
Galih bisa mengerti dengan apa yang terjadi dengan Nana Ninu. Perempuan itu langsung berubah setelah menyaksikan sendiri bagaimana keromantisan hubungan walikota bersama istrinya. Apalagi sindiran yang diberikan oleh Laura Eveline cukup menohok untuk dirinya yang berniat untuk menjadi seorang pelakor.
Akan tetapi sekarang ia tidak habis pikir dengan perempuan cantik itu. Ia sendiri datang dan meminta bertemu untuk dipertemukan dengan walikota tetapi sekarang malah menggandeng pria lain dan menolak cinta yang ia tawarkan.
"Dasar perempuan brengsek!" ucap Galih dengan emosi diwajahnya. Ia sangat marah kini. Ia seperti sedang dipermainkan oleh perempuan nakal itu.
Padahal ini adalah untuk pertama kalinya ia ingin menjalin hubungan khusus dan serius dengan seseorang tetapi malah mendapatkan kenyataan yang sangat pahit seperti ini.
"Aku minta maaf ya mas Galih. Carilah jodoh yang lain. Karena aku tak pantas berada di sampingmu," ucap Nana Ninu kemudian pergi bersama dengan pria lain dihadapannya. Benar-benar tak punya perasaan.
"Ternyata semua perempuan itu memang sangat menjijikkan. Aku yang sudah lama menantikannya sadar akan kesalahannya malah sekarang memilih orang lain yang baru dikenalnya," geram Galih dengan rahang mengetat. Pria itu meraup wajahnya kasar.
"Sepertinya memang hanya mama saja yang baik dan tulus padaku sedangkan semuanya brengsek!" Ia mengumpat seraya menekan puntung rokoknya diatas sebuah piring di depan mejanya.
Pria itu tidak sadar kalau piring kecil berisi dua biji kue pie itu adalah milik orang lain. Jadi karena tidak ada asbak yang tersedia ia pun mengorbankan benda itu beserta kuenya.
"Astagfirullah. Ya ampun! Kamu benar-benar jorok ya?!" tegur Nadia yang baru akan duduk di kursi itu dan mendapati piring kuenya sudah bercampur dengan puntung rokok. Galih tidak peduli, ia hanya mendengus. Bertemu lagi dengan gadis judes dan suka marah-marah ini adalah sebuah kesialan baru baginya.
"Dasar tidak tahu kebersihan dan kesehatan!" gerutu dokter cantik itu dengan wajah merah padam.
"Pria jorok dan tidak tahu bersikap baik pada orang lain!" lanjut Nadia masih dengan ekspresi yang sama. Bertemu dengan pria menyebalkan seperti ini lagi rasanya membuat hari-harinya akan terganggu.
"Hei! Hati-hati ya kalau ngomong! Kamu tidak kenal aku ini siapa hah?" Galih Pradana menatap tajam gadis cantik dihadapannya.
"Kamu berani mengatakan kalau aku ini pria jorok dan tidak tahu kebersihan!!" tantang Galih dengan wajah yang sama kesalnya dengan Nadia.
"Aku Galih Pradana pemilik Pradhana Group. Berani-beraninya kamu merusak nama baikku itu.!"
"Heh. Kamu tidak mengaku salah lagi," ujar Nadia dengan balas menatap tajam pada pria tampan tapi sangat mengesalkan itu.
"Lihat nih apa yang anda lakukan tuan Pradana?!" kata dokter perempuan itu seraya memperlihatkan piring kuenya yang sudah berisi dengan beberapa puntung rokok. "Ini yang namanya pria yang tahu kebersihan? Iyya? Merokok di tempat umum seperti ini seharusnya kamu itu mendapatkan sanksi tahu nggak dan sekarang malah membuat kue kesukaanku jadi hancur seperti ini." Nadia betul-betul sangat geram sampai dia mengeratkan rahangnya karena marah. Galih membuang nafasnya kasar.
"Cuma kue murahan saja kamu sudah ngamuk-ngamuk tidak jelas seperti itu? Berapa yang kamu mau? Nanti aku belikan kue seperti itu satu truk dan aku akan kirim ke rumahmu! Dasar perempuan cerewet!"
__ADS_1
"Apa? Kamu bilang? Aku cerewet?!" Kamu pikir aku ini tidak akan diam saja jika ada orang zolim yang mau berlaku sewenang-wenang seperti ini hah?"
"Dan kamu pikir aku juga tidak mampu membeli kue seperti ini hah? Dengarkan aku ya pria tidak tahu sopan santun. Caramu yang sangat tidak sopan pada perempuan itu yang perlu aku garis bawahi. Kamu pasti tidak pernah menyayangi ibumu jadi tidak tahu menghargai perempuan!" Nadia benar-benar mengeluarkan semua rasa kesalnya pada pria itu.
"Ya ampun, dasar cerewet. Hanya karena dua potong kue kamu sampai membawa-bawa ibuku yang sedang menikmati healing-healingnya. Ckckck. Aku semakin yakin sekarang kalau perempuan itu hanya akan membuat kita menderita saja."
Galih pun bersiap untuk mendudukkan tubuhnya pada kursi itu akan tetapi ia langsung mendapat ultimatum dari seorang Nadia.
"Jangan duduk di meja ini!" titah Nadia dengan wajah yang masih sangat kesal. Galih mendengus sangat kesal.
"Aku benar-benar benci perempuan!" ujarnya dengan rahang mengeras.
Hatinya yang sedang sangat kacau ditambah lagi dengan bertemu dengan perempuan yang juga sangat mengesalkan ini membuatnya tidak ingin lagi berhubungan dengan yang namanya perempuan. Ia pun pergi dari tempat itu agar tidak membuat masalah baru lagi.
Karena akan sangat memalukan bagi dirinya jika ada yang melihatnya bertengkar hanya gara-gara kursi dan kue itu.
"Silahkan nikmati kuemu itu!" ujarnya dan benar-benar pergi dari sana.
Setelah emosinya cukup reda Nadia segera meminum es jeruknya dan menikmati lagu yang sedang diputar dari arah panggung.
"Alhamdulillah segarnya," ujarnya pelan dengan perasaan yang mulai membaik. Lagu Tompi yang sangat romantis itu benar-benar membuat hatinya yang akhir-akhir ini mengeras karena banyak masalah kini kembali melembut.
Sampai kemudian pria yang selalu menjadi pemicu emosinya kini muncul lagi di hadapannya membawa beberapa potong kue kesukaannya.
Pria menawarkan dengan niat untuk ganti rugi akan tetapi malah membuatnya kembali tersulut emosi.
"Ya Allah, semoga kita tidak bertemu lagi!" teriak Nadia kesal sedangkan Galih hanya tersenyum miring.
"Cantik tapi judes. Apa bagusnya. Eh, tapi kok dia juga gak tertarik sama aku?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Apa mungkin pesonaku sudah mulai berkurang hanya karena terlalu berharap pada si Nana Ninu brengsek itu?" lanjutnya bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Ah sudahlah, lebih baik aku pulang saja. Gak enak disini kalau gak punya pasangan."
Pria itu pun segera menghampiri Fardan Larigau yang sedang bersama dengan calon istrinya itu. Ingin ia berpamitan pada sang pemilik acara akan tetapi malah dipanggil untuk berfoto bersama dengan calon pengantin yang baru saja selesai acara lamaran itu.
__ADS_1
"Ya ampun Kak Nad. Itu kan kakak yang pernah bantuin kita di jalan waktu itu. Ternyata memang sangat tampan ya," bisik Vania pada Nadia saat melihat Galih ternyata ada di tengah-tengah keluarga mereka.
"Matamu itu perlu aku berikan surat rujukan ke dokter mata ya? Tampan apaan coba? Yang ada itu mengesalkan!" Nadia kembali menggerutu.
"Ya tampan dan cool banget kak. Nah tuh ayok ah aku mau ikutan berfoto dengan kakak itu." Vania langsung meninggalkan Nadia dan langsung berlari ke arah orang-orang yang sedang ramai mengambil gambar dengan Fardan dan juga Asma. Mau tidak mau ia pun ikut kesana.
"Jangan pulang dulu dong Lih. Kita harus ambil foto sama keluarga calon istriku sebagai kenang-kenangan." Fardan berucap seraya menarik tangan Galih untuk tidak kemana-mana.
"Aduh gimana ya?" Galih menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jangan terlalu banyak mikir. Lihat tuh keluarga Asma semuanya cantik-cantik. Kamu gak akan rugi kok," ucap Fardan seraya memberi kode pada fotografer untuk mengambil gambar mereka lagi saat semua gadis-gadis datang menyerbu mereka.
"Ya ampun bilang saja kalau kamu tidak mau jadi pria sendiri ditengah sarang tawon hahaha." Galih tertawa lucu apalagi melihat gadis judes itu ikut berfoto bersama.
"Maaf mas, posisinya jangan jauh-jauh sama mbaknya," ujar sang fotografer pada Galih yang menjaga jarak pada Nadia yang kebetulan berdekatan dengannya. Pria itu pun mendekatkan tubuhnya pada Nadia untuk menciptakan pengambilan gambar yang sangat bagus.
"Masuk lagi mas, ya lebih merapat ya!" Sang fotografer kembali memberikan instruksi. Maklumlah karena mereka banyak jadi harus rapat agar semuanya masuk dalam spot foto.
Nadia menahan nafasnya. Rasanya ia ingin mendorong tubuh pria brengsek yang sedang sangat dekat dengannya itu.
Tangan kokoh Galih tak sadar memeluk pinggangnya yang ramping sedang deru nafas pria itu bisa ia rasakan menyentuh pipi dan tengkuknya. Ia gelisah apalagi pria itu sempat berbisik dengan sangat lembut di kupingnya hingga hanya ia yang mendengarnya saja.
"Kamu ternyata cantik kalau lagi jinak seperti ini." Nadia tak bisa bernafas karena gugup tapi dengan cepat kakinya menginjak kaki pria itu. Galih lumayan kesakitan tapi ia berusaha bertahan karena tidak mau menimbulkan keributan.
Cekrek!
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1