Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 60 Lega Dan Bahagia


__ADS_3

"Tapi apa?" tanya Nadia penasaran. Galih tersenyum kemudian menyentuh wajah sang istri.


"Aku lapar. Aku mau makan dulu, boleh ya sayang?"


"Lapar? Hanya itu?"' Nadia melotot tak percaya.


"Iya. Aku belum pernah makan apapun sejak masuk rumah sakit. Aku gak ada nafsu sama sekali. Tapi sekarang aku udah punya nafsu semuanya," ucap sang suami seraya mengedipkan matanya sebelah.


"Hum, baiklah. Aku akan cari makanan, semoga ibu ada menyimpan makanan untukmu," ucap Nadia seraya turun dari ranjang sang suami.


"Eh, aku mau minum sebentar saja, dari bibir kamu Nad," pinta Galih dengan manjanya. Nadia tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami.


Ia memberikan bibirnya untuk dilumatt oleh pria itu. Galih benar-benar sangat senang sampai suhu tubuhnya kembali normal. Mereka saling memagut dengan penuh perasaan.


"Udah ya, aku akan ambilkan makanan untukmu," ucapnya setelah tautan bibir mereka terlepas. Galih hanya tersenyum. Ia pun mengizinkan sang istri untuk mengambilkannya makanan.


Nadia membuka lemari pendingin kemudian mengambil semangkuk bubur untuk pasien yang sepertinya belum disentuh sama sekali. Ia pun memanaskannya sebentar dengan menggunakan sebuah rice cooker mini yang sudah disiapkan oleh mama mertuanya dari rumah.


Setelah semuanya siap, ia pun menghampiri Galih dan menyuapkan bubur itu dengan perasaan haru dan bahagia.


Entahlah, tapi baru kali ini ia merasa sebagai seorang istri yang seutuhnya. Selama ini ia merasa sebagai istri di atas ranjang saja.


Mereka tak seperti suami istri lain yang beraktivitas normal.


Tak banyak komunikasi yang mereka lakukan untuk saling terbuka di setiap masalah jadinya mereka hanya terfokus pada hal-hal yang berbau menyenangkan saja.


"Alhamdulillah udah kenyang, makasih banyak Nad," ucap Galih saat isi mangkuk bubur itu sudah habis.


"Alhamdulillah ayang, udah lebih baik dong perasaannya sekarang," ucap Nadia seraya membersihkan sisa makanan pada bibir sang suami dengan menggunakan tissue.


"Iya, pokoknya kalau ada kamu semuanya udah baik. Aku jadi merasa lebih sehat sekarang," ucap Galih tersenyum.


Perasaannya benar-benar sangat lega. Ia merasa lebih hidup dan bersemangat lagi. Nadia pun naik diatas ranjang suaminya dan memeluknya. Ia menguap dan ingin tidur dulu meskipun sedikit lagi pagi datang.


Untuk sementara mereka tidak ingin membahas masalah mereka selama ini, Nadia hanya ingin tidur dan beristirahat.

__ADS_1


"Ayang, aku tidur di sini ya, udah ngantuk banget aku."


"Ah ya, tidurlah sayang. Aku juga ingin tidur lagi." Galih menjawab seraya membalas pelukan sang istri.


🌹


Sofiya menatap pemandangan di hadapannya dengan hati lega. Pikirnya semalam ia hanya bermimpi tapi kenyataannya tidak. Galih dan Nadia masih berpelukan di atas ranjang rumah sakit itu padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Ingin ia untuk tidak membangunkan mereka karena rasa kasihan tapi karena mereka belum sholat subuh maka terpaksa juga ia meminta mereka berdua untuk bangun.


"Nadia," panggilnya dengan suara pelan agar perempuan itu tidak kaget. Ia menyentuh lengan sang menantu dengan sangat lembut.


Nadia membuka matanya kemudian meregangkan otot-ototnya.


"Mama ada apa?" tanyanya dengan wajah yang masih sangat mengantuk.


"Selamat pagi," ucap Shofia tersenyum. Nadia membalasnya dengan tersenyum pula. Sepertinya ia belum sadar betul dengan apa yang sedang terjadi.


"Kamu bangun dulu sayang, sholat subuh terlebih dahulu kemudian kamu bisa lanjutkan tidurmu," ucap sang mertua. Nadia memandang suaminya yang ternyata ikut terbangun.


Sofiya hanya tersenyum kemudian menatap Galih.


"Gimana kondisimu sayang? Udah baikan ya?" tanyanya.


"Alhamdulillah ma. Rasanya sudah sangat lebih baik saat ini."


"Syukurlah, nanti kalau kamu udah sembuh betul. Kamu harus mengganti waktu sholat yang selama ini kamu tinggalkan."


"Insyaallah ma. Sekarang pun aku sebenarnya sudah bisa sholat kok. Aku sudah lebih baik dan juga sehat."


"Syukurlah. Nadia benar-benar telah menjadi penawar dari penyakitmu."


"Iya ma."


"Dan usahakan untuk selalu berkomunikasi dalam segala hal," ucap Sofiya dengan wajah serius.

__ADS_1


"Iya ma, insyaallah."


"Mama bawa alat sholat 'kan? Aku bisa pinjam gak ma?" Nadia yang sudah siap untuk sholat langsung saja menghampiri dua orang yang saling mengobrol itu.


"Iya sayang. Ada di lemari sana. Mama juga sholat di tempat itu kok," jawab Shofia seraya menunjuk pojok ruangan.


"Makasih ma. Eh, Vania udah sholat belum?"


"Udah dong kak." Vania menjawab dengan senyum diwajahnya.


Nadia pun segera memasang mukena sang mama mertua kemudian melaksanakan sholat dua rakaat.


Sementara itu, Galih hanya memandang istrinya dari jauh. Ia juga ingin membersihkan dirinya kemudian melakukan hal yang sama. Selama hampir 24 jam dalam keadaan demam membuatnya meninggalkan beberapa waktu sholat.


"Ayang mau apa?" tanya Nadia setelah selesai sholat.


"Mau bersih-bersih sayang. Aku udah lebih sehat sekarang dan aku ingin sholat juga."


"Boleh, sini aku bantuin ke kamar mandi," ucap Nadia seraya menutup saluran botol infus pada tangan suaminya.


"Gak ngerepotin nih?" tanya Galih menggoda.


"Gak ayang. Ayo buruan. Keburu pagi dan gak dapat sholat subuh," ucap Nadia seraya membantu sang suami ke arah kamar mandi.


"Van, kamu bisa lihat sendiri kekuatan cinta yang mereka miliki," ucap Sofiya kepada Vania yang sedang menjadi penonton keromantisan Nadia dan Galih.


"Iya tante, semoga keluarga mereka awet dan selalu seperti itu, soalnya kita semua ikut-ikutan lelah dengan tingkah mereka, hehehehe," balas Vania terkekeh.


Sofiya pun ikut terkekeh. Ia membenarkan perkataan Vania.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2