
"Kak, anterin aku ke toko perlengkapan baby ya," ucap Vania pada Randu.
"Mau ngapain sih, kita kan belum sempat bikin baby Van," canda Randu.
"Ish, apa an sih," ucap Vania dengan wajah tersipu malu. " Ini tuh untuk Kak babynya kak Asma. Mereka akan aqiqah besok. Aku 'kan pengen bawa kado."
"Oh, gitu? Kirain mau untuk persiapan kita nantinya," senyum Randu lagi dan membuat Vania merasa berdebar-debar tak nyaman.
"Ish, kamu ya. Pikirannya kok sampai disana sih, Kak Nadia saja belum bersiap-siap padahal udah positif lah kita? Gak ada hubungan apa-apa kecuali hanya teman biasa." Vania langsung berubah cemberut.
Randu tersenyum. Ia langsung meraih tangan gadis itu kemudian dengan berani mengecupnya.
Vania tersentak. Ia tiba-tiba merasakan sebuah aliran listrik bertenaga tinggi menjalar di tubuhnya. Ia pun menunduk dengan berusaha untuk melepas tangannya tapi Randu menahannya.
"Vania, lihat aku. Pandang mataku," ucap pria itu dengan tatapan serius ke dalam bola mata indah gadis itu.
Vania pun menurut dengan wajah menghangat karena malu.
"Aku bukan pria romantis Van. Sungguh, aku memiliki banyak hal untuk dikatakan, kata-kataku bersembunyi dariku dan aku tidak bisa mengungkapkannya. Akan tetapi satu hal sederhana yang ingin aku katakan adalah aku mencintaimu hari ini dan selalu."
Vania merasakan dadanya berdebar sangat bahagia. Kata-kata ini yang sudah lama ia nantikan dari seorang Randu.
"Mataku ini selalu mencari kamu ketika kamu tidak ada. Hatiku ini sakit ketika aku tidak menemukanmu. Kamu adalah alasan untuk semua kebahagiaanku. Dan tanpamu, hidupku akan sangat membosankan. Maukah kamu terus bersamaku?" ucap Randu dengan tatapan sendunya.
Vania merasakan dadanya mengembang bahagia. Ia tak tahu harus mengucapkan apa. Ia terharu.
Randu segera meraih sebuah kotak kecil berwarna hitam dan menyerahkannya pada gadis itu.
"Bukalah Van, aku ingin sekali menjadikanmu sebagai istriku, pendamping hidupku, dan sebagai ibu dari anak-anakku kelak," ucap Randu lagi.
Vania pun membuka kotak bludru hitam itu dengan mata berkaca-kaca. Kilauan cincin permata di dalamnya membuat tenggorokannya tercekat.
Ia sudah lama menyukai pria yang ada di hadapannya ini dan baru sekarang pria itu menunjukkan kalau perasaannya terbalas.
Randu pun meraih jari-jari lentik gadis itu dan memasangkan cincin itu untuknya.
"Beneran ini untukku kak?" tanya Vania.
__ADS_1
"Tentu saja. Lihatlah, cincinnya sangat cocok untukmu."
Vania tersenyum kemudian mengecup cincin itu dengan penuh perasaan.
"Makasih banyak kak. Aku seneng sekali," ucap Vania seraya menyusut airmatanya yang tak sabar mendesak keluar dari kelopak matanya.
"Van, kamu menangis? Ada apa?"
"Nggak kak. Aku terlalu bahagia. Setiap kali aku bersamamu, aku tidak bisa menghindari merasakan sesuatu yang sangat istimewa di hatiku. Kamu sangat baik padaku," ucap Vania. Randu tersenyum bahagia. Ia sangat senang karena Vania membalas perasaannya.
"Mari kita menikah Van. Aku sudah tak sabar bersamamu sepanjang hari dan melakukan hal-hal yang sangat menyenangkan berdua, bertiga, dan berempat."
"Ish apaan sih," ucap Vania merasa sangat lucu dengan kata-kata pria itu.
"Kenapa? Setelah kita berdua kita kan akan bertiga dengan anak-anak kita."
"Ya ampun kak. Lebih baik datanglah ke rumah kak. Temui Papa dan Mama. Minta aku pada mereka.'
"Iya Van. Aku akan menemuinya saat ini juga. Apakah ia ada di rumah saat ini?"
"Kalau begitu kita ke rumah kamu sekarang juga."
"Tapi bagaimana dengan toko perlengkapan babynya kak. Aku sudah berjanji akan membelikan juga untuk kak Nadia."
"Kalau begitu kita kesana dulu baru kita ke rumah."
"Ah ya. Baiklah."
Tak lama kemudian mereka pun keluar dari Restoran itu dan melanjutkan perjalanan ke sebuah toko perlengkapan bayi.
"Ini lucu sekali ya kak," ucap Vania saat melihat deretan sepatu-sepatu mungil yang ada di hadapannya.
"Iya. Kamu suka yang itu?" tanya Randu.
"Ih suka banget. Kayaknya pengen punya juga untuk aku simpan di kamar." Vania menyentuh sepatu-sepatu itu dan membelainya lembut.
"Ambil saja. Untuk persiapan baby kita," senyum Randu.
__ADS_1
"Ish. Gak gitu konsep nya kak. Aku cuma mau koleksi saja sih."
"Ya terserah. Yang penting kamu suka aku juga suka," ucap pria itu lagi dengan tatapan penuh cinta pada gadis dihadapannya.
"Kak Nadia juga pengen sepatu mungil juga katanya, tapi bukan untuk kado buat kak Asma," ucap gadis itu dengan mata terpaku pada sepatu mungil berwarna pink yang sangat lucu.
"Oooh, pilihkan aja. Ada kriteria khusus ya?"
"Gak juga. Yang penting lucu katanya. Dan ya ampun ini kok lucu semua kak. Aku sampai pengen beli semuanya."
Vania berlari menyusuri rak-rak berisi sepatu itu dengan sangat takjub. Jiwa keibuannya sudah mulai menampakkan dirinya ke permukaan.
Randu semakin senang saja dibuatnya. Ia semakin yakin kalau gadis itu memang sangat layak mendampinginya kelak mengarungi bahtera rumah tangga.
"Ambil semuanya aja deh Van. Aku udah pengen pulang nih," ucap Randu saat mereka sudah lama berkeliling sedangkan troli Vania masih kosong.
"Kamu gak seneng nemenin aku belanja kak?" tanya Vania dengan wajah berubah cemberut.
"Seneng sayang. Cuma aku ingin cepat ke rumah kamu. Aku ingin melamar kamu secepatnya."
"Ih, so sweet banget sih. Jadi pengen cium deh," ucap Vania tersenyum dengan wajah berbinar.
"Jangan. Nanti saja saat kita udah menikah," balas Randu tersenyum.
"Ish."
Vania tak ingin lagi menjawab. Ia langsung menyusuri kembali rak-rak toko itu dan mulai mengisi troley nya agar bisa cepat pulang.
Ia juga sudah tak sabar dinikahi oleh pria tampan yang sudah lama ia harapkan itu.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1