
DKAS #53
Hai..hai..
Ini novel pertama ku di sini..
Smoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Suasa mengaji mushola kompleks membangunkanku.
Akupun duduk walaupun agak sedikit pusing karna kurang tidur.
Aku bersiap-siap menuju moshola untuk melaksanakan holat subuh berjama'ah.
Aku mulai membuka pagar rumahku.
"Ngapain subuh-subuh begini mereka di situ" batinku heran melihat dua pria berdiri di persimpangan jalan kompleks area rumahku.
"Ci..kami sedari tadi menunggu loe disini" ucap salah satunya di saat aku jalan mendekati mereka
"Ada apa loe nungguin di sini donie?..loe mau ikut sholat bareng gue?" Ucapku ke arah lawan bicara
"Ngak..gue cuma temennin dion doang kesini" ucapnya melirik dion dengan mengisyarat sesuatu
"kenapa yon?,loe kok jadi pendiam kini?" Ucapku namun dion masih nampak berdiri mematung di tempatnya dari semula aku melihatnya.
"Maaf..gue harus ke mushola..loe dengar kan..kumandang azan hampir selesai tu" ucapku mulai melangkah
"Ci...O.orang yang mencintai loe dah mendahui kita semua" ucapnya lambat namun masih bisa ku dengar karna kesunyian subuh ini.
"Emang siapa yang mencintaiku..dan mendahului??" Ucapku seperti orang yang tak faham ucapan dion.
__ADS_1
"Maaf..ci..semalam dia melanggar janjinya..dia ngebalap dan lecelakaaan itu tak dapat di hindari...dan dia Titip 'MAAF' si ujung nafasnya" cerita dion membuat sajadah yang sedari tadi di tangan ku jatuh.
Suara khomad dari mushola menyadarkanku..
"Aku kemushola dulu" ucapku.
Aku mengambil kembali sajadahku dan melangkah meninggalkan mereka.
Sesampai di mushola aku sholat dengan air mata yang tak henti-hentinya jatuh dari pipiku..
Di alhir sholatku..
Ku anglat kedua tanganku..
"Ya allah..ya tuhanku..terimalah dia..ampuni dosannya..berikan dia tempat yang layak..mungkin..engkau tahu..aku bukan orang yang layak untuknya..sehingga angkau tak biarkan iya menderita karna ku..
Ya allah..engkau maha penggasih dan penyayang..hamba tau di orang yang tulus menyayagi hamba..maka terimalah ketulusanya sebagai amal untuk dia layak disisimu ya allah..amin" tutupku meletakkan kedua telapak tangan ke wajahku.
Akupun melangkah meninggalkan mushola menuju kembali kerumah.
Pagi ini aku bersiap-siap memasukkan semua perlengkapanku ke dalam koperku kembali.
"Kenapa tiba-tiba mau ke bukit gado-gado ci?" Tanya bibi menghampiriku di kamar
"Setelah sebulan di sini..uci belum ada nginap di sana bi..lagian selasa uci balik ke mentawai dengan kapal cepat mentawai fash di muara padang.kan dekat dengan bukit gado-gado" penjelasanku yang panajng lebar berharap bibi mengerti.
"Gimana kuliahmu?.. jadi ngambil yang disini?" Tanyanya lagi
"Siang ini pemggumumannya bi..nantu kalau ngak lulus..mau ngak mau uci harus terima yang ini" jawabku
"Trus gima daftar ulangnya? Kan nanggung balik ke sini lagi?" Bibi kembali bertanya seolah ngak ikhlas akan aku pergi
"Uci..kirim online aja bi..kan surat kelulusan uci masih di mentawai" jawabku
"Dan...apapun nanti keputusan uci..orang yang pertama uci kabari ntu adalah bibi" ucapku mengharap bibi mau iklah aku pergi
__ADS_1
"Baiklah..terserah baiknya kamu aja" ucapnya yang terdengar pasrah dan meninggalkan ku
Sebenarnya aku faham akan bibi yang sangat sayang padaku..
Tapi..aku harus pergi..berharap aku bisa lepas dari semua kepedihan ini.
"Suci....mobil pesananmu sudah datang" teriak bibi dari depan
"Iya bi" jawabku menarik koperku menuju depan rumah
"Bibi..uci berangkat"ucapku mengambil tangan bibi..
Namun bibi memelukku sangat lama
"Paman..uci pergi" pamitku pada paman yang juga sudah berada duduk pada kursi di teras rumah
"Iya hati-hati" ucapnya yang menerima uluran taganku dan mencium punggung tangannya.
"Samapi di bukit gado-gado hubungi bibi ya?!" Titahnya lagi di saat aku membuka pintu mobil.
"Iya." Ucapku yang di akhori masuk kedalam mobil.
Namapk bibi melambaikan tangannya di saat mobil yang ku tumpangi meninggalkan pekarangang rumah bibi.
Di perjalan..aku melirik ke area tempat tinggal bayu.
Nampak ramai di datanggi warga sekitar..
"Hmmm....." aku menghembuskan kasar nafasku.
"Begitu berat ku rasa..tak ada kata melayat untuknya..aku tak sanggup melihat wajahnya apalagi dalam artiaan 'untuk terakhir kalinya'..
Mungkin ini jalan terbaik untukku..
Lari daei keadaan" batinku sambil melirik kosng jalannan yang kulalui.
__ADS_1