
"Hey kok gak dijawab si?"
Nara tampak kesal.
"Ah iya mbak. Maaf ya, Pak Galih ada di dalam tapi saya tidak tahu apakah beliau mau menemui mbak atau tidak." Randu berucap dengan santai kemudian meninggalkan perempuan itu di depan pintu.
"Ih, Ngomongnya asal banget! Mas Galih pasti rindu padaku," ucap Nara seraya mendorong pintu ruang kerja Galih Pradana.
Ia pun masuk dengan langkah penuh percaya diri. Dadanya yang membusung semakin ia tunjukkan dengan membuka kancing pakaian bagian depannya.
Belahan dadanya ingin ia tunjukkan agar mata Galih hanya memandangnya seorang.
Gadis itu tersenyum cerah saat melihat pria tampan yang sudah lama ia rindukan sedang berdiri di depan jendela besar di dalam ruangan itu.
Ia sedang menghisap rokoknya dalam-dalam dengan tangan kiri berada di saku celana bahan yang sedang dipakainya. Ia semakin tampan saja dengan gayanya yang seperti itu.
Pria itu sedang menatap ke arah jalan raya yang sedang menunjukkan kemacetan parah di hadapannya. Semrawut seperti pikirannya saat ini.
"Sayang, aku rindu banget," ucap Nara seraya memeluk pria itu dari belakang. Ia menyusupkan jari-jarinya ke perut rata Galih dengan maksud menggoda.
Galih tersentak kaget dan langsung melepaskan tangan perempuan itu dan mendorongnya agar terlepas dari dirinya.
"Hey! Beraninya kamu menyentuhku tanpa seizin ku hah!" Galih menatap tajam perempuan itu dengan rahang mengeras.
"Mas Galih. Sejak kapan aku harus minta izin jika ingin menyentuh kamu?"
"Sejak aku bukan pria lajang lagi."
"Ish!" Nara mencebikkan bibirnya.
"Dan kurasa sejak dulu pun aku selalu seperti itu. Aku tidak pernah tersentuh, ingat?!"
Galih langsung menekan ujung rokoknya pada asbak yang ia siapkan di depan jendela ruangan itu.
"Itulah bentuk kecuranganmu pria tampan. Kamu selalu bisa menyentuh aku sepuas kamu tapi aku bisa apa? Kamu selalu saja tak tersentuh." Nara pun tersenyum seraya duduk diatas meja di hadapan Galih.
Roknya yang sangat pendek tanpa aba-aba langsung memperlihatkan hal-hal tersembunyi dari tubuhnya.
Galih tidak tertarik. Pria itu hanya menghela nafasnya kemudian duduk di kursi kerjanya yang empuk.
"Apa yang membuatmu kemari?" tanyanya tanpa mau melihat perempuan itu.
"Aku rindu padamu," jawab Nara seraya membuka penghalang bagian depannya agar dadanya yang membusung itu bisa langsung tampak di depan Galih.
__ADS_1
Pria itu tersenyum miring. Ia sama sekali tidak tertarik dengan benda kenyal dan lumayan besar itu.
"Tutup tubuhmu sekarang juga atau kamu keluar dari sini!" seru Galih dengan mata memandang ke arah pintu.
"A-apa? Kamu mengusir aku?" Nara melotot tak percaya.
Pria itu sering meninggalkannya disaat ia sedang berada di puncak hasrat tapi tak pernah diusir seperti sekarang ini.
Dan itu sangat menyakitkan.
"Ya, kamu mengerti bahasa Indonesia 'kan? Atau perlu aku pakai bahasa planet lain?" Alis Galih terangkat sebelah begitupun dengan ujung bibirnya.
Sinis.
"Kamu kejam tau gak?!" jerit Nara histeris. Ia merasa sangat malu diperlakukan seperti itu oleh seseorang yang pernah sangat dekat dengannya itu.
"Untuk perempuan nackal seperti kamu hanya itu cara yang paling wajar yang harus aku lakukan!"
Nara merasakan dadanya sesak. Ia tak menyangka kalau kedatangannya di tempat itu hanya akan mendapatkan balasan yang sangat buruk seperti itu.
"Kamu berubah dan bahkan sangat berubah! Dulu kamu merayuku sampai aku terbuai dan meninggalkan papamu! Lalu apa yang kamu lakukan padaku?! Kamu ingin membuang aku begitu saja? Iyya?"
Galih membuang nafasnya kemudian menjawab, " Kalau iya kenapa?"
"Kamu perempuan brengsek yang suka menyakiti perasaan perempuan lainnya, balasan seperti ini pun masih sangat murah!"
Galih terkekeh.
"Coba saja kalau kamu berani."
"Tentu saja berani. Aku sudah melakukannya dengan sangat baik. Dan kurasa kamu sudah merasakan perubahannya, iyya 'kan?"
Perubahan?
Perubahan apa?
Yang aku tahu, perubahan itu ya ada pada Nadia. Yang dengan tega meninggalkan aku tanpa pesan sedikitpun.
"Mulai sekarang dan selanjutnya, berpikirlah dua kali untuk mengganggu aku dan keluargaku. Cukup papaku saja yang pernah sangat bodoh karena mau tertipu oleh bujuk rayumu."
"Pria yang kamu bilang papaku itu memang sangat tidak pantas untuk mamaku yang bagaikan bidadari. Orang seperti dia cocoknya untuk perempuan seperti dirimu! B*inal dan tak punya rasa malu sama sekali."
Sekarang giliran Nara yang terkekeh.
__ADS_1
"Oh ya? Kita ini sama Galih Pradana. Kita sama-sama tidak suci. Dan jodoh yang pantas untukmu adalah diriku. Sedangkan Nadia yang suci itu, cocoknya dengan orang yang suci juga. Ia terlalu naif dan lugu untuk mengimbangi mu," ucap Nara dengan tatapan lurus ke dalam mata elang pria itu.
"Apa kamu tahu, kalau hanya karena bekas cu*pangan dari kamu saja ia sudah berani melawanku?"
"Cih! Aku tahu siapa kamu. Kamu sengaja mempermainkannya 'kan? Mencumbu dan merayunya setelah itu kamu akan meninggalkannya."
"Hey! Apa maksudmu? Apa yang sedang kamu bicarakan?!" tanya Galih dengan otak mulai mencerna perkataan perempuan tak tahu malu itu.
"Aku sudah memintamu baik-baik padanya. Dan membiarkan hidupnya tenang. Tapi apa? Ia sengaja memperlihatkan bekas-bekas percintaan kalian padaku!" Nara berucap dengan nada suara naik satu oktaf.
"A-apa?! Coba katakan sekali lagi!?" titah Galih dengan perasaan yang mulai tak nyaman. Ia semakin mencurigai sesuatu.
"Aku telah menemui perempuan itu di ruang kerjanya. Dan kamu tahu apa yang aku lihat? Ia sengaja memperlihatkan kalau ia telah memilikimu dengan menunjukkan bukti-bukti kalau kalian telah bercinta!"
Nada suara perempuan itu sudah mulai bercampur dengan kebencian dan kecemburuan yang mendalam.
"Brengsek kamu!" Galih geram. Ia berdiri dari duduknya dan meraih rambut panjang perempuan itu dan menjambaknya dengan keras.
Jadi ini yang menyebabkan Nadia pergi darinya dengan sangat marah seperti itu?
"Aaaa lepaskan aku! Kamu menyakitiku! Aku bisa melakukan yang lebih daripada Nadia istrimu itu tapi kamu tidak pernah mau aku melakukannya, kenapa hah?!" Suara perempuan itu tercekat. Ia benci dan cemburu dengan apa yang didapatkan oleh Nadia.
"Aaaaw!" Galih melepaskan jambakan tangannya pada kulit kepala perempuan itu dan melemparnya ke lantai.
Nara mengeluh sakit pada bagian belakangnya. Ia menangis. Selama ini ia bercinta secara sepihak saja dengan Galih.
Pria itu menyentuh daerah-daerah sensitifnya sambil tangan dan kakinya terikat.
Ia tak mampu untuk menolak sementara ia sendiri tak bisa melakukan apapun pada pria itu.
Galih memberinya kepuasan dengan hanya menggunakan jari saja, itupun berbalut kaos tangan silikonnya.
Tapi anehnya ia tetap suka dan mau saja diperlakukan seperti itu.
"Keluar kamu dari ruangan aku atau aku akan membunuhmu disini brengsek!" teriak Galih menggelar.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1
Ada vote gak?
Sedekah bunga juga boleh lah.