
Dalam perjalanan ke ruangan Khairani , Irul bisa melihat kegundahan Farhan. Pria dewasa empat puluh lima tahun itu terlihat mengkerutkan dahinya terlihat sedang berpikir keras .
" Bang, mau aku bantu bicara dengan Kak Rani. "
" Jangan, biar aku saja. Akan berbeda hasilnya jika kamu yang menjelaskannya. Aku hanya sedang memikirkan kata yang tepat. Semua harus aku jelaskan hari ini. Entah Khairani menerima atau tidak aku harus siap dengan konsekuensi. "
" Bang, sebaik apapun cara yang Bang Farhan pakai untuk menjelaskan aku yakin rasa sakit Kak Rani akan sama saja. Bedanya mungkin setelah dia mendengar kebenarannya nanti, Kak Rani bisa mengerti dan tidak menyalahkan Bang Farhan. Walaupun kita harus menunggu sedikit lama. "
"yah, kamu benar Rul, aku akan menunggu sampai kapanpun. Asal Khairani tidak meminta cerai saja sudah cukup. " Farhan memijit dahinya, ketika membayangkan tentang perceraian.
Akhirnya perjalanan singkat itu terhenti di depan ruang rawat Khairani. Irul memilih tidak masuk untuk memberi ruang pada Farhan dan Khairani untuk bicara dari hati ke hati.
" Kamu tidak tidur ?" Sapa Farhan setelah menutup pintu .
" Tidak " Khairani menjawab singkat kemudian menatap langit langit kamar itu.
" Sayang, aku harus pergi ke Jepang ." Sesaat Khairani menegang mendengar ucapan Farhan. Namun dia tidak menanggapinya.
"Papa sakit, dia dinyatakan koma setelah ditemukan tidak sadarkan diri di ruang kerjanya. " Lanjut Farhan sambil melirik Khairani dan mengamati reaksinya.
"Kenapa ? Apa terjadi sesuatu atau beliau memang sakit ?" Tanya Khairani sambil menoleh ke arah Farhan. Farhan tersenyum setipis mungkin, hingga Khairani tidak menyadarinya. Setidaknya istrinya masih mengkhawatirkan orang tuanya.
" Perusahaan dalam keadaan buruk, Papa shock dan memicu serangan jantung. Maaf, kamu masih sakit tapi aku harus meninggalkan mu. Tidak hanya Papa, tapi Perusahaan juga membutuhkan ku. "
" Pergilah, aku baik baik saja. Aku akan pulang dengan Irul. " Ucap Khairani yang kembali menatap langit langit ruangan itu.
" Khai, boleh aku mendekat dan. Aku hanya ingin duduk dekatmu. " Ucap Farhan lirih. Khairani tidak membenci hanya saja rasa mual itu tiba tiba saja disaat dia melihat Farhan dekat dengannya.
" Bolehkah... " Tanya Farhan lagi.
" Cobalah, tapi jangan terlalu dekat. " Ucap Khairani akhirnya. Senyuman Farhan terukir di bibirnya. Berlahan Farhan mendekati Khairani dan duduk di kursi dekat brankar.
" Apa kamu merasa tidak nyaman, kalau iya bilang saja. " Ucap Farhan. Khairani menggelengkan kepalanya.
" Kamu mau mendengarkan sesuatu ?"
" Apa " Khairani dengan jawaban singkatnya.
__ADS_1
" Tunggu sebentar. " Farhan mengeluarkan telepon genggam nya dan membuka rekaman tempo hari. Kemudian menyetelnya dan meletakkan di atas kasur dekat Khairani agar Khairani bisa mendengar dengan jelas.
Khairani yang awalnya terkejut, mulai mendengarkan dengan seksama. Mata bulat itu mulai berkaca kaca. Hingga akhirnya tidak lagi mampu membendung sesaknya.
Khairani membekap mulutnya saat mendengar Jeany memprovokasi Citra hingga semakin depresi. Dan sampai meregang nyawa akibat tensinya tinggi saat hamil . Mata bulat yang telah basah itu menatap Farhan yang menunduk sambil bersedekap tangan.
Farhan takut tiba tiba menyentuh Khairani dan mengakibatkan Khairani muntah lagi. Makanya dia duduk menunduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Namun mendengar isakan dari istrinya, spontan membuatnya mendongak dan menatap mata bulat kesayangannya yang ternyata telah dahulu menatapnya.
Sejenak dekapan tangannya terlepas dari dadanya. Berlahan lahan tangan itu menyentuh jemari Khairani yang berada di sisi tubuh yang setengah berbaring itu . Menyadari Khairani tidak merespon atau lebih tepatnya membiarkannya ,Farhan menggenggam semakin erat.
Sejenak mereka saling menguatkan lewat genggaman hingga akhirnya rekaman selesai diperdengarkan. tapi Khairani masih saja menangis dalam diam. Farhan tidak mengerti apa yang Khairani rasakan .Yang dia lihat istrinya menangis entah sedih ataupun sakit. Entahlah...
Jujur Farhan bingung harus berbuat apa. Ingin rasanya Farhan mendekat dan memeluk sang istri. Namun takut istrinya akan muntah muntah lagi. Tapi dia tak sanggup melihat air mata Khairani yang terus mengalir. Akhirnya Farhan memberanikan diri untuk bertanya.
" Khaira ,maafkan aku. Bolehkah aku memelukmu ? " Khairani tidak menjawab. Tapi Farhan bisa merasakan genggaman tangan Khairani semakin mengerat.
Farhan menarik tangan itu ke bibirnya, dan mengecup lama sambil memejamkan matanya. Kerinduannya terhadap Khairani dia lampiaskan jemari mungil itu.
" Maafkan aku ,maafkan aku. " Ucap Farhan berulang kali sambil terus mengecup jemari itu. Khairani yang merasakan kerinduan yang sama malah semakin terisak.
"Maaf, sayang. Sudah jangan menangis lagi, kasihan dia. " Khairani tidak bisa berkata kata. Dia mulai melingkarkan tangannya di pinggang Farhan. Mengikat erat tubuh kekar suaminya dalam dekapannya.
Khairani sangat rindu kehangatan pelukan suaminya. Sejak hamil baru dua malam ini dia tidak dipeluk kala tidur ,yang membuatnya gelisah. Tapi karena peristiwa yang menyakitkan itu membuatnya tak ingin berdekatan dengan Farhan.
Khairani tidak membenci, tapi rasa sakit hatinya membuat ingin menjauh. walau dalam hati terdalamnya Khairani yakin suaminya tidak mungkin mengkhianati tapi tetap saja mengingat semua itu membuat Khairani mual dan muntah muntah.
Menyaksikan tubuh suaminya dikuasai wanita lain di depan matanya ,melihat suaminya memasuki wanita lain sungguh itu hal yang paling menghancurkan hati seorang istri. Khairani tetaplah manusia biasa dan tidak mudah baginya menerima kenyataan bahwa suaminya tidak hanya menyentuh dirinya saja.
Tapi setelah mendengar percakapan dalam rekaman itu, Khairani sadar jika suaminya juga hanya manusia biasa. Tidak lepas dari kesalahan juga memiliki batas kemampuan. Khairani tidak ingin kehilangan suaminya tapi hatinya sedang terluka.
" Bolehkah aku egois untuk kali ini ? Aku belum bisa memaafkan mu tapi aku juga takut kehilangan mu. Aku belum bisa menerima semua yang terjadi tapi aku merindukanmu. " Ucap Khairani tersengal sengal dengan isakannya.
" Kamu boleh menghukumku dengan apapun, atau bagaimana pun caranya tapi jangan memintaku menjauhimu apalagi bercerai. " Suara Farhan terdengar serak dan bergetar menahan tangis.
" Hatiku sakit, sangat sakit. " Ucap Khairani lirih.
__ADS_1
" Aku tahu, aku lebih sakit melihatmu seperti ini. Maafkan aku. Aku tahu maafku tidak akan mengurangi rasa sakitmu, tapi aku akan meminta maafmu seumur hidupku. " Farhan terus mengecup puncak kepala istrinya.
Kedua suami istri itu saling menumpahkan rasa yang terpendam. Berpelukan dan berdekapan penuh dengan kecupan hangat. Hanya saling diam sambil meresapi kebersamaan hingga lelah.
" Sayang, kaki ku kebas. Bolehkah aku duduk. " Farhan yang dari tadi memeluk Khairani dengan kondisi berdiri mulai merasa lelah.
" Hanya berdiri satu jam saja sudah lelah, tapi kemarin malam kamu olahraga malam enggak lelah lelah hingga lupa istri. " Ucapan Khairani sambil merengut menyentil perasaan Farhan.
"Maaf " Ucap Farhan yang tidak tahu harus menjawab apa. Dia memeluk Khairani semakin erat.
" Ya, sudah lepaslah. Aku mau tiduran ." Ucap Khairani sambil melepaskan belitan tangannya. Farhan pun melepaskan pelukannya.
Setelah membantu Khairani untuk berbaring Farhan pun ikut berbaring. Dia kembali memeluk istrinya dari samping. Tapi posisinya tepat di depan perut Khairani.
" Hai Baby ,Papi rindu kamu. Boleh Papi mengunjungimu. " Ucapan Farhan mendapat pukulan dari Khairani yang menatapnya tajam.
"Aku belum memaafkan mu, Bang. "
" Bercanda sayang. " Ucap Farhan cengengesan. Kemudian dia menciumi perut Khairani. "Papi mau pergi ke tempat Opa dulu ya, jagain Bunda. Jangan izinkan Bunda menangis karena Papi jauh tidak bisa menenangkan Bunda nantinya. " Ucapnya lirih.
Ucapan itu seperti ditujukan untuk Khairani. Karena Farhan mengucapkannya sambil menatap mata bulat kesayangannya itu. Khairani terlihat sedih dengan mata bulatnya yang mulai redup dan sendu.
"Kapan Abang pergi ?" Tanya Khairani.
" Nanti malam ,apa tidak apa apa. ?" Tanya Farhan balik.
" Secepat itu? " Pertanyaan itu membuat Farhan mengeser tubuhnya agar sejajar dengan Khairani.
" Kenapa, masih rindu ?" Senyum jahil Farhan terlihat menggoda Khairani.
" Tidak sama sekali, cuma masih sebel. Belum juga dihukum. " Farhan malah terkekeh mendengarnya dan langsung memeluk Khairani dengan erat.
" Aku akan cepat kembali, doakan semoga nanti dimudahkan urusanku disana. " Khairani hanya bisa mengangguk dalam dekapan Farhan.
"Jangan membuatku terluka seperti ini lagi. Jika terjadi lagi bisa dipastikan aku benar benar gila atau tidak bernyawa lagi. Aku tidak kuat. " Suara Khairani lebih seperti rintihan terdengar oleh Farhan.
"Aku tidak pernah berniat untuk menyakiti mu, Sayang. Tapi jika aku tidak sengaja melakukannya akan aku membayarnya dengan nyawaku. "
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Khairani ku"
...****************...