Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 21 Kecupan Di Bahu


__ADS_3

"Hati-hati ya kalian," ucap Usman dengan senyum simpulnya. Galih tersenyum sedangkan Nadia mendengus.


"Mas, kok bilangnya hati-hati." Laura protes.


"Lah, malam pertama memang harus hati-hati. Gak kayak kita dulu," balas Usman berniat menggoda sang pengantin baru.


"Ya ampun. Mau ngingetin kalau kamu itu sangat menyebalkan, iyya mas!" Laura melotot sedangkan Usman hanya tersenyum lebar.


"Jangan tiru kami. Kalian menikah karena mau sama mau, bukan paksaan, eh." Usman langsung menghentikan ucapnya. Ia khawatir istrinya akan tersinggung lagi.


"Ya udahlah. Semoga bahagia. Kami mau pulang. Pelan-pelan saja Lih, Nadia itu sangat istimewa. Ia sepupu kesayangan. Jangan sakiti dia sampai berdarah," ujar Usman santai. Dan alhasil langsung membuat semua orang terdiam.


Krik


Krik


Diam, sepi.


Galih langsung tertawa.


"Hahaha, pergi sana pak Wali. Bikin adek baru untuk Baby Haidar. Aku mau ngamar dengan istriku yang cantik ini." Galih mendorong tubuh Usman agar segera pergi dari depan kamar istrinya.


"Nad, hati-hati," ujar Laura ikut-ikutan. Nadia langsung mendengus kembali. Ia begitu heran dengan otak mesum orang-orang ini. Ia langsung memasuki kamarnya dengan menghentakkan kakinya.


Usman dan Laura mengangkat bahu kemudian saling berbisik, "Nadia belum tahu aja rasanya. Kalau udah tahu pasti gak mau keluar kamar hihihi." Mereka berdua cekikikan.


"Bisik-bisik apa? Ayo pak wali bisa pulang. Pintu rumah udah mau ditutup." Galih menatap pasangan suami istri itu dengan wajah curiga.

__ADS_1


"Iya kami pulang." Usman langsung meraih pinggang ramping istrinya dan membawanya keluar dari ruang itu.


Galih bernafas lega, ia pun ingin segera masuk ke kamar istrinya itu. Ya, saat ini ia sedang berada di rumah orang tua Nadia. Membuka pintu kamar yang baru pertama kali dimasukinya itu, ia lumayan deg-degan juga.


Matanya memandang ke sekeliling ruangan.


Kamarnya luas dan juga sangat rapih. Ia pun masuk ke dalam ruangan bernuansa pastel itu dengan hati-hati.


Ia tahu sifat Nadia yang tidak pernah memberinya wajah ramah. Jadi perkataan Usman tentang kata hati-hati itu sepertinya ditujukan untuknya.


Nadia bisa saja menggigitnya ditempat yang tidak pas. Dan ia takut akan berdarah. Hehehe, Galih tertawa sendiri membayangkan nya


Sepi.


Kamar itu kosong. Nadia tidak ada di dalam ruangan itu. Mungkin lagi di kamar mandi, begitu pikirnya.


Ia pun segera mengambil pakaian gantinya yang ia siapkan di dalam sebuah koper kecil yang baru diantarkan oleh Randu.


Duduk di pinggir ranjang, ia menunggu sang pemilik kamar keluar dari kamar mandi.


"Rapih banget nih kamar. Semua benda berada pada tempatnya masing-masing. Apa memang kalau seorang dokter seperti ini ya?" ujarnya pelan.


Karena ia tidak tahu apa yang harus dikerjakannya ia pun membuka handphonenya. Ia ingin tahu kabar dunia seharian ini yang luput ia cari karena kesibukannya menikah.


Eh, menikah? Bukankah ia menikahi Nadia hanya karena ikut-ikutan sama dua sahabatnya yang sudah melakukan ini terlebih dahulu?


Dan aroma sabun yang sangat harum cukup membuyarkan lamunannya. Hidungnya mengendus dengan cepat dan membawanya ke se sosok gadis cantik di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


Ia tak sadar akan mata elangnya berada pada satu titik yang sama dengan mata indah dokter cantik itu.


Masya Allah cantik sekali, ujarnya membatin. Kulit putih mulus yang sangat bening. Tanpa sadar Galih menelan salivanya. Ia bagaikan melihat seorang bidadari yang baru keluar dari bak mandi.


"Kamu lihat apa?!" tanya Nadia dengan cuek. Tangannya berusaha memeriksa letak handuk yang sedang melilit tubuhnya yang hanya sampai dada dan pangkal pahanya.


"Ah gak. Kamu kok bisa cantik sekali ya," jawab Galih dengan berusaha mati-matian menahan perasaan asing yang sedang menghentak dari dalam dirinya. Kupingnya bahkan ia rasakan memerah dengan tampilan Nadia yang sangat menarik itu.


"Ish, aku gak suka digombal ya, apalagi dirayu oleh pria mesum seperti dirimu," ujar Nadia seraya melangkahkan kakinya ke arah meja riasnya. Tangannya memperbaiki letak handuk kecil yang sedang membungkus rambutnya yang basah.


"Kalau untuk istri itu halal lho kita lakukan, biar bisa dapat pahala." Galih menjawab seraya melangkah mendekati istrinya.


"Istri, cih. Aku menikah denganmu itu karena terpaksa ya. Jadi jangan berpikir mau mengambil kesempatan disini. Aku perempuan mandiri dan tak mau tergoda oleh mulut penuh bisa seperti kamu!"


Galih tersenyum simpul. Ia semakin tertantang saja untuk menaklukkan perempuan judes yang sayangnya sudah ia nikahi ini.


"Oh ya, sayangnya karena aku sudah sah menjadi suamimu berarti aku bebas melakukan apa saja padamu termasuk ini," ucap pria itu seraya mengecup bahu Nadia yang sedang terbuka.


Untuk beberapa detik, Nadia merasakan tubuhnya menegang sempurna.


"Brengsek kamu!" Nadia berteriak keras dan siap mencakar suaminya itu tapi Galih sudah berlari ke kamar mandi.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Ingat kasih bunga dong 🤭


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2