dan langsung mendekat.
" Putra anda telah lahir dengan selamat. Dengan berat tiga kilogram, panjang lima puluh centimeter . Bisa ikut kami ke ruang bayi sebentar ,ada yang harus di tanda tangani ? " Ucap Dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi istri saya Dokter ?" Tanya Farhan cemas.
" Kondisinya baik walau tadi ada sedikit ketegangan, namun secara keseluruhan baik. Sekarang lagi ditangani Dokter ahli bedah untuk menutup bekas lukanya. " Jawab Dokter itu.
" Baiklah Dokter. " Mereka pun melangkah menuju ruangan khusus bayi.
Farhan menatap bayi mungil yang mengeliat dalam ranjang bayi. Lega rasanya bisa menatap hasil karyanya yang penuh cinta. Senyum bahagia itu tak hilang dari wajah tampan pria dewasa itu.
Puas menatap bayi laki laki mungilnya Farhan kembali ke ruang pemulihan untuk melihat kondisi istrinya. Ternyata Khairani telah dipindahkan ke ruang perawatan. Sebuah ruangan mewah bak kamar Hotel President suit.
__ADS_1
Khairani dioperasi dalam keadaan sadar .Dia hanya diberi anestesi lokal saja. Jadi dia telah melihat dan mendengar tangisan bayi sesaat setelah dikeluarkan dari dalam tubuhnya.
" Ceklek "
Pintu ruangan Khairani terbuka dari luar dan Farhan muncul dari balik daun pintu.
" Sayang, kamu baik baik saja, kan ? " Farhan langsung meraup kepala Khairani dan mendekap erat. Isakan halus terdengar saat Farhan mengecup puncak kepala istrinya.
" Kenapa menangis, aku dan bayi kita baik baik saja. Jangan khawatir. " Ucap Khairani.
" Aku sangat takut ! Tapi sekarang aku lega dan sangat bahagia. Terimakasih telah melahirkan bayi tampan untukku. " Farhan berkata disela isakan kecil.
" Tapi ini yang terakhir, aku tidak bisa lagi melahirkan anak untukmu. Dokter telah mengikatnya di dalam sini. " Sambil mengusap perutnya pelan.
" Aku tahu, itu atas persetujuanku karena beresiko bagimu untuk hamil lagi. Tapi aku sudah merasa sempurna karena punya tiga jagoan dan tiga princes. Setidaknya aku punya satu yang buah cinta denganmu. Aku bahagia sayang. Terima kasih telah menyempurnakan hidupku. "
Khairani hanya menanggapi dengan senyuman. Sembari menatap mata suaminya yang sudah memerah. Tangannya pun refleks menghapus air mata yang berjatuhan di pipi suaminya.
" Sudah siapkan namanya ? " Tanya Khairani.
"Alfarezel Jonhson ! " Ucap Farhan lantang.
" Bagus, apa ada maknanya ? " Farhan pun mengangguk.
" Kebaikan dan kesempurnaan. "
" Nama yang bagus. Semoga dia kelak membawa kebaikan dan menyempurnakan kebahagiaan kita. " Khairani tersenyum penuh haru.
" Aamiin" Kecupan hangat mendarat di pipi tembam Khairani dan berakhir di bibirnya.
" Bagusnya panggilannya siapa Bang ?"
" Menurutmu ? Alfa atau Ezel ?"
"Ezel saja, terdengar lebih unik. " Jawab Khairani .
Keduanya saling berpelukan dengan senyuman bahagia.
__ADS_1
...****************...