
Nadia Gazali memeriksa kembali penampilannya hari ini. Sebuah senyuman terpatri dibibirnya yang ranum. Matanya berbinar senang. Perasaannya sekarang sudah lebih baik setelah beberapa hari mengurung diri di kamar dan benar-benar tak ingin diganggu. Telepon dari rumah sakit karena ia tidak melaksanakan tugas ia abaikan apalagi telepon dari Harry sang pacar.
Dengan bersenandung kecil, ia pun keluar dari kamarnya. Sebuah laptop dan juga tas kerja berisi alat-alat untuk memeriksa pasien tak lupa selalu ia bawa untuk mendukung profesinya sebagai dokter.
"Alhamdulillah, putri mama udah keluar dari goa," ucap sang mama dengan senyum lebar diwajahnya. Nadia balas tersenyum. Ia pun duduk di depan semua orang untuk melakukan sarapan bersama.
"Udah baikan kak hatinya?" tanya Vania tersenyum.
"Apaan sih, aku dari dulu itu baik-baik saja. So, gak ada yang perlu dikhawatirkan okey?" balas Nadia dengan dagu terangkat. Sungguh, ia tidak suka kalau ada yang melihatnya tampak menyedihkan. Ia harus tampil bahagia meskipun ia sangat menderita.
"Iya iya. Kakak tuh orang paling bahagia di dunia, yang lain tuh pada jadi serbuk aja di pinggiran, hahaha." Vania tertawa. Ia hafal betul sifat kakaknya itu. Selain perfeksionisme ia juga baik hati dan suka menolong.
"Kak, aku numpang lagi ya, motor aku lagi gak fit," lanjut Vania disela-sela makannya.
"Motor kamu kenapa lagi Van?" tanya sang mama dengan wajah berubah khawatir.
"Gak apa-apa kok ma, cuma belum dicuci aja hehehe," jawab gadis itu terkekeh.
"Hum dasar. Makanya kalau lagi malas kasih tuh tips untuk mang Koko supaya motor kamu dicuciin." Nadia mencibir kemudian menggigit potongan roti sandwich nya.
"Kalau yang itu sih dari kakak lah. Aku mana ada uang untuk tips. Mahasiswi seperti aku cuma punya uang jajan dan itu pun dari kak Nadia yang baik hati dan juga tidak pelit," ucap Vania dengan wajah dibuat merajuk manja.
"Huh dasar. Mau pura-pura ngambil hati aku lagi ya?" balas Nadia dengan bibir mengerucut.
"Ya emang betul. Kok kakak tahu sih?" Vania tersenyum meringis.
"Lagu lama tahu gak. Tapi udahlah, aku hampir telat nih, kalau mau ikut cepetan. 3 menitan ya," ucap dokter cantik itu kemudian meminum segelas susu hangat yang sudah disiapkan oleh sang mama.
"Tiga menit? Memangnya aku ini.." Vania sudah ingin membalas tapi kemudian langsung sadar kalau sang kakak akan betul-betul melakukan ancamannya.
"Ah iya deh, aku ambil tas dulu ya kak," ujar Vania dan segera kabur ke kamarnya. Ia harus cepat atau ia benar-benar ketinggalan tumpangan mobil mewah.
__ADS_1
"Papa mama, aku berangkat ya," ucap gadis itu seraya mencium tangan papa dan mamanya.
"Nad, kamu ada masalah dengan dokter Harry? Setiap hari ia selalu datang lho tapi kamu tak pernah mau menemuinya. Ada apa?"
"Aku mau berangkat sekarang ya ma, gak usah ngomongin tentang dia. Aku lagi enek dengarnya."
"Nad, dokter Harry orangnya serius lho. Jangan kamu sia-siakan pria baik seperti itu." Sang mama memandang putrinya itu dengan tatapan serius. Nadia hanya tersenyum kemudian menyentuh lengan sang mama.
"Maafkan aku ma, tapi aku sedang tidak ingin membahas tentang hal ini," ucapnya kemudian segera pergi dari hadapan kedua orangtuanya. Farida dan Gazali saling berpandangan.
"Jangan dipikirkan ma, bentar juga mereka baikan lagi. Marah-marahan seperti itu pasti cuma sebentar aja kok." Gazali tersenyum kemudian melanjutkan makannya.
"Pa ma, aku berangkat ya, assalamualaikum!" Vania langsung meraih tangan kedua orang yang masih sedang makan itu dan menciumnya. Tiga menit sudah lewat 2 menit dan itu berarti Nadia mungkin sudah bertanduk karena ia terlambat.
"Kak, aku ikut!" teriak gadis itu dan langsung berlari ke depan rumah. Mesin mobil sudah berbunyi dengan tidak sabar begitupun pemiliknya. Vania naik ke mobil itu dengan tak henti-hentinya meminta maaf.
"Maaf kak, aku cuman telat 2 menitan kok," ucap Vania dengan senyum meringis. Nadia tidak menjawab. Ia hanya melajukan mobil mewahnya itu dengan diam.
Rupanya ia masih memikirkan perkataan sang mama tentang Harry si brengsek itu. Datang ke rumah sakit bisa-bisa membuatnya bertemu dengan pria itu lagi. Padahal ia sudah sangat jijik jika bertemu dengan seorang pengkhianat seperti Harry.
"Hah?"
"Iya kak. Jalanan depan itu sedang diperbaiki..."
Brakk
Belum selesai Vania mengucapkan kalimatnya terdengar bunyi tabrakan di depan mobil itu.
"Ya Allah kak. Itu tadi apa?!" Vania langsung membuka kaca mobil dan melongokkan kepalanya keluar dari jendela.
"Kak. Kamu nabrak rambu lalu lintas."Vania berucap dengan wajah kaget dan takut secara bersamaan.
__ADS_1
"Ah, cuma rambu aja ya, gak papa itu. Gak akan hancur kok," ucap Nadia dengan santai kemudian memundurkan mobilnya untuk mencari jalanan yang lebih baik.
"Hey, turun!" teriak seorang pria berjaket kulit dengan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya yang mancung. Ia mengetuk kaca mobil Nadia dengan wajah serius.
"Ada apa ya pak?" tanya dokter cantik itu dengan wajah bingung. Ia merasa tidak ada urusan dengan pria itu.
"Kamu gak lihat kalau sudah merusak fasilitas umum ya? Gak lihat kalau ada tanda larang di depan sana!" Pria itu adalah Galih Pradana yang menjadi pimpinan proyek pengerjaan jalanan itu. Pagi-pagi sekali ia sudah berada di sana untuk melihat hasil kerja karyawannya.
"Kak Nad, aku bilang juga apa," ujar Vania ikut menyalahkan dirinya.
"Eh, kamu terlambat bilangnya. Aku 'kan udah lama tinggal di goa jadi gak tahu kalau jalanan sedang diperbaiki kayak gini." Nadia mendengus seraya menatap Vania dengan tatapan tajam dari balik kacamata hitamnya.
"Eh, ayo cepat mundur! Jalanan belum bisa dilalui saat ini dan ya, belajarlah untuk membaca rambu lalu lintas." Galih berucap seraya meninggalkan mobil Nadia yang kesulitan untuk keluar karena sudah terjebak di dalam kemacetan itu.
"Eh, gimana bisa mundur kalau sudah terjebak seperti ini! Bantuin!" Teriak Nadia dengan wajah kesalnya.
Galih Pradana tersenyum samar kemudian berbalik. Ia pun meminta gadis itu untuk turun dari mobilnya dan segera membantu agar mobil yang sudah terjebak dalam jalanan yang sedang dalam pengerjaan itu bisa keluar.
"Makasih kak," ucap Vania yang begitu terpesona dengan aksi heroik pria tampan itu. Sedangkan Nadia hanya diam saja kemudian segera masuk lagi ke mobilnya saat posisi kendaraan itu sudah siap berputar arah.
"Gak mau berterimakasih?" ucap Galih dengan suara pelan pas disamping kuping Nadia saat mereka bertukar tempat.
"Gak! Itu salahmu menyimpan rambu-rambu tersembunyi seperti itu!" sarkas Nadia kesal. Ia berusaha menahan gelenyar aneh dari dalam tubuhnya saat deru nafas pria itu menyentuh pipinya.
Ujung bibir Galih terangkat tapi tidak berniat untuk membalas. Ia biasa bertemu dengan gadis galak tapi nanti akan jatuh juga ditangannya.
🌹🌹🌹
*Bersambung
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Adakah hadiah bunga untuk mereka berdua gaess?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊