
Harry terdesak, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang. Ia tidak menyangka kalau Nadia tahu apa yang dilakukannya dengan perawat jaga di malam naas itu. Ingatannya kembali berputar dengan sangat baik mengingat kejadian malam itu.
Dasar perawat brengsek!
Ia mengumpat dalam hati. Ia juga heran pada dirinya sendiri yang mau saja terpesona pada gadis itu padahal ia sudah berusaha menjaga dirinya sendiri untuk tidak menyentuh perempuan lain selain Nadia.
"Nad, A-apa maksudmu sayang?" tanya Harry pura-pura tidak mengerti. Ia masih berharap apa yang dikatakan oleh calon istrinya itu hanyalah omong kosong belaka.
"Cih!" Nadia berdecih dengan sangat kesal. Ia benar-benar sangat benci dengan pria dihadapannya ini. Pria yang ia cintai tetapi malah mengkhianatinya dengan sangat kejam seperti itu.
"Nad, sungguh aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan sayang. Jadi kumohon untuk tidak membicarakan hal omong kosong." Harry masih berusaha membela dirinya.
Pria itu yakin tidak ada yang melihatnya melakukan hal itu malam itu. Suasana rumah sakit sudah sepi dan tak ada lagi yang berkeliaran di tempat itu, apalagi ruangan itu adalah ruangan isolasi untuk pasien khusus.
"Jangan pura-pura tidak mengerti ya. Aku masih sangat sehat dan sadar melihat semuanya dokter."
__ADS_1
"Nadia, plis." Harry melipat tangannya memohon.
"Apa? Ah sudahlah." Nadia mengibaskan tangannya dengan wajah malas. Gadis itu menatap Harry kemudian melanjutkan, "Aku tak ingin membahasnya karena aku juga sangat jijik mengingat apalagi membicarakan apa yang kamu lakukan itu dokter Harry. Sungguh, aku sangat membencimu. Aku tidak menyangka kalau kamu akan setega ini padaku. Jadi silahkan keluar dari ruangan ini sekarang juga!"
Nadia menunjuk ke arah pintu agar pria itu mengerti kalau ia diminta pergi dari ruangan itu. Harry kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu harus mengatakan apalagi.
Pria itu mengalah dan akhirnya pergi dari sana. Cita-citanya menjadikan Nadia sebagai istri sepertinya akan mendapatkan jalan buntu. Tak ada lagi harapan untuk hubungan mereka yang sudah terjalin selama bertahun-tahun ini.
Nadia menundukkan wajahnya seraya menyusut airmatanya. Hatinya sangat sakit meskipun ia sudah berusaha untuk kuat. Bagaimana pun juga ia pernah mencintai pria itu tapi apa yang balasan yang ia dapatkan adalah sungguh diluar ekspektasinya.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Nadia segera meraih tissue untuk mengeringkan airmatanya yang sudah menganak sungai di pipinya. Ia pun berusaha untuk tampil baik-baik saja. Tak ada yang boleh tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia harus terlihat baik-baik saja.
"Dokter Nad, apa sudah siap memeriksa pasien?" tanya seorang perawat yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Ah iya sus. Aku udah siap kok. Silahkan bawa rekam medik pasien kemari," balas Nadia tersenyum. Ia pun segera berkaca lewat layar handphonenya untuk memastikan penampilannya. Tersenyum adalah caranya untuk menutupi sakit hatinya saat ini.
Sementara itu Harry Zulkarnain tidak bisa lagi berkonsentrasi. Ia pun meninggalkan ruangannya dan tidak berniat untuk memeriksa pasien saat ini. Dadanya sesak dengan perasaan bersalah. Untuk saat ini ia hanya ingin menenangkan dirinya dan berharap ia masih diberi kesempatan untuk mendapatkan hati Nadia Gazali.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1