
Ayunda berusaha untuk memeluk Galih tapi segera di dorong pelan oleh pria itu.
"Maaf, aku tidak biasa bermain di tempat seperti ini. Jadi bagaimana kalau kita cari tempat yang lebih nyaman," ucap Galih dengan alis terangkat.
Ayunda merenggut manja. Ia sangat ingin bermain di ruangan itu hanya untuk menunjukkan kalau ia berhasil mendapatkan suami dari yang punya ruangan.
"Hum, baiklah. Dimanapun aku siap sih, aku udah lama suka sama kamu tahu gak?" ucap perempuan itu seraya menggerakkan jari-jari lentiknya ke arah dada bidang Galih Pradana.
"Silahkan keluar terlebih dahulu, aku yang akan mengunci ruangan ini." Galih memundurkan tubuhnya seraya mengangkat kedua tangannya ke atas.
Pria itu sekali lagi menolak dengan halus. Ia benar-benar tidak ingin membuat keributan di ruangan Nadia malam itu. Dan ya, nama baik istrinya yang perfeksionis itu harus ia jaga dengan baik atau ia tidak akan mendapatkan jatah lagi.
"Baiklah. Aku tunggu di luar." Ayunda mengalah. Ia segera mengancing pakaian bagian depannya dan segera keluar dari ruangan itu.
Galih menarik nafas lega. Pria itu pun menatap kamera yang ada di dalam ruangan itu lama. Ia tahu kalau Nadia menyambungkan alat perekam itu dengan handphonenya.
Istrinya itu pernah bercerita tentang hal ini.
"Nad, kamu dimana?" tanyanya dengan dada sesak. Entah kenapa ia begitu rindu pada istrinya itu padahal belum juga cukup 24 jam.
"Aku rindu padamu," ucapnya seraya menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya. Ia berharap Nadia merespon dengan menelponnya atau mengirimkannya pesan.
Setelah merasa sudah menyampaikan perasaannya, ia kemudian keluar dari sana. Ia menguncinya dan segera pergi bersama dengan Ayunda.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Handphone Galih bergetar di dalam saku jaketnya. Ia pun menghentikan langkahnya saat mereka berdua sudah berada di selasar rumah sakit.
"Kenapa berhenti pak?" tanya Ayunda dengan wajah heran. Ia takut kalau pria itu berubah pikiran.
"Ada telepon." Galih memperlihatkan layar handphonenya yang sedang berkedip-kedip.
"Dari siapa sih? Bisakah kita tidak memperdulikan gangguan dari orang lain dulu?" ucapnya dengan tangan ingin merebut handphone Galih.
Perempuan itu takut kalau rencananya memilki pria tampan dan kaya raya itu jadi batal karena telepon dari dokter Nadia.
"Maaf ya, aku bahkan tidak tahu siapa kamu. Jadi jangan terlalu lancang!" Galih menatap perempuan itu dengan tatapan tajam.
"Oh maaf, maaf, aku hanya tidak ingin ada yang menggangu waktu kita pak," ucap Ayunda dengan senyum meringis.
"Aku akan angkat teleponnya. Dan kamu bisa berjalan lebih dulu ke depan."
Suara Galih sangat tegas dan tak ingin dibantah. Ayunda langsung menciut juga.
__ADS_1
Akan tetapi fantasinya pada pria itu kini semakin melambung saja. Ia suka pria macho seperti itu.
"Ya halo Van," ucapnya saat ia melihat bahwa yang menelponnya adalah Vania, sang adik ipar.
"Assalamualaikum kak," sapa gadis itu dari ujung telepon.
"Waalaikumussalam. Apa kakakmu sudah sampai di rumah?" tanyanya tak sabar. Vania kedengaran menarik nafas. Ia semakin tak sabar saja.
"Vania? Katakan ada apa?"
"Kak Nadia sekarang ada di luar negeri kak. Dan ia sedang tak ingin diganggu." Akhirnya keluar juga informasi yang ingin disampaikan oleh gadis itu.
Untuk beberapa detik Galih tak bisa berbicara. Tenggorokannya tercekat. Berita ini sangat tak diharapkannya.
"Dimana? Negara mana?" tanyanya dengan nada tidak sabar. Ia melihat penanda waktu di pergelangan tangannya. Ia akan menyusul kalau bisa.
"Maaf kak. Ini ada urusan pekerjaan sebenarnya. Kak Nadia sedang ada hal penting yang harus diurus jadi kak Galih tidak perlu khawatir."
"Vania, katakan di negara mana kakakmu pergi!" Galih tak sadar berteriak. Ia tak pernah sekalipun ditinggalkan oleh perempuan seumur hidupnya. Ia merasa harga dirinya sedang dipertaruhkan.
Tuuut
Vania menutup panggilan telepon itu sepihak. Galih berusaha menghubunginya lagi tapi sudah tidak aktif.
"Sial!" Pria itu menendang udara. Ia sangat kesal dan marah saat ini.
"Pak Galih bagaimana dengan rencana kita?" tanyanya seraya mengetuk kaca mobil pria itu.
"Persetan dengan rencanamu itu!" teriak Galih kemudian melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan tempat itu. Ayunda mengerang kesal.
"Sial!" pekiknya dengan suara yang lumayan besar. Beberapa orang yang lalu lalang di sekitar tempat itu langsung memperhatikannya.
"Apa? Mau dapat batu kamu!" teriaknya seperti orang gila. Tak lama kemudian handphonenya berbunyi. Temannya sesama perawat jaga memintanya kembali karena ada pasien yang sedang butuh pertolongan.
"Ih, sial banget sih malam ini," gerutunya dengan bibir cemberut.
Padahal ia sudah membayangkan yang enak-enak akan dilakukannya dengan suami dokter Nadia tetapi kenyataannya jadi zonk seperti ini.
Dengan langkah malas ia kembali ke kamar perawatan di sebelah barat rumah sakit itu untuk kembali bertugas.
Sementara itu, Galih dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah mertuanya. Ia ingin tahu kemana Nadia dan kenapa tidak memberitahunya.
Vania tersentak kaget saat menderita suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Ia langsung mengintip dari balik tirai jendela dan melihat bahwa yang datang adalah kakak iparnya.
"Ma, kak Galih datang. Kita harus bilang apa?"
__ADS_1
Laras hanya tersenyum menenangkan lalu berucap, " Buka pintunya dan persilahkan kakakmu masuk."
"Iya ma," jawab Vania seraya berdiri dari duduknya. Ia harus membuka pintu sebelum Galih merobohkan pintunya.
"Silahkan masuk kak," ucapnya saat ia melihat pria itu siap untuk mengetuk.
"Makasih Van. Mama dan Papa ada gak?" jawabnya dengan sebuah pertanyaan lain.
"Ada kok. Saya panggilkan ya kak," jawab Gadis itu dengan cepat. Ia ingin masuk ke dalam rumah tapi Galih segera menahan langkahnya agar tidak perlu kemana-mana.
"Sebenarnya aku ingin mendengar langsung darimu dimana Nadia berada. Apa ia benar-benar pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan?"
"Duduklah kak. Biarkan mama yang mengatakannya." Vania berucap kemudian segera ke dalam ruang keluarga untuk memanggil kedua orangtuanya.
"Assalamualaikum pa ma," ucap pria itu saat Gazali dan Laras sudah berada di hadapannya. Ia pun langsung mencium punggung tangan keduanya sebagai tanda hormat
"Waalaikumussalam. Duduklah nak." Gazali meminta menantu barunya itu untuk duduk dan mengobrol dengan santai.
"Kami tahu maksud kamu datang kemari. Dan kami memohon maaf karena Nadia pergi ke luar negeri tanpa izin padamu nak." Gazali berucap dengan perasaan tak nyaman.
Pria itu sungguh malu karena putrinya yang sopan dan berpendidikan itu keluar rumah tanpa izin dari suaminya.
"Apa benar apa yang Papa katakan? Err maksud aku, Apakah Nadia benar-benar pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan?"
Gazali dan Laras saling berpandangan kemudian mengangguk.
"Tapi kenapa tidak bilang padaku pa?" tanyanya dengan wajah tak nyaman. Ia merasa sangat kecewa karena istrinya sendiri tidak memberi tahu kalau ia ada pekerjaan di luar negeri.
"Maafkan Nadia nak. Mungkin karena ia takut kamu tidak mengizinkannya. Dan ya, waktunya juga tidak lama. hanya 3 hari."
"Tapi pa, bagaimana kalau aku menyusulnya."
"Jangan! Berikan ia kesempatan untuk bekerja dengan tenang."
"Jadi menurut papa , aku selama ini mengganggu waktunya?" Galih nampak tidak nyaman dengan perkataan sang mertua.
"Tidak. Tentu saja tidak nak. Tunggulah sampai 3 hari, Nadia pergi bersama kepala dinas kesehatan."
Galih terhenyak. Bukankah kepala dinas kesehatan itu adalah Harry Zulkarnain? Seseorang dari masa lalu Nadia?
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentarnya dong.
Hadiah bunga dan kopi bolehlah.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊