Dokter Cinta Sang Cassanova

Dokter Cinta Sang Cassanova
Bab 42 Mubazir


__ADS_3

"Kamu?!"


Nadia melepaskan kacamatanya untuk memastikan siapa yang telah menariknya ke dalam salah satu kamar yang ada di lantai yang sama dengan lantai kamarnya berada.


Galih tersenyum kemudian segera mengunci pintu kamar itu.


"Ya, ini aku sayang. Aku suamimu."


"Cih! Aku tak ada urusan denganmu pak Pradana!" Nadia mencebikkan bibirnya. Ia menatap wajah pria yang berdiri di belakang pintu itu dengan tatapan sinis.


"Kita suami istri Nad, dan kita pasti akan selalu ada urusan." Galih menjawab dengan tenang.


"Urusan kita akan dibahas di pengadilan agama tuan Pradana! Jadi biarkan aku keluar dari sini. Aku mau pulang!"


Deg


Galih tersentak kaget.


"Minggir! Semua orang sudah menungguku di bawah." Nadia langsung mendorong tubuh suaminya yang masih berdiri di belakang pintu kamar itu.


"Kamu tidak akan kemana-mana!" ucap pria itu dengan santai.


"Hey! Aku datang kesini bersama dengan rombongan dari kementerian kesehatan dan akan pulang dengan mereka juga, jadi sekarang beri aku jalan!"


Nadia masih bertahan dengan keinginannya. Ia ingin keluar dari kamar itu sesegera mungkin karena begitu jijik dan benci pada pria itu.


Tubuh Galih tak bergeming. Ia sama sekali tidak ingin berpindah dari belakang pintu itu.


"Hey! Aku harus pulang sekarang. Mereka mungkin akan meninggalkan aku jika aku terlalu di dalam sini."


"Aku sudah membatalkan tiketmu. Jadi kita akan berbulan madu di sini." Galih menjawab dengan santai kemudian meraih koper perempuan itu dan segera menyimpannya dalam lemari di dalam kamar itu.


Untuk sesaat, Nadia terbengong-bengong dengan apa yang terjadi.


"Kamu pikir aku mau satu kamar dengan pria brengsek seperti dirimu?! Tidak! Aku akan pulang sekarang juga!" teriak perempuan itu seraya menunjuk wajah pria tampan dihadapannya.


"Tidak akan bisa. Aku suamimu dan kamu harus taat padaku!"


"Cih!"


Setelah itu ia segera melangkah maju ke arah lemari untuk mengambil kopernya tapi tubuhnya langsung diraih oleh Galih dan dipeluknya dengan posesif.

__ADS_1


"Lepaskan aku brengsek! Aku tidak mau kamu menyentuhku!" teriak Nadia sembari berusaha memberontak agar tubuhnya terlepas. Ia sampai memukul dada suaminya dengan membabi buta.


Galih tidak melawan. Ia akan menerima apa saja yang dilakukan oleh istrinya itu agar semua emosinya keluar.


Hancur sudah pertahanannya. Ia menangis histeris.


"Aaaaaa aku membencimu Pradana brengsek huaaa!" Nadia berteriak dengan tangis pecah yang menyayat hati.


Ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit hatinya pada pria yang telah menikahinya itu.


Galih memeluknya setelah perempuan itu sudah tak punya tenaga lagi untuk memukul. Yang tersisa adalah isakan tangis saja.


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku, Nad," ucap Galih dengan suara rendah bagaikan bisikan. Keningnya ia sentuh kan pada kening sang istri.


"Aku benci padamu hiks," cicit Nadia dengan suara serak. Ia sudah sangat lelah dan tak kuat lagi untuk meninggikan suaranya. Bahkan untuk memberontak saja ia sudah tidak sanggup.


Galih langsung mengangkat tubuh perempuan cantik itu dan meletakkannya di atas ranjangnya dengan pelan. Nadia langsung mengubah posisinya menjadi tengkurap. Ia langsung membenamkan wajahnya ke atas bantal dan melanjutkan tangisnya.


Galih hanya diam saja dan menunggu perempuan itu untuk tenang. Ia duduk di samping Nadia dengan perasaan yang sangat bersalah.


Sakit hati perempuan itu padanya kini sangat melukai perasaannya juga. Yang ia tahu ia akan bersujud untuk meminta maaf pada sang istri yang penting hubungan mereka kembali baik seperti beberapa hari terakhir.


Ia pun melirik tubuh Nadia yang masih bergetar karena menangis.


Matanya terus mengawasi perempuan yang telah dinikahinya itu dengan dada sesak. Entah kenapa ia merasa sangat bersalah karena telah berhubungan dengan banyak perempuan yang tidak benar selama ini.


Dan sekarang inilah yang ia tuai, si brengsek Nara telah berhasil membuat perempuan yang akhir-akhir ini membuatnya sangat bahagia jadi sangat membencinya.


Matanya kembali memandang punggung Nadia yang bergetar karena menahan tangisnya dalam diam.


Menit berikutnya, getaran akibat isakan tangis perempuan itu semakin lambat dan akhirnya ia tertidur.


Nampak sekali kalau ia kelelahan karena telah mengeluarkan semua amarahnya.


Galih berdiri dari duduknya kemudian membuka sepasang sepatu yang sedang dipakai sang istri dan menyimpannya di bagian bawah lemari pakaian yang ada di dalam kamar itu.


Selanjutnya ia membalik posisi tubuh istrinya agar menghadap ke atas dan tidur lebih nyaman.


Galih tersenyum melihat perempuan itu dengan tak sadar memeluk tangannya. Mau tidak ia pun naik ke atas ranjang dan ikut berbaring disamping sang istri.


Mungkin saat kamu bangun dan sadar akan apa yang terjadi, kamu akan memukulku lagi.

__ADS_1


Tak apa, aku rela asalkan kamu tidak meninggalkan aku. Ucap Galih dalam hati.


Pria itu pun tertidur di samping istrinya.


Sementara itu, Harry mendengus kesal saat bus yang akan membawa mereka ke Bandara meninggalkan Nadia bersama dengan suaminya di hotel itu.


Ia merasa bahwa usahanya untuk mendapatkan Nadia kembali akan selalu mendapatkan jalan buntu.


Apa mungkin aku harus mulai membuat hati ini untuk sosok yang lain? Tanyanya pada dirinya sendiri.


Clara yang kini sedang duduk disampingnya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


"Pak kadis aku boleh usul gak?" ucapnya dengan wajah serius.


"Ya, usul aja. Ada apa?" jawab Harry balas bertanya. Seketika pikirannya pada Nadia langsung teralihkan.


"Aku pernah membaca sebuah Quote di Facebook atas nama Tian Bona, dan kurasa ini sangat tepat untuk anda pak kadis,"


Tidak semua hal itu baik ketika dipertahankan.


Pun tidak semua itu buruk ketika dilepaskan. Apapun yang menjadikan konflik yang berkepanjangan.


Konflik batin dan pikiran, lepaskan!


"Hahaha, sok tahu kamu!" Harry tertawa dengan perkataan Clara, bawahannya di dinas kesehatan. Tapi kemudian ia terdiam.


Diam-diam ia membenarkan perkataan perempuan itu.


Mungkin mulai sekarang ia harus belajar untuk melepaskan.


Nadia bukan lagi miliknya. Perempuan itu sudah dimiliki oleh pria lain. Lalu apakah akan selamanya akan mengharapkan sesuatu yang tidak boleh ia miliki?


"Walaupun saya sok tahu pak, tapi kurasa itu sangat benar dan perlu untuk dipertimbangkan," balas Clara dengan senyum diwajahnya. Sungguh, ia sangat kasihan pada pria tampan dan juga mapan itu.


Ia sangat kasihan kalau pria itu tidak bisa move on dan akhirnya membuat satu jatah untuk perempuan di dunia ini jadi berkurang.


Mubazir 'kan?


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2