Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Kambuh lagi


__ADS_3

Khairani kini duduk sendiri di kursi kantin masih dengan posisi seperti tadi. Sementara Jeany telah berlalu sejak sepuluh menit yang lalu karena dia kembali ke Singapura satu jam lagi.


Sembari mengaduk aduk Ramen yang tadi dia pesan. Entah kenapa selera makannya langsung hilang setelah kepergian Jeany. Padahal tadi Khairani sangat lapar sekali rasanya.


Pembahasan tentang malam kelam itu kembali mengiris lukanya. Khairani masih merasa sangat perih mengingat semua itu. Bagaimana Farhan menggerakkan tubuhnya di atas tubuh polos Jeany. Bagaimana suara ******* dan erangan Farhan ketika memacu mencari kepuasan.


Sontak sendok dan sumpit yang Khairani pegang terlepas dan terhempas di mangkok Ramen itu. Air matanya menggenang tanpa diminta. Seluruh tubuhnya gemetar dan keringat dingin telah memenuhi dahinya.


Trauma itu belum sembuh. Selama ini dia hanya berusaha mengikuti arahan dari Dokternya. Sehingga trauma itu bisa dia lawan sedikit demi sedikit. Mensugesti dirinya sendiri dengan keyakinan bahwa Farhan hanya mencintainya.


Tapi kali ini rasa sakit itu muncul kembali. Menguasai hati dan pikirannya. Setelah sekian lama Khairani berusaha untuk selalu bahagia agar rasa itu hilang dari hatinya, namun kali ini Khairani kembali diserang rasa sakit , takut ,dan kecewa secara bersamaan.


Khairani kian memucat, air matanya mengalir di sudut matanya yang telah merah. Dengan tangan yang gemetar Khairani berusaha untuk meraih gelas air minumnya. Meneguk air putih itu hingga tandas tak tersisa.


Khairani memejamkan matanya sejenak, ketika merasakan kepalanya kian berat. Tidak ada yang mengetahui kondisi Khairani karena dia duduk di sudut kantin dengan menghadap ke arah jendela kaca.


" Obat... " Ya, Khairani butuh obat saat ini. Dia mengambil tasnya dan membukanya tergesa gesa , tapi karena lagi terserang panik yang berlebihan Khairani malah menjatuhkan tas beserta isinya.


Khairani berusaha meraih tasnya kembali, namun dia malah menyenggol gelas kosong diatas meja. Tentu saja dengan perut yang sangat besar menyulitkannya untuk bergerak. Ditambah kondisinya yang sedang tidak baik baik saja.


Khairani nyaris tersungkur ketika hendak merunduk untuk meraih tasnya kembali . Namun sepasang tangan kokoh dengan sigap menopang tubuhnya sehingga tidak sempat terjerembab ke lantai kantin.


" Khai ! Kenapa... ?" Farhan tidak jadi melanjutkan pertanyaannya ketika melihat wajah Khairani telah pucat dan basah.


" Tas... obat... " Khairani menunjuk ke arah tasnya, setelah Farhan berhasil mendudukkannya kembali.


Tanpa berpikir panjang Farhan langsung menyambar tas yang tergeletak di lantai. Farhan mencari obat yang Khairani maksud. Tapi dia tidak menemukannya.


" Tidak ada ! " Ucapnya melihat ke arah Khairani.


" Di lantai " Balas Khairani yang sedang memejamkan matanya dengan satu tangan menopang dahinya suaranya terdengar sangat lemah.


Farhan mencari di dekat tas itu terjatuh tadi. Terlihat beberapa benda kepunyaan Khairani berserakan. Farhan memungutnya sembari mencari obat Khairani hingga matanya menangkap botol kaca kecil berwarna kuning kecoklatan. Dengan sigap Farhan mengambilnya.


" Apakah ini ? " Farhan tidak pernah tahu jika Khairani mengkonsumsi obat. Khairani mengangguk pelan, lalu meraihnya dan meminum satu butir obat itu.


" Apakah itu aman ? " Tentu saja Farhan tahu itu obat penenang, karena Farhan telah mengerti apa yang terjadi dengan Khairani dengan melihat gejala yang timbul.


Farhan merangkul Khairani ke dadanya sembari mengelus kepalanya. Farhan mengerti jika Khairani diserang rasa Panic Attack ,yang menjadi salah satu gejala jika traumanya kambuh.


Setelah Khairani agak tenang, barulah Farhan merenggangkan dekapannya.


" Apa perlu kita periksakan ke Dokter, mumpung kita masih di rumah sakit ? "


" Tidak usah, aku sudah mendingan. Bantu aku kembali ke ruangan Papa. Aku mau istirahat. "

__ADS_1


Farhan meraih tas Khairani, kemudian memapah sang istri untuk berdiri Lalu membopongnya. Khairani tidak menolak karena memang dia tidak sanggup untuk berjalan.


Sesampainya di ruangan Tuan Endriko Farhan merebahkan Khairani di Bed tambahan yang memang sudah tersedia disitu.


" Ada apa dengannya ? " Teriak Tuan Endriko.


" Tidak apa apa, Pa .Agak sedikit lemas mungkin kelelahan. Ucap Farhan berbohong.


Jujur Farhan juga tidak tahu kenapa Trauma Khairani bisa kambuh. Padahal tadi kelihatan baik baik saja waktu masih ada Jeany. Kenapa setelah Jeany pergi malah Khairani terlihat rapuh.


Tadi sewaktu Khairani bicara empat mata dengan Jeany, tidak sengaja Farhan melihatnya saat memarkirkan mobilnya. Dengan rasa was was Farhan langsung menghampiri takut Jeany menyakiti Khairani.


Tapi nyatanya diakhiri pembicaraan mereka malah sepertinya berbaikan membuat Farhan lega. Dan setelah Jeany pergi Farhan ke ruang Papanya untuk melihat kondisi sang Ayah. Kebetulan Khairani sedang makan.


Namun betapa kagetnya Farhan ketika melihat Khairani menjatuhkan gelas dan nyaris tersungkur. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi melihat kondisi Khairani dan ada Papanya jadi dia urungkan.


Khairani telah memejamkan mata sedari sampai di ruangan itu. Sepertinya efek obat penenang itu telah bekerja. Khairani tertidur sekarang.


" Maaf... Kamu masih saja menderita sampai sekarang karena aku. " Ucap Farhan lirih sambil mengecup tangan Khairani yang sedari tadi dia genggam.


Tentu saja tidak direspon oleh Khairani. Tapi malah mendapat pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya dari Tuan Endriko.


" Apa yang kau lakukan, hingga membuat menantuku menderita. " Tanya Tuan Endriko yang mendengarkan Farhan bergumam.


" Aku pernah menyakitinya begitu dalam hingga membuat traumanya kembali kambuh. Papa ingat Jeany ..."


Akhirnya Farhan menceritakan semua luka yang dia torehkan di hati sang istri. Termasuk pertemuan Khairani dengan Jeany tadi. Hingga Farhan menemukan Khairani dalam kondisi mengkhawatirkan .


" Kau ini dari dulu Papa selalu mengingatkanmu. Dari pada berbuat dosa begitu lebih baik menikah saja. Lihatlah akibat pergaulan bebas mu ,kau malah melukai orang orang yang kau sayangi. " Tuan Endriko menarik napas dalam.


" Kau tahu Han, Prinsip ku dan Ayahmu sama. Kami lebih baik tidak punya teman dari pada harus bergaul dengan orang yang salah. Apalagi pergaulan bebas. Syukur Mamamu tidak melihat perangai mu yang satu itu, bisa jantungan dia kalau tahu. " Tuan Endriko terlihat kesal.


" Maaf Pa ,aku sangat menyesal. Apalagi melihat penderitaan nya. " Lirih Farhan dengan mata yang tidak beralih dari Khairani yang tertidur.


" Apa dia baik baik saja ? apa tidak sebaiknya kita periksakan ? " Nampak raut khawatir di wajah tua yang masih kelihatan tampan.


" Aku juga berpikir begitu. Baiklah aku panggil dokter dulu. "


Farhan bergegas meninggalkan ruangan Tuan Endriko.


Beberapa saat kemudian dia kembali dengan dua orang Dokter. Dan kedua Dokter bermata sipit itu diarahkan ke Bed tempat Khairani berbaring.


" Boleh saya lihat obat yang istri anda konsumsi ? " Ucap salah satu Dokter itu. Farhan pun segera mengambil dan menyerahkan botol obat itu.


" Obat ini cukup aman untuk ibu hamil. Tapi tetap saja kondisi seperti ini tidak boleh terlalu sering terjadi. Walau bagaimana pun ibu hamil harus dalam keadaan sehat secara fisik maupun psikis. " Ucap sang Dokter memperingatkan.

__ADS_1


" Baik Dokter, akan saya perhatikan. " Ucap Farhan. " Bagaimana dengan kandungannya ? "


" Dari detak jantungnya terdengar normal. Ini sudah memasuki bulan kelahiran, sebaiknya lebih sering diperiksakan ke bagian Obgyn. "


Setelah diperiksa , Dokter menyatakan bahwa Khairani dalam keadaan baik membuat Farhan sedikit lega. Tapi hatinya masih gelisah menunggu Khairani siuman.


Dua jam kemudian mata bulat itu mulai bergerak. Farhan yang sedari tadi menggenggam jemari Khairani mulai tersenyum lega.


" Minumlah dulu !" Farhan membantu Khairani duduk lalu menyerahkannya botol minum ke mulut Khairani.


" Apa ada yang sakit atau tidak nyaman ? " Tanya Farhan lembut.


" Iya, ada. " Jawab Khairani lalu setelah meneguk minumnya.


" Aku panggilkan Dokter, tunggu sebentar. " Farhan hendak bangkit dari duduknya namun terhenti oleh ucapan Khairani.


" Tidak perlu, Dokter tidak akan bisa mengobatinya karena sakitnya di dalam sini. Perihnya kadang masih terasa. " Suara lirih Khairani diiringi air mata yang berjatuhan. Sambil menekan dadanya yang mulai terasa sesak.


Farhan mengerti maksud Khairani. Entah kapan sakit itu akan sembuh, atau mungkin tidak akan pernah sembuh. Farhan telah melukai terlalu dalam.


Sesaat kemudian Farhan kembali merangkul Khairani ke dalam dekapannya.


" Maaf, Sayang. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku sejak menatap mata bulat ini sampai saat ini dan kemudian hari. Hanya kamu Khairaniku. Hanya itu yang bisa aku jamin. Tapi ketika aku menyakitimu tanpa sengaja, tolong maafkan aku. Karena aku tak pernah sedikitpun berniat untuk itu. " Ucap Farhan lirih


" Aku tahu itu, tapi setiap mengingatnya sakitnya kembali terasa."


" Kalau begitu lupakan ! Ingat saja tentang cintaku yang besar untukmu. Bisakah...


" Akan aku coba. "


Farhan melepaskan dekapannya ,dan menatap mata bulat kesayangannya itu.


" Apa Jeany mengganggu mu lagi ? " Khairani mengeleng.


" Kenapa dia menemuimu ? .


" Dia telah menyerah tentang mu. Dan sekalian pamit kembali ke Singapura. "


" Baguslah, aku tidak ingin dia selalu berada disekitar kita agar kamu tidak lagi mengingat hari buruk itu. Aku hanya ingin bahagia denganmu. "


" Semoga dia menemukan kebahagiaannya." Khairani berharap Jeany tidak lagi ada antara dia dan Farhan.


" Aku juga ingin bahagia...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2