
Nadia berusaha memberikan ruang untuk dadanya yang sangat sesak karena rasa sesal pada dirinya sendiri. Ya, ia sedih dan menyesali hatinya yang belum juga bisa memberikan kepercayaan pada suaminya.
Pengakuan dari Nara seharusnya sudah cukup membuatnya lega. Tapi di relung hatinya yang paling dalam masih saja membutuhkan bukti dan penjelasan yang lain yang lebih mendukung.
Apakah perkataan Nara benar adanya?
Lalu bagaimana dengan Ayunda dan pantynya yang ada di dalam ruangan kerjanya itu?
Sepertinya hanya Galih yang harus menjelaskan semuanya padanya.
Ia pun bersandar di dinding kamar bersalin itu dengan air mata yang tak berhenti mengalir dari kelopak matanya.
"Katakan Ayang kalau kamu benar-benar tak pernah melakukan hal itu dengan perempuan manapun, hiks," ucapnya pelan bagaikan bisikan.
"Aku egois? Ya aku egois karena aku sangat mencintaimu," lanjutnya lagi dengan hati yang sangat perih.
"Ooeeee Oeeek!" Suara tangisan bayi dari arah kamar persalinan Asma membuatnya tersentak kaget. Kamar itu berdampingan dengan ruangan perawatan Nara hingga ia bisa mendengarnya dengan baik dan jelas.
Ia pun langsung menghapus airmatanya dengan cepat. Menarik nafas kemudian menghembuskannya pelan untuk melapangkan dadanya yang masih sangat sesak.
Ia harus berada di sana bergabung dengan para keluarga merayakan kebahagiaan Asma dan Fardan.
"Alhamdulillah, bayinya lahir sehat," ucap seorang bidan yang telah membantu persalinan Asma. Ia keluar dari ruangan itu untuk membagikan berita gembira ini.
Semua orang yang sedang berada di depan kamar persalinan menarik nafas lega. Rasa bahagia terpancar pada wajah-wajah mereka setelah mengalami ketegangan yang cukup berarti.
Asma melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan dan juga sehat.
Fardan sendiri tak habis mengucapkan rasa syukur kepada Ilahi atas nikmat yang sangat luar biasa ini. Ia sampai tak keluar-keluar dari kamar itu dan mendampingi sang istri dengan setia.
"Selamat ya, kamu udah jadi seorang ibu," ucap Nadia seraya menyusut airmata yang masih tersisa dari kelopak matanya. Laura dan Asma saling berpandangan.
"Eh, ini tangis bahagia atau tangis apa nih, kok sampai khusuk gitu," ujar Laura tersenyum. Ia sengaja menyindir sang sepupu perfeksionis itu yang akhir-akhir ini selalu saja menangis.
Nadia ikut tersenyum kemudian menjawab,
"Tangis galau mbak hiks."
"Hadeh, hari gini masih galau aja. Lihat noh bayinya Asma sama Pak Fardan, sangat tampan dan sudah pintar senyum sendiri," tunjuk Laura pada sang baby boy yang sejak tadi nampak tersenyum meskipun sedang tertidur.
"Itu karena selama dalam kandungan mamanya sangat bahagia dan gak pernah galau," lanjut Laura dengan mata ia kedipkan pada Asma.
Perempuan yang baru saja melahirkan itu hanya bisa mengangkat jempolnya tanda setuju.
Nadia tersenyum meringis. Ia hanya bisa menarik nafas panjang karena sering mendapatkan sindiran dari Laura.
"Udah ya, aku mau pulang. Rindu sama kamar sendiri nih," ucap Nadia bermaksud untuk pamit.
"Rindu sama kamar atau rindu sama teman se kamar?" Laura kembali berucap seraya mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Aku rindu ranjangku, selimutku, dan semuanya. Aku dah bosan di rumah kamu mbak Laura." Nadia membalas dengan telak.
"Ish bosan konon. Ya udah pulang sana. Dan jangan sampai kamu kembali dengan nangis-nangis lagi."
"Hihihi!" Asma hanya bisa tertawa cekikikan. Sedangkan Nadia hanya bisa mendengus lalu pergi dari ruangan perawatan itu.
Ia benar-benar ingin pulang dan meminta suaminya datang untuk menemuinya. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari bibir pria itu. Dan tentu saja dengan membawa bukti yang sangat kuat supaya ia percaya.
🌹
Sampai malam tiba, Galih tak juga menghubunginya padahal ia sudah membalas pesan pria itu meskipun itu adalah pesan yang sudah lama.
[Aku ada di rumah mama Thalia, datanglah]
Sampai tengah malam pesan itu bercentang dua tapi tidak dibaca.
Selanjutnya ia mengirimkan pesan lagi tapi tetap tidak dibaca.
Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dengan perasaan yang sangat tidak nyaman.
Gelisah, tentu saja itu yang sedang dirasakannya. Ia jadi mulai berpikir macam-macam.
Apa mungkin ayang sudah bosan denganku?
Kenapa seolah-olah ia sudah tak ingin lagi bertemu?
Tok
Tok
Tok
Ia tersentak dari lamunannya oleh ketukan panjang dari arah pintu kamarnya.
"Kak, aku bisa masuk gak?" tanya Vania dari balik pintu.
"Masuklah," ucapnya mempersilahkan. Ia pun menyimpan handphonenya di atas meja kerjanya.
"Ada apa Van?" tanyanya.
"Kak, jangan kaget ya," ucap Vania pelan. Ia duduk di samping sang kakak dengan perasaan yang sangat khawatir.
"Hey, katakan saja. Ada apa sih? Jangan bikin aku penasaran Van." Nadia memaksa.
"Hum, Kak Galih sedang berada di Siloam Internasional Hospital sekarang kak," ucap gadis itu dengan suara pelannya.
"Apa Siloam? Tapi kenapa?" tanya Nadia dengan wajah yang sangat kaget. Ia bahkan langsung berdiri dari duduknya. Perasaannya langsung tak nyaman.
"Kak Galih sakit kak."
__ADS_1
"Astaghfirullah!" Nadia merasakan tubuhnya linglung. Ia hampir terjatuh ke lantai tapi Vania dengan cepat merengkuhnya.
"Kak, kamu gak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Vania khawatir.
"Gak. Aku gak kenapa-napa. Aku ingin kesana sekarang Van." Perempuan itu langsung bangun meskipun ia masih merasa sedikit pusing.
"Kak, kakak sepertinya juga kurang sehat. Istirahatlah. Besok pagi-pagi sekali kita akan kesana. Papa pasti bisa ngantar kita."
"Gak. Aku harus kesana sekarang juga. Pesankan aku taksi saja. Aku khawatir kalau tidak bisa menyetir sendiri." Nadia bergegas menuju lemari pakaiannya untuk mengambil jaketnya.
"Kak, besok saja ya," ucap Vania dengan mata memandang jam dinding yang menunjukkan waktu pukul 12 malam.
"Tidak! Aku harus kesana. Ayang pasti butuh perawatan dariku."
"Tapi kak."
"Aku seorang dokter Van. Aku harus melihatnya langsung."
Vania mengalah. Ia selalu lupa kalau kakaknya itu sangat keras kepala. Ia pun segera menghubungi taksi online karena ia sendiri tak bisa menyetir mobil sendiri.
Gadis itu juga segera berlari ke kamarnya untuk mengambil jaket dan juga selimut. Ia yang akan menemani sang kakak. Dan ia yakin malam ini mereka akan menginap di rumah sakit lagi.
Tak lama kemudian taksi pun datang dan membawa mereka pergi. Sepanjang jalan itu Nadia hanya diam. Perempuan itu membuka kaca mobil sehingga angin malam begitu bebas masuk ke dalam kendaraan roda empat itu.
Taksi mereka melambat. Jalanan begitu macet di depan sana padahal waktu sudah sangat larut bahkan hampir dini hari.
"Ada apa ya pak?" tanyanya pada sopir taksi itu.
"Gak tahu mbak. Kayaknya ada razia kupu-kupu malam. Kacanya saya tutup ya Mbak. Bahaya soalnya," jawab sopir taksi itu seraya memencet tombol tutup pada semua kaca pada kendaraan itu.
"Hey! Tolong Mbak. Bisa numpang gak?" Seorang perempuan dengan pakaian yang sangat terbuka menahan kaca yang sedang bergerak menutup itu dengan tangannya.
Nadia tersentak kaget. Ia sangat kenal dengan perempuan itu.
"Tolong! Selamatkan saya. Mereka ingin membunuh saya," ucap perempuan itu yang tak lain adalah Ayunda.
"Berhenti pak. Biarkan dia naik. Dia teman saya."
Sang sopir pun menghentikan mobilnya meskipun ia enggan. Ia takut terlibat masalah dengan siapapun saat ini.
"Terimakasih banyak pak."
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1