Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 63 Balistik Lagi


__ADS_3

Pagi yang cukup cerah bagi Nadia, setelah sholat subuh bersama sang suami, ia pun menuju ke dapur untuk membuat bubur ayam untuk Galih.


Mulai hari ini ia ingin menjadi istri yang sebenar-benarnya untuk sang suami. Yaitu bisa melani pria itu di kasur dan juga di dapur. Kalau di sumur sih, ia belum bisa karena sudah ada mesin cuci dan pelayan yang akan melakukannya.


"Lho, pagi-pagi kok udah ada di dapur sih sayang," ucap Sofiya saat mendapati sang menantu ada di dalam tempat itu.


"Mau masak bubur untuk ayang Galih ma," ucap Nadia tersenyum seraya mengaduk-aduk isi panci dihadapannya.


"Lho, kamu istirahat saja dulu, mama yang akan membuatnya sayang," ucap Sofya dengan senyum bibir tersenyum.


Ia tahu kalau putranya itu belum bisa memakan makanan yang agak keras untuk kesehatan lambungnya. Akan tetapi ia tak ingin membuat sang menantu juga untuk memasak sendiri. Nadia adalah seorang dokter dan juga kepala rumah sakit yang sangat sibuk dan tidak perlu dibebani dengan pekerjaan di dapur.


"Ada banyak pelayan di rumah ini yang akan melayani kalian. Jadi seharusnya kamu hanya melayani suamimu di kasur saja."


"Ih mama, gak bisa begitu juga dong konsepnya. Aku ingin jadi istri yang baik ma. Aku juga ingin menyenangkan ayang seperti para istri orang lain," balas Nadia.


Sofiya tersenyum.


"Menyenangkan suami gak mutlak harus pintar dan rajin di dapur. Ada banyak cara lain sayang, coba deh kamu tanyakan ini pada suamimu nak. Ia juga pasti tidak setuju dengan kamu ikut masak di sini. "


"Tapi ma," ucap Nadia lagi.


"Udah, sana kamu kembali ke kamar kamu," ucap Sofya tak ingin dibantah.


Nadia pun hanya bisa tersenyum meringis. Niatnya akhirnya tidak kesampaian. Ia pun kembali ke dalam kamar dan mendapati pria itu sedang sibuk di depan meja kerjanya.


Ia pun menghampiri suaminya itu dengan wajah ditekuk manja.


"Ayang, mama larang aku masak untuk kamu," ucapnya. Galih menghentikan aktivitasnya kemudian menatap perempuan cantik dihadapannya itu.


"Kenapa?" tanya Galih seraya meraih tubuh istrinya ke atas pangkuannya.

__ADS_1


"Kata mama aku gak usah masuk dapur. Pelayan 'kan banyak."


"Lah, mama benar sekali sayang. Kamu disini saja temani aku," ucap Galih seraya menyentuhkan keningnya pada kening Nadia. Setelah itu mengulumm bibir sang istri dengan sangat lembut.


"Tapi aku 'kan ingin seperti perempuan lain ayang. Aku ingin kamu mencintai aku sepenuhnya," balas Nadia seraya menatap dalam mata suaminya. Tangannya pun mengelus lembut rahang tegas pria itu dengan sangat lembut.


"Pokoknya kamu hanya boleh melayani aku di kasur, mengerti?" bisik Galih dengan bibir kembali mendarat diatas permukaan bibir sang istri. Mereka pun saling mengulumm dengan penuh perasaan.


"Tapi aku juga ingin memasak untukmu ayang. Aku cemburu kalau ada istri yang bilang suaminya betah di rumah karena ia jago masak. Masakannya enak," rajuk Nadia setelah bibir mereka terlepas.


"Gak harus seperti itu juga sayang. Aku mencintaimu karena Allah. Kamu gak ngapa-ngapain dan diam saja di tempat tidur saja sudah bikin aku betah banget hehehe," kekeh Galih dan langsung mendapatkan pelototan tajam dari Nadia.


"Eh beneran lho, apalagi kalau sampai agresif seperti semalam, oh ya Allah. Nikmat mana lagi yang aku dustakan," ucap Galih dengan senyum khasnya.


"Ish kamu tuh ya, ingat yang itu terus. Aku kan malu." Nadia kembali merajuk manja. Sesungguhnya ia sangat malu kalau mengingat dirinya yang sangat bersemangat menggoda suaminya. Ia jadi merasa sangat tak tahu malu.


"Gak usah malu. Tapi kamu hebat lho," goda Galih lagi dan berhasil pipi Nadia berubah warna.


"Belajar dimana sih?"


"Hey, jangan ditutup. Aku suka memandangi wajahmu yang sangat cantik ini," bisik Galih.


"Kamu itu bekerja di luar rumah dan gak punya banyak waktu. Pulang kerja kamu akan capek, masak harus berada di dapur lagi untuk aku. Nantinya mood kamu bisa jadi buruk dan aku tak ingin itu terjadi padamu Nanadku," ucap Galih dengan tatapan penuh cinta pada sang istri.


"Kenapa kalau mood aku buruk?" tanya Nadia dengan bibir berkedut. Ia tahu jawabannya tapi ia ingin menguji suaminya.


"Apa aku harus mengatakannya sayang Hem?"


Nadia mengangguk dan tersenyum. Ia ingin suaminya mengatakan banyak hal padanya.


"Hubungan kita jadi tidak berkualitas. Kamu akan kesal padaku dan mungkin akan kabur lagi, hehehe," kekeh Galih seraya mencubit ujung hidung istrinya yang mungil.

__ADS_1


"Hem, kesal ih diingatkan kabur lagi. Malu aku ayang, kayak aku kekanak-kanakan gitu ya?"


"Gak juga sih, tapi emang bikin aku hampir mati tahu gak?"


"Hum, benarkah?" tanya Nadia dengan jari-jari bergerak mengelus lembut bibir suaminya yang agak tebal itu.


"Kamu masih tidak percaya ya?" tanya Galih dan langsung meraih jari lentik itu dan mengulummnya di dalam mulutnya. Tatapannya kini sudah berubah. Libidonya meningkat.


Nadia sangat paham apa yang terjadi pada suaminya itu. Ia bisa merasakan kalau si balistik sudah kembali mengembang dan mengeras di bawah pahanya.


Galih semakin bersemangat menggoda dan merayu sang istri dengan sentuhan yang sangat memabukkan.


Dan ketika ia tahu kalau Nadia sudah sangat siap. Ia pun mengangkat tubuh istrinya ke atas meja dan segera membuka segala penghalang dari tubuhnya sendiri.


Mereka kembali melakukan hal yang sangat menyenangkan lagi diberkahi itu dengan perasaan yang sangat bahagia.


Galih benar-benar sangat kuat dan membuat Nadia tak malu untuk mengeluarkan suara-suara Lucknut dari bibirnya.


Pagi itu mereka melakukannya lagi dan lagi sampai mereka kecapekan sendiri.


"Ayang,"


"Hum,"


"Capek,"


"Bentar lagi ya, kamu benar-benar lezat sayangku."


Nadia pasrah. Ia mungkin akan datang terlambat bekerja pagi ini. Kekuatan rudal balistik itu benar-benar membuatnya kewalahan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Like dan komentar dong.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2