Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 6 Sarang Ular Berkepala Dua


__ADS_3

"Jadi boleh aku minta DP?" tanya Galih seraya meremass dua bukit kembar yang masih sangat kenyal dan sintal itu.


Nana Ninu tersenyum dan mengangguk. Ia mulai merasakan gelenyar aneh menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Sedangkan Galih tetap berusaha mempertahankan kewarasannya.


Ia sangat tahu kalau ia mulai tertarik pada perempuan ular berkepala dua ini tapi ia masih berusaha untuk menstimulasi otaknya agar tidak jatuh ke dalam sarangnya yang sangat berbahaya ini.


"Mass, lakukanlah," ucap Nana Ninu dengan tatapan memohon. Rupanya gadis itu sudah mulai mengakui kehebatan tangan pria itu yang bergerak sangat indah dan lembut pada tubuhnya yang sangat seksih.


Galih terpancing, ia mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Nana tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Entah kenapa sekelebat bayangan seseorang menghalangi niatnya.


Ia pun menarik nafas dalam-dalam kemudian memundurkan tubuhnya. Ia harus waras sekarang. Selama ini ia yang selalu mempermainkan perempuan dan tak pernah kalah. Dan sekarang ia pun tak mau kalah pada perempuan jahat ini. Tangannya yang bergerak lembut dan berirama pada bukit sintal itu ia lepaskan.


"Mas Galih kenapa?" tanya Nana Ninu dengan wajah bingung. Ada perasaan kecewa yang ia rasakan dari dalam hatinya. Ia sungguh tak pernah ditolak seperti ini oleh semua pria manapun yang pernah menjadi partner ranjangnya.


"Apa aku tidak menarik?" tanya Nana dengan tangan mengelus miliknya untuk menggoda Galih Pradana yang ia tahu akan bisa menjadi batu loncatan untuknya mendapatkan sang walikota.


"Ah tidak. Aku menyukaimu Na. Akan tetapi aku ingin hanya aku yang memilikimu. Jangan lagi kamu memikirkan tentang Pak Usman apalagi ingin merebut suami dari sahabatmu."


"Hemmm, akan aku pikirkan itu mas Galih. Jadi bagaimana dengan DPnya? Apakah kamu tidak ingin mengambilnya sekarang saja?" tanya Nana Ninu dengan tatapan yang masih sama. Ia memancing pria itu untuk menjamahnya lagi dan lagi.


Galih tersenyum. Ia sangat menginginkannya tetapi hati kecilnya selalu memberinya tanda sinyal bahaya.


"Hum, baiklah. Kalau kamu gak mau aku tidak akan memaksamu. Aku sudah memberimu Depe, jadi berikan aku akses untuk bertemu dengan walikota secara pribadi." Nana Ninu pun menutup tubuhnya yang sudah terbuka setengah itu dengan tatapan tajam pada Galih.


"Aku menyukaimu Na. Kita bisa hidup bahagia bersama. Jadi kumohon untuk tidak memikirkan suami orang lain."


"Cih! Aku menginginkan walikota itu. Aku ingin menjadi istrinya meskipun menjadi simpanan saja."

__ADS_1


"Oh ya ampun tapi untuk apa? Kamu mau uang? Aku bisa memberimu uang asalkan tidak kamu ganggu keluarga mereka." Nana Ninu tersenyum mencibir. Ia menghampiri Galih kemudian duduk dipangkuan pria tampan itu.


"Aku ingin memilki semua yang dimiliki oleh Laura. Aku ingin suaminya yang tampan itu karena aku juga ingin merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan Laura," ucap Nana Ninu seraya mengecup lembut rahang bawah Galih Pradana. Perempuan itu benar-benar bagaikan ular piton yang sangat licin dan berbahaya.


Galih menutup matanya dan kembali merasakan sensasi nikmat dari sentuhan-sentuhan gadis itu. Akan tetapi sebuah alarm seolah-olah kembali mengingatkannya akan sebuah bahaya besar. Ia pun menurunkan tubuh seksih gadis itu dari pangkuan nya.


"Mari kita menikah Na, aku suka padamu."


"Oh tidak. Kamu tidak mempunyai nilai jual yang bagus mas Galih. Aku lebih menginginkan sang walikota daripada dirimu, mengerti?"


Nana pun berlalu pergi dari hadapan Galih Pradana. Perempuan itu benar-benar telah berhasil mengaduk-aduk emosinya.


"Aaargh! Ada apa denganku?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun segera ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar segera kembali waras.


"Dasar perempuan ular tapi kenapa aku ingin memilikinya?!"


🌹🌹🌹


Galih tidak perduli dengan teguran pengacara handal itu. Saat ini ia sedang sangat stres. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia ditolak ditolak oleh seorang perempuan. Dan orang itu hanyalah seorang penyanyi panggung biasa.


Baru kali ini ia mengalami hal yang sangat menyakitkan selama karirnya menjadi seorang Casanova kota X. Ia merasa sangat kesal dan malu.


"Kamu udah jadian dengan si Nana itu?" tanya pria itu lagi karena Galih hanya diam saja dan nampak sangat sibuk menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Gadis itu menolak ku Dan. Katanya aku bukanlah sosok yang cocok untuknya. Katanya aku ini gak punya nilai jual. Dan Ia menginginkan pria yang lebih daripada aku." Galih menyebutkan semua alasan yang digunakan Nana Ninu untuk menolaknya.


"Ah yang benar kamu? Gadis itu berani ngomong seperti itu?" Fardan nampak sangat kaget dengan apa yang ia dengar dari Galih. Sungguh berani si Nana Ninu menolak seorang Casanova tampan seperti Galih Pradana.

__ADS_1


Di kota ini siapa yang tidak kenal Galih Pradana. Ia seorang pengusaha muda yang terkenal mempunyai banyak harta dan kekayaan yang tersebar di kota itu.


"Dan satu hal yang membuatku tak percaya adalah gadis itu menginginkan Pak Walikota Dan. Bayangkan! Ia ingin merebut pak Usman Ali Kemal, suami dari sahabatnya sendiri. Benar-benar gadis sialan!" Galih mengumpat dengan sangat keras karena emosi.


"Sungguh, aku tidak pernah melihat ada seorang perempuan yang berani berkata seperti itu untuk merebut apa yang dimiliki oleh sahabatnya sendiri. Benar-benar perempuan tidak tahu malu!" Galih memukul meja dihadapannya dengan sangat keras karena emosi dari dalam hatinya.


"Kamu tidak usah marah seperti itu Lih. Bersyukurlah karena Tuhan telah menunjukkan kebenaran untukmu sebelum kamu benar-benar telah dibuat gila oleh perempuan itu. Mungkin saja ia tidak cocok buatmu." Galih menatap Fardan kemudian menginjak ujung rokoknya dengan ujung sepatunya.


"Kamu tahu gak? Kalau gadis itu kan sebenarnya simpanan para pejabat. Jadi harusnya kamu bersyukur karena ia menolakmu. Uangmu aman dan tentu saja perasaanmu juga aman."


"Tapi aku menginginkannya Dan. Dan Entah kenapa aku terobsesi sekali padanya." Meskipun kesal pria itu tetap saja masih menginginkan gadis yang katanya sialan itu.


"Oh ya ampun. Ada banyak gadis diluar sana yang masih murni tak terjamah yang pastinya menunggumu. Lalu kenapa kamu menginginkan gadis maaf "Sampah"dan tidak cocok denganmu itu!" Fardan sudah tampak emosi juga dibuatnya.


"Entah lah Dan. Aku tidak tahu. Yang aku tahu aku menyukainya dan ingin sekali memilikinya." Galih meraih kembali bungkus rokoknya yang tersedia diatas meja di hadapannya.


"Cukup! Jangan merokok lagi. Itu bisa membuatmu sakit." Fardan langsung melempar bungkusan rokok itu ke tempat sampah agar pria itu tidak menjadikan rokok sebagai obat dari masalahnya.


"Apakah ini yang namanya na*fsu yang tak terkendali?!" tanya Fardan pada dirinya sendiri.


Setelah itu ia menggeleng-gelengkan kepalanya bingung dengan apa yang menimpa sang sahabat.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2