
Sejak perdebatan pagi tadi hingga hari menjelang siang, Khairani tidak mau menatap Farhan sedikit pun. Khairani hanya menutup mata atau tidur membelakangi Farhan. Sarapan pun dia tidak mau dibantu oleh Farhan. Khairani malah memanggil Suster lewat tombol .
Farhan hanya bisa menarik napas melihat semua tindakan Khairani .Dia tidak mau memaksa jika Khairani tidak mau. Farhan takut istrinya akan emosi lagi lalu minta cerai. Saat ini Farhan hanya bisa pasrah dan menerima apapun perlakuan Khairani selain minta berpisah darinya.
Sementara Irul telah sampai di Changi Airport .Disana Ken Asisten Jack Luo telah menunggu untuk membawanya ke rumah sakit. Dengan berbagai pertanyaan mengambang dipikiran Irul.
Khairani yang telah dinyatakan sembuh dari traumanya sejak dua puluh lima tahun lalu, tiba tiba kambuh. Apa yang telah Farhan lakukan pada kakaknya. Irul sungguh sangat khawatir mengingat Khairani sedang hamil.
Sesampainya di lobi rumah sakit , ternyata Farhan telah menunggu Irul. Farhan langsung mengajak Irul makan siang di Restoran yang terdekat dengan rumah sakit. Sengaja memesan ruangan Privat agar lebih leluasa untuk bicara.
Jujur Farhan sangat khawatir dengan reaksi Irul nantinya. Walaupun tanpa disengaja tetap saja semua yang terjadi sangat menyakitkan untuk Khairani. Dan Farhan sangat tahu Irul sangat menyayangi kakaknya.
Tapi apapun yang terjadi Farhan harus siap mempertanggungjawabkan . Dia akan menerima apapun yang akan Irul lakukan asal jangan menyuruhnya meninggalkan Khairani.
" Ada apa sebenarnya Bang ? " Tanya Irul tidak sabar.
" Kita makan dulu, nanti aku akan ceritakan semuanya. "
Akhirnya mereka makan setelah pesanan mereka sampai. Tak butuh waktu lama untuk mereka menghabiskan makanan karena mereka makan dengan tenang tanpa ada obrolan apa apa.
" Ceritakanlah Bang. " Ucap Irul setelah selesai makan.
" Baiklah, sebelumnya aku minta maaf karena tanpa sengaja telah menyakiti Khairani. " Kemudian Farhan menarik napas dalam.
" Apa yang Bang Farhan lakukan ? " Irul sudah merasa ada yang tidak beres.
" Aku dijebak oleh mantan Asisten ku disebuah kamar Hotel tempat kami menginap ." Ucap Farhan terlihat ragu ragu ,dan melihat reaksi datar Irul Farhan melanjutkan ceritanya.
" Dan... Khairani melihat semua yang terjadi. "
"Bugh"
" Bugh"
Dua pukulan keras mendarat di wajah Farhan. Sudut bibirnya berdarah dan pelipisnya mungkin sebentar lagi akan membiru. Dan sekarang Farhan sudah terduduk di lantai.
" Brengs*k kamu Bang. Bagaimana cara Kak Rani menghadapi ini. Traumanya tidak hanya semakin parah, malah bisa jadi tidak akan pernah sembuh. " Teriak Irul melepaskan emosinya yang membuncah .
" Dengarkan dulu penjelasan aku Rul, nanti kamu boleh menilai dan bertindak . Aku akan terima apapun asal jangan menyuruhku meninggalkan Khairani. "
__ADS_1
" Apalagi yang ingin kamu jelaskan. Bang Farhan telah menyakiti hati kakakku hingga sakit yang terdalam ,terus apalagi yang harus ku dengar. " Suara Irul masih sangat meninggi.
" Setidaknya dengarkanlah dulu, biar kamu mengerti. Aku tidak sedang mencari pembenaran. Aku hanya berharap kamu bisa membantuku menjaga Khairani karena aku tidak bisa mendekatinya. " Dengan menahan rasa sakit di wajahnya, Farhan berusaha menenangkan Irul.
" Baiklah ,apa yang harus aku dengar." Irul masih dalam mood emosi.
Dengan cepat Farhan berdiri dan mengeluarkan telepon pintarnya dari saku celananya. Tanpa menunggu lama rekaman suara antara Farhan dan Jeany pun mulai terdengar.
Irul nampak mendengarkan dengan seksama. Sementara Farhan mengusap wajahnya yang mulai membengkak atau mungkin sudah membiru.
Setelah semua percakapan itu didengarnya Irul menatap Farhan dengan dengan tatapan tak jelas. Farhan hanya diam menunggu reaksi dari Irul.
" Maaf Bang, emosiku tidak bisa kutahan tadi. Tapi apapun itu tetap saja tidak merubah keadaan Bang. Toh Kak Rani sudah mengalami gangguan lagi pada mentalnya. " Irul mendesah kasar.
" Maaf aku tak sengaja melukainya ." Lirih Farhan.
" Bagaimana keadaannya sekarang ?
" Tadinya histeris, sekarang sudah mulai tenang. Hanya saja setiap melihat dan bersentuhan dengan ku dia mengalami muntah. Dan Khairani minta cerai. " Ucap Farhan setelah itu tertunduk lesu.
"Berarti sekarang dia sudah berada dibatas akhir kepercayaannya kepada Bang Farhan. "
" Ada Bang, beruntung masih Kak Rani simpan bersamaan dokumen penting milik ibu. "
" Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit, Khairani sendirian disana .Dan aku akan bertemu Dokter nanti. "
Farhan dan Irul langsung meninggalkan Restoran tersebut. Hanya butuh sepuluh menit kini mereka telah masuk ke lobi rumah sakit. Farhan langsung mengantarkan Irul ke kamar Khairani.Sementara Farhan langsung menemui Dokter Karenina dengan membawa berkas rekam medis milik Khairani.
" Tok... tok... tok"
" Kak... " Irul melihat Khairani meringkuk di atas Brankar. Khairani yang melihat Irul ada di ruangannya merasa tidak percaya.
" Kamu Rul ? Kapan kamu sampai. " Tanya Khairani tak percaya.
"Iya, barusan sampai. Bagaimana kabar Kakak . "
" Sudah mendingan. Aku hanya kelelahan saja, tidak ada yang serius. " Khairani tetap saja seperti itu. Dia akan selalu menutupi penderitaannya untuk dirinya sendiri.
Irul hanya bisa menarik napas dan pura pura tidak tahu peristiwa sebenarnya. Irul tidak mau Khairani nanti histeris jika mengingat kejadian yang menikam jantungnya itu.
__ADS_1
" Kak Rani doyan sekali masuk rumah sakit. Cepat sembuh Kak, biar cepat pulang. Kasihankan anak anak ditinggal lama. " Ucap Irul dengan ekspresi merengut.
" Aku udah sehat kok, Dokter aja yang masih nahan aku disini. Mungkin biar banyak kita bayar biaya rawatnya , dan mereka untung banyak. " Khairani terkekeh sambil berbicara.
" Kak Rani ada ada saja, mana ada seperti itu. Bang Farhan lagi ketemu Dokter, kita tunggu saja apa kata Dokter. "
" Kamu sudah bertemu Bang Farhan ? Tanya Khairani dengan cemas.
" Sudah ,kan emang Bang Farhan yang ngabari aku kalau Kak Rani sakit." Ucap Irul santai.
" Bang Farhan tidak ada cerita yang lain ?" Selidik Khairani.
" Tidak, emang mau cerita apa ? Tanya Irul pura pura bingung.
" Enggak ada sih, maksud aku mungkin tentang kepulangan aku barangkali. " Khairani berusaha untuk tersenyum menutupi rasa cemasnya.
" Kita tunggu saja sebentar lag , mungkin ada kabar baik ."
" Iya, mudah mudahan. "
Di ruang Dokter
" Dugaan saya benar, Nyonya Khairani mengalami Trauma Mental trust Issues.Tapi itu terdeteksi disaat dia sudah mulai remaja. Sebelumnya di usia lima tahun Nyonya Khairani mengalami Panic Attack. "
" Nyonya Khairani akan mengalami muntah dan kejang kejang jika bertemu dengan ayahnya. " Terang Dokter Karenina .
" Dia juga muntah setiap kali melihat dan bersentuhan dengan ku, Dok " Ucap Farhan.
" Ini sudah sangat komplit, Pak. Kira perlu untuk melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apa dan seberapa parah gangguan yang menyerangnya. Saya harap ini hanya reaksi sementara saja ."
"Saya berharap juga begitu , Dokter ."
"Oke Pak, sore ini jadwal saya untuk Nyonya Khairani. Sampai ketemu nanti sore. " Ucap Dokter Karenina sambil mengulurkan tangan menyalami.
" Baik Dok, terimakasih " Farhan pun membalas jabatan tangan itu.
Farhan kembali menuju ruangan Khairani. Tampak Irul dan Khairani sedang berbincang ringan. Farhan merasa menyuruh Irul datang kesini adalah langkah yang tepat. Terbukti Farhan dapat melihat senyuman yang telah Redup beberapa hari ini merekah kembali.
Semoga apa yang Dokter katakan tadi benar, ini hanya reaksi sementara saja. Farhan bertekad untuk melakukan apa saja untuk mempertahankan senyuman itu dibibir Khairaninya.
__ADS_1
...****************...