
DKAS #78
Hai..hai..
Ini novel pertama ku di sini..
Smoga kalian suka..
Jangan lupa LIKE yach?!!😁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mataku terbuka...
Ku lirik di sekitarku...
Jam dinding menunjukan pukul 4 yang kuyakini di luar masih gelap.
"Ah...sakit" suaraku lemah mencoba untuk bergerak dari
posisi tidurku.
Aku melirik pintu kamar yang seperti di sengaja terbuka lebar.
Mataku menagkap seperti orang tidur pada sofa di luar ruang kamarku saat ini.
"Aku di mana?" Batinku melirik alat medis dan banyak obat di tersusun rapi di etalase dan sudut kamar.
"Loe sudah sadar ci?" Tanya seorang mengusap wajahnya yang terlihat baru bangun tidur di pintu kamar menuju ke arahku.
"Donie" tanyaku tersentak dengan wajah yang menyebut namaku
"Hmm.." mengganggukan kepalanya
"Ini dimana?" Tanyaku
" di rumahku.. dion membawamu kisini semalam" jawabnya
"Dion?" Tanyaku berusaha menginggat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
"Iya.. si don masih tidur tu" donie menunjuk sofa di ruang tamunya
"Kalian menjaga ku?" Tanyaku
__ADS_1
Lemah
"Tentu.. kita sahabat bukan?!" Ucapnya menekankan.
"Sekarang.. bagaimana rasanya tubuhmu?" Tanya donie memeriksa selang infus yang tergantung.
"Lumayan..hanya badan uci serasa capek-capek" jawabku.
"Tentu.. loe terlalu memaksakan tubuh loe. tapi,ngak menjaga nutrisinya.. saat sakit semua akan memburuk" jawabnya
"Uci udah boleh pulang kan don?" Tanyaku
"Kami akan mengantar loe pagi ini..jika loe benar-benar sudah fit" tekan dion di ucapannya
"Uci udah baikan kok don" ucapku mencoba meyakinkan donie.
"Sebaiknya loe istirahat saja dulu. Nanti kita bicarakan lagi" ucap donie lagi yang seperti tak boleh ku bantah
"Loe galak banget jadi dokternya don" ucapku meliriknya.
Wajah donie tersenyum kearahku.
"Gue hanya akan bersikap begitu dengan sahabat gue ci" jawabnya.
Entah kenapa. Dengan mudahnya aku kembali terlelap tak tau lagi apa yang di lakukan donie setelahnya.
........
"Ahhahahah"
Suara tawa membangunkanku..
Tawa khas dari orang - orang yang sudah lama ku rindukan.
Airmataku menetes tak kusadari.
Kebersamaan dan cara mereka berbicara membuatku memngingat akan masa lalu.
"Loe sudah bangu ci?" Suara yona menghampiriku.
"Hmm.. " jawabku yang cepat menghapus sisa air mataku dengan tangan yang tak jarum infusnya
"Alhmdullilah.. gimana rasa di tubuhmu saat ini" tanyya yona lagi
__ADS_1
"Alhdullilah sudah benar2 baik" jawabku melirik yona.
Namun tak hanya yona di sana.
Donie, dion, yodi, rizky bahkan ical juga sudah berada di sana.
"Semuanya kumpul?" Tanyaku melirik semua teman-temanku.
Entah kenapa terasa menusuk di dada kiriku hingga air mata mengalir sendiri tak bisa ku tutupi dari mereka.
"Jangan begini ci?!. Kita akan selalu ada buat loe?!" Suara donie menghampiri ku dan membuka jarum infus dari nadi tanganku.
"Hmm.." jawabku dengan memaksa tersenyum namun air mata tetap saja mengalir.
"Baiklah.. mari kita selalu berbagi kabar.. saling terbuka dan tak beloh ada lagi yang di tutupi" suara donie.
" gue setuju " ucap rizky yang baru saja datang bersama ical satu jam yang lalu.
"Iya.." serempak yang lainnya.
Aku hanya tersenyum sebuah kehangatan mengalir di hatiku melihat semua teman-teman berkumpul.
"Baiklah.. kita akan antar loe pulang" suara dion di arah kaki ranjang tidurku saat ini.
"Hmm... " jawabku srraya menggangguk dan mulai mengerakkan tubuhku
"Sini gue bantu" donie meraih tanganku.
Mempermudahkan ku bergerak untuk turun dari ranjang.
"Suci, donie loe bareng gue" ucap donie.
"Ok" jawab donie.
Masih memgangi suci menuju mobil donie.
Semua tentu setuju.
Karna Memang begitu seharusnya. Yona datang di temani suaminya tentu di setirin sang suami.
Yodi, ical dan rizky membawa motor mereka masing-masing pasti akan berkendaraan buat ke rumah suci..
Maka terjadilah iring-iringan di dalam perjalanan menuju rumah suci.
__ADS_1