
"Nadia!'
Galih berteriak keras dan langsung bangun. Ia membuka matanya dan mengedarkan pandangannya berkeliling mencari-cari istrinya.
Sofyia dan Vania yang sudah sempat tertidur tersentak kaget. Mereka juga langsung bangun dari posisi mereka.
"Ayang, aku ada disini," ucap Nadia seraya mengelus lembut punggung suaminya. Galih menatapnya tak percaya.
Untuk beberapa detik, mereka saling bertatapan. Nadia tersenyum.
"Nad, kamu beneran ada di sini?" tanyanya dengan wajah yang masih tak percaya.
Tangannya sampai menyentuh wajah istrinya dengan sangat lembut. Mengelusnya dengan penuh perasaan. Sungguh, ia yang masih tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.
"Na Nad, kamu beneran ada di sini sayang?" tanyanya lagi dengan senyum khasnya. Wajahnya yang pucat tidak mengurangi ketampanannya.
"Iya ayang, aku ada disini," jawab Nadia dengan balas tersenyum.
"Aku tidak sedang bermimpi 'kan?" tanyanya lagi dengan merajuk manja. Ia sampai menitikkan air matanya karena berharap ini benar-benar nyata.
"Nadia? Kamu datang nak?" tanya Sofiya ikut bergabung dengan kedua orang yang saling merindukan itu.
"Iya ma. Maafkan aku," ucap Nadia seraya turun dari ranjang itu dan memeluk tubuh sang mama mertua.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak. Mama tahu ini bukan salahmu. Ini pasti kesalahan suamimu." Sofya balas memeluk menantu kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Galih, kamu tidak bermimpi. Istrimu datang melihatmu," lanjut perempuan paruh baya itu seraya memandang sang putra.
Galih tersenyum kemudian meraih Nadia ke dalam pelukannya.
"Terimakasih banyak Nad, kamu tidak meninggalkan aku sayang," ucapnya dengan wajah yang berubah cerah.
Tubuhnya yang terasa panas dan lemas beberapa saat yang lalu kini kembali sehat.
"Aku senang sekali sayang. Lihatlah, aku sekarang jadi sehat kembali."
"Kamu benar-benar dokter cinta untukku iyyakan ma?" ucapnya lagi seraya meminta pendapat namanya.
Hum, cinta. Begitu banyak rasa yang bisa terjadi karena kata sakti itu.
Yang waras bisa jadi sakit dan yang sakit bisa langsung sembuh.
"Itu betul sekali nak. Nadia adalah obat penawar dari rindumu. Mama juga sangat senang karena kalian bisa bertemu lagi. Semoga kedepannya kalian bisa lebih dewasa dan mampu saling berkomunikasi dengan baik."
"Iya ma insyaallah," ucap Galih dan Nadia bersamaan.
"Lanjutkan memadu rindunya, mama mau tidur kembali. Kalian berdua membuat mama kaget," ucap Sofya dengan senyum diwajahnya.
__ADS_1
"Maafkan kami ma." Dua orang suami istri itu kembali mengucapkan kalimat yang sama dengan kompak.
Setelah itu mereka saling bertatapan kemudian saling menyentuhkan bibir mereka lagi, singkat dan lembut tanpa ada nafsu didalamnya.
Sofyia dan Vania hanya berdecak kemudian menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian mereka berdua menguap dan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
"Sayang, aku bahagia sekali," ucap Galih dengan tatapan lurus kedalam mata Nadia.
"Gak usah bahagia dulu, aku masih tetap butuh penjelasan darimu tentang banyak hal," ucap Nadia tegas.
Senyum Galih langsung luntur. Ia tiba-tiba merasakan sebuah perasaan tak nyaman di dalam dadanya.
"Gak apa sayang, aku siap menjelaskan apa saja yang kamu inginkan tapi..."
"Tapi apa?" tanya Nadia khawatir. Ia jadi was-was sendiri jika saja suaminya akan mengatakan hal yang sangat ditakutkannya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1
Jangan lupa kirim bunga dong ðŸ¤