
Bugh
Aryan terpental.
Tendangan Galih yang begitu keras mengenai ulu hatinya membuatnya tak mampu untuk berdiri dan melawan.
Ternyata ilmu bela dirinya tak bisa ia sandingkan dengan kakak ipar dari Vania ini.
"Kenapa? Kamu sudah tak sanggup bangun?! Ayo bangun!" Galih meraih kerah kemeja pria itu dengan emosi yang memuncak.
Aryan tak menjawab. Ia masih berusaha untuk mengumpulkan tenaganya kembali untuk membalas. Tatapannya begitu tajam menyiratkan kebencian yang mendalam.
"Kalau terjadi hal yang buruk pada Randu, akan aku pastikan kamu tak akan bisa melihat matahari terbit lagi!"
Galih melepaskan cengkeramannya kemudian mendorong pria itu sampai terjerembab kembali ke lantai gedung itu.
"Ha-ha-ha!" Aryan tertawa meremehkan dengan dada yang terasa sangat sakit. Akan tetapi ia tetap berusaha tampak baik-baik saja.
"Ancaman kalian tidak akan mempan padaku. Dan aku tidak akan berhenti sampai keluarga kalian menderita!" ancamnya.
"Randu hanya awal saja!" Aryan mencoba bangun dengan merangkak. Ia benar-benar berusaha mengumpulkan tenaganya untuk melawan.
"Coba saja kamu mengusik keluargaku maka kamu akan lupa siapa dirimu!" ujar Galih dengan tatapan membunuh.
"Aku sudah lama lupa siapa diriku sejak perempuan yang bernama Nadia Gazali sialan itu menghancurkan impian adikku, impian keluargaku!"
Galih meradang. Ia langsung melompat ke arah Aryan yang tidak berdaya itu dan mencekiknya.
"Jangan pernah menyebut nama istriku dengan mulut kotor mu itu sialan!"
"Kenapa?" tanya Aryan dengan bibir mencebik.
"Nadia itu dokter brengsek! Dokter sialan!" umpatnya dengan wajah mengeras.
Bugh
"Argh!"
Aryan mendesis nyeri karena tangan kuat Galih berhasil memecahkan bibirnya.
"Kamu pikir istrimu sangat suci dan tidak pernah ada salah?" Aryan menantang. Ia tak peduli jika bibirnya sudah mengeluarkan cairan merah yang terasa sangat asin.
Galih sekali lagi mengangkat tangannya ingin memberikan satu pukulan lagi tapi beberapa polisi sudah berada di tempat itu.
"Stop pak Galih! Anda bisa membunuhnya!" teriak seorang pimpinan dari aparat yang baru tiba itu.
Galih segera berdiri dari posisinya. Ia berusaha menahan emosinya dengan hanya memandang Aryan yang sudah dibawa dengan cara diseret oleh pihak kepolisian
Sungguh hatinya masih sangat geram dengan pria psikopat itu. Istrinya pun dibawa-bawa dalam masalah ini.
Rasanya ia ingin memecahkan kepala pria itu karena berani membuat orang kepercayaannya berada pada masa kritis.
__ADS_1
Belum lagi ia mengatakan bahwa Nadia adalah penyebab kehancuran keluarga pria itu.
"Dasar gila!" geramnya emosi.
Aryan tersenyum miring dengan wajah yang sudah babak belur.
"Kalian semua brengsek! Ingat hari ini sialan! Aku tidak akan pernah melupakan apa yang kalian lakukan padaku!" teriak Aryan dengan tatapan berkilat.
Pria itu ternyata masih sangat sanggup untuk berteriak pada Galih. Para polisi itu langsung mendorong paksa Aryan untuk naik ke atas mobil mereka.
Galih tidak peduli dengan ancaman pria itu. Saat ini ia mempercayakan semua urusan dengan pria itu pada pihak berwajib. Ia pun langsung berlari ke arah mobilnya. Ia harus segera sampai di rumah sakit saat ini juga.
Ia ingin melihat keadaan Randu yang sedang kritis.
Tak mengambil waktu lama di perjalanan ia sudah sampai di rumah sakit. Kecepatan laju mobilnya benar-benar diluar batas kewajaran karena perasaan yang sangat khawatir akan keadaan Randu.
"Sayang, bagaimana keadaan Randu? tanyanya saat tiba di depan ruang operasi. Nadia tersenyum menenangkan. Ia meminta suaminya itu duduk dengan tenang.
"Alhamdullah, Randu sudah melewati masa kritisnya," ucap Nadia seraya ikut duduk di depan sang suami.
"Alhamdulillah ya Allah. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu yang buruk pada anak itu." Galih berucap seraya memandang lurus ke dalam mata istrinya.
"Insyaallah, Randu kuat kok ayang," ucap Nadia tersenyum. Perempuan itu mengelus punggung tangan suaminya dengan sangat lembut.
Ia benar-benar ingin mengalirkan sebuah perasaan tenang agar pria itu tidak terlalu khawatir akan keadaan Randu.
"Ya, aku tahu anak itu memang kuat. Sejak kecil ia ikut denganku Nad. Ia sudah banyak mengalami hal-hal yang sangat berat dalam hidupnya."
Nadia tersentak kaget dengan kata-kata suaminya. Ia menatap Galih dengan perasaan yang sedikit tersentil. Entah kenapa ia merasa tersinggung dengan perkataan pria itu padanya.
Ia kini merasa seperti orang lain bagi suaminya. Ia merasa bahwa Randu lebih berharga daripada dirinya sendiri bagi pria itu.
"Maksud kamu apa?" tanya Nadia dengan tatapan lurus kedalam mata pria yang telah menjadi suaminya itu.
"Aryan melakukan ini karena dendam pada keluargamu Nad. Dan itu terkhusus pada dirimu." Galih balas menatap istrinya.
Nadia merasakan tubuhnya menegang. Ia bergerak gelisah.
"Dan sekarang Randu yang menjadi korban. Ia adalah harapan orang tuanya satu-satunya. Kalau terjadi sesuatu padanya maka aku," Galih berhenti sejenak.
"Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri."
Nadia merasakan airmatanya sudah siap tumpah dari kelopak matanya. Ia merasa bahwa suaminya menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpa orang kepercayaan pria itu.
Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak marah ataupun menangis meskipun hatinya terasa diremas-remas sakit.
"Randu sebentar lagi akan dipindahkan ke kamar perawatan. Kamu bisa menunggunya di sini. Aku ada urusan sedikit di ruanganku," ucap Nadia dengan suara bergetar.
Galih tidak menjawab. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Nadia pun segera pergi dari tempat itu tanpa berkata-kata lagi.
Langkahnya begitu cepat menuju ruang kerjanya. Ia ingin menumpahkan rasa sedihnya di tempat sepi dan sangat pribadi.
__ADS_1
Galih sendiri hanya bisa menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia menatap kepergian istrinya dengan tatapan kosong.
Perkataan Aryan rupanya mempengaruhi perasaannya saat ini.
Apa sebenarnya yang sudah dilakukan oleh Nadia pada keluarga Aryan sampai pria itu begitu ingin membalas dendam?
"Kak Galih? Dimana kak Nadia?" tanya Vania yang keluar dari ruangan operasi bersama dengan Randu yang sedang berada di atas brangkar rumah sakit.
"Dia ke ruangannya. Ada sesuatu yang harus dikerjakannya," jawab Galih seraya memandang Randu yang juga sedang memandangnya.
"Pak."
"Randu? Kamu sudah sehat?"
Randu hanya tersenyum tipis.
Mereka semua pun berjalan menyusuri selasar rumah sakit menuju ke kamar perawatan.
"Kalau kak Galih mau pulang untuk istirahat silahkan saja. Aku yang akan menjaga kak Randu disini," ucap Vania yang melihat pria itu duduk terkantuk-kantuk di dalam ruangan perawatan itu.
Lelah, ya pria tampan itu baru merasakan tubuhnya sangat lelah.
Bulan madu tanpa istirahat mengeluarkan tenaga full sampai di tanah air malah dihadapkan pada permasalahan yang cukup menguras tenaga dan pikirannya.
"Baiklah, aku pulang ya. Katakan pada Nanad, aku pulang duluan. Setelah tidur sedikit aku akan datang menjemputnya."
"Iya kak," ucap Vania tersenyum.
Galih pun pergi dari ruangan itu dan langsung menuju mobilnya berada. Ia bersyukur karena Randu sudah lebih baik jadi ia bisa istirahat dengan tenang.
Sementara itu, Nadia sedang menangis di dalam ruangan kerja nya sendiri.
Ia sangat kesal dan marah pada dirinya sendiri. Ia tidak tahu kenapa ia begitu sangat tersinggung dengan perkataan Galih padanya.
"Aku baru tahu kalau aku hanya berada pada sudut kecil di hatinya. Randu bahkan lebih berharga daripada diriku sendiri, hiks," ucapnya seraya menyusut airmatanya yang terasa tak ingin berhenti mengalir.
"Bodohnya kamu Nadia, kamu sekali lagi sama saja dengan perempuan lain yang pernah dekat dengannya, hiks." Ia terus menangis dan menyalahkan lagi dirinya.
"Aku tidak spesial dihatinya, hiks."
"Baru tahu ya dokter?" ujar seseorang yang tiba-tiba saja muncul di depan pintu ruangan kerjanya.
Nadia mendongak. Ia memandang tajam perempuan yang sedang berdiri di depan sana.
"Merasa tertipu?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊