Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 65 Kado Kejutan


__ADS_3

Randu sudah duduk di depan kedua orang tua Vania. Ada rasa gugup yang ia rasakan karena tatapan tajam dua orang yang telah melahirkan dan merawat gadis yang sangat ia cintai itu.


"Kamu yang bernama Randu?" tanya Gazali.


"Iya om." Randu membungkukkan badannya sedikit kemudian tersenyum.


"Oh, jadi kamu yang sering ditemui oleh Vania sampai lupa pulang?" tanya pria itu lagi.


"Ah iya om." Randu tersenyum meringis. Ia baru sadar kalau ia memang sering keluar bersama dengan Vania dan tidak pernah sedikitpun izin pada kedua orangtuanya.


"Trus kamu baru sadar kalau selama itu, kamu telah membawa anak gadis orang tanpa izin samasekali?" ucap Gazali dengan tatapan yang masih sama. Tajam dan tak ada basa-basi.


Randu menundukkan wajahnya semakin kebawah. Ia menyadari kalau perkataan pria itu sangat benar.


"Maafkan saya Om. Saya akui kalau telah salah."


"Baguslah kalau kamu sadar. Seorang pria yang baik adalah orang yang mau bertanggung jawab pada orang tua dan keluarga perempuan yang telah sering dibawanya pergi. Kamu tahu bagaimana pendapat orang lain tentang putri kami?"


"Iya om. Maafkan saya. Dan sekarang saya ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya lakukan selama ini." Randu menghembuskannya nafasnya pelan kemudian melanjutkan, " Saya ingin mengambil Vania dari tanggungjawab anda om. Saya ingin menghalalkannya agar kami berdua aman ketika sedang berdua baik saat kami di tempat yang ramai maupun sepi."


"Maksud kamu adalah?" ucap Gazali dengan sebuah pertanyaan.


"Iya om. Saya ingin melamar Vania untuk saya jadikan sebagai istri."


Gazali dan Thalia saling berpandangan kemudian tersenyum.


"Apa kamu mencintai putriku?" tanya Gazali untuk meyakinkan dirinya.


"Iya om. Saya sangat mencintainya dan ingin menghalalkannya."


"Apa Vania mencintaimu?"


"Ia sudah menerima lamaran saya om."


"Karena cinta atau apa?"


Vania yang sejak tadi diam saja langsung menjawab pertanyaan sang papa.


"Aku mencintainya Pa. Dan aku ingin menjadi istrinya."


"Alhamdulillah. Kalau begitu kami juga menerima lamaran kamu. Bawalah orang tuamu untuk datang secara resmi."


"Terimakasih banyak om. Insyaallah dalam waktu dekat kami akan datang melamar putri om," ucap Randu singkat dan jelas.


🌹

__ADS_1


Galih memandangi istrinya yang sibuk bersiap untuk acara syukuran baby boy Asma dan Fardan.


"Kenapa ayang? Aku bikin kamu pusing ya?" tanya Nadia tersenyum. Ia tahu kalau sang suami pasti lelah melihatnya hilir mudik di dalam kamar itu. Sebentar-sebentar ia balik lagi ke dalam Walk in Closet untuk mencocokkan pakaian yang ia pakai hari itu.


"Ah gak kok. Kamu udah sangat cantik dengan hijab yang warna biru tadi tapi kok diganti sih?" ucap Galih tersenyum.


"Aku baru sadar kalau ayang sedang pakai warna coklat. Jadinya gak kopel lagi dong."


"Kenapa bukan aku aja yang ganti bajunya sayang, gak usah kamu. Kamu lelah nanti."


"Ah ya benar juga ya, tapi aku gak mau kalau kamu keluar rumah dengan sangat tampan seperti itu," ucap Nadia tersenyum. Galih balas tersenyum kemudian meraih istri ke atas pangkuannya.


"Maksud kamu apa hem?" tanya Galih.


"Kamu kalau pakai biru gantengnya maksimal. Dan aku gak mau ada yang lihat kamu sambil ngences hehehe," jawab Nadia terkekeh.


"Trus, kalau aku pakai coklat gak ganteng?" tanya Galih menggoda.


"Ganteng juga. Cuma ya, bisa lah dipertimbangkan hihihi," balas Nadia terkikik lucu.


"Iyyakah? Kalau gitu aku pakai biru di dalam rumah trus kalau keluar pakai warna lain?" goda Galih lagi seraya mengecup singkat pipi sang istri


"Hum, bisa juga. Tapi kalau di dalam kamar gak usah pakai apa-apa gimana?"


"Ih kamu nakal ya," ucap Galih seraya mencium dagu istrinya. Nadia hanya terkekeh.


"Kamu cantik pakai hijab sayang," ucap Galih saat Nadia selesai berpakaian.


"Benarkah?"


Galih tersenyum kemudian memeluk istrinya dari belakang hingga mereka berdua ada di dalam kaca besar dalam posisi yang sedang sangat dekat.


"Iya Nad. Seperti kamu yang gak rela aku dilihat oleh orang lain saat keluar rumah. Aku pun tidak ingin ada yang melihatmu dalam pakaian terbuka sayang," ucap Galih seraya memandang kaca yang memantulkan sosok mereka berdua.


"Aku egois Nanadku. Maafkan aku ya karena tak rela kalau kecantikan dan keindahan tubuhmu dinikmati oleh orang lain." Nadia merasakan hatinya menghangat bahagia.


"Aku ingin kamu tampil seperti ini saja. Kamu cantik dalam pandangan orang-orang yang baik," lanjut Galih tersenyum kemudian mengecup pipi sang istri.


"Insyaallah. Aku akan memakai hijab ini seterusnya." Nadia menjawab dengan mantap.


Sesungguhnya, ia sudah lama ingin memakai pakaian syar'i seperti Laura Eveline dan Asma Safawi sang sepupu. Akan tetapi ternyata Tuhan baru menggerakkan hatinya.


"Kita berangkat yuk ayang. Kita udah ditungguin mama di luar," ucap Nadia seraya mendengarkan sebuah ketukan panjang dari arah pintu kamarnya.


"Biar aku yang buka pintunya," ucap Galih kemudian melepaskan rengkuhannya pada tubuh sang istri. Nadia mengangguk kemudian tersenyum.

__ADS_1


Ia pun memperbaiki letak hijabnya kemudian segera mengambil tas tangannya. Ia menyusul suaminya yang berjalan ke arah pintu.


"Udah selesai sayangku?" tanya Galih dengan senyum diwajahnya.


"Sudah ayang. Itu tadi siapa?" tanya Nadia penasaran.


"Mbak Irma. Dia bawa ini. Katanya dititip oleh Vania." Galih pun mengangkat dua kotak kado di tangannya. Satu besar dan satu lagi sangat kecil. Sebuah perbedaan ukuran yang sangat kontras.


"Oh ini kado untuk baby boynya Asma," ucap Nadia seraya meraih dua kotak hadiah dari tangan suaminya.


"Dua-duanya?" tanya Galih untuk memastikan status kado itu.


"Cuma satu. Kalau yang ini untuk kamu ayang," ucap Nadia tersenyum seraya menyerahkan kotak kecil itu pada sang suami.


"Untuk aku?" tanya Galih dengan wajah kagetnya. Ia tak menyangka kalau akan mendapatkan kado juga.


"Apa aku bisa membukanya sekarang?" tanya Galih penasaran. Nadia mengangguk mengizinkan.


Galih pun dengan sangat hati-hati membuka pembungkus kado itu dengan hati berdebar-debar bahagia. Ia sungguh sangat penasaran dengan kado yang diberikan oleh istrinya padahal ia tidak sedang berulang tahun.


Galih memandang sepasang sepatu mungil yang ada di tangannya dengan bingung. Ia yakin kalau kado itu mungkin bukan untuk dirinya.


"Sayang, apa tidak salah kamu memberikan kado seperti ini? Apa mungkin tertukar dengan kado untuk Fardan dan bayinya?"


Galih memandang kado besar yang sedang dipegang oleh istrinya itu bergantian dengan kado yang ada ditangannya.


"Tidak. Itu memang untukmu ayang," jawab Nadia dengan senyum diwajahnya. Wajah Galih langsung meringis. Ia yakin istrinya sedang mengerjainya.


"Sepatunya lucu sekali ayang. Vania pintar sekali milihnya. Buka dong," ucap perempuan itu lagi.


"Kalian tidak salah belikan aku sepatu mungil kayak gini? Ini sih cuma jariku aja yang bisa masuk Nanad sayang," ucap Galih seraya memasukkan jarinya ke dalam sepatu itu.


"Ini apa?" tanya Galih saat mengeluarkan jarinya dan mendapati sebuah kertas kecil hasil foto USG yang dibungkus pita kecil.


Hai Daddy!


Begitu tulisan yang terdapat di bagian luar kertas foto itu.


"Nanad? Ini apa sayang?"


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2