
Galih pulang ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sangat bingung dan kecewa dengan sikap Nadia padanya.
Kedua mertuanya juga seakan-akan tidak memberinya jalan untuk bertemu dengan sang istri. Seolah-olah ia mempunyai kesalahan yang sangat besar pada putri pertama mereka.
"Padahal kami baik-baik saja selama sepekan ini, lalu kenapa Nadia berubah drastis seperti itu?" gumamnya dengan perasaan yang sangat bingung.
"Ada apa denganmu Nad, kenapa kamu tidak mengatakan keluhan apapun padaku sayang?" tanyanya lagi seraya mengemudikan mobilnya pulang di keramaian kota malam itu.
"Hanya 3 hari, semoga aku bisa menahan rindu ini Nadia," ucapnya pelan bagaikan bisikan.
Aaaaa, satu hari saja aku sudah kacau begini tanpamu bagaimana kalau 3 hari? Aku menyusul gak ya?
Tapi katanya ia tidak ingin diganggu, okey baiklah. Aku akan mencoba bersabar.
Pria itu terus bermonolog dengan dirinya sendiri sampai tidak sadar kalau mobilnya sudah memasuki gerbang rumahnya yang cukup luas itu.
Sofya menyambutnya di depan pintu dengan wajah kecewa. Ia menunggu kedatangan sang menantu kesayangan tetapi ternyata Galih hanya datang seorang diri.
"Nadia kemana? Kok gak ikut pulang?" tanyanya dengan tatapan lurus pada mata sang putra.
"Lagi ada di luar negeri ma. Ada pekerjaan penting dan mendesak disana." Galih menjawab dengan wajah malas. Ia bahkan langsung meninggalkan mamanya dan langsung menuju kamarnya.
Sofya hanya bisa terbengong-bengong dengan keadaan ini. Akan tetapi melihat keadaan sang putra, ia jadi merasa was-was dan khawatir kalau dua orang itu sedang mempunyai masalah.
Ia pun mengikuti Galih dan memintanya untuk makan malam dulu.
"Aku gak lapar ma. Aku cuma sangat lelah dan mengantuk," ucap pria itu menolak dengan halus.
"Apa kamu makan di luar?"
"Tidak ma, aku hanya tidak ada nafsu makan aja. Maaf ya ma, aku udah ngantuk dan ingin tidur," ucapnya lagi memberi alasan. Sofiya hanya tersenyum kemudian berucap, "Jangan sampai kamu diam-diaman dengan istrimu lebih dari tiga hari. Minta maaflah kalau kamu ada salah."
"Iya ma, makasih banyak."
"Hem," ucap perempuan paruh baya itu kemudian meninggalkan Galih sendirian dalam kamar itu.
Galih pun memandang sekeliling kamarnya. Rasanya ia merasa sangat kesepian. Ia pun meraih handphonenya dan mencoba menelpon istrinya tapi panggilannya tidak terjawab.
__ADS_1
[Ada apa denganmu Nad? Kamu menyiksa aku tahu gak? Tolong, balas pesanku ini. Kalau kamu marah tidak apa-apa yang penting aku tahu aku salah apa]
Pesan itu pun terkirim. Lama ia menunggu balasannya tapi tidak ada. Sampai ia tertidur dan bangun saat pagi tiba, pesan itu nampak tak terbaca pun.
[Nadia sayang, selamat pagi]
Ia pun mengirim pesan lagi. Voice note pun ia coba tapi istrinya sama sekali tidak merespon.
Akhirnya ia berusaha untuk tenang. Mau tidak mau ia harus menunggu perempuan itu pulang setelah urusan pekerjaan itu selesai saja.
Singapura pagi itu.
Nadia menatap dirinya di dalam kaca dengan senyum getir. Kantung matanya tak bisa lagi ia sembunyikan. Semalaman menangis di dalam kamar mandi ia lakukan karena tak ingin ketahuan oleh Clara kalau ia sedang sangat bersedih.
Akan tetapi saat ini ia tidak bisa lagi menyembunyikannya. Ia sudah tampak seperti panda yang sangat menyedihkan.
Ia pun keluar dari kamar mandi setelah mengoleskan krim wajah yang mengandung kafein dan hyaluronic acid agar bisa menyamarkan kesedihannya.
Selain membantu memperlancar aliran darah agar kantung mata kempis, kafein juga membantu mengecilkan pembuluh darah yang melebar sehingga tampilan hitam di kantung mata berkurang.
Sedangkan kandungan hyaluronic acid akan membantu menghidrasi dan melembapkan kulit di area mata sehingga kulit tampak lebih halus dan cerah.
"Ih, kamu terlalu memuji tahu gak?" Nadia tersenyum lebar kemudian mencari pakaian yang akan dipakainya hari ini bertemu dengan orang-orang dari kementerian kesehatan.
"Beneran lho Bu dokter. Kamu itu cantik dan bening banget, pasti pak Pradana sangat mencintai Bu dokter."
"Kamu sudah mandi belum? Ingat lho ya, orang sini itu sangat disiplin dan tepat waktu. Jadi kamu harus cepat-cepat bersiap," ucap Nadia seraya meloloskan jubah mandinya dan memakai pakaiannya di depan Clara.
Ia sudah memakai underwear nya tadi di dalam kamar mandi.
Clara tercekat dengan tampilan Nadia dalam beberapa detik. Seluruh tubuh perempuan cantik itu masih menunjukkan totol-totol keunguan yang sangat banyak dan tampak sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus.
Otaknya langsung traveling kemana-mana. Ia yakin kalau suami dari dokter itu benar-benar sangat ganas di ranjang.
"Hey, kok bengong? Kenapa belum berpakaian juga?" Nadia melambaikan tangannya di depan wajah Clara yang nampak melamun.
"Ah iya Bu dokter. Saya segera mandi," ucap Clara gugup dan segera berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Aneh-aneh saja tuh Clara," ucap Nadia seraya menyisir rambutnya dan berniat mengikatnya tinggi-tinggi.
Akan tetapi lehernya sepertinya belum aman padahal sudah berselang sehari.
Foundation sudah ia berikan tipis-tipis tapi kenyataannya masih juga membekas.
"Dasar maniak! Ngisapnya pakai bibir drakula atau apa? Ini kok bekasnya sampai kayak gini banget ya?" Nadia menatap lagi dirinya di depan kaca yang ada di dalam kamar itu.
Seketika ia ingat dengan gambar tubuh Nara yang sama seperti dirinya.
Perutnya langsung mual bagaikan diaduk-aduk. Ia merasa jadi perempuan yang sangat kotor dan tak punya harga diri yang mau tergoda bujuk rayu pria itu.
Dengan cepat ia mengaduk-aduk tasnya dan berharap ada syal yang bisa ia gunakan untuk menutupi lehernya.
"Aduh gak ada lagi, aku lupa minta Vania membawakannya untukku," gumamnya dengan perasaan kesal.
Ia seorang yang perfeksionis dalam hal penampilan. Dan ia akan sangat malu jika ada yang melihatnya dalam keadaan seperti ini.
"Ada apa Bu dokter? Ada yang bisa saya bantu ya?"
"Syal, kamu punya gak? Aku mau pinjam," ucap perempuan itu dengan nada memaksa.
"Ada Bu dokter. Hijab juga ada, kalau Bu dokter mau," jawab Clara tersenyum lebar. Ia tahu permasalahan dokter cantik itu. Ia pun mengeluarkan beberapa syal dan juga hijab pasmina yang bisa dimulti fungsikan sebagai syal juga.
"Aku ambil yang ini ya Clara," ucap Nadia seraya memakai syal yang berwarna senada dengan pakaiannya sekarang.
Setelah merasa siap, ia pun membuka pintu kamar dan mendapati Harry berdiri di hadapannya dengan membawa sekuntum mawar merah.
"Selamat pagi Nadia Gazali. Selamat ulang tahun!"
"A-apa?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊