Disaat Kau Pergi

Disaat Kau Pergi
Sang pewaris


__ADS_3

Malam ini Farhan merasa kebahagiaan nya lengkap sudah. Keluarganya kini hadir didekatnya. Kedatangan anak anaknya dan Papanya yang telah sadar dari koma .


Namun ada sedikit ganjalan di hatinya ,permintaan sang Ayah yang ingin bertemu dengan istrinya. Ada tanda tanya besar dalam hatinya. Apakah yang akan Papanya katakan pada Khairani nantinya.


Tapi Farhan tidak terlalu memikirkan. Rasa penasarannya dikalahkan oleh rasa bahagianya saat ini. Baginya yang terpenting keselamatan sang Ayah dan kehadiran anak anak sudah cukup baginya. Farhan yakin tidak mungkin Papanya akan menyakiti Khairani.


Setelah alat penunjang kehidupannya dilepas Tuan Endriko dipindahkan ke ruang rawat yang sangat mewah, sesuai permintaan Farhan. Dia tidak ingin Papanya merasa tidak nyaman dan memperburuk kondisinya.


Apalagi Farhan berniat hendak memboyong keluarnya untuk bertemu dengan sang ayah. Setidaknya Farhan harus memastikan kenyamanan keluarganya saat berkunjung nanti.


Melihat anaknya termenung menatap kerah jendela, Tuan Endriko menegur sang anak.


" Kapan kamu akan membawa istrimu kemari ." Ucapnya .


" Besok pagi ,Papa baru saja sadar dan lagi ini sudah terlalu malam untuk berkunjung. Lagian istriku lagi hamil besar, Pa ."


" Bawa anak anakmu sekalian, Papa ingin menemui mereka. "


" Oke, Papa jangan khawatir .Tapi aku mohon, Pa jangan marahi istriku. Dia sedang hamil cucumu, aku tidak ingin dia sedih . " Ucap Farhan lirih.


" Kamu ini... ya sudahlah yang penting bawa mereka besok, kamu mengerti ." Ada senyum penuh arti yang tersimpan dibalik bibir lelaki tua yang terbaring itu.


Anak yang dirawatnya sejak bayi baru kini merasakan cinta, disaat usianya sudah kepala empat. Sebenarnya Tuan Endriko sudah berputus asa untuk mengharapkan anaknya untuk menikah, namun kini harapannya tidak sia sia. Malah diusia tujuh puluhan dia sudah memiliki cucu, walaupun bukan dari keturunannya.


" Han, apa kamu tidak berniat untuk menggantikan Papa ? Lihatlah nak tubuh tua ini sudah tidak kuat lagi. Apa kau tidak kasihan dengan orang tua renta ini. ? "Ucap Tuan Endriko memelas.


" Sudah malam, Papa baru saja sadar. Jangan banyak berpikir dulu, oke ! Nanti kita bicarakan lagi, yang penting Papa sembuh dulu. " Farhan membenarkan selimut Ayahnya dan menurunkan setelan Brankar Ayahnya.


" Han, bagaimana Perusahaan ? " Wajah tua itu terlihat cemas.


" Semua sudah terkendali. Papa tenang saja. Aku sudah mengembalikan keadaan seperti semula. Sekarang cobalah untuk tidur , oke ! " Farhan tersenyum sambil mengusap jemari keriput Ayahnya.


Dan akhirnya mata Tuan Endriko pun semakin meredup dan terpejam. Farhan bangkit dari duduknya setelah melihat sang Ayah tertidur. Dia pun membaringkan tubuhnya di sofa yang tersedia di ruangan itu. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan sangat mengantuk sebab sekarang menjelang tengah malam.


*****


Mentari pagi telah menampakkan pamornya di ufuk timur. Cahaya keemasan itu menyinari keseluruhan penjuru kota Tokyo. Walaupun tetap menyisakan rasa dingin yang menusuk tulang.


Sementara di rumah kediaman Tuan Endriko sudah terjadi kehebohan dari tadi. Mereka sibuk bersiap hendak berangkat ke rumah sakit untuk mengunjungi yang empunya rumah.

__ADS_1


Semua sibuk dengan urusan masing masing. Sementara Khairani baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi dibantu para pelayan. Semua hidangan telah tertata rapi di meja makan. Khairani juga sudah memasukkan sebagian ke dalam rantang bekal buat suaminya.


" Sudah siap semuanya. Baiklah aku mau bersiap dulu, bisakah kamu memanggilkan anak anak untuk sarapan. " Ucap Khairani kepada seorang pembantu yang terlihat masih muda.


Sang pelayan pun mengiyakan dan berjalan menuju lantai dua tempat anak anak berada. Sementara Khairani meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


Setelah semua berada di ruang makan, mereka pun sarapan bersama dengan santai. Dengan menu sederhana yaitu nasi goreng Seafood yang menjadi favorit keluarga Khairani.


Khairani sedikit gugup saat ini. Walau bagaimana pun dia akan bertemu dengan mertua yang belum pernah dia temui selama ini. Entah bagaimana pendapat sang mertua terhadap dirinya.


Farhan telah menunggu rombongan keluarga kecilnya di Lobi rumah sakit. Farhan pun sebenarnya sedikit khawatir menghadapi reaksi Ayahnya nanti. Tapi dia tidak terlalu memikirkan karena dia yakin Ayahnya bukan tipe orang yang suka bicara menyakitkan.


Tidak berapa lama yang dinantinya pun telah muncul dari arah parkiran rumah sakit. Senyum Farhan terbit saat melihat Khairani berjalan diikuti anak anaknya. Irul dan Era juga Ibu Rahma pun ikut serta. Tidak ketinggalan para batita kembar tiga dengan pengasuh mereka.


Beruntung Farhan menempatkan sang Ayah di ruangan terbesar di rumah sakit ini. Jadi tidak akan sesak jika semua masuk ke ruang rawat Tuan Endriko .


" Maaf kami terlambat, Bang. Maklumlah menyiapkan mereka semua penuh dengan drama dulu. " Ucap Khairani sambil menunjuk ketiga bocah yang digendong para pengasuh dan Irul.


" Tidak apa apa, Papa pasti mengerti. Ayo Opa sudah tidak sabar bertemu kalian. " Ucap Farhan sembari menggandeng tangan Khairani.


Mereka berjalan beriringan menuju lift. Ruang rawat Tuan Endriko di lantai atas rumah sakit tersebut.


Sesampainya di sana Farhan membuka pintu ruangan mewah itu. Tuan Endriko berbaring setengah duduk. Wajah yang kemarin terlihat pucat kini sudah segar lagi meski belum pulih sepenuhnya.


Tatapan Tuan Endriko terlihat datar membuat Khairani tersenyum kecut. Berlahan Khairani melepaskan genggaman tangan Farhan. Kemudian mengambil tangan sang mertua disisi tubuh lemah itu, lalu mencium takzim.


Sejenak kemudian terlukis senyuman tipis dibibir Tuan Endriko yang menulari Farhan dan juga Khairani.


" Seleramu persis Ayahmu, nak. Dia begitu mirip dengan Farida Ibumu. Hanya saja Ibumu tidak berkerudung. Postur tubuh dan wajahnya hampir mirip. " Khairani tersenyum menanggapi perkataan Tuan Endriko.


" Itu membuktikan kalau aku anak Ayah. " Ucap Farhan ringan.


" Ya, kau memang sangat mirip Hansen Jonhson. Tapi kulitmu Menyerupai kulit Farida. " Tuan Endriko kembali mengenang sahabatnya.


" Sudah jangan dikenang lagi nanti Papa sedih. Aku tidak mau melihatnya. " Ucap Farhan ketika melihat guratan kesedihan di wajah Papanya.


" Siapa namamu, Nak ! " Tanya Tuan Endriko kepada Khairani.


" Khairani , Pa . Panggil Rani saja. " Jawab Khairani.

__ADS_1


" Aku titip anakku ini padamu, tolong sayangi dia dengan penuh perhatian. Karena dia besar dengan kekurangan kasih sayang. Hanya Mamanya yang menemaninya sementara aku terlalu sibuk bekerja hingga tidak sadar dia telah tua sekarang. " Ucap Tuan Endriko sambil terkekeh namun matanya nampak berkaca.


" Papa jangan khawatir, aku akan selalu ada untuknya. " Ucap Khairani sambil mengusap tangan rapuh mertuanya.


" Oh iya ,Pa ini Fariz dan Alma anak anakku ." Ucap Farhan mengalihkan pembicaraan sambil merangkul kedua anaknya.


" Kau cantik, sangat mirip ibumu. Alma nama yang bagus. " Sambut Tuan Endriko ketika Alma menyalaminya. " Dan...


" Fariz Opa. " Sambung Fariz ketika Tuan Endriko tidak bisa mengingat namanya.


"Iya, Fariz. Mhm ... aura pemimpin terlihat jelas dari kharisma mu. Kau pasti sukses suatu saat, Nak. Rajinlah belajar, aku sangat yakin kau ini cerdas,. Benarkan ? " Tuan Endriko memastikan ucapnya.


Fariz hanya tersenyum tipis, sementara Farhan mengangguk menjawab pertanyaan sang Ayah.


" Dan ini mereka, Pa. Si kembar tiga, Gaza, Aliya dan Alika. " Ucap Farhan sambil menunjuk ketiga batita itu. " Tuan Endriko menatap ketiga bayi itu bergantian.


Tuan sudah mengetahui cerita tentang bayi kembar itu. Farhan pernah menceritakan semua yang terjadi waktu itu hingga akhirnya dia menikahi Khairani.


" Dan ini adik Khairani, Irul dan ini anaknya Era. " Farhan menunjuk satu persatu nama yang dia sebutkan.


Irul mendekati Tuan Endriko dan menyalaminya. " Semoga lekas pulih, Pak. "Ucap Irul berbasa basi.


" Terima kasih, putrimu cantik sekali." Balas Tuan Endriko.


Setelah selesai beramah tamah akhirnya mereka berbincang bincang ringan. Sementara para pengasuh dan anak anak berada di sofa yang ada di sudut ruangan sambil menonton kartun di televisi yang ada disitu.


" Anak mu yang paling besar memiliki aura pemimpin. Terlihat dingin dan tangguh tapi memiliki insting dan kepekaan yang tinggi. Aku seperti melihat kakekku pada waktu itu. Pebisnis handal pada zamannya. "


" Han, didiklah dia dengan baik. Mulai kenalan bisnis padanya. Percayalah pada Papa, dia akan menjadi penerus yang tepat. " Ucap Tuan Endriko yakin.


"Baik, Pa .Aku juga melihat yang Papa lihat. Karakternya hampir sama dengan Ayahnya tapi aura Fariz lebih kuat karena dia lebih peka terhadap hal sekecil apapun. "


Khairani hanya mendengar pembicaraan antara Farhan dan mertuanya. Ada senyuman bahagia terpancar dari bibirnya menyaksikan kedua orang itu memberi penilaian tentang anaknya.


" Lihatlah Bang, anakmu tumbuh seperti mu, dia mewarisi sebagian besar sifatmu. Semoga kamu bahagia disana .....


...****************...


🌺 Hai sista maaf baru Up ,yah dasar mak mak rempong yaa 😘 ada aja alasannya 😁 Tapi benaran lagi repot amat ama Bocil lagi gesit gesitnya merangkak.

__ADS_1


Semoga enggak bosan membaca yaa.


HAPPY READING GAAIISSS 🌺


__ADS_2