DKAS (Dulu Kini Ataupun Slamanya)

DKAS (Dulu Kini Ataupun Slamanya)
dkas 71 evin 11


__ADS_3

DKAS #71


Hai..hai..


Ini novel pertama ku di sini..


Smoga kalian suka..


Jangan lupa LIKE yach?!!😁


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


............


Aku melangkah kembali mendekati evin dan memegang tangannya yang tak memiliki alat medis.


"Evin sakit apa bag?" Tanyaku tanpa melirik suami sahabatku itu


"Kanker darah..stadium akhir" ucapnya lemah


"A..aapa..uci ngak salah dengar?" Ucapku menoleh ke arah lawan bicara


"Maaf ci..kami tak memgabarimu soal ini" jawabnya pasrah.


"Kenapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini pada uci?..kalian balas dendam?..tapi ini tak sepadan dengan hal yang uci sembunyikan" suara ku pelan namun nadaku yang emosi takdapat ku tahan.

__ADS_1


"Maaf kan abag ci..evin yang meminta hal itu..evin ngak mau menambah fikiranmu ci, evin maunya suci bahagia..itu saja" ucapnya menenangkanku.


"Tapi..ini ngak adiiiiil..hiks..hiks.." ucapku dengan tangisan


Suami evin mendekatiku memenagkanku dalam pelukannya.


"Sudahlah ci...evin tau suci akan marah seperti ini..tapi.abag tak mau tanggisan uci nambah beban evin..ayo..lihatkan senyumanmu padanya..lihatkan kalau uci itu bisa bahagia..agar dia bisa dengan tenang menjalani pengobatannya" bujuk suami evin padaku melepaskan pelukannya.


Aku hanya menggangguk dan mencoba mengahapus air mataku walaupun masih laju mengalir di pipiku..


5 tahun pernikahan evin yang sudah di karuniai seorang putra yang saat ini sudah berusia 4 tahun.


Keakraban evin denganku membuat suami evin menggapku sebagai adiknya sendiri dan begitupun aku yang sudah meresa suami evin sebagai kakak ku sendiri..


"Evin selalu berbagi apapun kisah kalian..jadi..abag merasa persabatan sejati kalian seperti saling membalut luka..


"A..apa e..vin akan cepat sa..dar bag?..apa evin ma..sih bisa di sembuh..kan?" Tanyaku lagi dengan segukan


"Untuk sembuk hanya 5 % saja..setidaknya kita buat dia bersemangat buat sembuh dan bahagia" jawabnya dengan masih mau berjuang untuk kesembuhan evin


"Jadi beberapa bulan ini evin eutin kepadang buat berobat?..bukan buat program kehamilan?" Tanyaku


"Iya...setelah keguguran saat itu..evin memang berencana untuk program..namun ternyata penyakit ini telah dulu muncul" suara suami evin lemah.


"Seharusnya uci temani dia saat itu bag?!" Uvapku lirih

__ADS_1


"Evin ngak mau ci..dia ngak mau jadi fikaran kamu terus..


Lagian yona selalu ada disa menemaninya...hampir 8 bulan ini dia menutupinya darimu..


tapi.hari ini..abag ngak mungkin lagi menutupinya" sesal suami evin


"Jadi..selama ini yona tau?"


Tanyaku terkejut


"Iya..mereka selalu membahas akan dirimu..ci jangan salahkan kedua sahabatmu atas merahasiakan hal ini. Mereka merasa itu adalah tindakan yang tepat kala itu." jawabnya menatap ku


"Sudahlah..yang penting sekarang..kita hadapi saja semuanya dengan ikhlas" lanjutnya lagi


"Baiklah..sekarang..apa tindakan abag selanjutnya?" Tanyaku yang belum sepenuhnya terima akan tindakan evin dan yona.


"Setelah evin sadar..kami akan ke padang..kita harus mencoba semampunya bukan?!" Ucap suami evin mencoba memberi semangat padaku.


"Iya...uci akan ikut" ucapku..


"Tapi..ci..kamu menikah 3 minggu lagi..abag rasa..baiknya kamu fokus ke persiapan saja" ucapnnya


"Bag..semuanya akan di urus keluarga uci..abag tenang saja" ucapku mantap


"Baiklah..kalau evin sudah sadar..besok siang dengan kapal cepat atau malam dengan kapal fery kita berangkat..kita tunggu intruksi dari dokter disini...dan sebaiknya suci pulang. Beristirahlah dulu." jawabnya

__ADS_1


"Hmm..iya..bag..uci akan bersiap-siap buat keberangkatan besok" jawabku yang mencium kening evin yang masih tertidur di akhir kalimatku.


Aku mencium tangan suami evin seperti seorang kakak bagiku dan beranjak meninggalkannya.


__ADS_2