Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 49 Dua Pria Vania


__ADS_3

"Kami pamit dulu ya kak," ucap Vania pada Nadia yang sedang duduk santai bersama Galih di ruang keluarga.


"Ya, kamu hati-hati ya. Bilang sama mama, kami nyusul bentar ya," balas Nadia seraya mengunyah buah anggur diberikan oleh sang suami.


"Iya kak. Tapi aku mau nemuin teman dulu di GOR."


"GOR? Siapa?"


Nadia langsung menegakkan punggungnya dan menatap sang adik. Ia tidak pernah tahu kalau adiknya itu punya teman yang sering main di GOR.


"Aryan kak. Udah ah, aku berangkat, assalamualaikum." Gadis itu langsung pergi darisana dan berusaha untuk tidak menjawab lagi perkataan Nadia.


Nadia langsung berubah gelisah. Sejak dulu ia tak pernah setuju kalau Vania berhubungan dengan Aryan.


Pikirannya kini menerawang. Ia jadi sangat takut sendiri.


"Ada apa sih? Kok gak dilanjut makan buahnya?" tanya Galih dengan tatapan serius pada sang istri.


Nadia tersentak dari lamunannya. Ia menatap suaminya dengan wajah khawatir.


"Aku gak suka kalau Vania menemui anak itu," ucap Nadia.


"Aryan?"


"Iya."


"Kenapa?" tanya Galih penasaran. Nadia tidak menjawab tetapi langsung berlari keluar. Ia harus melarang adiknya itu untuk menemui pria yang bernama Aryan.


"Nanad? Ada apa sayang?" Galih mengikuti sang istri keluar.


"Vania udah berangkat." Nadia memandang sekeliling halaman rumah itu dengan wajah kecewa. Ia seakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dalam hidupnya.


"Ada apa? Siapa itu Aryan?" Galih meraih tangan Nadia dan membawanya duduk di kursi depan beranda.


Nadia menatap suaminya dengan wajah serius sampai Galih merasa kalau pria yang bernama Aryan itu pasti sangat mengganggu perasaan sang istri.


"Apakah ia sangat berbahaya untuk Vania? Sampai kamu sangat resah seperti itu?"


Nadia menganggukkan kepalanya kemudian menatap kearah depan dengan tatapan menerawang.


Sementara itu Vania yang sedang berada di dalam kendaraan Randu, sejak tadi tersenyum-senyum sendiri dengan pandangan tertuju pada layar handphonenya.


"Siapa sih?" tanya Randu penasaran. Pria itu sejak tadi dicuekin oleh Vania padahal ia sudah rela mengantar gadis itu ke tempat yang diinginkannya.

__ADS_1


Vania tidak menjawab tetapi malah sibuk berbalas chat dengan seseorang pada handphonenya.


[Lama gak ketemu, pasti kamu tambah manis deh Van] Aryan.


[Ah gak juga. Aku masih sama kayak dulu] Vania.


[Ah yang bener?] Aryan.


[Coba deh kamu senyum, pasti tambah manis] Aryan.


Vania betul-betul tersenyum.


[Aku bilang juga apa, kamu manis 'kan?] Aryan.


[Ih, Sok tahu aja nih, padahal gak lihat juga] Vania.


Vania tersenyum lagi.


[Tuh kan kamu senyum lagi. Beneran rasanya manis banget deh, sampai disini lho rasanya] Aryan.


[Gak sabar deh ketemu kamu Van] Aryan.


Vania merasa deg-degan sendiri. Bibirnya kembali mengulas senyum.


"Astaga, ya ampun garing banget nih orang," ucapnya seraya tersenyum-senyum sendiri. Randu hanya bisa membuang nafas untuk meredakan kekesalannya.


"Mau lanjut ke GOR gak nih!" tanya Randu lagi. Tapi lagi-lagi Vania sibuk dengan handphonenya.


"Van, aku antar kamu pulang ke rumah saja kalau gak jawab!"


Vania tersentak dan langsung menyimpan handphonenya ke dalam tasnya.


"Kita ke GOR lah kak. Orangnya udah lama nungguin." Vania menjawab dengan wajah ia alihkan ke arah jalan yang sedang mereka lewati.


"Mau nemuin siapa sih?" tanya Randu lagi seraya mengarahkan mobil nya ke dalam parkiran GOR.


"Temen Kak."


"Temen apa temen?" tanya pria itu dengan perasaan yang mulai tak nyaman. Vania sampai memeriksa dandanannya sampai berkali-kali sebelum turun dari mobil.


Randu ikut turun tapi Vania langsung menatapnya.


"Kenapa? Apa aku gak boleh kenalan dengan temanmu itu?" tanya Randu.

__ADS_1


"Ya boleh dong. Silahkan aja kak." Vania tersenyum seraya memperbaiki lagi tatanan rambutnya.


Mereka berdua pun segera menuju ke bagian bagian dalam bangunan yang sering dipakai untuk kegiatan olahraga maupun kegiatan akbar lainnya.


"Kenapa harus di dalam tempat ini sih? Memangnya gak ada cafe atau resto gitu?" Randu menatap tempat itu berkeliling.


"Nah itu dia," ucap Vania seraya menunjuk ke arah lapangan. Di sana Aryan sedang mendribble bola.


Randu tercekat. Ia kenal pria itu karena pernah ada sedikit masalah dengan pria itu di masa lalu.


"Kita pulang." Ia pun menarik tangan Vania untuk segera pergi dari sana. Ia tidak ingin cari masalah.


"Kenapa sih Kak? Aku 'kan belum ketemu kak Aryan. Dia sudah lama nungguin aku lho disini." Vania menolak.


"Van. Aku bertanggung jawab padamu. Kita harus pulang sekarang."


"Tapi kenapa?" tanya gadis itu dengan wajah kesalnya.


"Aku bilang kita pulang sekarang ya sekarang!" Randu tampak sudah tak sabar. Ia menarik tangan gadis itu dengan paksa.


"Hey. Bisa lembut sama cewek gak sih?"


Tiba-tiba saja Aryan sudah berada di antara mereka. Ia langsung menarik tangan Vania yang satunya agar bisa terlepas dari tangan Randu.


"Awww!" Vania mengeluh sakit.


Randu segera melepaskan tangannya. Ia mengalah asalkan gadis itu tidak merasa kesakitan karena ulah mereka berdua.


"Hai Randu. Lama tak berjumpa. Kamu tampak keren." Aryan menatap Randu dengan tatapan mencemooh.


"Hai Aryan. Makasih banyak."


Vania menatap dua pria itu bergantian.


"Kalian sudah saling kenal? Dimana?" Vania tampak bingung. Ia tak menyangka kalau dua pria tampan itu ternyata saling kenal.


Randu dan Aryan saling berpandangan dengan tatapan benci.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2