Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 30 Nara Si Licik


__ADS_3

"Saya Nara, kita mungkin bisa bicara di dalam ruangan bu dokter." Perempuan itu menatap Nadia dengan intens dari atas ke bawah. Belum lagi bibirnya yang menyunggingkan senyum meremehkan.


Nadia tersenyum. Ia lantas membuka pintu ruangan kerjanya kemudian mempersilahkan perempuan itu masuk.


"Silahkan duduk mbak."


"Terimakasih."


Nara pun duduk seraya memperhatikan dokter cantik yang ada di hadapannya.


"Maaf, saya baru masuk kerja hari ini. Jadi ya, anda bisa lihat sendiri 'kan. Ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan." Nadia pun ikut duduk di belakang mejanya.


"Jadi katakan, apa yang bisa saya bantu untuk anda mbak," ucap Nadia tegas tanpa basa-basi. Ia pun membuka syal yang ia pakai karena merasa gerah.


Nara tersenyum mencibir saat melihat tanda-tanda merah dileher putih perempuan itu.


"Leher dokter cukup indah juga ya," ucapnya dengan tatapan tak lepas pada tubuh bagian atas Nadia.


"Eh maaf. Saya sedikit gerah." Nadia yakin kalau perempuan itu memperhatikan bekas percintaannya dengan suaminya yang sangat menggangu pemandangan mata semua orang.


Ia pun meraih syal itu lagi dan meliltkannya dilehernya. Kali ini menyesali perbuatan suaminya yang sangat berlebihan padanya jika menyentuhnya.


"Mas Galih emang sangat hebat sekali sih di ranjang," ucap Nara dengan ujung bibir terangkat. Telinga Nadia langsung tegak. Ia tidak suka mendengar ada perempuan yang membicarakan hal pribadi tentang suaminya.


"Kecupan dan belaian pada tubuh pasangannya selalu ingin ia jadikan sebagai bukti kalau mereka telah takluk padanya. Dan ya, ia akan merasa menang dan bangga dengan pencapaiannya itu."


"Apa maksud anda mbak?" Perasaan Nadia langsung berubah tak nyaman.


"Saya juga sering diperlakukan seperti itu oleh mas Galih Bu dokter. Anda mau bukti?" Nara tidak menunggu persetujuan dari dokter cantik itu. Ia langsung menyodorkan gambar-gambar tubuhnya yang terbuka dengan bekas-bekas ****** dari Galih.


Nadia menatap perempuan dihadapannya bergantian dengan gambar itu. Ia merasakan dadanya serasa diremas-remas sakit dan perih. Ia lupa kalau suaminya memang adalah seorang player profesional.


Dan kini, ia merasa sangat menyesal karena bisa tertipu dan bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya pada rayuan maut pria itu.


Dan ya, wajah ini pernah ada di dalam video yang dikirim oleh Harry, mantan tunangannya.


"Mas Galih paling suka membuat bukti di daerah itu dan ya, di daerah yang lain tentunya. Pasti bu dokter sudah tahu apa yang saya maksudkan bukan?"


"Oh begitu ya?" Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Nadia. Suaranya terdengar bergetar karena emosi tapi ia berusaha untuk tampil baik-baik saja. Ia tidak ingin tampak sebagai perempuan kalah dan menyedihkan.


"Hum iya. Maaf dokter kalau saya lancang. Bagaimana menurut anda tentang mas Galih?"

__ADS_1


Nara tahu betul kalau pernikahan Galih yang sangat ia cintai itu baru 2 pekan dan itu masih seumur jagung. Diberikan angin sedikit bisa membuat pernikahan itu akan rusak dan juga hancur.


"Tentang apa ya mbak? Saya tidak mengerti dengan apa yang sedang anda bicarakan." Nadia berusaha mati-matian untuk tidak terpengaruh.


Ia bahkan sudah siap mengusir perempuan itu dari hadapannya jika berani mengganggu kebahagiaannya.


"Bu dokter pura-pura tidak paham ya?" Nara mengangkat sebelah alisnya dengan bibir mencibir.


"Beneran saya tidak tahu jadi katakan saja apa maksud anda. Setelah itu anda juga bisa pergi dari sini. Dan ya, Saya sedang banyak pekerjaan saat ini."


Nadia berusaha tersenyum ramah meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Permainan ranjangnya mas Galih Bu dokter, Kita ini sesama perempuan yang sama-sama sudah merasakan tubuhnya. Jadi boleh dong dokter berbagi pada saya." Nara tersenyum licik.


"Siapa tahu ia punya trik sendiri yang berbeda dengan apa yang dilakukannya pada saya. Boleh dong dibagi," lanjut perempuan itu dengan wajah santai.


Dalam hati ia tersenyum senang karena tangan Nadia tampak gemetaran memegang map yang ada dihadapannya.


"Dinikahi bukan berarti akan menjadi perempuan satu-satunya dari mas Galih. Jadi kita memang harus belajar berbagi Bu dokter."


"Tidak. Aku tidak akan pernah mau berbagi mbak Nara. Tidak akan pernah," tegas Nadia dengan wajah terangkat. Kepercayaan dirinya sudah kembali kini dan ia tidak ingin ditindas.


"Oh, kalau begitu berikan mas Galih seutuhnya padaku. Saya yakin kalau pria itu bahkan tidak mencintaimu seperti dirimu juga 'kan?"


"Kamu perempuan yang tidak punya malu ya. Bisa-bisanya mau membicarakan hal seperti ini dengan saya. Silahkan anda keluar dari sini!" Nadia menunjuk ke arah pintu agar perempuan itu keluar dari sana.


"Galih adalah suami aku dan tak akan kubiarkan perempuan mana pun memikirkan nya. Kamu mengerti?" Nadia mengangkat dagunya dengan wajah mengeras.


"Oh oh oh, jangan biarkan saya tertawa Bu dokter. Kamu terlalu sombong. Mas Galih pasti akan datang padaku saat kamu sibuk bekerja. Dia pria maniak. Dan hanya saya yang bisa mengimbanginya. Jadi tunggu saja kabar dari saya."


Perempuan itu keluar dari ruangan kerja Nadia dengan seringai di wajahnya. Ia yakin kalau dokter itu akan menyimpan kata-katanya.


Dan setelah bom itu meledak, maka ia dengan senang hati akan mendapatkan Galih dengan sangat mudah.


Enak saja, mau menguasai Galih Pradana sendiri. Memangnya siapa dirinya? Gerutu perempuan itu seraya melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari area rumah sakit.


Nara tersenyum licik saat melihat gambar-gambar dirinya yang dipenuhi bekas tanda merah ditubuhnya.


Sesungguhnya, bekas-bekas cupangan itu bukanlah milik Galih tapi milik pria lain. Ia hanya ingin membuat dokter cantik itu marah dan cemburu.


Galih tidak boleh bahagia setelah meninggalkannya dengan sangat kejam seperti saat itu.

__ADS_1


Sementara itu, Nadia memukul dadanya yang terasa sangat sesak. Ia marah dan menyesali dirinya yang mau saja menyerahkan semua miliknya yang berharga kepada suami Cassanova itu.


Aaaaa, kenapa aku harus termakan rayuannya padahal aku sudah berjanji untuk tidak tergoda!


Oh tidak. Betapa bodohnya aku. Harusnya pernikahan ini sesuai kesepakatan saja untuk tidak saling menyentuh.


Dan aku? Begitu murahannya aku yang mau saja tergoda bujuk rayunya padahal itu seringkali dilakukannya pada semua perempuan yang pernah dekat dengannya.


Harry sudah memperingatkan aku. Dan ya, seharusnya pria itu memeriksakan kesehatannya dulu di laboratorium untuk memastikan kesehatan pria itu.


"Oh tidak! Bagaimana kalau Galih terjangkit sebuah penyakit yang sangat berbahaya?"


"Oh tidak!"


Perempuan itu segera keluar dari ruangannya untuk menuju ke Laboratorium. Ia harus tes sebelum penyakit suaminya mungkin akan merusak jaringan tubuhnya.


Nadia menghapus airmatanya dan berkaca. Ia menatap wajahnya yang cantik tetapi dengan mata sembab.


Conselar ia gunakan untuk merapikan make up-nya. Dan sedikit air putih ia minum untuk memperbaiki perasaannya yang sedang kacau.


Ia pun berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruangannya. Akan tetapi begitu kagetnya ia Karena di depan pintu sudah berdiri menunggunya beberapa orang dari dinas kesehatan kabupaten dan juga provinsi.


Inilah tamu yang akan datang menemuinya.


"Hai dokter Nadia," sapa Harry seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Oh hai dokter Harry. Selamat datang. Dan Pak Budi dari dinas kesehatan provinsi ya?"


Budi Raharjo tersenyum. Ia adalah senior Nadia dan Harry di fakultas kedokteran yang ternyata diam-diam menyukai Nadia sampai sekarang.


"Selamat pagi dokter Nadia. Kamu semakin cantik saja. Aku dengar kamu sudah menikah ya?"


"Iya pak Budi, terimakasih banyak. Eh, silahkan masuk," ucap Nadia seraya membuka pintu untuk beberapa orang dari dinas kesehatan itu.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


Jangan lupa kirim bunga atau kopi ya gaess 🤭


__ADS_2