Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 11 Santai Meskipun Sakit


__ADS_3

"Selamat pagi dokter Nad, apa kabar?" sapa Ayunda pada Nadia saat mereka tak sengaja bertemu di kantin pagi itu. Untuk beberapa detik Nadia terdiam karena tersentak kaget dengan pertemuan ini. Akan tetapi ia berusaha untuk tampak santai.


"Hai Ayunda, selamat pagi juga." Ia membalas dengan senyum ramahnya. Sebuah nampan berisi sarapan ia angkat di depan wajahnya untuk memperlihatkan kalau ia ingin makan dan tidak ingin diganggu.


"Tumben dokter Nadia ada di kantin di jam seperti ini. Nggak sarapan di rumah ya?" tanya Ayunda lagi untuk berbasa-basi. Ia dengan cepat mengikuti langkah dokter cantik itu ke sebuah meja kosong di sudut kantin.


"Ah iya, semalam aku nginep di sini. Maklumlah ada banyak kerjaan," jawab Nadia singkat. Sebenarnya ia sangat tak ingin berbasa-basi dengan perempuan jahat perebut calon suami orang itu tetapi demi menjaga nama baik dirinya ia harus tetap tampil santai dan pura-pura tidak ada masalah dengan perempuan itu.


"Boleh aku ikut duduk disini dokter?" tanya Ayunda meminta ijin.


"Silahkan Ayu." Nadia mempersilahkan perawat itu duduk di hadapannya. Lalu berucap, "Kamu sepertinya sengaja ingin mengikutiku ke sini kenapa?" Ayunda tersenyum lebar dengan sengaja memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rapih.


"Gak apa-apa dokter. Aku cuma kasihan aja sih, karena akhir-akhir ini aku lihat dokter selalu sendiri. Dokter Harry udah gak biasa nemenin dokter." Ayunda menyeruput minumannya seraya mengintip ekspresi dari dokter cantik itu dari balik gelasnya.


"Oh kamu ternyata memperhatikan apa yang sering kami lakukan ya?" ujar Nadia dengan senyum di wajahnya. Hatinya tiba-tiba merasa bahwa perawat ini sengaja datang padanya untuk memperkenalkan dirinya sebagai pelakor.


"Tentu saja dokter, siapa yang tidak mengenal pasangan fenomenal di rumah sakit ini. Seorang dokter cantik dan juga dokter yang sangat tampan. Aku pikir bukan cuma aku yang memperhatikan kalian berdua yang tampak sangat renggang dan beberapa hari ini tidak bersama-sama lagi." Ayunda tersenyum seraya mengaduk-aduk makanan yang ada dihadapannya.


"Terima kasih banyak ya Ayu. Aku berterima kasih atas perhatianmu. Hanya saja aku sedang malas saja bersama dengan dokter Harry akhir-akhir ini. Apakah kamu tahu kalau aku sudah sangat bosan dengannya? Hahaha!" Nadia tertawa diakhir kalimatnya.


"Bosan? Oh, apakah dokter Harry yang tampan itu bisa membosankan dokter?" tanya Ayunda dengan tatapan menyelidik. Nadia kembali tertawa.


"Aku sedang menikmati waktu sendiri. Dan ya beberapa orang yang mungkin sangat menarik bagimu itu bisa saja menjadi hal yang sangat membosankan untukku. Dan ya, emangnya kenapa kamu sepertinya sangat tertarik dengan hubungan kami." Nadia menyimpan sendoknya dan menatap perawat itu dengan tatapan lurus. Nafsu makannya sepertinya mulai hilang karena terganggu dengan kedatangan ulat bulu yang tidak mempunyai malu sedikitpun seperti perempuan di hadapannya ini.


"Ah iya dokter aku memang maaf~ sangat cemburu dengan hubungan kalian. Sungguh, aku sangat ingin juga mempunyai pasangan seperti dokter Harry yang tampan, baik hati, dan tentunya sangat bisa membahagiakan pasangan." Ayunda sudah mulai mengeluarkan taringnya yang masih sangat kecil dan kurang tajam itu.

__ADS_1


"Ambillah kalau kamu sangat berminat. Aku sudah bosan padanya." Nadia berucap dengan senyum miring diwajahnya.


"Oh? Anda baik sekali dokter. Tapi tunggu~ apakah karena anda mengaku kalah dariku yang telah berhasil merasakan tubuhnya yang sangat luar biasa itu sebelum dirimu dokter?" Ayunda tersenyum mencibir dengan tatapan mencemooh pada dokter cantik itu.


"Oh jadi ini niatmu yang sebenarnya Ayu? Sungguh kamu membuatku ingin tertawa saja. Tapi aku suka gayamu." Nadia tiba-tiba merasa nafsu makannya langsung kembali. Ia pun segera memakan bubur ayam itu dengan nikmat dan juga santai.


"Jadi? Anda tidak marah dokter?" Ayunda sungguh tidak menyangka bahwa dokter Nadia bisa bertindak sangat tenang seperti itu dan tidak marah padanya.


"Kenapa aku harus marah? Jadi bagaimana rasa dokter Harry? Apakah sangat nikmat Ayu?" Nadia menatap tajam mata hitam itu dengan perasaan bergemuruh. Ia tahu kalau hatinya sakit tapi ia berusaha tampil baik-baik saja. Dan sekarang ia akan menunjukkan kalau ia samasekali tidak menderita dengan perbuatan mereka berdua.


"Hum, ya. Sangat nikmat dokter. Tapi sayangnya ada yang kurang," jawab Ayu dengan wajah yang tiba-tiba berubah warna.


"Apa?!" Nadia ikut penasaran meskipun ia sangat jijik membicarakan hal ini di tempat makan.


"Dokter Harry memakai pengaman dan itu rasanya sangat tak nyaman. Aku tidak suka." Ayu menjawab dengan wajah berubah kesal.


"Hati-hati dengan para pria Ayu. Mereka kebanyakan adalah kumbang-kumbang yang hanya hinggap pada bunga untuk menghisap madu setelah itu ia akan meninggalkannya." Nadia berucap seraya melanjutkan makannya.


"Oh ya ampun, aku baru menemukan ada perempuan yang sangat tegar seperti kamu dokter. Kamu yakin tidak merasa sakit dengan apa yang aku lakukan bersama dokter Harry?" Ayu menatap Nadia dengan tatapan menyelidik. Rencananya untuk menyakiti perempuan cantik itu sepertinya akan gagal kalau Nadia tidak memberinya respon seperti keinginannya.


"Apa kamu mempunyai dendam pribadi padaku Ayu?" Nadia balik bertanya. Wajah perawat cantik itu langsung tampak pucat. Ia meremas tangannya dengan sangat gelisah hingga Nadia semakin yakin kalau perempuan ini tidak semata-mata ingin merebut Harry darinya karena suka saja.


"A-aku, ah sudahlah. Silahkan lanjutkan makannya dokter. Aku harus pulang sekarang. Maaf, karena sudah mengganggu waktu sarapanmu." Perawat itu pun langsung meninggalkan mejanya dan pergi begitu saja.


"Hey! Katakan saja apa masalahmu Ayu!" Nadia memanggil perempuan itu agar mau kembali jujur padanya apa sebenarnya maksudnya.

__ADS_1


"Hum, aneh. Mimpi apa aku semalam hingga bisa bertemu dengan perempuan murahan seperti itu," ucapnya pelan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya bingung.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Nadia pun menghentikan sarapannya yang sisa sedikit itu. Handphonenya berbunyi minta diangkat.


"Tante Fatimah? Ada apa menelponku pagi-pagi begini?" ujarnya pelan seraya menekan tombol Hijau untuk menerima panggilan itu.


"Nadia, kamu ke rumah jabatan walikota sekarang juga!" Terdengar perintah perempuan paruh baya itu dari ujung telepon.


"Ah iya tante. Tapi memangnya ada apa?" tanya Nadia waspada. Ia takut ke tempat itu karena tantenya setiap bertemu pasti selalu menanyakan tentang kapan Ia menikah dengan Harry. Dan sekarang ia tidak mau itu terjadi.


"Istri walikota sedang sakit. Ayo kemari sekarang juga!" suara Fatimah nampak tidak sabar dan ia sekarang yakin bahwa istri dari Usman Ali Kemal itu sedang membutuhkannya.


"Baiklah Tante, aku akan segera kesana."


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


Jangan lupa kasih bunga dan vote nya dong 🤭


__ADS_2