Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 31 Nadia Kemana?


__ADS_3

Galih menatap penanda waktu di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 sore tapi Nadia belum pulang juga. Maghrib pun sudah lewat. Tak informasi yang ia dapatkan kalau Nadia mungkin saja lembur atau sibuk hingga ia tak menghubunginya sama sekali.


Dihubungi pun, handphone-nya tidak aktif. Akhirnya ia menghubungi Vania sang adik ipar.


"Halo Van!" sapa pria itu saat teleponnya tersambung.


"Assalamualaikum kakak ipar." Suara Vania melengking dari arah ujung sambungan telepon.


"Waalaikumussalam. Kakak kamu ada di rumah gak?"


"Kak Nadia? Gak. Bukannya belum pulang seminggu ini?" Vania balik bertanya.


Tak ada suara. Vania yakin kalau Galih pasti sedang berpikir keras.


"Tadi udah masuk kerja sih, tapi kok belum pulang ya? Nomornya juga gak aktif."


Vania bisa menangkap kalau Galih sangat bingung dari nada suaranya


"Palingan masih di rumah sakit kak. Tadi sih nelpon minta sesuatu sama mama. Tapi gak tahu minta apa."


"Oh minta sesuatu diantarkan ke rumah sakit? Kok gak minta tolong sama aku saja ya?" ucap Galih dengan pelan bagaikan gumaman.


"Aku juga gak tahu kak. Maaf ya." Vania berucap dengan senyum meringis. Seolah-olah Galih bisa melihat ekspresinya.


"Oh iya. Makasih banyak ya Van. Kalau begitu aku ke rumah sakit deh sekarang. Makasih ya Van. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Vania pun menutup handphonenya kemudian menatap sang mama yang ternyata ada di sampingnya.


"Apa menurut mama mereka berdua ada masalah?" tanya Vania dengan tatapan lurus kedalam mata perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Semoga aja tidak sih. Tapi kok kakakmu gak izin sama suaminya ya. Itu 'kan tidak benar namanya." Laras, sang mama hanya bisa menghela nafasnya.


Ia pikir sang putri sudah lebih menikmati pernikahan yang hampir sebulan ini tapi kok malah jadi seperti ini kejadiannya.


"Hubungi kakak mu Van, mama mau bicara." Laras pun meminta putri keduanya itu untuk menghubungi Nadia sang putri sulung.


Ia ingin memberi nasehat padanya kalau tidak boleh seorang istri memperlakukan suami seperti itu meskipun ada masalah. Sekecil apapun itu.


Vania pun mencoba menghubungi Nadia tapi nomor itu selalu berada di luar jangkauan.


Dan kini ia baru ingat kalau kakaknya tadi memintanya ke rumah sakit untuk membawakan paspor nya karena ia akan ke luar negeri bersama dengan kepala dinas kesehatan untuk urusan pekerjaan.


Kepala dinas? Itu kan kak Harry?


Oh tidak! Jangan sampai terjadi sesuatu diantara mereka berdua.

__ADS_1


Tiba-tiba saja gadis itu jadi sangat khawatir.


"Gimana?" tanya Laras tak sabar. Vania langsung tersentak dari lamunannya.


"Eh iya ma. Kenapa?" tanya Vania gelagapan.


"Lho. Gimana telponnya tersambung gak?" tanya sang mama dengan wajah tak sabar.


"Gak bisa ma. Kakak mungkin udah ada di pesawat makanya handphonenya udah gak bisa dihubungi." Vania menjawab dengan wajah tak nyaman.


"Ke luar negeri? Kok bisa? Dan kenapa gak bilang sama mama?"


Laras tampak sangat kaget dibuatnya. Ia menatap Vania dengan tatapan tajam.


"Kalian menyembunyikan hal besar ini pada mama?"


"Maaf ma. Kak Nadia melarang aku memberitahu mama. Tapi ini karena urusan pekerjaan kok. Mereka semua harus berangkat hari ini karena waktunya sangat mendesak."


"Ada proyek kerjasama dengan kementerian kesehatan dan Sebuah rumah sakit di luar negeri ma, begitu kata kak Nadia," ucap Vania dengan perasaan semakin tak nyaman. Ia merasa bersalah pada mamanya karena tidak memberitahunya.


"Ah ya ampun. Bagaimana mungkin Nadia pergi dan tidak meminta izin pada suaminya. Dia keluar rumah dan ini jauh sekali." Laras mengurut dadanya karena tak menyangka akan mendengar hal seperti ini.


"Kakakmu tidak pernah seperti ini Van. Ia tidak pernah keluar rumah kalau tidak meminta izin sama mama dan papa. Dan pada Galih? Kenapa seperti ini? Apa ada yang kamu sembunyikan lagi dari mama?"


Vania menarik nafas dalam-dalam. Apa iyya ia harus menceritakan latar belakang pernikahan kakaknya pada sang mama?


"Yang bener kamu Van. Anak-anak mama tidak ada yang pintar berbohong. Jadi katakan apa yang terjadi sayang. Jangan buat mama khawatir."


Vania meremas jari-jarinya. Ia bimbang. Ia hanya berharap keluarga kakaknya baik-baik saja.


"Apa aku kasih tahu Kak Galih aja ya ma. Kasian kan kalau ia nyari-nyari tapi Kak Nadia memang gak ada di sini." Vania berusaha mengalihkan pembicaraan.


Entah kenapa ia jadi sangat kasihan pada Galih karena ia sudah berbohong.


"Maafkan aku ma. Kalau begitu aku akan menghubungi kak Galih."


Gadis itu langsung meninggalkan Laras seraya memencet nomor telepon kakak iparnya itu.


Tuuut


Tuuut


Nomor yang anda hubungi sedang berada dalam panggilan yang lain.


"Oh sial!" Vania menggerutu kesal karena setiap ia menghubungi nomor kakak iparnya itu, hanya itu yang muncul pada layar handphonenya.

__ADS_1


Ia pun menghubungi Randu tapi pria itu juga tidak bisa dihubungi.


"Kenapa sih, kalau lagi darurat seperti jatuhnya pada gak bisa nyambung. Sebel"


Sementara itu Galih sedang menyusuri selasar rumah sakit bersama dengan seorang perawat jaga yang kebetulan ia temui di depan rumah sakit.


Perawat itu bernama Ayunda dan bersedia mengantarnya ke ruangan kerja sang pimpinan rumah sakit.


"Dokter Nadia emang biasa lembur sih pak. Emangnya nyonya Pradana itu tidak izin ya," ucap Ayunda dengan mata sekali-sekali melirik kepada sosok tampan di sampingnya itu.


Dalam hati ia berharap bisa mendapatkan pria itu malam ini untuk menemaninya melalui malam panjang nan sepi di rumah sakit ini.


"Gak bilang sih. Mungkin ada keadaan mendesak sampai ia tidak bilang padaku," ucap Galih tanpa melihat ke wajah perawat itu.


Ia terus saja berjalan sampai mereka tiba di depan sebuah ruangan yang bertuliskan direktur rumah sakit.


Galih ingin mendorong pintu ruangan itu tapi Ayunda cepat-cepat meraih handle pintu dan akhirnya tangan mereka berdua saling bertumpukan.


"Biar aku saja pak. Aku tahu kok cara buka nya," ucap Ayunda seraya mengelus lembut tangan besar dan kuat milik Galih.


Oh ya ampun, kuat banget. Pantas saja Nadia lebih memilih Galih Pradana daripada Harry, ternyata aura pria ini memang sangat memikat. Otot-ototnya sangat kuat.


Pikiran kotor Ayunda sudah mulai berkelana kemana-mana.


"Maaf, aku sedang terburu-buru. Dan biarkan aku yang membuka pintunya." Galih segera menepis tangan perawat itu dengan keras.


Ia bukan anak kemarin sore yang tidak akan tahu apa yang diinginkan perempuan itu darinya.


"Terkunci!" Galih memutar handle pintu itu dengan keras dan berulang-ulang tapi tidak bisa karena memang terkunci.


"Aaaaargh!"


Galih berbalik dan melihat Ayunda tiba-tiba saja terjatuh di lantai.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Ada apa dengan Ayunda?


Bagaimana dengan Galih?


Like dan komentarnya dong.


Berikan hadiah juga ya.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2