
Galih Pradana keluar dari rumah Nana Ninu dengan hati ketar-ketir. Ternyata hari perkiraan lahiran perempuan itu sisa 2 hari lagi. Dan ya, sesuai janjinya ia akan menyerahkan mobil barunya yang berharga ratusan juta itu pada Fardan dengan cuma-cuma jika ia tidak berhasil menikahi seorang gadis.
"Aaargh!" Pria itu mengerang kesal seraya memukul kemudinya.
Pria itu baru merasa kalau ia terlalu sombong dan menggampangkan sebuah masalah. Lalu dimana ia akan mendapatkan seorang calon istri diwaktu mepet seperti ini?
Huffft
Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan berusaha untuk melonggarkan rasa sesak di dadanya.
Aku harus tenang dan berpikir dengan jernih.
Kalau aku mencari calon istri di tempat prostitusi pasti bisa lebih cepat. Mereka pasti banyak yang mau.
Pikir pria itu dengan senyum smirk diwajahnya.
Siapa yang tidak ingin menikah dengannya. Ia pria tampan, lajang, dan tentu saja sangat kaya raya.
Tapi bagaimana dengan mama? Apa penyakit jantung mama tidak akan kambuh melihat istriku nanti?
Oh tidak!
Apa aku harus menghubungi para partner ranjangku selama ini?
Galih tampak berpikir dengan keras.
Tapi oh tidak, perempuan-perempuan itu sudah tak bersegel dan juga sangat membosankan.
Lalu kemana aku harus mencari?
Pria itu menghidupkan mesin mobilnya kemudian meninggalkan rumah Nana Ninu dengan kening mengernyit. Ia masih sangat bingung dengan masalah yang membelitnya saat ini.
"Oh my God. Hari ini aku juga harus mendampingi inspektorat untuk proyek di rumah sakit itu. Waktunya juga begitu mendesak," ucapnya dengan perasaan yang semakin galau dan stress.
Laju mobilnya pun ia tambah untuk segera sampai di rumah sakit. Randu, sekretaris pribadinya harus ia hubungi untuk menyiapkan segala dokumen yang akan diperiksa oleh pegawai inspektorat itu.
Dan ia tinggal kesana untuk mendampingi pegawai inspektorat atas proyek yang ia kerjakan di rumah sakit itu.
Semoga saja semuanya lancar hari ini hingga aku bisa mendapatkan gadis baik-baik yang akan jadi istriku.
Ujarnya membatin.
🌹
Sejak kepergian Harry dari rumahnya, Nadia hanya bisa mondar-mandir cantik di dalam kamarnya. Ia bingung. Ia menggigit lidahnya karena telah salah bicara kalau ia sudah mempunyai calon suami untuk menggantikan posisi Harry.
__ADS_1
Padahal yang sebenarnya adalah tidak.
Ia tidak punya gambaran seorang calon pun yang bisa ia jadikan suami dalam waktu dekat.
"Kak, sibuk gak?" tanya Vania yang tiba-tiba nongol di depan pintu kamarnya.
"Sibuk!"
"Ish! Sibuk apaan?!"
"Keluar kamu dan jangan ganggu aku!" Ia menatap adiknya itu dengan tatapan tajam. Kepalanya saat ini sedang pusing dan butuh solusi. Ia tidak mau meladeni gangguan dari siapapun itu dan sekecil apapun.
"Kak, aku mau ke rumah sakit."
"Pergi saja."
"Pengen diantar."
"Ya ampun. Kamu semakin menjadi ya, kamu kan punya motor. Lalu kenapa aku harus mengantarmu?" Nadia menatap sang adik seraya meremas udara dihadapannya.
"Katanya kakak ada pasien hari ini, kok lupa."
"Ah ya astaghfirullah. Iya ada pasien yang sudah aku janji untuk bertemu siang ini. Oh ya ampun kok aku bisa lupa ya?" Nadia langsung berlari ke kamar mandi untuk mandi yang kedua kalinya.
Setelah berdandan sangat cantik dan segar ia pun ke rumah sakit bersama dengan Vania sang adik.
"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanyanya setelah mereka sampai di depan rumah sakit itu.
"Anu kak, itu ada kak Randu."
"Randu siapa?"
"Senior aku di teknik bangunan. Aku mau nemenin dia yang lagi ada kerjaan di tempat ini." Vania menjawab dengan senyum meringis.
"Sejak kapan kamu kenal dia? Kamu pacaran ya?" Nadia menatap sang adik dengan tatapan menyelidik.
"Ah tidak kak. Kami cuman deket sebagai teman. Cuma dia orangnya baik banget, suka bantuin kalau lagi ada tugas."
"Hati-hati kamu sama laki-laki. Mereka itu banyak maunya kalau lagi ada maunya. Jadi jangan gampang percaya." Nadia membuka seat belt nya dan bersiap untuk turun dari mobilnya.
"Ayo turun. Kalau kamu udah selesai, kembali ke ruangan ku. Kamu gak boleh berdua dengan pria itu lebih dari 2 jam mengerti?"
"Iya kak aku mengerti. Tapi kalau kak Randu belum selesai gimana?"
"Tinggalkan saja. Dia kan bukan pacar kamu. Dia baru teman. Sudah, sekarang turun. Aku ada pekerjaan penting." Nadia langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana. Vania ikut turun dan mengikuti kakaknya.
__ADS_1
"Kak, gak apa-apa 'kan kalau aku makan siang sama kak Randu?" Vania memanggil dokter cantik itu lagi setelah mereka mengambil arah masing-masing.
Nadia berbalik dan menatap adiknya itu dengan tatapan yang mulai kesal dan tak sabar. Ia takut adiknya yang masih muda itu terlalu naif pada yang namanya pria.
"Kamu harus ke ruangan aku bersama pria itu. Kita akan makan siang bersama. Dan ingat. Tak ada debat."
Nadia tak ingin lagi berlama-lama. Ia punya pasien yang ingin berkonsultasi dengannya secara pribadi.
Vania tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya ke arah belakang rumah sakit. Di tempat itu proyek pembangunan beberapa ruangan dikerjakan. Dan Randu adalah salah satu pengembangnya.
Vania terpaku dan nampak terpesona melihat pria tampan yang sempat ia kagumi itu ternyata sedang berdiskusi dengan Randu. Dadanya berdebar bahagia. Kalau ia boleh memilih, ia lebih suka pria yang sedikit dewasa itu daripada Randu.
"Van? Udah lama?" tanya Randu yang kebetulan melihatnya hanya bengong saja.
"Ah tidak kak. Aku baru datang kok." Vania menjawab dengan senyum diwajahnya. Ia pun melangkah mendekati dua pria tampan itu.
"Hai pak, masih ingat aku gak?" sapanya pada Galih yang juga sedang menatapnya.
"Oh hai. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Galih dengan mata memicing.
"Oh, udah lupa ya? Aku yang bersama dengan Kak Nadia di jalan menuju kampus waktu itu. Yang mobilnya bapak bantuin." Galih mengernyit masih tampak bingung.
"Yang sepupunya kak Asma, ingat gak waktu pesta lamaran dan nikahannya." Vania berusaha mengingatkan.
"Oh yang punya kakak judes dan suka marah-marah itu ya?" Galih sudah mulai mengingat.
Dan yang ada di kepalanya adalah Nadia yang cantik tapi menyebalkan. Perempuan itu tak lebih seperti Nana Ninu.
"Hahaha, jadi kakak ingat sama kakakku saja? Hum bagus juga. Kalian memang aneh hahaha." Vania tak sadar kalau terlalu banyak tertawa.
"Van!" tegur Randu dengan wajah tak nyaman. Gadis yang diam-diam ia sukai itu sepertinya sedang cari-cari perhatian pada Galih sang bos.
"UPS maaf." Vania menutup mulutnya karena baru sadar kalau ia sudah bertingkah berlebihan.
"Dimana kakakmu?" tanya Galih dengan tatapan lurus pada gadis itu.
"Eh?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1