
Galih Pradana melangkahkan kakinya ke arah ruang kerja Nadia atas petunjuk Vania. Ia tidak tahu kenapa ia tertarik mengajak gadis itu untuk bekerjasama.
Dan ya, ia juga baru tahu kalau perempuan itu adalah seorang dokter di rumah sakit ini. Jadi kalaupun Nadia sejenis kupu-kupu malam seperti Nana Ninu setidaknya ia lebih punya prestise tersendiri.
Nadia seorang dokter penyakit dalam. Catat itu!
Ingat, catat itu!
Nadia lebih berkelas dibandingkan para perempuan nackal yang pernah ia lihat dan sentuh. Tepatnya adalah ia permainkan.
Galih mengetuk pintu ruangan dokter itu dengan pelan dan tidak sabaran. Eh, maksudnya bagaimana thor. Ah entahlah.
"Siapa sih?" Nadia melihat ke arah pintu tapi ia tidak berniat untuk membukanya. Ia sedang mager dan lebih ingin bermain handphone untuk mencari calon suami untuknya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar pintu diketuk lagi dari luar.
"Masuk aja gak dikunci kok."
Nadia berteriak lumayan lumayan keras. Galih tersenyum. Ia pun mendorong pintu ruangan itu dari luar.
"Hah kamu? Ngapain kamu kesini?" Perempuan itu langsung berdiri dari duduknya karena kaget. Ia juga sampai menyimpan handphone di atas meja kerjanya. Ia waspada.
Pria ini adalah pria mesum dan pernah berhasil menyentuh pinggangnya dengan sangat tidak sopan.
"Boleh aku duduk disini dokter?" pinta Galih dengan senyum mautnya.
Permintaannya itu hanya basa-basi karena sebelum dipersilahkan ia sudah langsung mendudukkan tubuhnya diatas kursi dihadapan Nadia.
"Apa kamu tidak salah masuk ruangan?" tanya Nadia dengan mata memicing. Ia benar-benar sangat khawatir dengan kedatangan pria itu ke tempatnya.
"Tidak. Aku mencari seorang dokter cantik bernama dr. Nadia Gazali. Ruangannya yang ini 'kan?" Galih menatap Nadia berusaha mengirim ilmu hipnotisnya.
Sebuah tatapan yang mampu membuat semua perempuan meleleh.
Nadia mendengus, dasar mesum! ujarnya dalam hati.
"Aku Nadia Gazali. Ada apa? Katakan apa maumu dan segera keluar dari ruangan ini kalau tidak penting." Dagu cantik itu terangkat. Dan Galih sangat suka itu.
"Aku tidak punya waktu. Ada hal yang harus aku kerjakan sekarang."
Galih melirik handphone dokter cantik itu dan melihat pada layar sebuah kata kunci dalam mesin pencarian dan langsung membuatnya tertawa dalam hati.
Calon suami idaman, CK!
__ADS_1
11 12 dengan Nana Ninu dan sedang mencari calon suami idaman. Apa kata dunia.
"Oh oh oh, jangan terlalu kejam pada pasien ini dokter. Aku sedang tidak baik-baik saja dan sekarang butuh seorang dokter."
Galih dengan cepat menyentuh dadanya dan berpura-pura sedang mengeluhkan penyakit yg sangat berbahaya.
Nadia bertolak pinggang. Ia tidak percaya.
"Cih!" Pura-pura sakit untuk membohongi seorang dokter? Hebat benar!"
"Kamu tidak percaya dokter? Aku benar-benar sedang sakit dan butuh bantuan."
"Pelayanan udah tutup. Dan lagi kalau sakit harus registrasi dulu trus berkunjung ke poly yang ada di depan. Maaf, tempatnya bukan disini."
Nadia meraih kembali handphonenya kemudian duduk dengan santai kembali. Galih semakin tertantang. Hanya perempuan ini yang berani menolak pesonanya.
"Aku tahu kalau kamu sedang butuh suami sekarang," ucap pria itu seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia tempati.
Eh?
Pria itu berhasil menangkap ekspresi kaget dari dokter cantik tapi sangat judes itu.
Ia menatap lurus kedalam mata indah Nadia yang tampak bergerak-gerak. Ia tahu kalau perempuan itu nampak gelisah karena ketahuan.
"Sembarangan! Kalau ngomong itu jangan lupa bernafas. Kamu pikir aku ini perawan tua dan tidak laku sampai santer banget mau cari suami!" Nadia mencibir. Ia pun ikut bersandar seperti yang dilakukan oleh pria itu.
Eh?
Nadia kembali tampak kaget tapi ia berusaha untuk santai dan tidak terpengaruh.
"Mau gak kamu bantuin aku?"
Kali ini Galih menurunkan ego-nya. Ia harus mendapatkan dokter cantik ini agar tidak lagi diledek terus oleh teman-temannya.
Kalau ada yang bilang ikut-ikutan, tak masalah buatnya.
Kuping pria itu sudah sangat panas dan merah jika mama dan yang lainnya menanyakan tentang pernikahan yang ia sendiri tidak inginkan.
"Boleh aku mengulangi pertanyaan aku dokter?" tanyanya lagi karena Nadia sepertinya tidak mendengar pertanyaannya.
"Eh? Apa? Pertanyaan yang mana?" Nadia gelagapan sendiri.
"Boleh aku meminta kamu menjadi istriku?" tanya Galih gamblang.
"Maksudnya, kamu sedang melamar aku?" Nadia menegakkan punggungnya.
"Yah, begitulah." Galih tersenyum.
"Cih! Kamu pikir aku ini perempuan tak laku? Gak! Aku tidak mau meskipun sisa kamu pria di dunia ini." Nadia berdecih.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Galih berusaha tetap tenang.
"Ya, karena aku gak suka sama kamu. Dan juga kamu pria yang sangat tidak sopan yang pernah aku kenal."
Ujung bibir Nadia terangkat. Meskipun ia sangat butuh suami sekarang ini, ia juga tidak ingin asal memilih. Bisa-bisa ia akan cepat tua jika hidup seatap dengan pria resek seperti itu. Bahagia kagak menderita iyya.
"Aku yakin kamu akan suka padaku."
"Kalau tidak?"
"Kamu pasti akan suka padaku."
"Kalau tetap tidak?"
"Kita akan berpisah dan cari jalan masing-masing."
"Pernikahan apa itu?!" Nadia kembali mencibir.
Galih ikut menegakkan punggungnya kemudian memajukan dadanya ke sisi meja yang menghalangi mereka berdua.
"Aku akan membayar kamu sangat mahal untuk pernikahan ini," ujarnya dengan hitung-hitungan bisnis dan harga diri yang ia punya.
"Keluar kamu! Kamu pikir aku ini perempuan apa an hah?" Nadia menunjuk pintu depan jari telunjuknya. Ia benar-benar sangat marah saat ini.
"Hey ada apa?! Aku hanya memberi satu penawaran yang sangat menguntungkan!" Galih tidak terima jika diusir dengan sangat tidak terhormat seperti ini.
"Tidak! Aku bilang tidak. Aku perempuan mandiri, cantik, dan menarik dengan karir bagus. Aku tak sudi menikah dengan pria resek dan sok kaya seperti kamu." Nadia menunjuk pria itu dengan dagunya.
Galih tersenyum, entah kenapa ia sangat terobsesi dengan dagu perempuan itu.
"Dan ingat. Aku bisa mencari pria lain yang mempunyai niat yang tulus dan ikhlas menikah denganku."
"Hey! Kamu pikir aku ini tidak ikhlas?!" Galih kembali menjawab.
"Heleh sudah sana. Cari perempuan lain yang lebih cocok denganmu!" Sekali lagi Nadia mengusir pria itu agar segera pergi dari ruangan itu.
Galih pun berdiri dari duduknya. Ia menatap Nadia dengan tatapan lurus kedalam mata indah perempuan itu.
"Kamu pasti akan menerimaku kurang dari satu jam."
"Hah? Ngimpi!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1