Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Ban 46 Loving You


__ADS_3

Sepanjang sore menjelang malam itu Nadia sibuk bekerja lewat handphonenya. Sedangkan Galih menemaninya dengan menonton berita bisnis berbahasa Inggris lewat televisi.


"Belum selesai juga?" tanya Galih saat melihat jam sudah menunjukkan jam 10 malam tapi sang istri masih berkutat dengan data statistik di rumah sakit.


"Dikit lagi, tapi ya ampun aku capek banget," jawab Nadia seraya memijit batang hidungnya.


"Mataku udah sepet banget dan juga mual. Aku pengen tidur ayang," ucap Nadia manja.


"Tidur aja dulu. Gak baik masakan diri untuk bekerja." Galih mematikan layar televisinya dan memandang sang istri yang nampak sangat kacau.


Tidak biasanya istrinya menunjukkan penampilannya yang seperti itu. Rambutnya hanya digelung santai kemudian ujung pensil ia gigit sambil sesekali mencorat-coret kertas dihadapannya.


"Ini gara-gara kamu tahu gak? Coba kamu gak nyentuh aku gak akan lembur kayak gini nih jadinya. Mana kamu mainnya lama banget lagi, oh ya ampun lelahnya." Nadia menyimpan handphonenya kemudian membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya.


Ia sudah tidak kuat lagi.


Tubuhnya terasa sangat lemas dan tak bertenaga.


"Aaa aku udah bilang untuk tidak menyentuhku, tapi apa, kamu suka melanggar aturan kita. Aku kesel sama kamu ayang," gumam Nadia diantara rasa kantuknya. Pensil yang sejak tadi dipegangnya kini ia lemparkan ke sembarang arah.


Sungguh, ini pertama kalinya isterinya merajuk manja seperti itu selain saat mereka sedang berhubungan.


Kalau sedang dirayu dengan belaian, Nadia bisa lebih manja dan bahkan garang secara bersamaan.


"Aaaa, Pak kadiskes prov pasti nunggu semuanya malam ini tapi aku udah gak kuat," rengek Nadia seraya memeluk bantal gulingnya.


Tak lama kemudian tak terdengar lagi rengekan manja dari perempuan cantik itu.


Galih segera berdiri dan menghampiri sang istri. Ia merasa bersalah juga karena hasratnya yang tak bisa ia tahan, ia jadi membuat istrinya harus kerja sampai tengah malam seperti ini.


"Aku boleh bantu gak sih?"


"Hum," jawab Nadia bagaikan gumaman. Antara tidur dan tidak saking lelahnya.


Galih pun meraih handphone sang istri dan mulai mempelajari data-data yang dikirim oleh pihak dinas kesehatan provinsi. Ia juga membuka semua data di rumah sakit tempat istrinya bekerja.


Semua poin sudah dikerjakan oleh Nadia hingga ia tinggal menghitung hasil akhirnya. Pekerjaannya yang sering berhubungan dengan data dan juga uang membuatnya dengan cepat menyelesaikan pekerjaan itu.


Send


Ia tekan tombol itu dan terkirim.


Setelah itu ia membereskan semua peralatan kerja sang istri dan menyimpannya dengan baik.


Ia juga sudah sangat lelah dan mengantuk. Ia pun naik ke tempat tidur dan memandang wajah sang istri tercinta.


Tak berhenti ia memuji kecantikan perempuan yang sudah ia nikahi itu. Dan tanpa pikir panjang, ia pun mendekatkan wajahnya pada Nadia dan mulai menciuminya.


Setelah itu memeluk perempuan itu dengan posesif kemudian jatuh tertidur.

__ADS_1


🌹


Esok paginya, Nadia langsung melepaskan rengkuhan tangan sang suami pada tubuhnya.


Ia menatap wajah pria itu yang semakin hari semakin tampan saja.


Senyum terbit dari bibirnya. Dan dengan malu-malu ia pun mencium bibir suaminya yang terasa sangat menggoda hasratnya pagi itu.


"Astaghfirullah. pekerjaan aku!" Perempuan itu langsung bangun dan melompat mencari handphonenya.


Ia baru sadar kalau ia sudah ketiduran semalam padahal belum selesai mengerjakan apa yang diinginkan oleh Kepala dinas tersebut.


"Eh kok bisa?" tanyanya saat melihat balasan email pria itu sudah masuk dan menyatakan terima kasih karena telah berhasil menyelesaikan pekerjaan itu dengan cepat.


Perasaan semalam aku ketiduran, tapi ah sudahlah. Mungkin aku yang lupa kalau aku sudah selesai.


"Hey! Ayok bangun kita sholat bersama." panggil Nadia pada sang suami.


"Masak gitu sih kasih bangun suami? Panggil ayang dong," ucap Galih dengan mata masih tertutup.


"Panggil aku ayang, baru aku bangun," lanjut pria itu dengan senyum khasnya.


"Ayang, bangun." Nadia menurut. Ia begitu senang pagi ini.


Galih pun membuka matanya kemudian menarik tubuh istrinya yang kemudian jatuh menindihnya.


"Ciumanmu tadi belum sempurna lho," ucap Galih kemudian mengulum lagi bibir Nadia lama sampai mereka kehabisan pasokan oksigen.


"Beneran?" tanya Galih dengan bibir kembali mengecup dagu kecil sang istri.


Nadia tersenyum.


"Ayok, bangun."


"Sekarang saja ya sayang, udah siap banget tuh," bisik Galih seraya membawa tangan Nadia pada rudalnya yang sudah siap diluncurkan sejak perempuan itu menciumnya.


"Ish, gemes," balas sang istri sembari menggerakkan tangannya dibawah sana dengan sangat lembut dan menggoda. Galih semakin tak tahan.


Ia langsung membalik posisi Nadia agar ia yang berkuasa disini.


"Janji jangan lama, nanti sholatnya kesiangan ayang," rajuk Nadia saat Galih mulai melakukan foreplay sebelum masuk ke acara inti.


Galih tersenyum kemudian mulai menyesap benda favorit sejuta umat milik sang istri.


Tak perlu ada kata begitu bahagianya mereka saat ini.


Nirwana kembali mereka kunjungi dengan sangat nikmat.


Rintihan dan erangan keduanya benar-benar menghiasi subuh menjelang pagi itu dengan kesyahduan penuh cinta.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Nadia mengucapkan kata cinta untuk suaminya tercinta.


Galih yang sedang menyentak-nyentak dengan cepat karena permintaan sang istri langsung berhenti sejenak mendengar Nadia mengucapkan kata cinta untuknya.


"Katakan sekali lagi sayang," ucap Galih dengan perasaan membuncah bahagia. Nadia tersenyum kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ayolah, katakan kalau kamu mencintaiku sayang," bisik Galih seraya meraih pucuk merah muda sang istri dengan bibirnya agar Nadia membuka wajahnya.


Mempermainkannya dengan lidahnya hingga Nadia bergerak gelisah.


Tangannya pun mulai bergerak menggoda pucuk satunya untuk memaksa sang istri mengeluarkan isi hatinya.


Gerakan pinggulnya dibawah sana sengaja ia buat pelan dan berirama. Ia ingin merayu sang istri untuk mengucapkan kata-kata cinta lagi padanya.


"Sssshhh," tak sadar Nadia mendesis nikmat. Kehebatan Galih merayu dan menggodanya benar-benar tak kuat ia tahan.


"Aku mencintaimu Galih Pradana, puas kamu aaakh uggghh," ucapnya mendessah nikmat saat Galih memperkuat dan mempercepat serangan rudalnya lagi saking bahagianya.


"Uggghh Nanadku, love you so much," erang Galih saat ia berhasil melepaskan dan meledakkan rudalnya.


Ia tumbang di samping sang istri dengan perasaan yang sangat bahagia.


Rasanya semua kenikmatan dunia sudah diberikan oleh Tuhan padanya.


Segera ia bangun dan mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi untuk mandi besar.


Mereka harus bersuci dan sholat untuk merayakan kebahagiaan ini.


Nadia pasrah dan sangat bahagia saat suaminya bahkan merawat nya dengan sangat baik sampai di dalam kamar mandi.


Galih memberikan treatment agar ia selalu terasa sempit dan kuat melayani hasratnya yang sangat besar.


Galih mengakui kalau ia adalah maniak, ya maniak pada istri sendiri.


Nadia sekali lagi dibuat melayang ke nirwana. Galih tak berhenti memujanya dengan perhatian-perhatian kecil yang membuatnya melambung.


Rasanya mereka tak ingin kembali ke tanah air dan menikmati saja bulan madu ini sepanjang hari.


"Nanad, aku mencintaimu sayang," ucap Galih setelah mereka selesai melaksanakan sholat subuh yang sudah cukup kesiangan.


Nadia tersenyum kemudian mencium punggung tangan suaminya.


Ia berharap tidak salah mengungkapkan perasaannya pada pria yang punya banyak pengalaman dengan para perempuan di luar sana.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2