
Setelah mandi, Nadia pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Galih. Sebuah pakaian tidur yang terbuat dari bahan sutra yang sangat tipis.
Pria itu benar-benar melayaninya dengan sangat baik.
"Gimana? Udah lebih baik bukan?" tanya Galih seraya menghampiri perempuan cantik itu.
"Hum, iya. Aku lebih segar dan nyaman sekarang," ucap Nadia tiba-tiba gugup.
Ia segera menutupi bagian depannya yang menunjukkan dua benda kenyal miliknya yang tidak menggunakan bra hingga sangat menonjol dari balik pakaian tipis itu.
"Kenapa ditutup sayang?" tanya Galih dengan tatapan tak lepas dari tangannya yang sedang menutupi dua bukit kembar kesukaan suaminya itu.
"Kamu sengaja ya, belikan aku pakaian model seperti ini?" tanya Nadia semakin gugup.
"Kalau iya kenapa?" Galih balik bertanya.
"Aku- aku 'kan jadi seperti perempuan yang tak tahu malu," cicit Nadia tak nyaman. Ia semakin gelisah karena tubuh suaminya kini hampir tak berjarak dengannya. Galih membuatnya merapat ke dinding kamar hotel yang dingin itu.
"Aroma sabun nya sangat cocok untukmu yang cantik," ucap sang suami seraya menghidu leher jenjang Nadia.
"Dan ya ampun kamu terasa sangat manis dan segar sayang," bisik Galih dengan bibir mulai menempel pada kulit leher sang istri. Nadia tak mampu menolak.
Dadanya yang berdebar kencang membuatnya tak bisa fokus untuk menolak. Ia bahkan dengan tidak tahu malu mendesah saat lidah Galih menyusuri lehernya dan berhenti pada kupingnya.
"Uggghh aaakh," desahnya dengan tangan ia kalungkan pada leher kuat sang suami.
Galih semakin bersemangat dengan tangan meremas bagian belakang istrinya sampai Nadia benar-benar tak kuat lagi.
Ia lemas dengan tubuh bergetar penuh hasrat. Akhirnya Galih pun mengangkat tubuh itu dan meletakkannya dengan pelan di atas kasur.
"Nanad, aku sangat merindukanmu sayang," ucap Galih kemudian mengecup dua kelopak mata sang istri bergantian. Menyapu seluruh permukaan wajah dengan kecupan-kecupan singkat. Setelah itu bibirnya turun ke bawah ke bibir ranum yang sejak tadi mengundangnya untuk dicicipi.
Drrrt
Drrrt
Nadia tersentak dan tersadar dari apa yang ia lakukan saat ini.
Handphonenya berbunyi dengan sangat nyaring. Ia pun berusaha melepaskan tautan bibirnya dengan suaminya.
"Aku, ada telpon." Nadia berucap dengan perasaan tak nyaman. Ia mendorong tubuh suaminya yang sedang menindihnya agar pria itu turun.
__ADS_1
"Nanad, bisakah kita hanya berdua saja sayang? Matikan handphonemu ya," ucap Galih tak rela jika hasratnya yang ingin ia lampiaskan pada istrinya tercinta harus diganggu oleh orang lain.
"Ini penting. Tentang pekerjaan." Nadia menjawab seraya mengecek benda pipih elektronik itu. Galih pasrah. Ia pun duduk di pinggir ranjang dengan wajah tak sabar.
Ia menunggu Nadia yang sedang menerima panggilan telepon yang entah dari siapa.
"Oh, baik pak. Jadi anda sudah sampai di tanah air?" tanya Nadia dengan suara ceria. Ia melirik Galih dengan mata ia kedipkan menggoda.
Galih tersenyum. Istrinya itu semakin pintar menggodanya. Ia pun meraih tubuh istrinya itu dan membawanya ke atas pangkuannya.
"Ah iya. Maafkan aku yang tidak bisa ikut rombongan pulang. Aaaaakh," ucapnya dengan dessahan tertahan.
"Hey, ada apa dokter?" tanya suara dari seberang. Nadia menggigit bibir bawahnya agar tidak melanjutkan dessahannya.
"Dokter Nadia anda tidak apa-apa 'kan?" tanya pria yang kebetulan adalah kepala dinas kesehatan provinsi.
Nadia tidak menjawab tetapi menatap suaminya yang sedang menatapnya sayu. Ia berusaha untuk tidak mendesah dengan apa yang dilakukan pria itu dibagian bawahnya.
"Dokter Nadia? Ingat untuk membuka emailnya ya, saya tunggu balasan secepatnya.
"Iya pak. Siap. Aku akan buka email nya sekarang. Terimakasih banyak ya pak." Nadia akhirnya bisa bicara dengan normal saat jari-jari Galih berhenti memainkan miliknya di bawah sana.
"Tetaplah disini sayangku," ucap Galih seraya menekan pinggul istrinya agar tidak turun dari pangkuannya.
Bagaimana tidak manja kalau ia telah digempur habis-habisan oleh sang suami mesumnya.
"Kamu buka disini saja ya, kamu bekerja aku juga bekerja gimana?" ucap Galih menawarkan.
"Buka apa?" tanya Nadia dengan tatapan menggoda.
"Buka pahamu sambil buka email, selanjutnya aku yang akan bekerja gimana?"
Nadia tersenyum lalu mengangguk. Ia sudah sangat ingin mengerjakan dua pekerjaan itu bersamaan sekarang.
Akhirnya Galih pun mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya berbaring kembali.
Ia akan bekerja dengan caranya begitupun dengan Nadia yang sedang sibuk membaca email penting untuk perkembangan dan kemajuan rumah sakit.
"Aaaaakh!"
"Uggghh!"
__ADS_1
Perempuan itu tak sengaja melempar handphonenya karena kaget dengan hentakan keras yang tiba-tiba dilakukan oleh sang suami.
Sesak dan terasa sangat sempit, itulah yang Galih rasakan. Beberapa hari berlibur dan tidak berkunjung membuatnya harus beradaptasi lagi dengan lubang surgawi yang sangat ia rindukan.
"Handphone aku aaaaakh-"
Galih tak mau mengganggu kenikmatan ini dengan pekerjaan. Ia tak mungkin membiarkan Nadia bekerja sendiri saat ia juga sedang bekerja.
Untuk sesaat Nadia melupakan email itu. Galih sekali lagi membawanya terbang ke nirwana dengan sangat indah.
Tak ingin ia berhenti meskipun ia sudah mencapai klimaksnya berkali-kali. Dan begitupun dengan Galih. Pria itu yang dikatakan Nadia adalah seorang maniak.
Tidak memberinya jedah sedikit pun. Ia menyerangnya habis-habisan dari segala arah sampai mereka berdua benar-benar kelelahan.
"Sayang, pekerjaanku bagaimana?" tanya Nadia disela-sela hentakan suaminya yang tak kunjung selesai.
"Dikit lagi sayang, kamu nikmat sampai aku tak rela untuk berhenti." Galih menjawab dengan perasaan yang sangat bahagia.
Sungguh, ia merasa takut kalau ini adalah kunjungan terakhirnya pada sang istri karena ia sangat tahu bagaimana sifat Nadia yang belum bisa menerimanya seutuhnya.
"Uggghh,"
Akhirnya Galih berhasil menumpahkan semua cairannya ke dalam tubuh istrinya. Ia benar-benar berharap Nadia hamil dan tidak berpikir untuk berpisah lagi.
"Aku mencintaimu Nanad, sangat sayang," ucapnya dengan nafas memburu. Ia mengecup bibir sang istri dengan penuh perasaan.
Nadia merasakan hatinya menghangat bahagia. Ia juga ingin mengatakan kalau ia memiliki perasaan yang sama tapi ia malu mengatakannya.
Galih dengan cepat menarik rudalnya dan segera ke kamar mandi untuk mencari handuk kecil untuk Nadia.
"Kamu pasti lengket dan tak bisa bekerja sayang," ucapnya seraya menyerahkan handphone istrinya. Nadia tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.
"Kalau kamu lelah simpan saja pekerjaannya, kamu bisa buka lagi setelah kamu tidur," ucap Galih seraya membersihkan sisa percintaan mereka pada bagian bawah Nadia.
"Aku akan kerjakan sekarang. Isi email ini sangat penting," jawab Nadia.
Tangannya mulai sibuk bekerja dengan menggunakan handphonenya saja sementara Galih merawat miliknya dibawah sana dengan sangat baik.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊