
"Turunkan aku disini saja pak." Ayunda meminta sopir taksi menurunkannya di sebuah jalanan sepi. Taksi itu pun berhenti.
Perempuan itu turun dari taksi seraya melihat ke arah Nadia sekilas.
"Terimakasih," ucapnya.
"Sama-sama," jawab Nadia dengan senyum tipis.
Kendaraan itu pun mulai merangkak maju membelah jalanan ibukota yang masih ramai padahal waktu sudah hampir pagi.
Ayunda pun melangkahkan kakinya ke arah rumah kontrakannya yang tak jauh dari ujung lorong itu.
Langkahnya tertatih karena heels nya sudah copot sebelah. Itu karena ia berlari menghindari beberapa orang yang tidak dikenalnya.
Dengan wajah lelah, ia pun memasuki rumah kontrakan yang terasa sangat sempit itu. Ukuran 5 X 4 dengan satu kamar tidur dan juga dapur kecil kecil di dalamnya.
Ia lelah. Ia pun membaringkan dirinya diatas sebuah kasur tipis tanpa sempat lagi membersihkan wajahnya yang berlapiskan make up tebal.
Ya, selama ini ia bekerja menjajakan dirinya yang tidak punya penghasilan lagi. Dipecat dari rumah sakit oleh Nadia dan berakhir tidak punya pekerjaan membuatnya nekat melakukan pekerjaan haram ini.
Ia memang bukan gadis suci, pergaulannya yang buruk selama ini dilandasi oleh latar belakang keluarga yang buruk pula.
Dendamnya pada Nadia membuatnya semakin jatuh ke dalam jurang kenistaan. Ia menggunakan tubuhnya yang indah untuk membalas sakit hati karena dendam wasiat dari Ayumi.
Huffft
Sebuah tarikan nafas berat ia lakukan untuk melonggarkan dadanya yang terasa sangat sesak.
"Nadia mau menolongku padahal sudah tahu kalau aku sangat sering membuatnya menderita," gumamnya pelan.
"Apakah Ayumi sekarang sudah bahagia dengan kak Aryan yang kembali masuk ke dalam penjara?"
"Aaaa Brengsek kamu Ayumi! Dendammu kenapa kamu berikan pada kami?!"
"Sial!" Tidak ada yang aku dapatkan kecuali sakit hati." Perempuan itu lantas bangun dari posisinya kemudian menuju ke wastafel untuk mencuci wajahnya.
Setelah itu ia membuka sebuah lemari pendingin tua untuk mencari sebotol minuman dingin.
Ia duduk terpekur seraya meminum minuman bersoda itu. Merenungi nasibnya yang begitu sangat buruk.
Malam ini ia belum mendapatkan pelanggan dan malah mendapatkan masalah dengan para preman.
__ADS_1
Ia kembali menghela nafasnya kemudian berjalan ke arah tempat tidurnya. Membuka semua pakaiannya kemudian masuk ke dalam selimut.
Ia harus tidur sejenak untuk menenangkan urat syarafnya. Tentang dompetnya yang hanya berisi satu lembar uang 20 ribu rupiah akan ia abaikan.
Sementara itu di dalam taksi yang membawanya kabur dari kejaran para preman itu.
"Kakak kenal sama gadis itu?" tanya Vania.
"Ya, aku kenal. Dia pernah jadi perawat di Rumah sakit." Nadia menjawab dengan tatapan kosong.
"Oh, udah punya pekerjaan yang lain rupanya," ucap Vania dengan perasaan miris.
Ia sangat kasihan melihat ada perempuan seperti dirinya masih harus berada di jalan di tengah malam seperti itu.
"Gak usah dibahas. Itu bukan urusan kita. Tuh kita sudah sampai," ucap Nadia seraya menunjuk ke arah depan. Dimana bangunan mewah berlantai puluhan itu sudah tampak jelas di hadapan mereka.
"Apa kita bisa masuk kak? Sekarang 'kan bukan waktu besuk?" tanya Vania setelah turun dari kendaraan roda empat itu. Matanya memandang gedung yang bernuansa putih itu dengan rasa kantuk yang mulai menyerang pertahanannya.
"Aku pernah kerja di sini dan punya sebuah kartu khusus jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Ayo cepat."
"Iya kak."
Udara dingin semakin menusuk-nusuk saja di waktu yang sudah menunjukkan dini hari itu.
Setelah bertanya pada perawat jaga dimana ruangan perawatan sang suami, ia pun segera menuju ke dalam ruangan itu.
Nadia berusaha menenangkan hatinya yang sedang berdebar kencang. Ada banyak rasa disana. Khawatir dan juga bahagia.
Tangannya pun mulai mendorong pintu ruangan itu dengan pelan.
Matanya langsung tertumbuk pada seorang pria yang sangat ia rindukan sedang berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit itu.
Sofya sang mama mertua tampak tertidur dengan sangat nyenyak disamping ranjang sang putra.
Ia pun melangkah sangat pelan diikuti oleh Vania.
"Kamu duduk saja disana Van," ucap Nadia seraya menunjuk ke arah sofa yang ada di dalam ruangan itu sementara ia mendekati ranjang suaminya.
Nadia memandang pria itu dengan perasaan yang sangat khawatir. Airmatanya pun tanpa izin mulai merebak keluar dari pelupuk matanya. Rasa sayang dan kasihnya menjalar dari dalam hatinya.
__ADS_1
Suhu tubuh pria itu sangat tinggi dan mengigau. Ia ingin menekan tombol untuk memanggil perawat jaga tapi ia menyadari satu hal kalau ia juga seorang dokter.
Ia pun memeriksa seluruh tubuh suaminya dengan cekatan. Sebuah termometer yang selalu ia bawa dalam tas kecilnya ia keluarkan. Setelah itu ia memeriksa lagi suhu tubuh sang suami untuk memastikan ke akuratannya.
"Ya Allah, suhunya tinggi sekali. Dan mama juga sedang tertidur," ucapnya pelan dengan perasaan yang sangat khawatir.
Dalam hati ia mengutuk dirinya yang tak bisa memberikan perawatan yang terbaik untuk suaminya sendiri.
"Na Nad, Na Nad," ucap pria itu dengan tubuh gemetar. Ia bahkan terisak seolah-olah ia berada di dalam mimpi buruk.
Perasaan Nadia semakin terasa diremas-remas. Ia semakin merasa sangat kasihan pada suaminya itu.
Catatan status pasien menunjukkan kalau sang suami sudah diberikan obat penurun panas beberapa jam yang lalu dan itu berarti kalau sekarang gilirannya yang akan bertugas sebagai seorang dokter cinta untuk pria itu.
Ia pun naik ke atas ranjang dan memeluk pria itu dengan sangat posesif.
"Ayang," bisiknya ditelinga sang suami. Tangannya ia gunakan untuk mengelus kulit suaminya skin to skin agar panasnya bisa turun.
"Na Nad, Na Nad, jangan tinggalkan aku," ucap pria itu lagi dengan suara tersendat-sendat. Rupanya ia sedang berada dalam keadaan yang sangat buruk. Ia sedang berada di dalam mimpi.
Nadia menangis sesenggukan. Ia terus berbisik di kuping sang suami dengan kata-kata sayang agar ia segera bangun dari mimpi buruknya.
"Ayang, aku ada di sini. Aku tidak akan kemana-mana," ucapnya berulang-ulang untuk menstimulus otak bawah sadar suaminya.
"Ayang, bangun. Aku ada disini," ucap Nadia lagi seraya menciumi seluruh permukaan wajah Galih yang sangat panas itu. Ia pun dengan berani mengulumm bibir suaminya yang tak berhenti meracau tak jelas.
Nadia merasa lega saat ia merasakan suaminya membalas ciumannya. Itu berarti Galih sudah bisa memberikan respon atas stimulus yang ia lakukan.
Cukup lama mereka saling memagut dan bahkan saling membelit lidah sampai Nadia merasa perlu menambah stok oksigen pada paru-parunya.
Nadia melepaskan tautan bibir mereka dengan terpaksa.
Galih tak rela. Di alam bawah sadarnya Nadia datang padanya memberikan kebahagiaan sejenak kemudian pergi lagi meninggalkannya dengan sangat kejam.
"Nadia!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊