
"Randu, tetangga aku Van. Tapi ia lumayan resek sih orangnya." Aryan cepat-cepat menjawab pertanyaan gadis cantik itu dengan mata tak lekat menatap Randu tajam.
"Hahaha, resek gimana sih maksudnya?" tanya Vania disertai tawa renyahnya.
"Ya, nanti kamu tahu sendiri sih. Orangnya gak sebaik yang kamu kira. Tapi ngomong-ngomong kamu kok lambat sih sayang?"
"Eh?"
Randu dan Vania sama-sama tercekat kaget.
Vania tak menyangka kalau Aryan akan memanggilnya dengan kata sayang. Sedangkan Randu sangat tak nyaman dengan panggilan itu.
"Aku habis jemput kakak aku di bandara, jadi aku telat datang." Vania menjawab dengan senyum diwajahnya.
"Oh ya? Emangnya dari mana dia?"
"Singapura. Habis bulan madu."
"Asyik dong. Kita nanti kalo merid bulan madunya di mana ya Van?" ucap Aryan sengaja menggoda Vania.
Gadis itu langsung tersipu malu sedangkan Randu mengepalkan tangannya marah.
"Van kita pulang sekarang!" Randu meraih tangan Vania dan menariknya paksa. Ia benar-benar cemburu saat ini.
"Hey! Kamu itu siapa? Berani-beraninya mau membawa Vania pergi dari sini." Aryan langsung melompat ke hadapan Randu. Ia bahkan langsung mencengkram erat kerah kemeja pria itu.
"Aku calon suaminya!" Randu menjawab dengan tegas.
"Hah?" Vania merasakan mulutnya membola karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Cih!" Aryan berdecih.
Bugh
Pria itu langsung memberikan satu pukulan telak pada perut Randu.
"Aaargh."
"Berani kamu mengakui kekasih aku hah?!" teriak Aryan dengan tangan masih ingin memukul Randu tapi pria itu dengan sigap menahan tangannya.
"Kamu yang telah salah mengakui calon istriku brengsek!" Randu balik menyerang Aryan dengan balasan pukulan pada perut pria itu.
"Ya ampun! Hey! Stop!" Vania berteriak keras. Ia takut melihat apa yang terjadi di depan matanya. Dua orang yang tadinya saling mengenal itu kini berduel di hadapannya. Mereka saling ingin menjatuhkan.
"Kak Randu plis. Hentikan!" Vania kembali berteriak dan bahkan meminta tolong kepada orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.
Akan tetapi dua orang itu sama sekali tidak mendengarkan teriakan Vania. Mereka terus saling memukul dan menendang sampai babak belur seolah-olah mereka mempunyai dendam yang sudah lama.
__ADS_1
Kekuatan mereka seimbang. Gerakan tubuh mereka sama-sama lihai. Mereka bagaikan alumni dari sekolah bela diri yang sama.
'Kalian mau berhenti gak?!" teriak Vania bersamaan dengan Aryan mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam sakunya dan menyabet perut Randu.
"Aaargh!" Darah segar pun keluar dari perut pria itu. Tangannya berusaha menutupi luka itu agar darah tak keluar lebih banyak.
Bugh
Satu tendangan berhasil bersarang lagi ke perutnya yang terluka itu hingga darah yang ia tahan kini tak bisa lagi untuk berhenti mengalir.
Randu jatuh.
"Kak Randu! Astaghfirullah Kak Aryan apa yang telah kamu lakukan hah?!" Vania berteriak keras karena marah. Ia segera berjongkok dan meraih tubuh Randu yang kesakitan.
"Dia pantas mendapatkannya Van. Kamu tidak tahu 'kan? Gara-gara dia aku mendekam di tahanan. Dan sekarang ia matipun aku rela."
"Kak Aryan kamu kejam. Jahat!" Vania meraung. Ia pun berusaha menutupi luka Randu dengan sapu tangan yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Kak Randu, bangun! Aaaa jangan bikin aku takut!" Vania menggoyang-goyang tubuh Randu agar bisa membuka matanya.
"Bangun kak. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga!" Vania kembali berteriak keras. Ia sungguh sangat takut saat ini.
Ia mulai menangis seraya menciumi pipi pria yang tak berdaya itu. Ia kini merasa sangat menyesal karena membawa Randu ke tempat itu.
"Kak Randu ayo bangun. Tolong!"
"Lepaskan aku!" Vania berusaha memberontak. Akan tetapi tangan Aryan begitu kuat mencengkeram lengannya sampai gadis itu meringis sakit.
"Hey! Lepaskan aku brengsek! Aku tidak akan ikut denganmu!" Gadis itu berteriak dan berusaha melepaskan diri.
"Kamu harus ikut. Kamu sudah datang padaku dan itu berarti kamu sudah menjadi milik aku!" Aryan benar-benar nekat. Ia malah menggendong tubuh Vania ala karung goni dan membawanya meninggalkan Randu yang sedang berada di penghujung maut.
"Tolong! Bawa kak Randu ke rumah sakit!" Vania terus berteriak meminta semua orang untuk menolong Randu daripada dirinya sendiri.
Bugh
Sebuah pukulan keras menghantam wajah Aryan saat pria itu sudah sampai di depan pintu GOR.
Tubuhnya langsung mundur bendera langka ke belakang. Vania dengan cepat ia turunkan untuk membalas serangan pria asing itu.
"Mau kamu bawa kemana Vania!" Galih berdiri disana dengan tatapan membunuh. Tak mengambil jedah, ia langsung menyarangkan satu tendangan keras pada dada Aryan yang belum cukup siap menyambutnya.
Vania sendiri langsung berlari kembali ke arah Randu yang masih terkapar di pinggir jalan dalam keadaan yang sangat menyedihkan.
"Kak Nadia, tolong bantu kak Randu, hiks," ucap Vania pada sang kakak yang ternyata datang bersama dengan Galih.
"Astaghfirullah. Darahnya banyak sekali yang keluar. Kita harus segera menghentikannya untuk sementara waktu." Nadia berucap seraya membuka syal yang sedang dipakainya.
__ADS_1
Mereka berdua pun mengangkat tubuh Randu sedikit agar bisa mengikatkan kain itu ke bagian belakang pria itu.
"Ada apa mbak?"
Seorang pria yang berpakaian olahraga dan sepertinya baru saja melakukan joging langsung datang menghampiri mereka.
"Kena tusuk mas. Bisa tolong bantu kami bawa ke mobil gak?" pinta Nadia pada pria pertama yang rela datang menolong mereka.
"Oh ya bisa. Aku panggilkan teman dulu ya," ucap pria itu seraya memanggil teman-temannya.
Tak lama kemudian beberapa orang pun datang dan membantu mereka membawa Randu ke dalam mobilnya.
Vania merasa kesal sendiri. Sejak tadi ia meminta tolong tapi tidak ada yang datang menolong tapi giliran kakaknya yang meminta, semua pria yang ada di sana datang berbondong-bondong menolongnya.
"Apa karena kak Nadia lebih cantik daripada aku? " gumamnya pelan tapi sempat terdengar oleh telinga sang kakak. Nadia tertawa meskipun ia berada dalam situasi darurat.
"Mereka mungkin tidak ingin menolongmu karena tidak ingin berurusan dengan Aryan si psikopat itu," ucap Nadia dan segera melajukan mobil Randu ke Rumah sakit. Mereka harus cepat sampai sebelum darah Randu habis.
"Bagaimana dengan kak Galih kak?" tanya Vania khawatir. pasalnya mereka meninggalkan gali masih bertarung dengan Aryan di dalam GOR itu.
"Gak apa-apa. Ayang pasti bisa melumpuhkan pria psikopat itu. Polisi juga sudah otw kesana kok." Nadia menjawab dengan tenang.
Ia sudah sempat menyaksikan tadi Bagaimana Galih menghajar habis-habisan pria berbahaya itu.
"Aku hanya ingin meminta penjelasan darimu kenapa kamu masih berhubungan dengan pria gila seperti itu Van!"
Vania tidak menjawab. Ia hanya mengelus wajah Randu yang sedang berada di atas pangkuannya.
Air matanya menetes karena merasa sangat menyesal kejadian ini terjadi.
Tadinya ia hanya iseng membalas chat dari Aryan yang pernah menjadi kekasihnya di masa lalu. Ia ingin membuat Randu cemburu dan berani menyatakan perasaannya padanya tapi apa yang terjadi?
Vania terisak-isak.
Ia lupa kalau Aryan adalah seorang psikopat.
๐น๐น๐น
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Adakah sedekah bunga atau vote?
Bagi dong๐คญ๐
Nikmati alurnya dan happy reading ๐
__ADS_1