Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 48 Hati Bak Rollercoaster


__ADS_3

Randu akhirnya menepikan kendaraannya di persimpangan jalan yang akan menuju ke rumah dua orang mama yang sedang diperdebatkan oleh dua pasangan pengantin baru itu.


Sepi.


Tidak ada lagi yang berdebat. Galih juga diam meskipun ia sangat ingin Nadia mau mengikuti kemauannya.


Nadia menatap sang suami dengan perasaan tak nyaman. Ia yakin kalau suaminya itu sedang tidak baik-baik saja dengan keinginannya untuk pulang ke rumah mamanya sendiri.


"Baiklah, kita ke rumah mama Sofiya," jawab Nadia pada akhirnya.


Galih tersenyum kemudian meraih tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Ia bahagia karena perempuan cantik itu mengikuti keinginannya.


"Setelah mencicipi masakan buatan mama kita akan ke rumah mama Thalia sayang," ucap Galih seraya mencium pucuk kepala sang istri.


"Kak Randu dengar apa kata paduka ratu?" tanya Vania dari arah jok depan. Randu tersenyum kemudian mengangguk.


Pria itu pun menghidupkan mesin mobilnya dan langsung melajukan kendaraan itu. Ia sudah mendengar perintah kemana mereka selanjutnya.


Ia tak ingin berkata-kata lagi. Ia tahu kalau dua orang penumpangnya di belakang sana sedang dimabuk cinta dan sedang tak ingin diganggu.


Pria muda itu pun memutar musik agar telinganya tidak ternoda dari suara-suara berisik manja dari Nadia yang entah sedang diapakan oleh bosnya itu.


Tawa cekikikan geli sampai bunyi peraduan bibir atau apa saja dari belakang sana benar-benar sangat mempengaruhi kondisi perasaannya saat ini.


Vania sampai merasakan kulitnya meremang dengan suara kakaknya yang biasanya tegas dan suka marah-marah kini jadi sangat jinak dan bahkan sangat mendayu-dayu manja.


Ia melirik Randu yang juga sedang meliriknya. Mereka berdua jadi merasa berada di sebuah tempat yang salah.


Dan mereka berharap perjalanan ini singkat agar telinga mereka tidak dinodai dengan suara berisik dua orang yang sedang bermesraan di jok belakang.


"Kak, musiknya aku tambah volumenya ya," ucap Vania dengan suara yang terasa lain dari yang lain. Ia sampai tidak bisa mengenali suaranya sendiri saking gugupnya.


Randu tersenyum. Ia sangat mengerti dengan apa yang dirasakan perempuan cantik yang belum juga berhasil ia tembak itu.


"Ya, volumenya harus besar memang," ucap Randu dengan satu kedipan untuk Vania. Gadis itu langsung tertunduk malu.


"Eh, Kak, habis ini antar aku ke suatu tempat ya," ucap Vania untuk mengalihkan debaran di dadanya hanya karena kedipan mata pria itu.


"Kemana?" tanya Randu tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan di hadapannya.


"Nanti aku kasih tahu kalau udah sampai." Vania tersenyum. Randu pun tak bertanya lagi. Mereka berusaha menikmati perjalanan pulang itu dengan sebuah lagu romantis dari Judika.


Aku hanyalah manusia biasa


Bisa merasakan sakit dan bahagia


Izinkan ku bicara


Agar kau juga dapat mengerti


Kamu yang buat hatiku bergetar


Rasa yang telah kulupa kurasakan


Tanpa tahu mengapa

__ADS_1


Yang kutahu inilah cinta


******Cinta karena cinta******


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


****Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara****


Kamu yang buat hatiku bergetar


Senyumanmu mengartikan semua


Tanpa aku sadari


Merasuk di dalam dada


Cinta karena cinta


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Cinta karena cinta


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Galih dan Nadia begitu menikmati lirik lagu itu. Syair-syairnya seakan-akan mewakili perasaan mereka berdua saat ini.


Begitupun dengan Randu yang merasakan jatuh cinta pada gadis yang ada di sampingnya ini.


Sungguh, ia sudah tak sabar menyatakan perasaan cintanya pada gadis itu. Suasana di dalam mobil yang terasa sangat mendukung itu membuatnya ingin menghentikan kendaraan itu dan langsung ingin melamar Vania.


Akan tetapi, ia merasa sangat tak etis jika menyampaikan keinginannya itu jika tidak berada pada tempat yang spesial.


Orang spesial di tempat yang spesial dengan suasana spesial.


🌹


Nadia memasuki rumah disambut oleh Sofya, sang mama mertua. Perempuan paruh baya itu sangat senang karena menantu kesayangannya sudah kembali ke rumah dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


"Mama kangen sama kamu sayang," ucapnya pada Nadia seraya memeluk dan mencium perempuan cantik itu.


"Aku juga ma," balas Nadia tersenyum.


"Ayok makan dulu, mama udah siapkan makanan enak lho," ucap Sofiya dengan tangan tak lepas dari tubuh Nadia.


Galih hanya tersenyum melihat mamanya yang sangat akrab dan sayang pada sang menantu. Ia sangat bahagia karena bisa membahagiakan perempuan yang telah melahirkannya itu.


Sangat simpel dan sederhana, ia hanya membawakan seseorang yang sangat diinginkan oleh sang mama.


"Randu, kok gak ikut masuk?" tanya Galih saat melihat sekretarisnya itu hanya diam di depan beranda rumah.


"Vania minta diantar ke sebuah tempat pak," jawab Randu.


"Mama udah nyiapin makanan di dalam. Kalian gak boleh pergi sebelum makan." Titah Galih pada dua orang muda-mudi itu.


"Iya pak. Kami gak akan kemana-mana kok. Lumayan kan bisa makan gratis, hehehe." Randu menjawab dengan senyum cengengesan.


Galih hanya mendengus dan segera masuk ke dalam rumahnya.


Vania dan Randu ikut dibelakangnya seraya membawa koper dan tas dua orang yang baru pulang dari berbulan madu itu.


Meja makan langsung mereka serbu. Beberapa makanan sudah tersedia hasil masakan mama Sofiya. Semuanya menggugah selera.


"Mama harap kalian udah bawa oleh-oleh calon cucu untuk mama ya sayang," ucap Sofiya dengan senyum teduhnya.


Galih tersenyum dan memandang sang istri. Nadia merasakan pipinya menghangat malu. Ia dan suaminya sudah membuat cucu untuk mama mereka tiada henti sampai lupa beristirahat.


"Tenang ma, kami berdua udah berusaha dengan keras kok. Jadi gak usah khawatir. Bentar lagi insyaallah udah jadi, iyyakan sayang?" Galih menjawab keinginan sang mama seraya memeluk sang istri.


"Alhamdulillah," ucap Vania dengan cepat. Semua orang langsung mengarahkan pandangan ke arah gadis itu. Vania langsung tersenyum meringis.


"Alhamdulillah, kalau aku udah segera dapat ponakan. Itu berarti aku bentar lagi jadi onty." Vania menjawab dengan jelas.


"Dan kak Nadia gak akan marah-marah lagi seperti biasa hehehehe," lanjutnya terkekeh.


"Ish!" Nadia langsung menatap adik perempuannya itu dengan bibir mengerucut kesal.


"Eits. Gak boleh kayak gitu kak. Anaknya kalau lahir nanti suka kesal juga kayak mamanya."


"Awww!"


Satu gulung tissue langsung mendarat cantik di kepalanya.


"Gak akan suka kesal lagi, aku yang akan bikin istriku adem, iyyakan sayang," ucap Galih seraya mencium pipi sang istri. Nadia tersenyum.


Benar, hanya Galih yang mampu membuat hatinya seperti rollercoaster. Ngeri-ngeri sedap.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2