DKAS (Dulu Kini Ataupun Slamanya)

DKAS (Dulu Kini Ataupun Slamanya)
mimpikah ini? 01


__ADS_3

DKAS #89


Hai..hai..


Ini novel pertama ku di sini..


Smoga kalian suka..


Jangan lupa LIKE yach?!!😁


\=\=\=\=\=\=\=\=


Seminggu telah berlalu.


Saat ini aku telah di mentawai.


Sama cutiku telah berlangsung beberapa hari lalu.


Itu artinya prosesi pernikahan telah berjalan.


Malam ini adalah malam yang sibuk para pemuda-pemudi dan juga pemuka adat tengah beaksi dalam sebuah acara RANDAI sebuah kegiatan campuran dari sebuah kisah / cerita dan pencak silat yang di perankan oleh sekelompok orang.


Hampir seperti sebuah acara musical.


Sementara para ibu-ibu sibuk di dapur untuk persiapan besok pagi. Acara ijab kabul yang di ikuti beberapa acara adat dan doa bersama setelah acara ijab kabul / proses pernikahan terlaksana.


Aku malam ini di dera kegelisahan.


Bukan karna acara prosesi pernikahan.


Tapi. Hatiku merasa ketidak tenagan akan adanya sebuah kekurangan di sudut hatiku.


Aku memaksakan tersenyum setiap ada yang datang menemuiku di dalam kamar pengantin yang telah di hiasi dengan megahnya.


"Apa kamu ngak apa-apa ci?" Tanya bibi yang mengejutkan ku saat menatap indahnya kelambu hiasan tempat tidurku.


Dengan tenangnya bibi menutup pintu kamarku.


Duduk pada tepi tempat tidur menatap kearahku.


"Uci baik-baik aja kok bi" jawabku


"Ci. Besok kamu bukan lagi sendiri. Lupakan yang lalu. Mulailah belajar untuk berbagi" ucap bibi yang membuatku menatapnya lama


"Bibi tau akan semuanya ci" jawabnya berdiri mendekatiku.

__ADS_1


Aku mendekap bibi dan mengis di sana.


"Kamu harus bisa terima semuanya ci. Usia dan jodoh itu rahasi tuhan. Kamu cobalah jalaninya dengan keikhlasan" pituah bibi.


Mataku tak berhenti mengalirkan airnya.


" uci ngak tau kenapa. Hati ini ngak tenang juga bi" jawabku kelu


"Sekarang, berwhuduk lah dan sholat dua roka'at dan bacalah al-qur'an setelahnya kamu tidur" ucap bibi membelai lembut rambutku yang masih di dekat perutnya.


Anggukan ku membuat bibi memberi jarak hingga pelukaku pada tubuhnya terlepas.


"Sekarang lakukanlah" ucapnya


Menatapku.


Aku berdiri yang di dului bibi membuka pintu untuk mempermudah jalanku.


Akupun melakukan apa yang di perintah bibi padaku..


......


Pagi ini...


Pukul 8.30 pagi seorang Perias pengantin datang kekamarku.


Memulai kekiatannya memake over wajahku yang tentunya telah mandi dan memakai pakaian kebaya couple yang telah di persiapkan.


Pukul 10.20 aku telah selesai dengan dandanan serta bayu kebaya crem yang menambah ke angunan ku di hari ini..


Pukul 10 pagi sebelumnya para ibu-ibu yang di tunjuk untuk menjemput mempelai pria pun telah bersiap untuk melaksakan tugas mereka.


Pukul 10.40 terdengar musik 'saluang dan talempong' berkumandang di telingaku juga terdengar jelas suara seorang pria yang berteriak khas seperti memberi aba-aba.


Menandakan tari gelombang telah di mulai dan itu juga berarti mempelai pria telah berada pada depan tenda depan rumah.


Karna tari gelombang berupakan tarian pencak-silat di pergunakan dalam penyambutan tamu.


"Beras kuning persiapkan" suara seorang ibu masuk ke dalam rumah terdengar jelas dari dalam kamarku.


" suadah di bawa tadi" valas wanita lainnya.


"Bagualah" jawab wanita yang datang tadi.


"Kenapa dengan beras kuning bi?" Tanyaku pada bibi yang mendengar sepertinya wanita *** cemas jika beras kuning itu tak ada.

__ADS_1


"Itu adalah adat kita ci. Beras itu akan di taburkan untuk si pengantin pria pertamaka kali memasuk ke tempat ini setelah tarigelomvang berakhir" jawab bibi .


" apa itu wajib?" Tanyaku penasaran


"Entahlah. Tapi, jika tidak ada atau kita lupa. Orang orang berkata kalau kita tak beradat atau tak tau adat" jawab bibi membuatku berfikir bahwa jawaban itu sama saja dengan wajib.


"Apa kamu gugup ci?" Tanya bibi


"Ngak bi.. hanya saja.. mata uci ini sedari tadi bergerak-gerak sendiri" ucapku menunjuk mata kananku


"Bagian atas atau bawah?" Tanya bibi


"Bawah bi"


"Semoga hal baik" ucap bibi membuatku tersenyum


"Amiin" jawabku.


"Ci.. ayo turun" suara emak menjemputku.


"Iya mak" jawabku menandakan semua prosesi adat telah terlaksana..


Aku menatap emakku dalam.


Aku mengambil tangan emakku.


"Maafka uci selama ini mak" ucapku minta maaf padanya.


Dengan tanggisnya si emak memelukku.


"Sudahlah nak. Mak tak pernah memberi dosa padamu," ucap si emak di sela tangisnya.


"Terimakasih mak" jawabku.


"Baiklah.. mari kita turun" suara bibi membuat kami kembali melepas pelukan.


"Sudahlah.. lihat riasanmu bisa rusak" jawab si bibi melihat ke arahku.


"Hehheh" senyumku


Melihat bibi yang menekan-nekat tisu pada wajahku.


Kamipun menuju ke depan rumah.


Di mana panggung di buat masyarakat di sulap mejadi tempat indah buat prosesi ijab kabul hari ini.

__ADS_1


__ADS_2