
DKAS #70
Hai..hai...
Ini novel pertama ku di sini..
Smoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Waktu tak dapat di undur...
Masa tak dapat di kejar...
Di sebuah ruangan di salah satu desa di kepulauan mentawai.
Suci berada paling depan sebagai
Narasumber untuk rancangan kegiatan di sebuah desa yang hadiri oleh pengurus ataupun perwakilan dari masing-masing kelompok masyarakat.
Tut...tut...
Ponselku bergetar di atas tumbukan kertas didepanku.
Akupun permisi pada teman yang sama menjadi narasumber untuk menggangkat panggilan ponselku.
"Ya..hallo...assallamuaalikum" ucapku ramah.
"Waallaikum salam..suci............"
Ucapan di seberang membuat tubuhku kaku.
"Uci kesana sekarang" jawabku mematikan panggilan ponselku.
__ADS_1
Aku kembali mesuk ke dalam acara..memanggil temanku untuk bicara di luar.
Wajahnya nampak heran menatapku yang membawa ikut tas ranselku.
"Pak..maaf..bantu saya untuk memyampaikan bagian saya..karna saya ada hal mendesak." Ucapku pada temanku yang memang sering bicara formal saat bekerja
"Baiklah..saya rasa ini sangat penting..saya kan bantu" ucapnya.
"Terimakasih pak" ucapku menjabat tanggan partner kerjaku dan meninggalkannya.
Dia masih melirik kepergianku. yang di rasa hal yang tak wajar selama menjadi partner kerja selama 2 tahun ini dengannya..
Karna aku tak pernah meninggalkan atau tidak bertanggung jawab atas pekerjaanku..
Aku yang berlari meninggalkan acara sosialisasi pada desa tetangg.
Menancap gas sepeda motorku.
Rasa kalut , air mata yang tak hentinya menetes di pipi..
Setelah sampai pada tempat yang ku tuju.
Memarkirkan asal motorku ,
Berlari memasuki lorong-lorong bangunan.
Mencari nomor kamar yang di sebutkan padaku tadi.
Tepat disebuah pintu yang bertuliskan no 23.
Aku berhenti sejenak..
membuang kasar nafasku.
Membuka knop pintu dengan langkah berat memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
Dua langkah memasuki kamar yang kucari..
Mataku terpana.
ketidak percayaanku akan pengelihatanku saat ini..
Air mata yang jatuh dan isakan yang di tahan..
Aku menghampiri seseorang yang terkulai lemas dengan selang infus di tangan dan oksigen di hidungnya.
"Hiks...hiks..maaf kan uci...uci ngak peka akan sakit yang kamu derita...maaf..uci ngak pantas jadi teman terbaikmu" tanggisku dengan ucapan lirih.
Seorang pria berdiri menghampiriku.
Tangannya menepuk-nepuk pundak ku dengan lembut.
"Jangan bicara seperti itu ci..itu hanya akan menambah dia drop" ucap seorang pria yang sedariku masuk duduk disudut ruangan.
"Tapi..uci memang salah bag?!" Gumamku lirih yang tak saggup merasakan perih melihat apa di depan mataku.
"Dia selalu ada buat uci..dia ngak pernah ngeluh dengan sikap uci..dia juga ngak mau cerita akan penyakit yang di deritannya ke uci..seharusnya uci yang peka akan sikapnya akhir-akhir ini" ucapku lagi
"Jangan menyalahkan diri sendiri.. akan hal yang terjadi..cukup kejadian di masa lalu membuat kamu terpuruk..evin ngak mau masalah dia kamu tambah terpuruk" ucap si pria yang merupakan suami evin
"Maksud abag?" Tanyaku menatap binggung dengan penuturan suami evin.
"Ayo duduk di sana..abag akan ceritakan semuanya" ucapnya menunjuk 2 kursi tempat dia duduk tadi
Aku menurutinya dan duduk bersebelahan dengan suami evin yang memang tak canggung bagiku..
"Evin sudah tau cerita 6 tahun lalu dari yona. dia sakit melihat keterpurukanmu ci...6 tahun kamu seperti robot yang bernyawa..evin selalu mencari waktu untuk bisa mengganggumu.
Katanya 'agar muncul walau sedikit jiwa manusia mu'..heh" suami evin tersenyum ke arah evin menggingat cerita evin padanya.
"Evin berharap agar suci bahagia" suami evin melirik padaku
__ADS_1
Aku hanya mengganguk dan meneteskan air mata melirik kembali sahabatku lemah tak berdaya.